
(Sebelumnya)
Di malam hari, dimana sang rembulan bersinar cerah. Terlihatlah Charles yang sedang mengantar Tiffany pulang dengan berjalan kaki. Setelah beberapa menit berjalan menyusuri jalan kompleks yang terlihat sepi. Kini mereka telah sampai di kediaman Austin Nero.
Secara tidak kebetulan, Austin juga baru pulang dari kantornya. Di dalam mobil Austin cukup merasa heran melihat istrinya sedang bersama seorang pria malam-malam begini di depan gerbang rumah mereka.
Austin seperti mengenali sosok yang sedang bersama istrinya itu. Pria itu adalah rekan bisnisnya.
“Ngapain malam-malam gini dia ada di depan rumahku?”Austin menatap ke arah Charles dengan pandangan tajam seolah tak suka.
Akhirnya pun Austin memutuskan untuk keluar dari mobil, sementara Tiffany hanya bisa tersenyum hangat menyambut kepulangan suaminya yang tengah berjalan ke arah mereka.
Kini Austin sudah ada di dekat mereka.
"Fany. Ngapain kau masih ada di luar rumah malam-malam seperti ini?"ucap Austin sambil menatap marah ke arah Fany.
"Itu..."ucap Fany tapi terhenti karna Charles memotong perkataan Fany.
"Tadi dia singgah di rumahku dan kami banyak mengobrol sampai-sampai kami lupa waktu. Tapi kau tenang saja karena dia akan aman saat sedang bersamaku"
Kini Austin beralih menatap ke arah Charles
dan berterima kasih karna sudah menemani istrinya pulang.
"Kalian ada hubungan apa ya ? Kalian sepertinya dekat sekali"tutur Austin.
"Dia bos adalah di perusahaan tempat dulu aku bekerja"jelas Tiffany agar tidak ada
kesalahpahaman di antara mereka.
"Apa kau lupa kalau aku bos di perusahaan tempat istrimu bekerja"imbuh Charles.
"Sorry aku lupa"ucap Austin sambil menepuk dahinya.
Austin baru ingat hal itu, padahal dia pernah bertemu dengan Tiffany di perusahaannya Charles.
"Sekarang rumahku juga ada di sekitar sini dan mungkin kita juga akan sering bertemu ya"ucap Charles memberitahu Austin.
Austin menanggapi itu hanya dengan ber oh ria. Dia bertanya dalam hatinya sejak kapan Charles pindah di sekitar kompleks ini dan ada tujuan apa?
“Charles. Aku minta maaf karena sudah membuatmu jadi repot mengantarku sampai ke rumah”ucap Fany yang tiba-tiba mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Charles.
“Tidak apa- apa Fany. Lagian aku tidak merasa terbebani kok”ucap Charles sambil tersenyum.
Entah kenapa Austin tiba-tiba merasa sangat jengkel mendengar percakapan mereka.
"Ini adalah kesalahanku karna tidak bisa menjemput istriku. Sekali lagi saya minta maaf karena sudah membuatmu jadi repot begini”ucap Austin secara tiba tiba dengan menekankan kata istri dan membuat Fany dan Charles merasa sangat heran.
“Tuan Charles. Sekarang anda sudah boleh pulang”tambah Austin yang memang berniat untuk menyuruh Charles untuk pergi dari rumahnya.
Austin pun langsung mengajak Fany untuk segera masuk dan meninggalkan Charles sendirian di luar pagar rumah mereka.
Austin dan Fany pun masuk ke dalam rumah. Saat sudah ada di dalam rumah, Austin tiba-tiba berhenti. Austin pun berbalik dan menatap ke arah Fany.
"Ada apa Austin?"ucap Fany yang terlihat kebingungan.
"Sejak kapan kau begitu dekat dengan Charles?"ucap Austin yang mulai mengintrograsi Fany.
"Sejak aku berhenti kerja dari perusahaan"Jawab Fany dengan polosnya.
"Memang kenapa Austin?? Dia sangat baik dan dia juga mengantarkanku sampai rumah dengan selamat"lanjut Fany lagi.
"Kau!! Selama kau hidup bersamaku, maka kau jangan terlalu dekat sekali dengannya"ucap Austin dengan penekanan.
Austin tampak sekali sedang kesal, sementara Tiffany hanya bisa mengangguk sebagai tanda bahwa dia paham dengan apa yang Austin katakan barusan.
Kini, di dalam ruangannya Austin tengah menatap foto sang kekasih. Tapi entah mengapa kebersamaan Tiffany dan Charles tadi mengusik pikirannya.
"Dasar tak tahu malu"Austin mengumpat kepada Charles.
"Untung saja dia adalah rekan bisnis dan juga temanku. Kalau tidak, dia akan habis di tanganku" ucap Austin lagi.
"Awas saja. Jika dia kelewatan batas, aku tidak akan segan\-segan untuk membunuhnya" ucap Austin.
Austin pun keluar menuju dapur untuk mengambil air minum karna dia merasa sangat haus karna memikirkan Charles dan Fany tadi.
Tiba\-tiba Fany juga datang ke dapur. Dia sempat terkejut karna melihat keberadaan Austin di dapur itu. Fany pun mendekatinya.
"Apa kau ingin sesuatu?" tanya Fany.
"Tidak ada" jawab Austin dengan cuek.
"Kalau begitu aku pergi ke kamarku ya" ucap Tiffany yang langsung pergi ke kamarnya.
"Cih. Dia langsung pergi begitu saja" ucap Austin yang kesal dan juga langsung pergi ke kamarnya.
......................
Di pagi hari, Ibunya Austin datang berkunjung ke rumah Austin untuk melihat keadaan menantunya.
Austin terkejut melihat Ibunya yang sudah ada di pintu utama rumahnya.
Bagaimana tidak terkejut karna dia takut kalau Ibu nya akan mencari Tiffany.
Karna Tiffany saat ini masih tidur dan dia tidur tidak tidur di kamar yang seharusnya bersama dengan Austin.
"Mana menantu kesayanganku?"tanya Delila sambil melirik ke seluruh sudut ruangan.
"Itu...Dia..."ucap Austin yang sedang mencari alasan agar Ibu tidak naik ke atas untuk mencari Tiffany.
"Ibu. Aku di sini"ucap Fany yang tengah menuruni anak tangga.
"Sayang... "ucap Delila sambil menghampiri Fany dan langsung memeluk menantunya.
"Ibu... "ucap Fany membalas pelukannya Delila.
"Cih. Dasar anak kecil. Tapi syukurlah Tiffany sudah bangun"ucap Austin dalam hatinya.
Setelah dua jam berada di rumah anaknya dan berbincang dengan menantu kesayangannya itu. Delila pun pamit pulang karna ada urusan mendadak yang harus di kerjakannya.
"Ibu pulang dulu ya"
"Ibu. Kalau Ibu mau main ke sini, langsung telpon aku, jangan asal main muncul dan buat orang terkejut saja"ucap Austin yang berbicara seperti itu karena tidak ingin kejadian seperti tadi sampai terulang kembali.
"Kan Ibu mau kasih surprise sama kalian. Tidak apa apa kan Fany??"tanya Delila pada menantu kesayangan itu.
__ADS_1
"Iya Ibu"ucap Tiffany dan itu membuat Austin langsung melotot ke arah Tiffany.
"Pokoknya jika Ibu mau ke sini langsung telpon aku saja"pinta Austin yang tidak ingin di bantah.
"Baiklah. Ibu mengerti. Pasti kalian merasa terganggu karna kedatangan Ibu yang
secara tiba\-tiba"ucap Delila tersenyum nakal dan Austin mengerti dengan arah perkataan Ibunya.
Tiffany yang polos hanya bisa tersenyum dan mengangguk kepala dan itu membuat Austin mengelengkan kepalanya.
.....................
Akhirnya Delila pun pergi meninggalkan kediamannya Austin.
"Kamu pergilah bersiap\-siap"ucap Austin.
"Memangnya kita mau pergi kemana Austin? " tanya Fany yang merasa heran.
"Nanti kau akan tau sendiri"
Tanpa berpikir lama, Tiffany pun langsung naik ke atas menuju kamarnya untuk segera bersiap\-siap. Jujur dia sebenarnya sangat penasaran dengan perkataan Austin yang tiba\-tiba mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.
Melihat Tiffany yang sudah pergi ke kamarnya. Austin pun langsung menelpon Roy.
"Tolong kosongkan semua jadwalku hari ini"ucap Austin.
"Kenapa?"tanya Roy.
Austin marah karna Roy malah bertanya kenapa dan Austin pun berkata pada Roy.
"Kau lakukan saat apa yang aku perintahkan, jangan malah balik bertanya padaku"ucap Austin yang berteriak dan mematikan panggilan.
"Cih, untung kau itu temanku"ucap Roy yang kesal dengan Austin.
Setelah telepon dan marah\-marah ke Roy, tiba\-tiba ponsel Austin menerima panggilan masuk atas nama Sesilia.
"Sesilia"batin Austin.
Austin jadi galau, tapi pada akhirnya dia menerima panggilan itu.
"Halo sayang. Apa kau sedang sibuk?"ucap Sesillia dari seberang telepon yang meresa sangat senang karna akhirnya Austin mengangkat panggilan nya.
"Kapan kau akan kembali ke New York?"tanya Austin.
Setiap Sesilia menelpon hal yang pertama di katakan oleh Austin adalah kapan Sesilia akan kembali.
"Tidak sesilia. Hanya saja ada sesuatu hal yang ingin aku katakan padamu"ucap Austin.
"Apa itu Austin?" ucap Sesilia.
"Aku..." ucap Austin tapi terhenti.
Austin pun mematikan panggilan secara sepihak karna ternyata Fany sudah selesai dan sedang menuruni tangga.
Austin menelan ludahnya. Terlihat jakunnya yang naik turun karna hari ini Fany terlihat sangat cantik.
"Kau sudah selesai?"tanya Austin hanya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Iya. Tapi kita akan pergi kemana Austin?"tanya Tiffany.
"Kau akan tau Fany" ucap Austin.
Austin pun mengajak Fany untuk masuk ke mobilnya dan menyuruh sopir itu untuk segera melajukan mobil tersebut.
🌷🌷🌷
Di Tokyo
Sementara itu, Sesilia menatap ponselnya dengan heran. Selama ini belum pernah Austin menutup telepon dan mengakhiri perbincangan lebih dulu. Tapi tadi Austin melakukannya. Ada apa ini?
“Apa yang terjadi?”tanya salah satu temannya pada Sesilia.
“Hah. Tidak ada apa\-apa”jawab Sesilia secara asal.
.............................
Hari ini Charles sedang melakulan interview dengan para calon sekretarisnya.
Charles pun pergi menuju ruang interview, tapi dia hanya berdiri dekat pintu dan melihat ke arah dalam ruangan melalui kaca pintu itu.
Setelah beberapa lama mengamati akhirnya dia melihat dengan seseorang dan dia merasa kalau orang itu akan cocok jadi sekretarisnya .
Lalu Charles menyuruh Jack untuk membawa orang tersebut masuk ke ruangannya.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya orang itu tiba di ruangan Charles.
__ADS_1
"Selamat siang Mr Charles Addison"ucap orang tersebut.
"Selamat siang juga Mr Alexander Lee" ucap
Charles.
"Hai sobat. Akhirnya aku bertemu juga denganmu"ucap Charles yang langsung memeluk Alex.
Pria itu adalah Alexander Lee. Saudara kandung dari Tiffany Lee. Dia berteman baik dengan Charles sejak dari kuliah karna dulu mereka pernah satu kampus. Tapi karna insiden kebangkrutan keluarga Lee membuat Alex harus kembali ke negara asalnya untuk membantu orangtuanya.
Meskipun sudah berteman, Charles sampai sekarang tidak mengetahui bahwa Fany adalah bersaudara dari temannya yaitu Alexander.
"Terima kasih karna sudah menerimaku bekerja disini Charles dan aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini"ucap Alex.
"Kau adalah teman ku dan sebagai teman sudah seharusnya aku menolongmu dengan memberikanmu pekerjaan"ucap Charles.
"Tapi aku minta maaf karna hanya bisa menjadikanmu sebagai sekretarisku"ucap Charles lagi.
"Tidak apa teman. Justru aku malah senang, setidaknya aku ada pekerjaan"ucap Alex.
"Baik lah. Ayo kita ke Club untuk merayakan pertemuan kita ini"ajak Charles.
"Ok. Let's go"ucap Alex.
Mereka pun meninggalkan perusahaan dan menuju ke Club
🌷🌷🌷
Tiffany dan Austin pun sampai di sebuah restoran yang sangat mewah.
"Kita ngapain kesini Austin?" ucap Fany sambil menatap ke arah luar mobil.
"Aku sangat lapar dan aku ingin kau menemaniku makan"ucap Austin.
"Kan aku bisa memasak untukmu. Di sini pasti makanannya mahal sekali"ucap Tiffany.
"Lain kali kau bisa memasak untuk ku, tapi hari ini aku sangat lapar. Dan kau jangan khawatir karna hartaku tidak akan habis jika aku makan di sini setiap hari"ucap Austin yang menyombongkan diri.
Tiffany pun terpaksa harus mau makan di tempat mewah ini.
Setelah sampai di sana mereka langsung di layani dengan baik. Makanan yang sangat mahal di mata Tiffany kini sudah tersaji di meja.
Jujur Tiffany belum pernah memakan makanan semahal ini.
"Silakan di nikmati tuan dan nyonya"ucap pelayan itu dengan sopan.
"Terima kasih"ucap Tiffany.
Tiba tiba suara alunan piano nan syadu terdengar di telinga Tiffany. Ternyata Austin menyewa seorang pianis memainkan piano.
Tiffany berterima kasih kepada Austin karna ini terlihat seperti kencan untuk pasangan kekasih.
Jujur Tiffany memang belum pernah berkencan sehingga dia terharu dan senang dengan di lakukan oleh Austin.
Austin terlihat senang melihat Fany yang tersenyum. Dia tidak merasa terganggu dengan perkataan Fany yang mengatakan kalau mereka terlihat sedang berkencan.
Kini mereka sudah selesai makan dan Austin langsung memberi Gold Card nya kepada pelayan itu.
Setelah selesai melakukan pembayaran mereka beranjak dari kursi dan keluar dari restoran itu.
Saat dipintu restoran tiba\-tiba ada seorang gadis cantik yang langsung menyapa Austin.
"Hai Austin" ucap gadis itu.
“Theresa"Sapa Austin.
"Bagaimana kabarmu?"tanyaTheresa.
"I'm not bad"jawab Austin.
"Dia Siapa?“tanya Theresa saat melihat Fany masih berdiri di samping Austin.
"Dia..."ucap Austin tapi terhenti karna tiba\-tiba Theresa menerima panggilan masuk.
"Austin. Aku masuk ke dalam dulu ya. Temanku sudah menungguku di dalam" ucap Theresa dan langsung masuk kedalam restoran.
"Oke"jawab Austin.
"Siapa wanita tadi?"tanya Fany saat Theresa sudah masuk ke dalam restoran.
“Dia adalah sahabat dari Sesilia pacarku”jawab Austin.
Fany tiba\-tiba merasa ada yang menjanggal di perasaan seperti perasaan tidak senang dan tidak suka saat Austin menyinggung soal kekasihnya.
Austin yang tidak bisa peka terhadap perasaan Fany saat ini hanya bisa melangkahkan kakinya menuju ke mobil dan langsung di ikuti oleh Tiffany dari belakang.
\*\*\*
Selamat membaca readersku
__ADS_1
Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya.
Jangan lupa beri komentar untuk memberiku saran dan ide kalian.