Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Lima


__ADS_3

“Kau siapa?” tanya Austin yang terlihat kaget dan marah.


“Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamar ini?”tanya Austin dengan tatapan yang begitu tajam.


Fany bangkit dari tidurnya sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya itu. Lalu Fany memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dan segera bergegas pergi ke kamar mandi untuk membenahi dirinya.


Begitu juga dengan Austin yang langsung bergegas mengambil pakaiannya yang berserakaan di lantai lalu segera memakainya sebelum Fany keluar dari kamar mandi.


Saat sudah selesai memakai pakaiannya, tiba-tiba ponsel milik Austin berdering dan ternyata itu notifikasi pesan sms dari Sesilia kekasihnya.


Austin mengambil ponsel itu dan segera membuka isi pesan yang di kirim oleh Sesilia.


“Sayang. Aku tahu kalau kau sedang marah padaku saat ini. Maafkan aku ya?? Aku janji deh. Setelah studiku selesai, aku akan pulang dan ingin menjadi istrimu. Aku tahu kok kalau kau ingin melamarku, tapi maaf ya karena aku sudah membuatmu kecewa dengan kepergianku. Maaf ya!!”


Begitulah isi pesan suara dari Sesilia yang sudah di baca oleh Austin.


Saat sudah membaca pesan itu, Austin melihat Tifanny yang sudah keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah berpakaian lengkap.


Austin pun memasukan ponselnya ke dalam saku celananya dan mendekati Tiffany.


Terlihat Austin berjalan sambil menatapnya dengan tajam sehingga membuat Tiffany sedikit takut.


"Kau mau uang berapa sebagai kompensasinya agar kau tidak membocorkan kejadian ini pada publik?”tanya Austin dengn menatap tajam ke arah Tiffany.


"Maaf Tuan tapi aku tidak membutuhkan uangmu?" ucap Tiffany yang sedikit tidak suka dengan ucapan Austin yang sepertinya sudah menganggap dirinya sebagai wanita malam.


"Jika kau tidak membutuhkan uang, terus kenapa kau berada di sini? Apa kau ingin menjebakku supaya kau bisa memanfaatkanku atas kejadian ini? "tanya Austin sambil memegang dagu Fany dengan kuat.


Dalam pikiran Austin kenapa wanita yang di hadapannya ini tega melakukan hal seperti ini padanya?


Fany pun membantah dan berkali-kali dia sudah bilang pada Austin kalau dirinya tidak ada niat untuk menjebak apalagi memanfaatkan Austin.


Fany mengatakan kalau dia semalam hanya membantu menuntun Austin yang mabuk menuju ke kamarnya.


“Semalam aku ingin keluar dari kamar ini setelah membaringkanmu di kasur tapi kau malah menarik tanganku dan menindih lalu aku tidak bisa melawan karena tenagamu lebih kuat dariku”ucap Fany yang berbicara apa adanya.


Austin masih gak percaya dan meminta Fany jangan bersandiwara di depannya. Begitu juga dengan Fany yang bersikeras menjelaskan kalau ia tidak sedang bersandiwara.


Austin gak peduli dengan semua penjelasan konyol Tiffany. Emang Austin pikir dia akan percaya dengan omong kosong yang dia katakan?


“Tuan. Anda jangan khawatir karena aku tidak akan memberitahu hal ini siapapun dan aku juga tidak bisa menerima uangmu!”ucap Fany yang tidak ingin berlama-lama di situ.


“Aku pergi dulu! Tuan tenang saja, aku akan tutup mulut kok!’ucap Fany lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Fany keluar dari kamar itu sambil menutup pintu itu dengan pelan. Saat Fany sudah ada di luar kamar, sejenak dia menyandarkan badannya di pintu sambil memikirkan kejadian semalam.


“Ah...lupakan Fany!”ucap Fany dalam hati.


Tiba-tiba pandangan Fany tertuju pada satu ruangan yang tak jauh dari kamar itu.


Dia melihat sosok orang yang sangat mirip dengan pacarnya saat sebelum pintu itu tertutup ketika office girl di hotel itu sudah mengantar makanan pada orang yang ada di dalam kamar itu.


“Tidak mungkin. Itu pasti bukan Christian!”ucap Fany yang tidak menginginkan kalau orang yang ada di dalam ruangan itu adalah Christian.


Tapi dia sangat yakin kalau orang itu sangat mirip dengan Christian. Fany pun mencoba untuk memastikanya dengan mendatangi kamar itu dan langsung mengetuk pintunya saat dirinya sudah ada di depan pintu kamar itu.

__ADS_1


“Mudah-mudahan orang yang tadi aku lihat bukan Christian!”ucap Fany yang berharap orang itu bukan pacarnya.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu itu, akhirnya pintu kamar hotel itu pun terbuka.


“Christian!!!”ucap Fany yang tercengang melihat Christianlah yang membuka pintu kamar itu.


Dia terkejut melihat Christian ada di dalam kamar hotel itu. Terlihat Christian yang sedang mengenakan kimono putih dengan rambut yang cukup berantakan. Seperti orang yang baru bangun gitu ceritanya.


“Sayang. Siapa yang datang?”tanya seseorang dari dalam kamar itu.


“Sayang??”ucap Fany yang bertanya-tanya dalam hatinya.


Heran, marah, sedih, kini bercampuk aduk di dalam diri Fany saat mendengar suara wanita yang muncul dari dalam kamar yang sama di tempati oleh Christian. Kenapa ada wanita yang memanggil Christian dengan sebutan sayang? Apakah mereka punya hubungan yang spesial? Pikiran Fany menjadi tidak karuan.


Dia berharap kalau ini hanya salah paham saja atau dirinya sedang bermimpi saat ini.


“Siapa dia sayang?”tanya seorang wanita itu pada Christian saat melihat Fany berdiri di depan pintu kamarnya.


Saat wanita itu sudah ada di pintu Tiffany terkejut dan sedih saat mendapati bahwa Christian sedang bersama di dalam kamar hotel dengan seorang wanita yang terlihat berpakaian cukup seksi.


"Christian!! Siapa wanita ini?"teriak Tiffany.


"Apaan sih. Kau kok teriak-teriak di sini, buat orang malu saja! Nanti semua bisa pada keluar gara-gara ulahmu!"ucap Patricia sambil menutup telinganya.


"Dasar wanita tidak tau malu!" ucap Fany sambil menjambak rambut Patricia.


"Apaan sih. Bisa lepas gak??"ucap Patricia yang memegang tangan Fany yang sedang menjambaknya.


Christian melihat Patricia yang sedang dijambak langsung mendorong Fany sampai tubuh Fany tersungkur ke lantai. Lalu Christian menyuruh Patricia untuk masuk ke dalam kamar dan menyuruhnya untuk menunggunya di sana.


“Kau sedang membentakku?”tanya Fany yang kali ini tidak percaya dengan sikap kasar Christian terhadap dirinya.


“Iya. Aku membentakmu karena kau sudah menyakiti calon tunanganku!”ucap Christian yang mana kata–kata itu membuat hati Fany tersakiti.


“Calon tunanganmu?”tanya Fany yang terlihat masih tidak percaya.


“Iya!! Dia calon tunanganku dan aku harap kau segera pergi dari hidupku dan tempat ini”ucap Christian yang ingin mengusir Fany dari tempat itu.


"Kenapa kau tega melakukan ini Christian? Aku pikir kau mencintaiku"ucap Fany yang melihat perlakuan kasar Christian padanya.


"Kau jangan terlalu kebaperan Fany. Aku hanya sedang bermain main saja denganmu. Dan sekarang aku sudah bosan bermain-main dengan wanita polos dan lugu sepertimu.


Aku tidak bisa dapat apa-apa dari mu. Dan jangan harap kalau aku masih mencintaimu karna aku hanya bermain main saja dengan mu. Ingat Itu!!! Lagian kau tidak kaya dan aku tidak bisa dapat apa-apa jika aku masih tetap bersamamu"ucap Christian tanpa merasa bersalah.


Tiffany yang mendengar itu langsung terkejut dan hati terasa sakit dan perih mendengar perkataan Christian.


Christian pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu itu dengan keras. Fany hanya bisa menangis tersungkur di lantai itu.


Saat mendapat perlakuan kasar dari Christian.


Dia juga merasakan sakit hati yang paling dalam saat mendengar kalau hubungan mereka ternyata hanya sekedar bermain-main saja.


"Apa dia kekasihmu? "tanya Patricia pada Christian saat sudah ada di dalam kamar mereka.


"Tidak sayang. Hanya kaulah kekasihku dan sekarang kau sudah menjadi tunanganku. Mana mungkin aku tega menghianatimu dengan memiliki wanita lain sepertinya" ucap Christian sambil menampilkan senyum palsunya.

__ADS_1


“Jangan pikirkan tentang wanita tadi. Mending kita pikirkan tentang masa depan kita saja”ucap Christian sambil memeluk Patricia.


“Baiklah. Aku percaya kata-katamu!”balas Patricia sambil membalas pelukan Christian yang tanpa di ketahuinya sedang tersenyum kemenangan di belakang Patricia.


.........................................


Tanpa Tiffany sadari, ternyata Austin mendengar dan melihat kejadian yang barusan terjadi.


Sebelumnya Austin tengah berada di dalam kamar sambil mengingat kejadian yang terjadi semalam.


Alangkah terkejutnya Austin di saat dirinya sudah mengingat kejadian semalam. Kini dia sudah mengingat semuanya dan membuat Austin merasa bersalah dengan wanita itu. Austin pun memutuskan untuk mengejar wanita itu dan meminta maaf padanya.


Saat Austin sudah ada di luar pintu kamarnya, dia tak sengaja mendengar dan melihat kejadian yang sangat menyakitkan bagi Tiffany.


Saat semuanya sudah terlihat aman, Austin pun berjalan melangkah mendekati Tiffany yang terduduk di lantai sambil menangis .


“Orang seperti itu tak perlu kau tangisi lagi!" ucap Austin dan membuat Tiffany terkejut karna dia baru menyadari keberadaannya Austin.


"Terima kasih tuan atas sarannya!"ucap Tiffany sambil menghapus air matanya.


"Oh iya. Ada apa Tuan datang kemari? Apa ada yang ingin tuan katakan?"ucap Tiffany lagi yang menanyakan kedatangan pria itu.


"Tidak ada. Aku hanya ingin membicarakan hal penting denganmu"ucap Austin.


"Terima kasih tuan. Tapi tidak hal yang perlu di bicarakan tuan! Mengenai kejadian semalam lebih baik kita lupakan saja dan aku tidak akan menuntut apapun terhadapmu"ucap Tiffany yang terlihat tidak ingin membahas kejadian semalam.


"Aku minta maaf atas kejadian yang terjadi semalam” ucap Austin yang tiba-tiba minta maaf kepada Fany.


"Tidak apa-apa tuan. Aku akan melupakannya dan tidak akan meminta pertanggungjawaban dari tuan karna ini juga salahku" ucap Tiffany sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Fany hanya tidak ingin Austin melihat wajahnya yang terlalu menyedihkan sekali.


Untuk itulah dia berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan lawan bicaranya.


Austin tidak menjawab. Justru dia hanya menatap Tiffany yang terlihat berusaha untuk menghindari tatapanya.


“Apakah kau sudah sarapan?”tanya Austin yang berasalan karena dia terlihat tidak tahu tahu harus melakukan apa-apa lagi.


Fany hanya mengelengkan kepalanya saja.


“Kalau begitu ayo kita sarapan dulu lalu setelah itu kau boleh pergi”ajak Austin.


“Tidak usah tuan. Aku akan pergi dari hotel ini”jawab Fany yang menolak ajakan Austin.


“Aku mohon sekali ini saja”pinta Austin yang terlihat memohon sekali pada Fany untuk menerima ajakannya.


“Baiklah”jawab Fany yang terpaksa menyetujui permohonan Austin.


Austin dan Tiffany pun langsung pergi menuju ke Resto yang ada di hotel itu. Di saat sudah sampai disana mereka langsung pergi berjalan menuju meja yang masih kosong.


Hai teman readersku aku kembali lagi untuk melanjut kan novel ini.


Jangan lupa beri like dan komentar kalian ya.


Selama membaca semuanya.

__ADS_1


__ADS_2