
Tiffany terduduk di lantai dan menangis
"Apa benar jika Austinlah yang sudah mencelakai Mama dan membuat keluargaku hancur saat itu"batin Fany.
Lalu Fany mengambil cincin yang sudah di lepaskan oleh Austin tadi.
Cincin itu sangat berharga baginya, karena itu merupakan pemberian Ayahnya saat hari pernikahannya.
π·π·π·
Di malam hari Fany duduk sendirian di halaman depan dengan perasaan sedih.
Hatinya cukup sedih mendengar perkataan Austin tadi.
Tiba-tiba suara dering hp mengejutkan Fany dari lamunannya.
Ternyata itu adalah telepon dari Ayah nya.
Ketika melihat nama "Ayah" tertera di layar handphonenya. Tiffany langsung menghapus air matanya dan langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo Ayah"ucap Tiffany.
"Apakah kau sedang menangis sayang?"ucap Thomas dari seberang telepon.
Di seberang sana, Thomas tampak khawatir mendengar suara lemah putrinya yang terdengar lemah.
"Tidak Ayah. Aku tidak sedang menangis?"ucap Fany yang berbohong.
"Tapi kenapa suaramu kedengaran seperti baru menangis sayang?"tanya Thomas.
"Aku hanya sedang flu Ayah"ucap Fany yang berbohong lagi.
"Benarkah?"tanya Thomas yang tidak percaya.
"Iya Ayah. Apa Ayah tidak mempercayaiku?"tanya Fany.
"Baiklah. Ayah sangat mempercayaimu. Di mana suamimu? Ayah ingin berbicara dengannya"tanya Thomas.
"Austin tidak sedang di rumah Ayah. Dia lagi lembur di kantornya"ucap Fany yang lagi-lagi berbohong pada Ayahnya.
Tiffany sengaja berbohong lagi agar Ayah tidak tahu apa yang sedang terjadinya padanya.
Dia tidak juga ingin Ayahnya menjadi khawatir padanya.
"Apa kalian baik-baik saja?"tanya Thomas.
"Kami baik-baik saja Ayah. Tidak ada terjadi sesuatu pada kami"ucap Fany yang mencoba menyakinkan ayahnya.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau begitu Ayah tutup teleponnya. Jaga kesehatanmu ya sayang" ucap Thomas pada putrinya.
"Baik Ayah" ucap Fany.
" Katakan pada Austin untuk selalu menjagamu dengan baik"ucap Thomas.
"Aku akan mengatakan itu padanya Ayah"ucap Fany.
Setelah telepon itu usai, tanpa di ketahui Fany. Ternyata Austin mendengar semuanya dari tempatnya berdiri.
"Maafkan aku Ayah. Aku terpaksa berbohong. Itu karna aku tidak ingin Ayah menjadi khawatir setelah mengetahui keadaanku yang sebenarnya"batin Fany sambil menangis.
Dan Austin yang masih ada di tempatnya berdiri mendengar dengan jelas apa yang oleh Tiffany katakan.
"Kau harus kuat Fany. Kau harus kuat sampai di saat kau akan berpisah dengan Austin"gumam Fany yang mencoba untuk menguatkan dirinya.
Austin sangat terusik mendengar kalimat Fany. Hati nuraninya terganggu mendengar semua itu dan merasa bersalah melakukan hal yang membuat Fany bersedih.
Austin pun langsung pergi ke kamarnya.
Kini, di ruangan kamar miliknya.
Austin mengingat kenangan saat tidur bersama Fany di atas kasur itu.
Dan dia juga mengenang saat saat bersama dengan Sesilia yang berisi kenangan romantisnya bersama.
Ya Sesilia, wanita yang dia cintai namun tak bisa dia miliki.
"Fany. Seandainya kamu tidak ada niat untuk menghancurkan keluargaku. Saat ini kita pasti sudah bersama dan hidup bahagia. Itu karena aku sudah mulai menyukaimu dan menerimamu sebagai istriku tapi kau malah menghancurkannya"ucap Austin lagi.
"Tuhan. Kenapa kau mempermainkan takdirku"ucap Austin sambil meninju dinding kamarnya sampai membuat tangannya terluka.
Malam ini Austin terlihat sedih dan frustrasi yang sudah bercampuk-aduk.
Bahkan Austin mencoba untuk tertawa di dalam tangisnya. Tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Tawa kesedihan, itulah yang di rasakan Austin saat ini.
Sementara itu Fany yang duduk di ruangan kamarnya.
Dia juga merasakan kesedihan, sama halnya dengan yang di rasakan oleh Austin.
Fany juga menangis dan meluapkan kesedihannya.
π·π·π·
Keesokan harinya Austin sudah selesai mandi.
Dia memilih dan memakai setelan jas yang ada di lemarinya.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, Austin turun dari lantai atas.
Ketika sudah sampai di bawah dia melihat Fany yang sudah menyiapkan sarapan pagi.
Ternyata setelah kejadian semalam, dia tidak melupakan tugas nya sebagai seorang isteri.
Ya, sampai anak ini lahir. Fany akan tetap menjalankan tugasnya. Dan setelah semuanya berakhir, dia akan pergi dari rumah ini bahkan dari negara ini juga.
Austin yang melihat itu mencoba untuk mengabaikannya.
Dia langsung keluar dari rumah dan menunggu mobil jemputan di depan gerbang untuk ke kantornya .
Saat ini Austin tengah menunggu Roy untuk menjemputnya.
Fany yang melihat Austin keluar langsung beranjak dan pergi keluar dari rumah juga.
Ternyata Fany ingin menemani suaminya yang sudah siap menunggu mobil jemputan.
Dia melihat Austin yang sangat tampan dengan setelan jas yang dia kenakan hari ini.
Fany tersenyum ke arah Austin, dia merasa seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi pada mereka.
Austin yang melihat itu hanya diam saja dan masuk mobil yang sudah tiba.
Bahkan Austin tidak berpamitan sepatah katapun pada Austin.
Roy yang menyaksikan itu hanya mengklaksonkan mobilnya kepada Tiffany.
Tiffany hanya bisa menatap kepergian mobil suaminya yang sudah menjauh dan melambaikan tangan sendirian.
"Di saat kau membawaku ke kantormu, kupikir aku sudah akan bisa hidup bersamamu. Tapi itu hanya khayalanku saja"ucap Fany yang menatap kepergian mobil suaminya.
π·π·π·
Sampai disini dulu ya guys
Berhubung virus corona yang sedang menyebar
Aku harap kalian dapat menjaga kesehatan,
jangan lupa cuci tangan dengan sabun.
Dan paling utama selalu berdoa kepada tuhan menurut agama kalian masing masing.
Selamat membaca ya
Jangan lupa like dan beri komentar kalian
__ADS_1
Agar aku dapat lebih semangat lagi menulis nyaππ
Saranghae semuanya