
Chapter 18
"Kamu akan tau sendiri nanti, aku pergi dulu ya,"ucap Fany lalu bergegas pergi menuju ruangan Charles .
Setelah sampai di depan pintu yang bertuliskan Ceo, dia diam sejenak dan menghelakan nafasnya.
"Semoga tuan Charles mengerti dengan kondisiku,"batin Tiffany.
Hari ini Fany datang ke kantor tempat dia bekerja dan berniat untuk mengundurkan diri. Itu semua karena Austin menyuruhnya untuk tidak bekerja lagi agar dia bisa lebih baik memperhatikan kesehatannya serta bayi yang ada di kandungannya.
Tiffany berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Austin benar adanya, dan sebagai istri dirinya tak salah untuk mematuhi setiap perkataan suaminya.
Tok.. tok...(Tiffany mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan Ceo)
"Masuk saja,"ucap seseorang dari dalam ruangan yang merupakan ceo mereka yaitu Charles Addison.
"Maaf tuan Charles karena sudah mengganggu waktu anda,"ucap Tiffany.
Charles menatap wanita yang ada di hadapan itu.
"Tiffany. Kau sudah kembali. Lain kali, jika kau liburan jangan terlalu lama-lama karena aku sangat merindukanmu,"ucap Charles yang lama kelamaan suaranya semakin pelan dan Fany tidak mendengarnya.
"Eh. Apa tuan? Maaf karena aku tidak bisa mendengar suara anda,"ucap Tiffany yang memang tidak mendengar perkataan Charles.
"Tidak ada. Maksudku kamu jangan terlalu lama sekali liburannya karena di sini banyak pekerjaan yang sudah menantimu,"ucap Charles yang kelagapan karena dia mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk di katakan pada Tiffany.
"Apa hakmu merindukannya, Charles? Kau saja tidak ada hubungan dengannya,"batin Charles.
"Oh begitu ya tuan."
"Hmm... iya."
"Tapi tuan, aku ingin memberikan ini pada anda," Tiffany langsung meletakkan surat pengunduran diri di meja tempat kerja Charles.
"Apa ini?"tanya Charles.
"Tuan bisa lihat sendiri,"ujar Fany.
"Surat pengunduran diri??"tanya Charles sambil menatap ke arah Fany.
"Iya tuan,"jawab Fany.
"Apa maksudnya ini, Tiffany?? Kamu belum lama menjadi sekretarisku, tapi sekarang kamu ingin keluar dari perusahaan ini,"ucap Charles yang masih terlihat tidak percaya.
"Maaf kan saya tuan,"ucap Fany dan dia merasa tidak enak hati pada Charles tapi mau bagaimana lagi ini semua sudah jadi keputusannya Austin.
"Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku? Apa alasannya sampai kamu ingin keluar dari perusahaan ini?"ucap Charles.
"Aku tidak ingin bekerja karna saya sudah menikah dan suami saya menyuruh untuk saya tidak bekerja lagi."
"Apa kau sudah menikah??"tanya Charles dan terlihat dia sedikit terkejut saat mendengar kalau Fany ternyata sudah menikah.
"Sudah tuan. Saya baru menikah seminggu kemarin,"jawab Fany apa adanya.
"Oh begitu ya. Kalau begitu aku ucapkan selamat untukmu,"ucap Charles dan terpaksa harus mengubur perasaan pada Fany.
"Dia sudah menikah. Jadi liburan kemarin, berarti dia menyelenggarakan pernikahannya,"batin Charles.
Charles masih tidak percaya kalau wanita yang di hadapannya ini sudah menikah.Sejujurnya Charles memang menyukai Tiffany, tapi dia harus mengurungkan niatnya karena dia tak ingin menjadi penghancuran hubungan orang.
"Terima kasih tuan,"ucap Fany sambil membungkukkan badannya.
"Kau beruntung punya suami yang sangat perhatian padamu, buktinya dia menyuruh untuk tidak bekerja lagi,"pungkas Charles.
"Hmmm iya tuan,"ucap Tiffany sambil tersenyum menanggapi perkataan Charles.
"Jangan panggil tuan. Panggil charles saja,”ujar Charles.
"Iya tuan. Eh, maksudku Charles."Fany langsung mengeles memanggil nama Charles.
"Baiklah. Sepertinya aku harus mencari sekretaris yang baru lagi,”ujar Charles.
"Maafkan aku Charles,"Fany yang sekali lagi merasa tidak enak hati pada Charles.
"Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti keadaanmu kok. Tapi sebagai gantinya, sekarang aku ingin kau menemaniku makan siang, setidaknya untuk terakhir kalinya kau menjadi sekretarisku,”ujar Charles.
"Hmm, baiklah Charles. Tapi sebelum itu aku ingin ke ruangan kerjaku untuk mengambil barang-barangku,"ujar Fany yang tidak menolak permintaan Charles.
"Baiklah. Aku akan menunggumu di parkiran saja,"imbuh Charles.
"Kalau begitu aku permisi dulu ya,"Fany yang berpamit untuk pergi ke ruangannya.
"Hmm iya,"jawab Charles.
Tiffany pun beranjak menuju ruangan kerjanya.
"Wanita yang polos lucu dan cantik, tapi sayangnya aku tidak bisa memilikimu karena aku sudah terlambat,"batin Charles.
Tiffany pun sudah ada di ruangan tempatnya bekerja.
"Eh. Kau Ngapain ke ruangannya, tuan Charles??" tanya Della yang terlihat kepo sekali.
"Aku menyerahkan surat pengunduran diri Della,"jawab Fany sambil membereskan barang-barangnya.
"Apa?? Kau berhenti kerja?? Tapi kenapa???"ucap Della sambil menghentikan kegiatan Fany.
"Iya Della. Maafkan aku ya."Fany kembali melanjutkan kegiatanya.
"Tapi kenapa Fany??"tanya Della yang masih tidak percaya dengan apa dikatakan oleh Fany.
"Karena aku sudah menikah Della,"jawab Fany tanpa menghentikan kegiatannya itu.
"Menikah??? Tapi dengan siapa??"”ucap Della yang semakin tidak percaya saat Fany mengatakan bahwa dia sudah menikah.
Tiffany tidak menjawab lagi, dia hanya sibuk mengemas barang-barang miliknya.
"Jawab aku Tiffany,"Della mencoba ingin menghentikan Fany yang sibuk mengemas barangnya.
"Aku akan mengatakannya Della tapi tidak sekarang,"jawab Fany.
"Tapi kapan Fany?"tanya Della.
"Saat waktunya tiba Della dan aku akan mengatakan semuanya,"ucap Fany.
Della hanya diam dan membuat Tiffany menghentikan kegiatannya.
"Kau menganggapku sebagai temanmu, kan?"tanya Fany sambil menatap Della.
"Of course,"ucap Della.
__ADS_1
"Trust me Della. Aku akan menceritakannya semuanya padamu dan aku tidak ingin kamu menganggapku seperti orang yang tak mau menceritakan semuanya padamu. Aku akan mengatakannya di saat yang tepat,"ucap Fany.
"Baiklah. Aku akan mempercayaimu Fany dan aku akan menunggu hari itu tiba,"ucap Della.
Fany lega dan tersenyum saat melihat della mau mengerti akan keadaannya. Dia pun kembali mengemas barangnya yang ada di meja kerja itu tanpa ada satupun yang tertinggal.
"Akhirnya selesai juga,"ucap Tiffany yang sudah selesai mengemas barangnya
"Aku pergi dulu ya, Della"Fany yang langsung pamit pada Della karena dia tidak mau membuat Charles menunggunya terlalu lama di parkiran.
"Hmmm, iya. Aku akan sangat merindukanmu Fany,"ujar Della.
"Aku tidak pergi untuk selamanyanya Della. Kau jangan bicara seperti itu, kamu udah buat aku kayak orang mau meninggal saja. Kita kan masih bisa chattan dan telponan kok,"ujar Fany.
"Hehehe. Maaf ya, soalnya aku hanya merasa jadi kesepian saat kau tidak bekerja lagi, makanya aku mengatakan akan merindukanmu,"ujar Della.
"Terima kasih karena sudah merindukanku,"ucap Fany yang terdengar sangat tulus kali.
Tiffany mengucapkan terima kasih dan bergegas pergi karena dia ingat kalau Charles sudah menunggunya di parkiran.
Tiffany pun terburu-buru dan tidak memperhatikan jalannya sehingga dia menabrak seseorang dan membuat barang milik Fany yang ada di kardus pun jatuh dan berserakan dimana-mana.
"Apa kau tidak punya mata??"bentak seseorang yang ditabrak Fany.
"Maaf. Aku tidak sengaja karena saya sedang terburu buru juga,"ucap Tiffany sambil memunguti barangnya dan memasukkan kembali ke dalam kardus.
Tiffany pun sudah selesai memasukkan barangnyake dlaam kardus, langsung berdiri dan membalikkan badannya untuk melihat orang yang di tabraknya dan ingin meminta maaf lagi.
"Kamu---"ucap mereka secara bersamaan.
"Christian,"ucap Tiffany.
"Jadi kamu yang menabrakku dan membuat kemejaku jadi kotor gini,"sarkas Christian.
"Maafkan aku Chris. Aku tidak sengaja,"ujar Fany.
"Maaf katamu. Kau pikir aku mau memaafkanmu,"ucap Christian yang merasa sangat mrah sekali.
"Maaf. Aku akan membersihkan,"ujar Fany lagi.
"Tidak perlu, Aku tidak ingin bajuku di pegang oleh wanita ****** sepertimu. Kau tau, baju ini pemberian pertama dari istriku Patricia setelah pernikahan kami,"ujar Christian sambil menyingkirkan tangan Fany yang hendak memberikan baju kemejanya.
"Apa urusannya samaku?”batin Fany.
“Kau sudah menikah dengan wanita itu??"tanyanya pada Christian.
“Iya,”jawabnya dengan ngengas.
“Santailah jawabnya, tidak usah ngegas gitu,”ujar Fany.
"Apa kata mu hah??"ucap Christian yang ingin menampar Tiffany membuat Fany refleks menundukkan kepalanya.
"Hah, sakit----"teriak Christian karena tangannya yang hendak menampar di patahkan oleh seseorang dari belakang.
"Shit. Kau mau cari mati karena sudah cari masalah denganku, hah,"ucap Christian pada pria yang memakai topi hitam dan kacamata dengan warna senada.
"Coba saja kalau bisa,"ucap seseorang itu dan diapun segera membuka topi dan kacamatanya
"Charles,"ucap Tiffany.
"Tuan Charles,"ucap Christian.
"Ya, saya sendir. Sepertinya aku pernah melihatmu di perusahaan ini?? Apa kamu bekerja di sini?? Oh ya, kamu manajer di bagian keuangan itu, kan??"ucap Charles.
"Hmm. Saya tidak tau apakah harus memaafkanmu,"ucap Charles.
"Maafkan saya tuan,"ucap Christian yang mengiba untuk meminta maaf karena takut akan di pecat dari pekerjaannya.
"Tiffany. Menurutmu dia patut untuk di maafkan? Apakah kau juga mau memaafkannya?"tanya Charles.
"Eh. Kenapa jadi saya yang di tanya, Charles??"ucap Tiffany menunjukkan dirinya.
"Karena dia juga ingin melukaimu dan aku tidak suka ada orang yang berani memukul wanita bekerja di perusahaanku karna itu tidak gentleman sekali,"tutur Charles.
"Kamu seharusnya minta maaf sama Tiffany, bukan padaku,"ucap Charles yang menyuruh Christian meminta maaf pada Fany.
Christian hanya diam saja sambil menunduk kepala.
"Jika kamu tidak mau melakukannya maka kamu cepat pergi ke bagian HRD untuk meminta gaji terakhirmu dan segera pergi dari perusahaan ini,"ucap Charles yang mengancam Christian.
Christian terkejut mendengar perkataan Charles yang sangat mengancam itu.
"Aku minta maaf Tiffany, aku tidak akan mengulanginya lagi,"ucap Christian.
"Aku memaafkanmu Christian,"ucap Tiffany.
"Kau baik sekali Tiffany. Aku kagum dan bangga padamu,"puji Charles.
"Aku minta maaf tuan Charles. Aku mohon jangan pecat saya,"ucap Christian yang meminta maaf sambil menundukkan kepala.
"Baiklah. Aku akan memaafkanmu. Jika kamu mencelakai Tiffany lagi, maka aku tidak akan segan untuk memecatmu dan menjebloskanmu ke penjara,"ucap Charles.
"Terima kasih tuan. Aku tidak akan melakukan itu lagi,"ucap Christian.
"Bagus. Sekarang pergilah,"usir Charles.
"Terima kasih tuan Charles dan terima kasih Tiffany,"ucap Christian dan bergegas pergi dari situ.
"Apa tadi tidak terlalu berlebihan, Charles??"tanya Tiffany.
"Tidak. Aku memang harus memberi pelajaran pada orang yang hanya bisa berani melukai wanita saja,"ujar Charles.
"Terima kasih Charles. Aku sangat senang memiliki teman sepertimu. Apakah kamu mau berteman denganku?? "ucap Tiffany.
"Why not?? Aku juga senang bisa berteman denganmu,"ucap Charles.
"Apa semua barangmu sudah kamu ambil?"ucap Charles.
"Hmm. Sudah kok,"ucap Tiffany.
"Ya sudah, ayo kita pergi. Aku sudah lapar sekali,"ucap Charles yang sebenarnya tidak lapar.
Itu hanya alasannya saja untuk mengajak Fany keluar.
Mereka pun tiba di sebuah restoran yang sangat besar. Tiffany berpikir kalau makanan yang ada di situ pasti mahal sekali.
"Kau jangan khawatir, aku yang akan traktir kok,"ucap Charles yang seakan tau apa yang ada di pikirannya Tiffany.
"Hehehe. Kau tau saja apa yang ada di pikiranku,"ucap Tiffany.
__ADS_1
Charles hanya tersenyum sambil mengelengkan kepala melihat tingkahnya Tiffany yang menurutnya sangat imut.
Mereka pun memesan makanan dan minuman. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya pesanan mereka sudsh tersaji di meja mereka.
Tiffany dan Charles pun memakan makanan mereka.Selama makan, mereka tidak ada berbicara karena bagi Charles sangat tidak baik jika berbicara kalau sedang makan.
Akhirnya mereka pun sudah selesai dengan acara makan-makan mereka.
"Permisi, apa anda bisa kemari sebentar?"ucap Charles memanggil pelayan karena dia hendak membayar tagihan makanan mereka.
"Berapa ini semuanya??"tanya Charles.
"Tunggu sebentar tuan," pelayan itu berkata sambil menghitung tagihannya"Ini Tuan,"ucap pelayan itu sambil memberi kertas bonnya.
"Ini,"ucap Charles sambil memberikan kartu yang berwarna emas kepada pelayan itu.
"Terima kasih atas kunjungannya Tuan dan Nyonya,"ucap pelayan itu sambil tersenyum setelah mengembalikan kartu milik Charles.
Charles membalas dengan tersenyum kembali ke pelayan tersebut.
"Terima kasih juga Nona, makanan disini enak sekali,"ucap Tiffany dengan nada polosnya.
"Ayo Fany,"ajak Charles.
Mereka pun keluar dari restoran itu dan memilih untuk jalan jalan sebentar karna kebetulan ada taman dekat restoran itu .
"Pak tunggu sebentar ya,"ucap Charles pada sopirnya.
"Baik Tuan"
Tiffany dan Charles pun jalan-jalan di sekitar Taman sambil berbincang-bincang.
"Oh ya, suami pekerjaannya apa?"tanya Charles.
"Dia hanya seorang karyawan biasa Charles,"ucap Tiffany yang berbohong.
"Oh karyawan. Apa dia baik padamu??"tanya Charles.
"Of course...,Dia sangat baik padaku,"ucap Fany.
"Syukurlah kamu menikah dengan pria yang baik dan bisa menjagamu, untung saja tidak seperti Christian tadi,"ujar Charles.
"Hmm, kamu benar Charles. Oh iya, apa kamu sudah punya pacar???"tanya Fany.
"Kalau belum, kamu mau jadi pacarku?"Charles yang ingin bercanda pada Fany.
Tiffany terdiam mendengar perkataannya Charles
"Aku hanya bercanda Fany. Jangan terlalu anggap serius perkataanku tadi,"ucap Charles yang tertawa melihat Fany diam mematung.
"Huft. Syukurlah, aku pikir tadi kamu serius."Fany kembali bernafas dengan lega.
"Ya enggaklah. Kamu kan sudah punya suami,"ujar Chalres.
"Justru karena itu makanya aku bersyukur kalau kamu hanya bercanda saja,"ujar Fany.
"Senang juga ya buat kamu terkejut kayak begitu. Kamu terlihat sangat lucu"
"Hahaha. Sangat lucu ya."Tiffany yang tertawa terpaksa. "Kau jawab pertanyaanku yang tadi," ucap Tiffany lagi.
"Pertanyaan yang mana?"ucap Charles yang berpura-pura tidak tau.
"Ya sudahlah, lebih baik aku pulang saja,"ujar Fany.
"Baik baik, aku akan menjawabnya,"imbuh Charles.
"Tell me, cepat"ujar Fany yang terlihat kepo sekali.
"Sebenarnya aku belum punya pacar karena saat ini aku lagi mencari wanita yang sangat aku cinta yang hilang entah kemana?"jawab Charles.
"Memang dia kemana?"tanya Fany.
"Mana aku tau, kalau aku tau gak mungkin sampai sekarang aku terus mencarinya,"jawab Chalres.
"Iya juga sih. Memang kapan kalian terpisahnya?"tanya Fany.
"Waktu masa sma, Dia tiba-tiba hilang pergi dan tak pernah terlihat lagi. Aku sudah berusaha untuk terus mencarinya bahkan sampai sekarang aku tetap untuk mencari keberadaannya,"ujar Charles.
"Jika suatu saat kau menemukannya tapi dia sudah menikah atau sudah jadi milik orang, Apakah kau akan tetap mengambilnya?"tanya Fany.
"Tergantung situasi Fany. Jika dia pantas untuk aku pertahankan maka aku akan berusaha untuk mengambilnya, tapi jika tidak pantas maka aku akan melepaskannya,"jawab Charles denga santai.
"Aku terharu mendengar kata-katamu, Charles,"ucap Tiffany sambil menepuk bahu Charles .
"Tidak usah berlebihan Fany. Kata kata tadi, biasa saja kok,"ujar Charles.
"Aku tidak berlebihan, aku berkata serius Charles,"imbuh Fany.
"Terserahmu Fany. Sudahlah, aku akan mengantarkanmu pulang. Ini sudah sore, aku tidak ingin membuat suamimu khawatir karena mencari istrinya yang hilang,"ujar Charles.
"Paling dia akan menghajarmu, Charles"
"Dan aku pantas mendapatkannya karena sudah membawa istri orang pergi kemana-mana"
"Hahaha--"Mereka pun tertawa lepas.
Selamat membaca ya readersku
Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya(like kalian)
Dan jangan lupa dibaca dan beri vote serta kasih komentar kalian
Maaf ya karna selalu telat Up
Salam dari Author
Insani Syahputri
__ADS_1
saranghae semuanya