
"Baiklah”jawab Fany yang terpaksa menyetujui permohonan Austin.
Austin dan Tiffany pun langsung pergi menuju ke Resto yang ada di hotel itu.
Di saat sudah sampai disana mereka langsung pergi berjalan menuju meja yang masih kosong.
Kemudian Austin memangggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman.
“Ya tuan. Anda mau pesan apa?”ucap pelayan itu yang berbicara dengan sopan.
“Saya mau pesan Croque Monsieur, Salad Nicoise, Steak Frites”ucap Austin sambil menatap ke arah Fany.
“Dan satu botol Absinth dan air mineralnya ya” ucap Austin lagi.
“Baik Tuan. Mohon tunggu sebentar ya”ucap pelayan itu sambil pamit untuk menyiapkan pesanan Austin.
Austin dan Fany hanya tersenyum dan mengangguk kepala untuk merespon perkataan pelayan itu.
Setelah beberapa menit akhirnya pesanan Austin pun datang dan pelayanan itu meletakkan makanan dan minuman itu di atas meja dengan hati hati.
Kemudian pelayan itu dengan tersenyum berkata pamit undur diri dari meja itu.
“Ini untukmu” ucap Austin sambil menyodorkan salad yang dia pesan tadi.
“Tidak usah tuan. Terima kasih”ucap Tiffany yang menolak pemberian Austin.
“Tapi saya pesan ini memang untukmu. Kalau kamu tidak mau mengambilnya maka aku akan membuangnya ke tempat sampah”ucap Austin yang hendak berdiri hanya untuk membuang makanan itu.
“Tidak Tuan. Saya akan memakannya. Dosa kalau makanan enak ini di buang“ucap Tiffany.
“Kan gitu lebih baik”ucap Austin sambil tersenyum.
.
“Terimakasih tuan”ucap Tiffany sambil menunduk kepalanya.
“Austin Nero. Panggil aku dengan Austin saja”ucap Austin yang menyebutkan namanya.
“Ehh”ucap Tiffany yang tiba-tiba terkejut.
“Gak usah terkejut. Kau tidak usah panggil aku dengan sebutan tuan. Kau cukup panggil aku Austin saja”ucap Austin yang tidak suka dipanggil dengan kata tuan.
“Baik tu...eh Austin. Sekali lagi terima kasih ya atas makanannya"ucap Tiffany yang masih gugup dan belum terbiasa memanggil nama orang yang di hadapan ini.
“Oh iya aku belum mengetahui namamu sampai saat ini. Apa boleh kalau kau bisa memberitahu namamu agar aku juga bisa memanggil namamu saja”ucap Austin.
“ Tiffany Lee, tuan”ucap Tiffany yang tidak sadar bahwa dia masih memanggil Austin dengan sebutan tuan.
“Kan aku sudah bilang jangan panggil aku dengan kata tuan”ucap Austin yang terlihat tidak suka di panggil tuan.
__ADS_1
“Maaf tuan...eh Austin. Aku hanya belum terbiasa“ucap Tiffany yang tidak tahu mau berkata apa- apa lagi.
“Baiklah. Kali ini akan aku maafkan”ucap Austin.
“Kan namamu Tiffany. Bagaimana kalau aku memanggilmu dengan sebutan Fany saja?”ucap Austin.
“Kalau itu membuatmu nyaman memanggil namaku. Tidak apa-apa kok Austin”ucap Tiffany yang mulai terbiasa memanggil nama Austin.
“Kan gitu enak di dengar Fany kalau kau panggil namaku”ucap Austin yang entah kenapa selalu tersenyum bila berbicara terus dengan Fany.
Tiffany hanya tersenyum mendengar perkataan Austin dan meneruskan kegiatan makannya.
Entah kenapa Austin terlihat sangat menyukai saat melihat Tiffany tersenyum daripada melihatnya menangis.
Saat sudah selesai makan, Austin permisi untuk pergi ke toilet sebentar dan Tiffany hanya mengangguk kepala. Setelah mendapat respon Austin pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke toilet.
“Cih. Ternyata kau masih ada di sini ya”ucap Patricia yang tiba-tiba datang bersamaan dengan Christian ke restoran itu dan sedang berdiri di tempat Tiffany duduk saat ini.
“Apa salah jika aku masih ada di tempat ini?”ucap Tiffany yang tidak suka dengan perkataan Patricia.
“Tidak salah sih. Dasar wanita penggoda. Apa jangan-jangan kau ingin mencari mangsa ya di sini? Aku tahu kok kalau sebenarnya tadi kau ingjn menggoda tunangannku, kan?”sarkas Patricia.
“Terserah kau mau bilang apa. Tapi maaf Nona. Bukankah kata-kata itu juga sebaiknya di katakan untukmu?”ucap Tiffany yang terlihat marah dan hendak menampar Patricia.
“Ppllaak!!!”suara tamparan terdengar jelas di telinganya Tiffany.
Christian ternyata langsung menampar Tiffany ketika dia melihat Tiffany yang mau menampar Patricia.
“Kau dengar ya. Kau tidak patut mengatakan kekasihku sebagai wanita penggoda karna kaulah yang lebih cocok mendapat julukan itu”ucap Christian kemudian memegang tangan Patricia dan membawa dia keluar dari resto itu.
Tiffany hanya bisa melihat kepergian Christian hanya menatapnya penuh kebencian.
“Aku akan mengingat ini Christian dan kau akan menyesalinya”ucap Tiffany lalu membersihkan wajahnya dengan tisu dan mengelap bajunya itu. Meskipun sudah di lap bajunya itu pun masih saja terlihat basah.
“Fany. Kau kenapa dan bajumu kenapa bisa basah seperti ini?”tanya Austin yang sudah datang ke meja itu dan dia terkejut melihat baju Fany yang sudah basah padahal sebelum Austin ke toilet baju Fany terlihat baik-baik saja.
“Aku tidak apa apa Austin. Tadi saat aku mau minum, gelasnya tidak sengaja terjatuh dan akhirnya mengenai bajuku”ucap Tiffany dengan berbohong.
“Kau kok ceroboh kali sih”ucap Austin .
“Aku memang wanita ceroboh Austin”ucap Tiffany yang membenarkan perkataan Austin.
Setelah itu Austin memangggil pelayan untuk membayar pesanan mereka tadi.
Setelah selesai membayar, Austin terkejut melihat Fany yang menyodorkan uang kepadanya.
Austin sontak menolak saat Tiffany mencoba memberikan dia uang sebagai pengganti uangnya yang di gunakan untuk membayar pesanannya tadi.
“Tidak perlu Fany. Kau tidak perlu mengganti uangku”ucap Austin.
__ADS_1
“Tapi Austin... Aku jadi tidak enak hati”ucap Tiffany yang merasa tidak enak hati karena makanan yang dia makan tadi cukup mahal sekali.
“Tidak papa Fany. Aku juga tidak keberatan kok, kau anggap saja itu sebagai pemberian dari seorang teman”ucap Austin sambil tersenyum.
“Baiklah. Kalau begitu terima kasih ya Austin”ucap Tiffany dengan tulus.
“Ehmm sama-sama”ucap Austin sambil tersenyum.
Austin pun menemani Fany pergi keluar dari hotel itu. Ya itu karena Tiffany buru-buru mau pulang padahal Austin masih ingin berbicara lebih lama dengan Fany. Tapi Austin dan tidak bisa memaksakan kehendaknya. Jadi mau gak mau Fany harus segera pergi.
“Sekali lagi Terima kasih ya Austin”ucap Tiffany saat sudah ada di luar gedung hotel itu.
“Baiklah. Aku masuk dulu ya”ucap Tiffany saat taksi sudah datang .
Fany pun melangkah kakinya untuk menuju taksi itu.
Baru beberapa langkah berjalan tiba dia menghentikan langkahnya saat Tiffany mengatakan sesuatu.
“Mengenai kejadian semalam. Mari kita lupakan saja.” Ucap Tiffany sambil tersenyum.
Fany cukup terkejut saat mengetahu fakta kalau sebenarnya Austin sudah memiliki kekasih dan itu membuatnya merasa sangat bersalah kepada kekasihnya Austin karena dirinya sudah sudah tidur dengan Austin.
Sedangkan Austin yang mendengar itu sempat tersentak dan terkejut. Ada rasa sakit yang menyeruak di dalam dadanya saat Tiffany mengatakan itu.
Dan Austin membalas perkataan Tiffany dengan mengangguk tanda dia setuju untuk melupakan kejadian kemarin itu.
“ Bagus Austin. Lagi pula kita tidak akan pernah bertemu lagi”batin Tiffany sambil melihat ke arah luar mobil.
Tiffany hanya tersenyum dan kemudian berkata lagi dalam hatinya“Tidak baik jika bersedih terus Fany. Kau harus melupakan kejadian itu dan harus menjadi wanita tangguh".
****
Hai para readers
Selamat membaca ya
Jangan lupa beri like dan komentar kalian.
Dan aku harap kalian akan menyukai novelku ini.
Dan aku mohon kepada kalian untuk memberiku komentar yang baik ya
Aku ingin kok kalian memberikan saran dan ide kalian untuk mengembangkan novelku ini.
Siapa tau nanti aku akan menulisnya.
Terima kasih karna sudah setia untuk membaca karya ku
Aku mencintai kalian.
__ADS_1
Salam ku pada kalian
Insani Syahputri