Tangisan Maura

Tangisan Maura
SAH


__ADS_3

"Baiklah aku setuju tapi,,, bagaimana jika suatu hari aku hamil? " tanyaku ingin memastikan


"Cukup kamu gugurkan atau,,, "


"Atau apa? " tanyaku kembali


"Atau kamu akan ikut mati dengan anak di kandunganmu" seringainya licik


Laki laki tidak punya perasaan, apa hamba harus menikah dengannya ya Allah


Bantu hamba


Batinku


"Nona ini" ucap julius menyodorkan sebuah pulpen dan aku pun menandatanganinya


"Satu lagi, jangan coba coba membuat masalah denganku atau nenek kamu yang menjadi taruhannya" ucapnya sebelum berlalu meninggalkanku


***


Sudah tiga hari berlalu sejak operasi nenek berlansung, keadaan nenek sudah membaik dan Marchel memberikan nenek kamar VVIP agar lebih nyaman


Tok tok tok


Ku alihkan pandangan ke arah pintu dan menampilkan sosok julius yang sangat kaku


"Nona maaf, sudah waktunya" jelasnya padaku

__ADS_1


"Sekarang? "


"Iya, dan ini adalah suster susi yang akan merawat nenek anda"


"Hm suster susi ya, tolong jaga nenek saya ya" ucapku dengan senyum


"Tentu nona muda" jawabnya membungkuk


Apa? Nona muda? Hahaha sejak kapan aku menjadi nona muda


Batinku


Ini adalah hari pernikahan ku dengan Marchel yang hanya di laksanakan dengan ijab qobul


Ijab qobul di laksanakan di rumah marchel, hanya ada beberapa saksi yang tak lain adalah semua pelayan di rumah ini yang sengaja marchel kumpulkan dan tak lupa juga julius yang turut hadir


"SAAHH" jawab mereka bersamaan yang artinya saat ini juga aku resmi menjadi istri siri Marchel Saputra


Selesai ijab qobul Marchel langsung pergi begitu saja meninggalkan ku yang masih mengenakan kebaya, aku kebingungan entah harus pergi kemana karena rumah ini sangat luas sekali


"Nyonya muda, mari saya antar ke kamarnya" ucap seorang pelayan padaku dan aku hanya mengangguk


"Marchel disini tinggal dengan siapa? " tanyaku


"Maaf nyonya saya tidak ada wenang untuk menjawab"


Haa? Apa maksudnya?

__ADS_1


"Nama kamu siapa? " tanyaku kembali


"Ini kamarnya nyonya silahkan"


Dia mengantarku menuju kamar Marchel, kamarnya sangat luas bahkan mungkin lebih luas kamar ini dari pada rumahku dulu


"Nyonya kalau butuh apa apa bisa menggunakan telefon ini" tunjuknya pada sebuah telefon genggam yang terletak di samping tempat tidur


Terlihat juga nomer nomer tertentu seperti dapur, laundry, keamanan, dan lainnya


Mungkin karena rumah ini terlalu besar hingga Marchel menyiapkan telefon


"Saya pamit nyonya" ucapnya sembari menunduk


"Tunggu dari tadi aku tanya nama kamu, kenapa kamu tidak menjawab? " tanyaku bingung


"Nyonya maaf, selain untuk tugas kami,, pelayan disini di larang berbicara pada majikannya dan seragam kami sudah ada namanya masing masing, saya pamit nyonya" jelasnya dan berlalu meninggalkan ku sendirian


Huuuh apa tadi dia bilang? Pelayan di larang berbicara dengan majikannya jika bukan urusan pekerjaan? Aturan macam apa itu? Gilaa


Omelku sendiri


Aku memutuskan untuk mandi dan setelah itu aku duduk santai di halaman rumah yang sangat luas


"Gila ya tu orang,, kaya banget sampek rumah di bangun di tengah lapangan golf kayak gini, dipikir gak capek apa jalan jauh gini? Masak dari kamar kehalaman depan doang sampek 10 menit jalan kaki? Kalau dari rumah maya jalan kaki 10 menit udah sampek warung bu ida aku" omelku sendiri karena capek jalan terlalu jauh


Bayangkan saja rumah ini seperti rumah yang di bangun di tengah tengah lapangan golf karena halamannya yang sangat luas dengan hamparan rerumputan yang hijau

__ADS_1


__ADS_2