
"Kenapa hanya diam? Aku menyuruhmu untuk makan" ucapnya kembali
"Aku tidak lapar"
"Aku minta maaf soal yang tadi siang, sekarang makanlah" ucapnya yang membuatku kaget
Apa aku tidak salah dengar? Dia minta maaf?
"Apa perlu aku suapi? " tanyanya
"Tidak"
"Sekarang makanlah"
Aku langsung menyendok nasi ke piringku tanpa berniat mengatakan sepatah katapun
Aku sudah bertekad untuk tidak mengharapkan apapun dari Marchel lagi karena aku tau yang akan aku dapat hanya sebuah kekecewaan
Selesai makan aku langsung membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci namun lagi lagi Marchel angkat bicara
"Tidak usah" ucapnya menahan lenganku
"Kenapa? "
"Ada pembantu yang akan membereskannya"
"Biasanya kamu tidak pernah melarangku" tanyaku lagi
__ADS_1
"Untuk apa aku menggaji mereka jika hal kecil seperti ini saja harus kamu yang lakukan? Apa perlu aku memecat mereka semua? " ancamnya
Aku meninggalkan Marchel begitu saja karena berdebat dengannya menurutku itu percuma hanya buang buang tenaga
Marchel POV
Aku tidak tau kenapa rasanya kesal sekali saat pulang kerumah namun Maura tidak berada disana, seperti ada yang kurang
Segera ku suruh julius untuk mencarinya karena jujur aku merasa khawatir karena Maura belum juga pulang saat jam menunjukkan pukul 9 malam
Begitu mendengar suara mobil berhenti di depan rumah seakan hatiku akan meloncat keluar saking senangnya karena Maura sudah kembali
Awalnya aku berencana akan memarahinya saat ia pulang, tapi melihatnya berjalan santai melewatiku membuatku merasa takut dan entah kenapa tangan ini malah menggandengnya ke meja makan
Melihat raut wajah kesalnya entah mengapa terlihat lucu di mataku, tapi juga hatiku takut jika Maura masih marah padaku
***
Pernikahan ku dan Marchel sudah menginjak usia 1 tahun namun sampai saat ini juga belum ada yang mengetahui tentang hubungan kami
Marchel menjadi lebih lembut dan hubungan kami pun sangat baik layaknya pasangan suami istri umumnya yang saling mencintai bahkan tak jarang Marchel mengajakku jalan jalan keluar negeri atau ke tempat tempat romantis
Namun tetap secara diam diam karena menurut Marchel, ia tidak ingin jika para wartawan akan mengincar Maura istrinya sebagai ajang topik berita mereka
Drrrtt drrtt drrtt
Getar ponselku menandakan ada panggilan masuk
__ADS_1
"Halo"
"..... "
"Iya saya sendiri, ada apa ya? " tanyaku bingung
"..... "
"Apaaa? " saking kagetnya aku sampai tidak sadar kalau ponsel yang tadi masih menempel di telingaku kini jatuh mencium lantai
Aku segera bergegas menuju rumah sakit, yaa yang tadi menghubungiku adalah mbak susi perawat pribadi nenek dan mbak susi mengatakan kalau keadaan nenek tiba tiba memburuk dan di larikan ke Rumah sakit
Aku di antar oleh sopir pribadi yang Marchel pekerjakan khusus mengantarku kemanapun aku ingin pergi
Sesampainya di rumah sakit aku langsung berlari menuju ruang UGD tempat nenek di tangani
"Mbak, mbak gimana nenek? " tanyaku mengguncang tubuh mbak susi
"Belum tau nyonya masih di tangani dokter" ucapnya sedih
Tiba tiba dokter keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang sedih
"Dok, dokter gimana nenek saya? " tanyaku
"Maaf nyonya, kami sudah berusaha tapi Tuhan berkehendak lain kami turut berduka" ucapnya
Kalimat yang dokter lontarkan seakan meruntuhkan segala pertahanan hidupku, tubuhku terasa lemas tak bertenaga dan langsung jatuh terduduk di lantai rumah sakit
__ADS_1