Tangisan Maura

Tangisan Maura
Hinaan III


__ADS_3

"Saya mau pulang permisi" ucapku lagi namun tanganku di tahan dan tubuhku di dorong membentur tembok


"Mau pulang ke rumah simpanan yang lain ya? " tanyanya menghinaku kini yang berbicara perempuan berbaju hitam


"Itu bukan urusan kalian tolong jangan halangi jalan saya" ucapku emosi


"Perempuan seperti kamu berani sekali bicara seperti itu ha?? "


"Apa yang perlu saya takuti? " tanyaku kembali


"Halaah jangan pikir karena kamu itu sudah tidur dengan Pak Marchel jadi kamu bisa sombong ya" dorongnya padaku yang membuatku jatuh terduduk karena tidak seimbang


"Kamuu? " aku segera berdiri dan mendorong perempuan berbaju merah yang tadi mendorongku


Merasa tidak terima kedua temannya beranjak memukuliku, mereka menahan kedua tanganku agar perempuan yang aku dorong tadi bisa memukulku puas


"HENTIKAAN" teriakan itu seakan menggema di seluruh loby


Aku hafal betul siapa pemilik suara itu, tubuhku seketika bergidik ngeri bahkan aku sudah tak perduli dengan keadaanku saat ini


"Apa yang kalian lakukan? " tanya Marchel penuh penekanan

__ADS_1


Tak ada yang berani menjawab begitupun aku, rasanya ingin sekali aku berlari sejauh mungkin dari hadapan Marchel


"Apa kalian semua bisuu?? " bentaknya yang membuat kami berempat kaget bersamaan


"Ma,, maaf pak, perempuan ini yang duluan" ucap perempuan berbaju merah yang tadi ku dorong


Sialan,, apa maksudnya dia ingin melimpahkan kesalahan padaku


"Tidak, mereka yang duluan mengganguku" ucapku


"Tidak pak,, jelas jelas perempuan ini yang mencari masalah pada kami" kini perempuan berbaju putih yang ikut membela diri


"Jelaskan" pinta Marchel yang masih berdiri dengan angkuhnya


"Iya pak, karena kami menolak perempuan ini mengancam akan memecat kami atas nama bapak" kembali perempuan berbaju merah menimpali


"Karena kami tetap tidak mau perempuan ini mendorong Lila pak" ucap perempuan berbaju putih dengan menunjuk perempuan berbaju merah


"Enggak,,, enggak itu gak bener, mereka semua bohong. Marchel kamu harus percaya padaku" ucapku memegang lengan Marchel namun tak berapa lama Marchel menghempaskan tanganku keras membuatku jatuh tersungkur


"Securityyyy" teriaknya

__ADS_1


"Iya Pak" jawab tiga orang security berlari menghampiri


"Seret perempuan ini keluar" tunjuknya padaku


"Baik pak"


"Tunggu,, jangan biarkan dia mendekati kantor ini lagi apalagi sampai masuk" perintahnya tegas


Ketiga security itu hendak menggeretku namun aku segera berdiri, aku sudah malu menjadi tontonan para karyawan tidak mungkin aku harus membiarkan mereka menggeretku lagi


"Saya bisa pergi sendiri pak" ucapku pada ketiga security tersebut


Ku tatap lekat Marchel, tatapan penuh kemarahan dan kebencian yang ku pancarkan namun Marchel hanya berlalu begitu saja meninggalkan tempatnya berdiri tadi


Ketiga perempuan yang tadi menghinaku hanya tersenyum sinis menatapku, bukan hanya itu sekarang tatapan jijik itu juga di tunjukkan oleh karyawan yang sedari tadi menontonku


Aku berjalan pergi menjauh dari kantor Marchel, air mataku masih setia terjun dengan derasnya


orang orang yang berada di jalan hanya menatapku aneh karena penampilannku yang berantakan sambil menangis di jalanan


Ibu kenapa di dunia ini orang orang selalu menindas Maura bu,,, hanya nenek yang menyayangi Maura tapi nenek sekarang...

__ADS_1


Buuu, bawa maura bersamamu


Maura tidak sanggup lagi


__ADS_2