Tangisan Maura

Tangisan Maura
Terungkap


__ADS_3

Aku memilih duduk di kursi taman yang di sediakan untuk bersantai tak lupa aku memetik bunga mawar yang terdapat di sebelah kursi tempatku duduk dan ku hirup aromanya dalam dalam


Aah tenangnya


Batinku


"Mbak, tolong buatkan saya coklat hangat ya" pintaku


"Baik Nyonya" ucapnya dan berlalu pergi


Baru beberapa menit pelayan pergi tiba tiba..


"Maura" panggilnya dan membuatku kaget mendengar suara yang tak ingin ku temui


Aku perlahan melihat ke arah orang tersebut


"Mauraa,, maaf maafin tante ra" ucapnya padaku sambil bersimpuh di kakiku


Aku yang mendapat perlakuan seperti itu refleks langsung berdiri karena tidak biasanya tante Mira bersikap seperti ini


"Raa tante mohon maafin tante,, tante tidak sengaja mendorong kamu" tangisnya yang masih bersimpuh


Kenapa tante mira sampai bersikap seperti ini? Apa perbuatannya waktu itu mendapat murka dari Marchel?


Aku harus memancing tante mira agar ia jujur padaku


"Tante tau kan akibat dari perbuatan tante" ucapku bohong seakan aku sudah tau semuanya agar tante mira tidak curiga

__ADS_1


"Iya ra,, tante bener bener minta maaf, tante salah, tante di kuasai emosi saat itu.. Maafin tante ra, tante juga sangat menyesal"


"Menyesal? " tanyaku bingung


"Iya ra tante menyesal, bahkan semenjak kamu di bawa ke rumah sakit tante jadi tidak bisa tidur nyenyak, tante merasa bersalah,,, karena tante tidak bisa mengontrol emosi tante malah menyebabkan cucu tante sendiri meninggal" ucapnya dalam tangis


Mataku membulat seakan tak percaya mengenai apa yang baru saja ku dengar


Cucu?


Meninggal?


Apa waktu itu?


Aku langsung membekap mulutku sendiri, menahan tangis yang sudah meluncur sempurna di pipi mulusku


Panggilan dari tante mira maupun para pelayan yang lain seakan tak terdengar olehku, kaki ku terus saja melangkah pergi


"Sayaang,, sayaaang,,, maura"


"Mauuraa" panggilnya dan langsung menarikku kedalam pelukannya


Siapa?


Aku langsung menarik tubuhku dan mendorong dada Marchel menjauh dari tubuhku


"Sayang tenang lah, ayo kita kembali kamu mau kemana? " tanyanya padaku namun aku tetap menangis dan menangis

__ADS_1


Aku berusaha melepas genggaman tangan Marchel namun tiba tiba kepalaku terasa sangat sakit dan semua menjadi gelap


****


"Uggh, kepalaku sakit sekali" pikirku namun ingatan sebelum aku jatuh pingsan kembali teringat olehku yang membuatku kembali menangis


"Sayaang, kamu sudah bangun? " tanyanya padaku namun aku hanya diam dan menangis


"Sayang tenanglah" ucapnya sambil menarik tubuhku ke dalam pelukannya


"Kenapa?............ Kenapa kamu tidak memberitahuku? " tanyaku dalam isak tangis


"Maaf sayang,, aku cuma gak mau kamu semakin drop, kondisi kamu belum pulih dengan sempurna maafin aku" ucap Marchel serak sepertinya ia juga menangis


Aku pun mengeratkan pelukanku pada tubuh Marchel tangisan yang tadi biasa menjadi terdengar sangat menyedihkan dan Marchel mengusap lembut punggungku agar aku lebih tenang


Setelah beberapa menit puas menangis aku pun merasa lelah dan tertidur dalam pelukan Marchel


****


Aku terbangun dan ku lihat lampu kamar yang remang remang, ku ambil jam weker di nakas dan menunjukkan pukul 20.29 malam


Karena merasa lapar aku pun bangun hendak menuju dapur, saat menuruni tangga dapat ku dengar suara Marchel yang sedang memarahi seseorang


Siapa yang Marchel marahi ya?


Aku pun melangkah menuju asal suara yang berada di ruang tamu, sesampainya disana dapat ku lihat Marchel memarahi.....

__ADS_1


__ADS_2