Tangisan Maura

Tangisan Maura
Rencana Marchel


__ADS_3

"Saya tidak ingin menemuimu, saya mau bertemu anak saya,, oh iya ini kenalin namanya Felicia dia calon istri Marchel" jelasnya membelai lembut lengan perempuan yang duduk di sampingnya


"Oh jadi ini perempuan bayaran yang tante bilang waktu itu ke feli? Hmm ternyata bener ya yang tante bilang" ucapnya dengan senyum kecut


Cantik tapi....pikirku


"Oh jadi tante suka cerita soal saya ya ke kamu? Kayaknya tante suka banget ya sama saya" sindirku halus


"Jangan terlalu sombong kamu,, saya cerita bukan karena saya suka tapi karena saya benci sama kamu" bentaknya


"Tapi aku bingung loh, koq marchel mau ya mahal mahal bayar kamu? Padahal cantik juga enggak, gak berpendidikan, juga dari kalangan bawah kayak kamu" kembali feli menghinaku membantu tante mira


"Yaah meskipun gak cantik gak berpendidikan tinggi setidaknya saya tau gimana harus menjaga lisan saya" ucapku dengan senyuman tipis


"Maksud kamu apa haaa? " bentak feli yang sudah berdiri


"Intinya saat ini Marchel memilih saya kan? Jadi tolong jangan buat ribut disini, kalau nona feli tidak terima mungkin nona feli bisa menemui Marchel secara langsung daaan di temani tante mira mungkin" jelasku menatap tante mira


"Kamuuu,, berani sekali kamu" tunjuk tante mira padaku yang saat ini juga ikut berdiri


"Tante kenapa gak suruh Marchel buang aja sih perempuan kampung ini" rengek feli yang membuatku geli


"Tante akan bicarakan ke Marchel fel, kamu tenang saja"


"Hm iya tante saya tunggu, semoga berhasil ya tante saya juga ikut senang kalau Marchel menyetujuinya" jelasku dengan senyuman

__ADS_1


Tante Mira dan Felicia meninggalkanku dengan emosi yang menggebu gebu


Huuuuuffft


Tante mira ini gak ada henti hentinya membuatku sulit, kenapa dia harus menemuiku kenapa gak ngomong lansung aja ke Marchel kan yang punya kuasa tuh Marchel bukan aku


Batinku mendumel


Karena Marchel melarangku bekerja alhasil aku meminta marchel untuk mengizinkan aku untuk memasak dan Marchel pun menyetujui tapi malah di luar dugaan


Marchel membuatkan daput khusus untukku dan beberapa pelayan khusus yang membantuku di dapur jika aku ingin membuat makanan


Dapur yang Marchel sediakan untukku berukuran mini karena khusus untuk membuat makanan ringan, kue kue atau yang lainnya


Biasanya aku pun membuat cake atau sejenisnya dan kemudian membagikannya kepada pelayan karena memang aku hanya suka membuatnya tapi tidak untuk memakannya


Tok tok tok


"Tuan maaf, Nyonya besar hari ini datang kerumah bersama nona Felicia" jelas julius padaku


"APAAAA? Sekarang mama bikin ulah apa lagi? " tanyanya khawatir


"Sepertinya Nyonya besar ingin membuat Nyonya muda cemburu atau sedih karena mengenalkan nona Felicia sebagai calon istri Tuan, tapi menurut pak Agus Nyonya muda malah terlihat santai dan membuat Nyonya besar marah" jelasnya lagi


"Huuh sudahlah kalau begitu, yang penting Maura baik baik aja"

__ADS_1


Julius mengangguk dan berlalu akan pergi


"Julius, obat dari dokter Ike apa sudah di antar? " tanyaku penasaran


"Sudah saya berikan pada pak Agus tuan" jelasnya


"Hm baiklah"


Julius berlalu meninggalkan ruangan dan segera ku ambil ponsel yang berada di atas meja untuk menghubungi seseorang


"Haloo"


"Iyaa,, ada apa? " jawabnya halus yang membuat hatiku tenang


"Apa kamu sudah menerima obatnya? "


"Sudah"


"Kamu minum obatnya selesai makan siang ya" pintaku


"Aturannya berapa kali? "


"Satu kali sehari"


"Hm baiklah, sudah dulu ya aku lagi bikin kue"

__ADS_1


"Iya, hati hati jangan terluka" ucapku mengingatkan dan panggilan telefonpun terputus


__ADS_2