
Mataku tertuju pada sosok laki laki yang memakai kemeja berwarna navy dengan lengan baju yang di gulung hingga siku
SEMPURNA
Gumamku
"Maura bawa sini" pinta pak Putra yang ternyata juga ada di ruangan tersebut
Haduh gara gara liat cowok ganteng malah jadi ngelamun gini
Rutukku sendiri
"Silahkan tuan" ucapku hendak menuangkan minuman ke dalam gelas
Di ruangan ini hanya ada pak putra dan laki-laki tampan itu yang di kelilingi oleh wanita wanita malam yang club sediakan
Saking terpana karena ketampanannya sampai aku tidak sadar kalau laki laki ini juga sama dengan yang lain, Buaya
Ucapku dalam hati
"Berapa? " tanyanya tiba tiba yang membuatku kaget
"Haa? "
"Berapa? " ulang laki laki tersebut dan aku hanya menatap pak Putra penuh tanya
Pak Putra segera membisikkan sesuatu pada laki laki tersebut dan tampak laki laki tersebut menyeringai membuatku takut
__ADS_1
"Aku tidak peduli, katakan berapa kamu akan menjual tubuhmu? " tanyanya kembali dengan lebih jelas
"Apaa? " mataku membulat sempurna karena kaget, rasanya darahku seakan mendidih
"Tuan maaf, saya hanya pengantar minuman disini" jelasku mencoba bersabar agar tidak terpancing emosi
"Tidak usah munafik, katakan saja aku akan membayarmu atau bahkan lebih" senyumnya dengan penuh arti
"Maaf tuan yang terhormat, saya memang orang miskin tapi saya tidak berniat menjual diri demi uang" ucapku tegas dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut
Rasanya ingin sekali melempari wajah laki laki itu dengan botol minuman, atau kepalanya sekalian biar dia sadar apa yang baru saja ia ucapkan
"Raa,, kamu kenapa kesal gitu? Bukannya kamu habis nganter minum ke VVIP? " tanya maya yang tak sengaja berpapasan di lorong VVIP
"Hmmm enggak apa apa koq may,, aku lanjut kerja lagi ya" jelasku meninggalkan maya
Sedangkan di ruangan VVIP yang baru saja Maura tinggalkan tertinggal aura aura kemarahan seorang Marchel Saputra
"Tapi dia itu gak bisa di bujuk chel"
"Kalau gak bisa cara halus kamu bisa pakai cara kasar, atau... " ucapnya menggantung dan melirik segala penjuru ruangan yang artinya marchel tidak segan segan membuat club milik putra tutup saat ini juga
"Baiklah, besok kamu hanya perlu menunggu di villa mu" pasrah putra karena ancaman Marchel berhasil membuatnya takut
Marchel berlalu meninggalkan putra di ruang VVIP sendirian
"Maura" panggilnya
__ADS_1
"Iya pak putra? Ada apa? " tanyaku
"Ini bayaran untuk tadi" sambil menyerahkan amplop coklat yang terlihat tebal
"Tapi tadi kan saya... "
"Sudah sudah, tamu tadi sudah memaafkan kamu jadi ini ambillah" menyerahkan amplop tersebut ke tanganku
"Makasih pak" senyumku girang
Waah tebel banget ni amplop, Alhamdulillah
"Oh iya besok kamu tolong datang agak malam bisa? Ya sekitar jam sembilan" ucapnya
"Kenapa pak? " tanyaku bingung
"Emm enggak, soalnya club ini di booking sampek jam delapan malam" bohongya
"Baiklah, kalau begitu saya pamit pak" ucapku dengan senyum girang
Putra hanya menatap sedih Maura dari kejauhan
Maafkan aku maura, aku tidak bisa menepati janjiku
Gumam putra karena merasa kasihan pada nasib maura
Jam di ponselku menunjukkan pukul 3 dini hari, Aku langsung ke rumah sakit untuk menemani nenek
__ADS_1
***
"Tuan saya membawa data perempuan itu" ucapnya pada seseorang yang duduk dengan angkuh