Tangisan Maura

Tangisan Maura
Hinaan I


__ADS_3

"Marchel dimana? " tanyaku


"Tuan mengatakan anda tidak perlu mencari keberadaan tuan, tuan akan kembali jika tuan mau" jelasnya padaku


Benar, untuk apa aku mencarinya?


Bukannya aku hanya istri sementaranya?


Haaaah maura maura, jangan lupa posisimu sendiri


Ucapku dalam hati


Setelah menyerahkan barang titipan itu julius langsung kembali ke kantor dan aku hanya bermain dengan Hp baru yang Marchel belikan


Di dalam ponsel tersebut sudah ada nomer julius, paman Agus, dan suster susi yang merawat nenek


Kenapa tidak ada nomer Marchel?


Pikirku


Langsung ku hubungi nomer julius untuk menanyakan perihal tersebut


"Halo nyonya"

__ADS_1


"Halo, julius maaf mau tanya kenapa di ponsel ini tidak ada nomer telefon Marchel? " tanyaku


"Tuan tidak ingin nyonya menghubunginya, jika butuh sesuatu tuan meminta nyonya untuk menghubungi saya" jelasnya


"Baiklah, maaf mengganggumu" ucapku lesu dan segera mengakhiri sambungan telefon tersebut


Haaah benar benar keterlaluan Marchel,, sudahlah mau dikata apa lagi aku hanya sebuah mainan untuknya


Ditempat lain julius sedang berdiri di depan seorang laki laki yang sedang mamangku dagunya sendiri


"untuk apa perempuan itu menginginkan nomerku? " tanyanya


"Saya tidak tau tuan"


"Kembalilah ke ruanganmu" perintahnya pada julius


Dengusnya kesal


***


Pernikahanku dan Marchel sudah berjalan sekitar tiga bulanan, Marchel jarang pulang kerumah bahkan bisa di hitung jari


Kadang dalam seminggu ia akan pulang dua kali atau satu kali atau mungkin tidak sama sekali, tapi lebih tepatnya dalam sebulan paling banyak ia pulang kerumah adalah empat kali

__ADS_1


atau mungkin ia akan menelfonku untuk menemuinya di kantor atau di hotel jika ia sedang ingin bercinta


"Marchel" panggilku pada marchel yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang dikamar pribadi kantornya


"Hm"


"Apa aku boleh bekerja? " tanyaku ragu


"Apa uang yang ku berikan tidak cukup sampai kamu ingin bekerja? " tanyanya menghina


"Aku,,, aku hanya ingin mencari kesibukan" bohongku karena sejujurnya aku bekerja memang untuk jaga jaga jika suatu hari Marchel mendepakku dari status istrinya mungkin aku tidak akan terlaku kaget karena setidaknya aku punya pekerjaan sendiri, penghasilan sendiri, tidak seperti saat ini yang serba di sediakan


"Tidak boleh, pekerjaanmu hanya menjadi istri yang penurut dan bisa membuatku senang" ujarnya


Aku hanya terdiam tak bisa berkutit mendapat penolakan darinya, bukan tak ingin membantah namun aku takut kejadian sebulan lalu terulang


Sebulan lalu aku membantah perintah marchel dan membuatnya marah, dan alhasil marchel malah menghentikan pengobatan nenek yang membuat nenek drop walau tidak terlalu menghawatirkan


Saat ini aku bingung, jujur aku tidak sanggup dengan sikap semena mena marchel namun aku tak bisa pergi darinya selain karena kontrak juga karena nenek yang masih membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya karena penyakit nenek sudah komplikasi


"Apa yang kamu tunggu? Bukannya kamu tau aku paling tidak suka jika urusan ranjang sudah selesai tapi kamu masih berdiam di depanku" sindirnya sarkas


"Ma,, maaf aku akan segera pulang" jawabku kaget

__ADS_1


Aku keluar dari kamar pribadi marchel yang berada dalam satu ruangan dengan ruang kerjanya, disana terlihat julius sedang duduk membaca beberapa dokumen


Julius menatapku sekilas dan menunduk, sedangkan aku? Aku langsung keluar dari ruangan Marchel karena rasanya hati ku terasa amat sakit


__ADS_2