
Marchel berhasil melepas semua pakaian yang ku kenakan hingga tak tersisa sehelai benangpun
"Apa kemaren kamu sudah suntik kontrasepsi? " tanyanya sebelum kembali melanjutkan aksinya dan aku hanya mengangguk
"Bagus, aku ingin sensasi yang berbeda" ucapnya yang membuatku bingung
Marchel kembali mencium gundukan kenyal itu sembari memberikan gigitan kecil yang membuatku mendesah
"Emmhh,, aakh"
"Keluarkan sayang, keluarkan desahanmu" pintanya
"Aaaahh Mar,, chelh,, akuh mau pipis"
"Pipis disini aja sayang, itu bukan pipis tapi kenikmatan" jelasnya
"Aaakkkh hah haaah" teriakku
"Ok langsung inti " ucap marchel yang membuatku takut
Marchel mencoba menuntun adiknya agar masuk ke tempatnya namun sepertinya ia kesusahan, dapat ku lihat dari wajahnya yang seperti tidak tahan karena terlalu susah untuk memasukinya
"Emmmh" lenguhku membuat marchel kembali mencium bibirku
"Akhh sakiit" ucapku
"Tahan, sebentar lagi masuk" bisiknya
"Aaaahh sakiit" rengekku
Marchel mulai menggerakkan pinggulnya, rasa sakit yang ku rasakan di awal berubah menjadi nikmat yang baru pertama kali ku rasakan
Kegiatan panas itu berlangsung hampir dua jam, Marchel benar benar membuatku kelelahan yang membuatku langsung terlelap
***
__ADS_1
Hari sudah pagi mentari yang bersinar terang menandakan hari ini cuaca akan panas, ku edarkan pandanganku ke segala penjuru namun tak ku temui keberadaan Marchel
Setelah selesai membersihkan diri aku turun ke lantai bawah untuk mencari keberadaan Marchel
"Apa kamu melihat Marchel? " tanyaku pada seorang pelayan yang name tag nya tidak terlihat
"Maaf, tidak nyonya" jelasnya
Kemana sih dia? Apa udah berangkat kerja ya?
Pikirku
"Maaf nyonya ada yang bisa saya bantu? " tanya seorang laki laki yang lumayan sudah tua, dengan rambut yang terlihat beberapa helai sudah berubah warna menjadi putih
"Anda siapa? " tanyaku bingung
"Maaf nyonya, perkenalkan nama saya Agus kepala pengurus di rumah ini" jelasnya
"Oh,, Pak Agus" ucapku
"Tidak, itu tidak sopan,,, anda lebih tua dari saya"
"Tapi anda majikan saya nyonya" balasnya
"Baiklah kalau begitu saya panggil paman Agus saja"
"Terserah nyonya saja,tapi ada yang bisa saya bantu? " tanyanya
"Emmm paman liat Marchel tidak? " tanyaku
"Tuan semalam keluar nyonya"
"Kemana? "
"Maaf saya tidak tau nyonya"
__ADS_1
"Hmm baiklah, terimakasih" ucapku dan paman Agus hanya menunduk dan berlalu hendak pergi
"Tunggu" panggilku kembali
"Iya nyonya"
"Paman koq baru saya liat ya? " tanyaku
"Kemarin saya cuti nyonya, dan baru kembali hari ini" jelasnya lagi
"Hm begitu, baiklah"
Aku pun berjalan menuju halaman depan yang luas, aku sengaja pergi kesana karena ingin duduk di bawah pohon rindang sekaligus menikmati air mancur yang berada du halaman depan
Tidak ada niatan untuk sarapan, rasanya tidak ada yang ku ingin makan saat ini
Aku begitu merindukan nenek namun Marchel melarangku untuk meninggalkan rumah
hanya bisa menghubungi nenek melalui telefon tapi itu membuatku senang, karena mendengar suara nenek yang sehat saja sudah membuatku bahagia
"Nyonya" panggilnya yang membuatku terlonjat kaget
"Aduuh kamu ngagetin aja" ucapku kesal
"Maaf nyonya saya tidak ada niat mengagetkan, saya kemari mau mengantar ini" dengan menyerahkan sebuah bingkisan
Ku ambil bingkisan tersebut dan langsung membukanya, terlihat kotak Hp keluaran terbaru yang harganya puluhan juta itu
"Inii...? " tanyaku bingung
"Itu untuk nyonya dari tuan" jelasnya
"Untukku? " tanyaku kembali dan julius hanya mengangguk
Waaah mimpi apa aku dapat Hp mahal gini
__ADS_1
"Marchel dimana? "