
Aku sedikit menimbang nimbang tawaran dari maya, gajinya memang menggiurkan tapi kalau harus kerja di tempat seperti itu?
Melihatku yang masih ragu membuat maya kembali melontarkan pendapatnya
"Ra, menurutku kalau kamu masih bisa kerja di tempat lain mending jangan ambil tawaranku"
"...... "
"Gini aja,, ini kartu namaku nanti kalau kamu berubah pikiran kamu hubungi aku ya, sekarang aku harus berangkat kerja dulu bye"
"Bye" ucapku melambaikan tangan
Kembali ku langkahkan kaki untuk pulang ke rumah karena sepertinya sangat tidak mungkin mencari kerja di saat malam seperti ini
"Assalamualaikum" salamku saat memasuki rumah yang sederhana ini
"Koq kamu sudah pulang? Di pecat lagi? " bentak bibi yang baru keluar dari kamarnya
"Iya bi" jawabku takut
Bibi langsung menoyor keningku saat mendengar jawabaku atas pertanyaannya
"Anak tidak berguna, lagi lagi di pecat kamu itu becus kerja enggak sih? Apa kamu males malesan kerjanya makanya di pecat? "
__ADS_1
"Enggak bi, tadi aku telat karena jalan kaki makanya aku di pecat" belaku
"Jadi sekarang kamu nyalahin bibi? Iya?? Berani kamu yaaa, kalau bukan karena bibi dan paman yang berbaik hati merawatmu dari bayi mungkin kamu sudah jadi gelandangan atau juga mati,, dasar anak gak guna pantes bapak kamu aja gak mau sama kamu" hinanya padaku dan langsung pergi berlalu keluar rumah mungkin ingin dugem, ya karena itu kebiasaanya bersama teman temannya
Aku masuk ke dalam kamar dan menatap sedih foto Alm. Ibu
Ibu, apa bener bapak gak mau sama maura?
Kenapa bapak pergi bu? Bapak kemana?
Ibu bawa maura bersamamu, maura gak mau disini maura gak bahagia
Tangisku memeluk figura foto Alm. Ibu
Bibi juga pernah bercerita bahwa ia pernah bertemu bapak saat aku berusia 3 tahun tapi bapak sudah bersama dengan orang yang bibi yakini adalah keluarga barunya
Aku terus menangis sepanjang malam, rasanya kepalaku hampir pecah karena stress memikirkan semuanya sampai mataku pun lelah dan terlelap dengan sendirinya
***
Segera ku bergegas bangun saat alarm Hp berbunyi menandakan saat ini pukul 02.40 dini hari karena memang sudah ku setel alarm di jam itu.
Rutinitasku setelah alarm berbunyi yaitu mandi,menunaikan sholat malam dan bersiap memasak nasi lemak untuk ku jual biasanya aku menitipkan nasi lemak buatanku di beberapa warung
__ADS_1
Biasanya perhari aku hanya membuat tiga puluh bungkus nasi lemak, pemilik warung biasanya meminta lebih namun aku tidak bisa menyanggupi karena aku harus berangkat kerja pagi pagi
Setelah selesai membungkus nasi aku pun kembali bergegas untuk mandi dan menunaikan sholat subuh, rutinitasku setiap hari setelah sholat subuh ialah membuat sarapan dan mengurus nenek seperti memandikan dan menyuapinya dan sebelum berangkat kerja tak lupa aku mengantar nasi lemak ke warung warung langganan
"Nek, maura berangkat kerja dulu ya" pamitku menyalami tangan nenek
Aku pun bergegas untuk berangkat kerja dan mengantar nasi lemak
saat siang hari aku bekerja sebagai cleaning servis di sebuah hotel besar di bandung
"Loh maura? " sapanya
"Maya? Kamu nginep disini? " tanyaku
"Iya, lagi nemenin tamu" jawabnya santai
"Kamu kerja disini? " tanyanya lagi
"Iya"
Kriingg kriingg
"Eh bentar ya" ucapku seraya menjawab panggilan masuk sedangkan maya hanya mengangguk
__ADS_1
"Halo"