Tangisan Maura

Tangisan Maura
Nenek


__ADS_3

Kalimat yang dokter lontarkan seakan meruntuhkan segala pertahanan hidupku, tubuhku terasa lemas tak bertenaga dan langsung jatuh terduduk di lantai rumah sakit


Samar samar dapat ku dengar suara langkah kaki menghampiriku, belum sempat aku melihat siapa yang datang tiba tiba tubuhku di peluk dengan erat


"Tenang" kalimat itulah yang terlontar dari mulutnya namun membuatku seakan ingin menumpahkan segala kesedihan yang ku rasakana


Hiks hiks hiks,,, nenek...


Ucapku menggantung karena rasanya begitu sesak


"Sabar sayang, tenang ya ini adalah jalan dari Sang Kuasa" ucap Marchel mencoba membuatku tenang dengan mengelus lembut rambutku


Masalah rumah sakit dan pemakaman semua di urus oleh mbak susi dan Julius, sedangkan aku hanya menangis dalam diam


Setelah acara pemakaman selesai Marchel membawaku pulang ke rumah


"Ra, kamu mau mandi duluan? " tawarnya padaku namun aku hanya menggeleng


"Ya sudah biar aku aja yang mandi dulu" ucapnya masuk ke dalam kamar mandi


Aku hanya menangis dan menangis meratapi hidupku kedepannya, satu satunya keluarga yang menyayangiku hanya nenek tapi sekarang nenek sudah di panggil oleh Sang Pencipta lalu bagaimana nasib ku selanjutnya?


Nenek apa sekarang nenek sudah bahagia? Nek semoga Allah menempatkan nenek di surga, jika nenek bertemu dengan ibu tolong katakan padanya Maura sangat rindu


Ucapku dalam hati karena tak sanggup untuk berbicara akibat tangisan yang tak kunjung mau berhenti


Cklek


Terlihat Marchel keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang ia lilitkan di pinggangnya sedangkan rambutnya masih basah


Tanpa mengatakan apapun aku masuk kedalam kamar mandi menggantikan Marchel, butuh waktu sekitar 30 menit untukku membersihkan diri sebenarnya bukan hanya membersihkan diri mamun mencoba melepas tangisan yang sedari tadi seakan tak sanggup ku tahan

__ADS_1


Aku keluar kamar mandi menggunakan handuk kimono, ku lihat Marchel yang duduk bersandar di sofa dan langsung berdiri menghampiriku


"Sini keringin dulu rambutnya" ucapnya menggandeng tanganku lembut


Aku hanya diam, rasanya enggan mengatakan apapun saat ini entah mengapa tapi rasanya malas sekali


"Habis ini kamu makan ya,, dari tadi siang kamu belum makan" pintanya seraya mengeringkan rambutku dengan hairdrayer


***


Sebulan berlalu sejak nenek meninggal, Marchel lebih sering di rumah untuk menghabiskan waktu denganku alasannya karena tidak ingin melihatku sedih jika hanya diam di rumah sendirian


"marchel" panggilku


"Iya"


gimana ya? Sebenernya aku mau tanya apa dia akan menceraikanku karena nenek sudah meninggal? Tapi aku takut dan lagi Aku harus tanya gimana?


"Raa, kenapa? " tanyanya karena melihatku hanya bengong


"Eh emm itu,,, kamu mau makan malam apa? " tanyaku bingung


Bodoh kenapa malah kesana pertanyaannya


"Kenapa tiba tiba kamu nanya gitu? "


"Em aku mau masak buat kamu" ucapku spontan


"Gak usah, kamu istirahat aja biar pelayan yang masak" jelasnya


"Kenapa? " tanyaku mengernyitkan dahi

__ADS_1


"Aku gak mau kamu kecapean Ra, lagian mending kamu nemenin aku disini"


"Hmm" ucapku singkat


Tapi kenapa Marchel melarangku melakukan apapun ya?


Pikirku


"Raa, apa kamu mau jalan jalan? " tanyanya


"Enggak, aku lebih suka di rumah aja"


"Kalau shopping? "


"Capek" jawabku singkat


"Hmm koq kamu......


.


.


.


Maaf nih readers sebenernya bingung ini mau lanjut nulis apa enggaknya


Tapi tolong jangan di jadwal ya updatenya kapan... Kalau author free author nulis eps banyak seharinya tapi kalau agak sok sibuk author nulisnya 1 atau 2 eps yaaaaa


Makaasiiiih jangan lupa like, koment, vote


😘😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2