Tangisan Maura

Tangisan Maura
Menyedihkan


__ADS_3

Ku coba untuk bangun namun bagian sensitifku terasa sangat nyeri


Apa jangan jangan?


Aku membekap mulutku tak percaya


Tiba tiba pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok laki laki yang baru selesai mandi dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya sedangkan bagian perut dan dadanya terekspos bebas


"Kamu sudah bangun? " tanyanya tanpa dosa


"Kamuuu"


"Kenapa sayang? Apa semalam masih kurang? " tanyanya berjalan mendekat ke arahku dan ku tarik selimut hingga sampai ke leher


"Kenapa di tutupi, aku sudah melihat semuanya bahkan sudah menikmatinya" ucapnya lantang seakan itu hal biasa dan ucapannya berhasil membuat hatiku terasa sangat sakit


"Laki laki biadab" teriakku


"Huss sayang jangan ngomong gitu, kamu kan juga menikmatinya semalam bahkan desahanmu itu membuatku tak mau berhenti" godanya


"Cukup hentikaan" teriakku


"Baiklah, ayo aku bantu kamu mandi" tawarnya namun tak ku perdulikan

__ADS_1


Aku beranjak untuk pergi dengan melilitkan selimut di tubuhku namun baru saja berdiri tiba tiba tubuhku ambruk menyentuh lantai, rasanya aku tidak punya tenaga sama sekali untuk berdiri


"Tuh kan jatuh udah aku tawarin tadi biar aku yang mandiin, kamu bandel sih" ucapnya melenggang pergi meninggalkan ku yang masih terduduk di lantai


Ya Allah maafin maura, nenek tolong, ibuu jangan benci maura bu


Ucapku dalam hati dengan deraian air mata yang sudah membanjiri pipi


***


Setelah selesai mengenakan semua pakaianku, aku berjalan meninggalkan rumah laki laki biadab ini,,, rumahnya sangat jauh menuju jalan raya bahkan aku sudah berjalan sekitar 20 menit tapi belum juga sampai


Ya Allah hamba capek sudah tidak kuat jalan lagi, tolong beri hamba kekuatan ya Allah


Aku bergegas membersihkan diri dan memilih untuk istirahat namun dalam tangis meratapi nasib yang begitu malang namun aku percaya Allah punya rencana yang lebih indah


***


Di dalam kamar lain Marchel memperhatikan gerak gerik Maura yang baru keluar dari kamarnya


"Tuan sepertinya nona maura hendak pergi, apa perlu saya halangi? " tanya julius


"Biarkan saja, aku ingin lihat sebesar apa tekadnya untuk pergi"

__ADS_1


"Baik tuan"


Di sepanjang jalan menuju rumah Marchel terdapat CCTV yang terhubung ke rumah Marchel


Marchel masih memperhatikan Maura yang berjalan dengan tertatih


"Julius, panggilkan taxi untuknya"


"Baik tuan"


Setelah melihat Maura masuk ke dalam taxi Marchel pun meninggalkan ruangan tersebut dengan senyuman yang sulit di artikan


***


Aku terbangun dalam tidurku dan ternyata hari sudah sore, aku selalu berharap bahwa apa yang ku alami hanya sebuah mimpi namun bekas ciuman yang tertinggal di leherku memaksaku kembali ke kenyataan yang amat menyedihkan


Aku hanya bisa menangis dalam guyuran shower yang turut membasahi tubuhku, ingin sekali rasanya pergi sejauh mungkin ingin rasanya mati saja namun kembali ku harus berpura pura kuat demi nenek


Nenek yang selama ini selalu menyayangiku, satu satunya keluarga yang membuatku merasa di inginkan dan di cintai


Selesai bersiap untuk bekerja di club aku pun pergi menuju rumah sakit untuk menemui nenek terlebih dahulu


"Raa,, kamu dari mana aja? Semalem aku cari ke club katanya kamu ambil cuti, tapi di rumah sakit kamu gak ada" tanya maya yang baru saja pulang

__ADS_1


"Aku,,


__ADS_2