
Marchel? Apa lagi ini?
Apa benar kamu akan menikah dengan Felicia? Kenapa? Kenapa rasanya sakit sekali hati ini padahal sebelumnya aku sudah mempersiapkan hati dan jiwaku untuk hari ini
Tangisku dalam diam karena entah kenapa aku pun seakan tak bisa berbuat apa apa
"Mauraaaa,,, Mauuraaaa" panggilnya dan suaranya mampu membuatku membuka mata dan mencari arah suara itu berasal
"Mauraaa,,, mauurraaa,, haah,, haah bentar yah" ucapnya dengan masih mengatur nafas karena habis berlari
Sedangkan aku,,
Aku hanya diam memperhatikan Marchel yang penuh dengan keringat entah apa yang baru selesai dikerjakannya hingga membuat tubuhnya sampai berkeringat seperti ini
"Maura apa,, apa kamu sudah membaca berita itu? " tanyanya tiba tiba dan aku pun hanya mengerutkan alis mendengar pertanyaannya yang terdengar aneh itu
"Kamu sudah lihat ya? " tanyanya lagi karena aku hanya diam
"Berita soal pernikahanmu itu? " tanyaku balik sambil kembali menyandarkan punggung di kursi ayunan
"Mauraa kamu gak usah percaya, itu semua bohong" jelasnya padaku dengan raut wajah yang panik
"Kenapa? "
"Pokoknya kamu harus percaya sama aku, berita itu bohong aku gak pernah ada niatan menikahi perempuan lain" jelasnya
__ADS_1
"Walaupun kita sudah pisah? " tanyaku sedih
"Apa maksud ucapanmu itu maura? " bentaknya padaku sedangkan aku hanya tersenyum masam
"Bukankah suatu saat nanti kamu akan menceraikanku? Bukannya pernikahan kita ada batas waktunya? " ucapku mengingatkan
Marchel hanya diam mendengar penuturanku, ia mengubah posisi duduknya menghadap lurus ke depan satu menit, lima menit, bahkan lima belas menit Marchel masih setia dengan kebungkamannya
Ku putuskan untuk pergi meninggalkannya sendirian karena ia masih saja diam namun baru saja aku berdiri dan hendak melangkah tanganku tertahan oleh genggaman Marchel
"Jangan...... " ucapnya dengan menunduk yang membuatku bingung
"Jangan tinggalin aku" sambungnya kembali dengan masih menunduk
Tanganku bergerak untuk mengelus pipinya, mengangkat wajahnya menghadap ke arahku dan dapat ku lihat matanya yang sudah mulai berkaca kaca
Pikirku bingung
"Aku mau ke kamar" ucapku lembut mengelus pipinya
Tanpa di duga Marchel menarik pinggangku, memeluk pinggangku dan menempelkan wajahnya di perutku
Tangan kanan ku se akan bergerak refleks mengelus rambut hitamnya itu, sedangkan tangan kiriku mengelus punggungnya lembut
"Jangan,, jangan tinggalin aku Ra" ucapnya tiba tiba
__ADS_1
"Apa maksudmu? " tanyaku menyelidik
"Aku,, aku sayang sama kamu Ra, aku cinta sama kamu" jelasnya lagi yang membuatku menganga tak percaya namun tak dapat ku pungkiri hatiku rasanya berbunga bunga
"Apa? Kamu bilang apa tadi? " tanyaku mencoba meyakinkan kalimat yang ku dengar tadi tidak salah
Marchel mendongakkan wajahnya untuk menatap wajahku namun rangkkulan tangannya di pinggangku belum ia lepaskan
"Aku Cinta Kamu Istriku" ucapnya
Ku tatap matanya lekat lekat se akan mencari kebenaran disana
"Raa,, Mauraaa" cubitnya di pipiku entah sejak kapan Marchel sudah berdiri
"Aww, iiissshh sakit tauu" ringisku
"Kamu sih ngelamun" gelaknya
"Siapa yang ngelamun, tau aah" ucapku kesal dan berniat meninggalkannya
"Raa,, jadi gimana? " tanyanya tiba tiba yang membuatku berbalik badan kembali menatapnya
"Apanya? " tanyaku bingung
"Soal yang tadi aku bilang cinta sama kamu"
__ADS_1
"Laaah? Terus kenapa? Kan kamu yang nyatain cinta terus hubungannya sama aku apa coba? " ucapku dan kembali melanjutkan langkah kaki masuk kedalam rumah
"Raaa,, mauraa tungguu" teriaknya sedangkan aku hanya tersenyum