Tangisan Maura

Tangisan Maura
Bangkit


__ADS_3

Karena merasa lapar aku pun bangun hendak menuju dapur, saat menuruni tangga dapat ku dengar suara Marchel yang sedang memarahi seseorang


Siapa yang Marchel marahi ya?


Aku pun melangkah menuju asal suara yang berada di ruang tamu, sesampainya disana dapat ku lihat Marchel memarahi tante mira


wajah Marchel sudah sangat merah karena marah sedangkan tante mira menangis bersujud di hadapan Marchel


Bahkan Julius pun dapat ku lihat sudah ketakutan, padahal yang di marahi adalah tante Mira


"Nyonya tolong" bisik paman Agus tiba tiba yang membuatku kaget


"Kenapa? "


"Tolong tenangkan tuan, saat ini hanya Nyonya yang bisa membuat tuan tenang kalau tidak mungkin bukan hanya rumah ini yang akan hancur tapi Nyonya besar akan kehilangan nyawa" tuturnya takut dan sontak membuatku kaget


"Apa akan sampai seperti itu paman? " tanyaku


"Bukankah Nyonya sudah pernah melihat tuan marah sebelumnya? " tanyanya lagi


Benar, aku gak mau kalau Marchel sampai membunuh orang aku harus menghentikannya tapi gimana caranya?


Ku coba menghampiri Marchel yang sedang marah, sebenarnya aku takut tapi mau gimana lagi. Marchel masih memarahi tante Mira dan juga suaminya (bapak)


Ku peluk tubuh kekar Marchel dari arah belakang, ia sedikit terkejut namun segera ia menghembuskan nafas kasar dan berbalik menatapku

__ADS_1


"Sayang kamu bangun? Apa aku membangunkanmu? " tanyanya yang sudah menamkup kedua pipiku


"Enggak koq, tadi aku cuma lapar" senyumku lembut


"Pak Agus kenapa kamu membiarkan istriku kelaparan? " bentaknya yang menatap ke arah paman Agus


"Sayang aku mau makan sama kamu" ucapku lembut sambil memeluk pinggangnya dengan sebelah tangan


"Ya udah ayo kita makan" ajaknya merangkul pundakku


"Tunggu,,,,,,, tante dan,, mm Om sebaiknya pulang" pintaku menatap kearah tante mira dan suaminya yang masih bersimpuh


"Mama beruntung karena istriku yang menyelamatkan mama, kalau tidak mungkin kalian tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi" ucap Marchel penuh penekanan dan beranjak mengajakku pergi


****


huuft bosen banget di rumah, mau keluar tapi kemana


Pikirku lagi


"Nonaaa,,,, nonaaaa" teriaknya dari pintu masuk


Suaranya yang cempreng dan heboh sendiri sudah membuatku hafal kalau itu adalah Bela, istri Julius


Ya mereka baru menikah sekitar dua bulan yang lalu entah dimana mereka bertemu atau kapan mereka pacaran tapi tiba tiba Julius meminta izin untuk menikah

__ADS_1


Usia Bela denganku hanya terpaut dua tahun lebih muda, sudah berulang kali aku memintanya untuk tidak memanggilku Nona tapi anak itu tetap saja keras kepala


"Nonaa" teriaknya lagi saat melihatku duduk santai di bangku taman


"Kenapa belaaa? " tanyaku yang sudah menatap ke arahnya


"Nonaaa,, aku seneng banget" girangnya


"Kenapa? " tanyaku bingung karena biasanya setiap hari Bela juga selalu senang


"Bela baru pulang dari dokter terus dokternya bilang kalau bela hamil"


Deg


Seketika hatiku seakan sedih, bukan sedih karena kehamilan bela tapi sedih mengingat masa laluku


"Selamat yaaa,, sehat sehat ya ponakan aunty" ucapku mengelus lembut perut bela


"Makasih nona,, semoga nona juga segera di berikan titipan yang indah ini oleh Allah" ucapnya senyum


Haah gimana mau dikasih? Marchel aja gak pernah nyentuh aku semenjak kejadian dulu


Pikirku


"Makasih bel"

__ADS_1


Kami mengobrol banyak hal bersama bahkan kami juga sempat membuat makanan bersama tapii hanya membuat karena yang kami suruh makan adalah para pelayan


kebiasaan burukku dan bela yaitu membuat makanan tapi tidak mau memakannya


__ADS_2