
Di sisi lain
Kenapa hatiku masih tidak tenang begini?
Maura, dari tadi pikiranku hanya maura
Apa terjadi sesuatu dengannya?
"Pak putar balik kembali ke rumah" perintahku
"Baik tuan"
Aku pun langsung menghubungi Julius untuk menggantikan ku menghandle pekerjaan hari ini karena aku memutuskan untuk cuti, percuma bekerja jika pikiranku tidak tenang
Sesampainya di rumah dapat ku lihat mobil mama yang sudah terparkir di depan rumah, itu membuatku mempercepat langkah untuk masuk kedalam rumah karena takut mama akan mengganggu Maura lagi
Dapat ku lihat jelas mama mendorong tubuh Maura hingga tubuh kecil itu terbentur ke meja di ruang keluarga ini
"Aawww" ringis maura
"Sayaang"
Aku seketika berlari menghampiri maura
"Kamu gak papa? Ada yang sakit? " tanyaku panik
"Marchel,, ini,, ini tidak seperti yang kamu lihat, dia dia pasti pura pura jatuh untuk menfitnah mama" bohongnya membela diri
"Cukup maa, Marchel sudah liat semuanya dengan jelas bahkan selama ini mama juga berusaha mencelakai Maura kan? Mama menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan maura tapi selama ini Marchel hanya diam tapi hari ini marchel benar benar kecewa ma"
__ADS_1
"Marchel,, ituu,, "
Belum sempat mama menyelesaikan kalimatnya tiba tiba Maura meringis seperti menahan sakit
"Mar,, Marchel,, daraah" ucapnya terbata
Aku langsung mengalihkan pandanganku pada Maura yang masih terduduk di lantai, dapat ku lihat Maura yang memegang perutnya menahan sakit
"Mauraa,, kenapa ada darah? Ayo kita ke rumah sakit" ucapku mengangkat tubuhnya yang kecil
"Maura,, hei maura bangun jangan buat aku khawatir" teriakku begitu melihat maura tak sadarkan diri
Aku berlari membawa tubuh maura masuk ke dalam mobil, mama yang juga panik ikut denganku
"Cepat ngebut, kenapa mobilnya lelet sekali" bentakku marah begitu melihat wajah Maura semakin pucat
Sesampainya di rumah sakit Maura langsung dibawa ke UGD, disana sudah ada Julius yang tadi sempat ku hubungi
Cklek
Suara pintu terbuka yang menampilkan sosok perempuan berjas putih yang membuatku langsung bangun dan menghampirinya
"Ikee, bagaimana keadaan istriku" tanyaku panik dan penuh harap
Dokter Ike terlihat mengambil nafas dan membuangnya pelan, ike adalah sahabatku saat di SMA dulu tapi kini bekerja di rumah sakit keluargaku
"Keadaanya sudah membaik, istrimu bisa di pindah ke ruang inap" jelasnya yang membuatku bernafas lega
"Tapi,,, " ucapnya menggantung
__ADS_1
"Tapi? Tapi apaaa?? " tanyaku tidak sabar
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkan janinnya " sambungnya lagi yang membuat tubuhku tiba tiba seperti tak bertulang
Tubuhku terduduk di lantai untung saja julius sigap menopang tubuhku jika tidak mungkin aku akan terjatuh
*Janin?
Tadi ike bilang janin? Maura,, dia,, dia hamil anakku*?
Seketika air mataku mengalir begitu deras, hidupku seakan runtuh mendengarnya
bayi yang selama ini aku tunggu tapi sekarang
.
.
Hai para readers
Maaf ya semuanya kalau mungkin cerita ini tidak sesuai dengan harapan kalian
Tapi jika kalian tidak suka cukup jangan baca cerita ini, tinggalkan komen yang baik
Kritik boleh tapi bukan dengan kalimat yang menyinggung ya readers
Terimakasih buat para readers yang selama ini setia membaca ceritaku, semoga kalian suka dan jangan lupa dukungannya
Like, komen, vote biar Author rajin nulisnya
__ADS_1
Maaf ya curhatan Author kepanjangan tapi semoga kalian memaklumi yaa