Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 14


__ADS_3

Sore itu Nisa mengantar Seno ke bandara diantar Viko. Tadinya Nisa ingin Viko tidak ikut karena nanti dia tidak akan leluasa melakukan perpisahan dengan Seno, tapi Viko memaksa untuk ikut, katanya kalau Seno sahabat Nisa berarti sahabat dia juga. Itu sebuah teori yang memuakan bagi Seno.


Dan sore itu juga untuk pertama kalinya Seno melihat kebersamaan pasangan itu. Sakit? Sudah pasti. Tapi Seno berusaha menjaga sikapnya supaya terlihat wajar dan baik-baik saja. Mungkin nanti saat di pesawat ia baru menumpahkan segala emosinya.


"Lo yakin mau ninggalin gue, Sen?" tanya Nisa seolah masih tidak terima kalau Seno akan meninggalkannya. Pandangan Seno hanya pada Nisa walaupun di samping gadis itu ada Viko yang tengah menggenggam tangannya dengan erat seolah tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kali.


"Sekali lagi maafin gue, Nis, gue gak bisa nepatin janji gue buat selalu nemenin elo," tutur Seno.


Diam-diam Viko memerhatikan sorot mata Seno pada Nisa, dan tiba-tiba dia merasa terusik dengan tatapan itu. Radarnya mengatakan bahwa tatapan itu bukan seperti menatap seorang sahabat, melainkan ....


Pria itu menunduk, bahkan ia takut untuk menebaknya sendiri karena radarnya tidak pernah salah. Tatapan Viko beralih pada Nisa. Pemuda berkulit putih itu melihat mata Nisa berkaca-kaca, di sana tergambar jelas bahwa di lubuk hati gadis itu ada rasa sakit karena ditinggalkan. Astaga ... ada apa ini? Viko mencium ada yang aneh dalam persahabatan mereka?


Walaupun tangan Nisa sedang digenggamnya, tapi seolah tangan itu ingin melepaskan diri lalu memeluk pria di hadapannya. Perlahan Viko melepaskan genggamannya lalu mundur selangkah, membiarkan mereka meluapkan emosinya masing-masing, walaupun demi Tuhan ia tidak rela. Kita lihat saja, kalau Nisa sampai memeluk Seno berarti semua yang ada di pikirannya benar.


"Gue akan ngirim email setiap hari," ujar Seno. Nisa bergeming. "Video call?" Nisa tetap bergeming.


"Apa dong?" tanya Seno bingung. Tak lama air mata Nisa tumpah. "Gue pengennya elo tetep di samping gue, jadi mother fierce-nya gue, ngingetin gue makan supaya maag gue gak kambuh, ngomelin gue setiap hari, ngerusak tidur lo saat gue gak bisa tidur, dan semua yang selalu kita lakuin selama ini," tutur Nisa dengan berurai air mata. Di belakang Nisa, Viko menunduk, tiba-tiba ia merasa jadi penghalang mereka berdua.


"Maafin gue Nis, tapi mulai sekarang kita enggak bisa kayak dulu lagi," kata Seno sambil melirik pada Viko, setelah itu Seno tersenyum pada Nisa, walaupun rasanya senyuman itu terasa pahit sekali.


Seno mengangkat sebelah tangannya melihat jam. "Baiklah, waktunya pergi nih, jaga diri lo baik-baik, ya. Gue gak mau dengar kabar lo sakit atau apapun yang negatif tentang elo," katanya, lalu meluncurkan senyum ramah pada Viko sebelum pergi.


Seno berbalik dan melangkah meninggalkan Nisa, tapi pada langkahnya yang ke lima Nisa berseru memanggil namanya, "Seno ...!" Pria itu memejamkan matanya sejenak sebelum berbalik menatap gadis itu. Namun, sebelum ia membalikan badannya Nisa sudah memeluknya dari belakang.

__ADS_1


Nisa tidak tahu kenapa ia melakukan itu di depan pacarnya sendiri, Nisa hanya tahu ia akan ditinggalkan oleh pelengkapnya, oleh penjaganya, pelindungnya. Oleh Seno.


"Jaga diri lo, dan cepat kembali," lirih Nisa.


Dada Seno seperti terhimpit dua balok beton yang kokoh hingga ia kesulitan bernapas menahan tangis. Sekuat tenaga ia menahan tangis, tapi saat ia mendengar ucapan Nisa, air matanya memaksa keluar, dan perlahan sekali dadanya mulai lega seiring dengan jatuhnya sungai kecil dari matanya itu.


Seno menghapus air matanya, berbalik menghadap Nisa. "Nis, lo jangan begini. Lo lupa ya sekarang ada Viko di sisi lo. Lakuin yang biasa lo lakuin sama gue dengan Viko."


Nisa mengerjap. Seperti ada petir yang sontak membelah wajahnya, ia baru menyadari bahwa sekarang ada Viko. Kenapa ia sampai tidak sadar? Gadis itu terdiam sejenak memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa ia seperti ini? Kenapa ia merasa sangat sakit ditinggalkan oleh Seno? Perasaan apa ini?


Perlahan Nisa mundur beberapa langkah dari Seno. Benar, sekarang ada Viko. Nisa harus menjaga perasaan kekasihnya itu.


Seno meluncurkan senyumnya sebelum benar-benar pergi. Dan bibir Seno terus menyunggingkan senyum sampai ia masuk ke ruangan khusus penumpang, hatinya tidak pernah selega ini dan sesenang ini, sikap Nisa barusan menunjukan perasaan apa sebenarnya yang ia rasakan terhadap Seno. Karena firasat Seno selalu benar.


***


Viko memarkirkan mobil di pelataran parkir apartemen Nisa. "Udah sampe, Nis," kata Viko. Nisa mengerjap, ia baru sadar. "Oh, udah nyampe, ya?" katanya lalu melepaskan sabuk pengaman. Saat ia akan menarik gagang pintu mobil, Viko menahannya. "Nis ...." Nisa menoleh pada Viko.


"Mau aku temenin, gak?" tanya Viko. Nisa berusaha mengeluarkan senyum. "Enggak usah, terima kasih, aku pengen sendiri dulu sekarang," kata Nisa. Walaupun Nisa tersenyum, tapi Viko masih bisa melihat dengan jelas kesedihan dalam diri gadis itu.


"Aku enggak tahu sejauh mana hubungan persahabatan kalian selama ini, tapi menurutku ini__"


"Ini apa?" potong Nisa agak jutek. Viko berdeham, ia tidak menyangka Nisa akan bersikap seperti itu, perasaan cemburunya malah membuat suasana jadi kaku. Viko tidak melanjutkan ucapan yang akan dia katakan pada Nisa.

__ADS_1


"Entahlah ...," kata Viko sambil menunduk, lari dari tatapan Nisa yang membuatnya sesak itu. Nisa juga sebenarnya tahu apa yang ada di pikiran Viko sekarang, orang buta juga bisa melihat bagaimana sikap Nisa pada Seno waktu di bandara tadi, tapi Nisa enggan berbicara banyak soal ini dengan Viko.


"Kamu sebaiknya pulang, dan jangan berpikir yang macam-macam tentang aku dan Seno. Besok kamu ada janji sama dokter Vanesh, kan?"


Viko mengangguk. "Iya. Oke aku pulang dulu kalau begitu, nanti kalau ada apa-apa kamu telepon aku aja, ya ...." Viko menerbitkan senyum dan mengelus kepala Nisa dengan sayang.


***


Nisa keluar dari lift dengan langkah gontai. Matanya tertuju pada pintu apartemen Seno yang sebelahan dengan pintu apartemennya. Gadis itu seperti melihat bayangan Seno yang tengah menunggunya pulang sambil bersandar di depan pintu. Sekarang tidak akan ada lagi yang dengan setia menunggunya pulang. Sekarang tidak akan ada lagi yang memaksanya masuk ke sana lalu menikmati pizza berdua. Tidak akan ada lagi ....


Nisa duduk bersandar di depan pintu apartemen Seno. Entah kenapa kepergian Seno membuat Nisa rapuh sekali, tidak ada yang bisa menyembuhkannya selain Seno kembali dan ada. Walaupun sekarang ada Viko.


Benar, bahwa Nisa mencintai Viko karena dia sekarang sedang sakit, tapi kepergian Seno membuatnya menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak ia bayangkan. Seno segalanya untuk Nisa, ia tidak bisa melakukan hal apapun tanpa Seno. Iya, karena setiap derap langkah, ataupun keputusan yang harus ia ambil selalu meminta pendapat Seno dan pendapat Seno adalah benar.


Sekarang Seno tidak ada, Nisa harus bagaimana sekarang? Seperti kehilangan satu sayap dan ia tidak bisa terbang lagi. Sebelas tahun mengenal Seno dan selama sebelas tahun itu tidak sekali pun Seno meninggalkannya. Dia selalu ada di sampingnya bagaimanapun keadaannya.


Viko adalah kekasihnya saat ini, tapi kenapa Nisa merasa sangat sedih dan rapuh ditinggalkan oleh orang yang bukan kekasihnya? Bahkan ia memeluk orang itu di depan kekasihnya sendiri. Perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Seno? Ia juga merasa lega dan__senang mendengar bahwa Seno jomlo.


Nisa meraupkan tangan ke muka. "Astaga, apa yang terjadi padaku sekarang? Kenapa aku seperti ini?"


Nisa bangkit dan masuk ke apartemennya setelah mendapat pesan dari Viko mengingatkannya untuk istirahat.


***

__ADS_1


Cast Seno, Nisa, Viko



__ADS_2