
Nisa menggeliat di atas tempat tidur. Pupil matanya melirik seseorang yang masih terlelap di sampingnya. Bibirnya sedikit tertarik ke atas melihat pemandangan indah itu. Perlahan tangannya terangkat menyentuh dan mengusap rambut halus suaminya itu.
'Sen, lo itu kalo lagi tidur gini mirip anak kecil, tau.'
Nisa menelan ludah melihat hidung dan bibir Seno. Dia sangat suka dengan segala sesuatu yang ada di diri suaminya itu. Apakah ini rasanya naksir? Nisa naksir pada rupa suaminya sendiri.
'Sen, jika kita punya anak cowok nanti, gue mau nanti dia mirip lo. Elo yang penyabar, perhatian, baik, tanggung jawab, dan tampan, tapi gue gak mau nanti dia ngikutin jejak ayahnya menjadi seorang playboy. Makasih, Sen, atas apa yang udah lo lakuin buat gue selama ini. Gue akan membalasnya dengan mengabdi selamanya sama lo, semoga itu cukup, Sen.'
Nisa menyentuh ujung hidung mancung Seno, lalu bergerak ke pipi, bibir, lalu ketika ia akan menarik tangannya sendiri, tiba-tiba dipegang oleh Seno. Ternyata dia sudah bangun. Nisa kaget bukan kepalang.
Perlahan Seno membuka mata melirik Nisa. "Kamu suka sama hidungku, ya?" tanyanya dengan suara serak.
"Hah?"
Seno membalikan badan menghadap Nisa. "Selamat pagi," ucapnya.
"Pagi juga, suamiku."
Seno tersenyum. "Kalau kamu suka, kamu boleh unyel-unyel hidungku sepuasmu, kalau kamu suka sama bibir aku, kamu boleh menciumnya sepuasmu."
"Hhhh, ini masih pagi, tauk!"
"Bukankah kalau pagi-pagi begini akan jadi lebih hot?"
"Apaan sih, lo! Udah cepet bangun, solat subuh dulu sana!"
Seno menyeringai. "Iya istriku yang bawel. Jam berapa sekarang?"
"Udah setengah enam."
Seno menyibakan selimut lalu bangun. "Aku solat subuh dulu, ya. Aku harap kita bisa secepatnya solat berjamaah ya, Nis. Hehehe."
"Hah?" Nisa malah melohok. Ia menangkap ada maksud lain dari ucapan suaminya itu. Seno tersenyum dan berlalu ke kamar mandi.
Selagi Seno solat, Nisa bangun pergi ke dapur mencoba memasak yang dia bisa. Nisa mematung di depan kulkasnya sendiri. Tidak ada apapun di sana selain telur.
"Gue harus ke super market tar siang, nih."
Nisa mengambil beberapa telur. Apa yang harus dia bikin dengan telur? Telur ceplok sama dadar terlalu biasa. Dia ingin membuat yang spesial buat Seno.
Nisa mengambil ponselnya lalu browsing mencari resep aneka telur. Namun, dia menyerah, semua resep di internet itu menggunakan bahan-bahan yang tidak ada di dapurnya. Akhirnya dia pasrah. Akhirnya telur itu berakhir menjadi dadar.
Hari ini, Nisa masih dalam masa cuti pernikahannya, jadi pagi ini dia tidak akan terburu-buru bersiap seperti biasanya.
Jam setengah tujuh pagi, Seno baru keluar dari kamar. Sudah mandi dan tentunya sudah wangi.
"Kamu masak ya?" tanya Seno sambil mengendus-endus.
__ADS_1
"Hehe iya."
"Masak apa?"
"Telur," ucap Nisa sambil menyeringai malu-malu.
"Hampir dua belas tahun aku mengenalmu, ini pertama kali aku liat kamu masak, loh. Hehehe."
"Sialan! Gue suka masak mie instan kok."
Seno tersenyum haru melihat istrinya, setidaknya dia berusaha memberi yang terbaik untuknya.
Seno menarik bahu Nisa dan menariknya ke dadanya. "Apapun yang kamu masak, pasti aku makan, kok. Sini mana telurnya?"
"Sebentar, nasinya belum matang. Sen, hari ini gimana kalau kita belanja kebutuhan dapur? Tadi gue bingung sendiri di kulkas enggak ada apa-apa. Adanya telur doang."
"Belanja? Hhhmm boleh, tapi sepertinya aku mau ketemu sama klien penting dulu bentar. Kamu ikut ya?"
"Hah?"
Nisa agak kecewa, katanya Seno gak akan ngurusin kerjaan dulu selama masa cutinya.
Seno merasa ada yang tidak beres melihat Nisa agak cemberut.
"Maaf sayang, klien itu maksa bengat pengen ketemu sama aku. Dia klien kelas kakap yang sulit banget kita dapetin. Sekarang dia berhasil kita dapetin, dan dia maunya meeting sama aku langsung."
Nisa mendengus. Kalau udah gini, dia cuma bisa pasrah. Mau diapain lagi.
Seno mengecup kening Nisa. Kalau sudah begini, Nisa tidak sanggup untuk marah jadinya. "Tapi janji sebentar aja ya."
"Iya, inshaAllah, tapi kamu ikut kan? Biar nanti setelah aku meeting kita bisa langsung pergi. Kita ketemu di Siam's Spice, kok, dia pengen meeting sambil makan siang di sana."
"Ya udah deh, aku ikut."
"Tapi aku akan ke kantor dulu sebentar buat ngeliat materi presentasi yang dibuat si Aldi. Nanti aku akan kenalin kamu ke seluruh karyawan aku."
"Apa? Malu, ih!"
"Kenapa harus malu, mereka wajib tau kan istri bosnya?"
"Iya, sih, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Salah salah satu karyawan kamu enggak ada yang pernah kamu pacarin, kan?"
Seno melotot kaget. "Hah? Ngaco ih! Kagak! Aku udah bilang, kan? Aku itu pantang macarin karyawan sendiri."
__ADS_1
"Kali aja di sana ada salah satu mantan kamu."
"Wait ... wait ... kamu udah mulai manggil aku kamu nih, hehehe."
"Hah iya kah? Aku gak ngeuh, hehehe."
"Pertahanin ya Sayang, bagaimanapun sekarang kita udah suami istri, manggil elo-gue itu rasanya enggak pantes aja."
Nisa tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu mereka dikagetkan dengan suara dari magickom menandakan nasi yang Nisa masak sudah matang.
"Nasinya udah mateng, yuk kita sarapan."
***
Pukul sembilan pagi, mereka pergi ke kantor Seno di bilangan Jakarta Selatan. Walaupun Nisa sudah bersahabat lama dengan Seno, tapi inilah kali pertamanya dia main ke kantor perusahaan periklanan tersebut. Degdegan? Sudah pasti. Namun, ia berusaha mengendalikan diri.
Khusus untuk mobil Seno, ternyata punya tempat parkirnya sendiri. Semacam tempat VIP. Perkara parkiran tersebut, Nisa baru menyadari bahwa Seno benar-benar seorang bos.
Di pintu masuk, mereka langsung disambut oleh security dan beberapa karyawan.
Kantor Seno terdiri dari dua lantai dengan bentuk ruko minimalis, terlihat meriah dengan cat warna orange dan merah. Di satu dindingnya ada tulisan besar-besar bercetak miring, "Senopati Production".
Di lantai dasar adalah tempatnya orang-orang yang sibuk dengan komputernya masing-masing, mereka yang bekerja di lantai tersebut adalah yang mengurusi keuangan, majagement, dan HRD. Sedangkan di lantai dua ternyata lebih urakan dan berantakan. Di sanalah tempatnya orang-orang kreatif, berbagai macam kertas konsep, mesin fotocopy, dan lain-lain hadir di sana. Ruangan Seno sendiri berada di lantai dua tersebut, bersebelahan dengan ruangan tempat meeting yang hanya dihalangi oleh sekat kaca yang tebal.
"Geas, gue mau ngenalin istri gue secara resmi sama kalian semua, nih."
Karyawan Seno yang jumlahnya 60 orang itu berkumpul di lantai dua, termasuk security dan OB.
Nisa memandang wajah mereka satu-satu. Seketika jantungnya berdegup kencang. "Halo, selamat pagi, saya Danisa," ucap Nisa gugup.
Semuanya tersenyum memandang istri bos mereka yang cantik. "Terima kasih atas sambutannya. Saya senang bisa bertemu teman-teman semua," ujar Nisa sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, gugup.
Seno tersenyum geli melihat Nisa yang sungguh kentara kegugupannya.
"Istri gue adalah ketua Tim Marketer Indonesa perusahaan sepatu Vreeset Shoes."
Beberapa karyawan wanita Seno terlihat terperangah, setelah itu mereka menatap Nisa dengan kagum.
"Bos, beruntung punya bini cantik, wanita karir lagi," celetuk salah satu karyawan. Nisa tersipu mendengar itu, sedangkan Seno terlihat kesal.
"Eh, bini gue juga beruntung punya laki cakep kayak gue, tau! Ya udah bubar, kerja-kerja, udahan dulu perkenalannya. Aldi, ke ruangan gue sekarang, kita bahas buat presentasi North Oil."
"Siap, Bos, tar gue cek dulu."
Seno pergi ke ruangannya diikuti Nisa.
***
__ADS_1
CEO "Senopati Production"