Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 7


__ADS_3

Sore ini setelah kerja luar, Nisa jalan-jalan sendiri ke toko buku, rasanya ia mulai ketagihan membaca novel. Dan kali ini ia akan membeli novel karya Vee Alledro lagi. Nisa melihat ke salah satu rak buku yang isinya novel-novel best seller. Ia sedikit terkejut ternyata ada satu novel karya Vee di sana. Nisa langsung menyambar novel itu.


"Based on true story? Ya ampun ini kisah nyata Vee? Gue harus beli yang ini." Tanpa ragu Nisa langsung menyambar buku itu lalu memasukannya ke dalam keranjang. Di sampul novel itu tertulis dengan jelas, nasional best seller. Berarti novel ini laku banget dong?


Nisa jadi penasaran sebagus apa sih ceritanya? Sebelum pergi Nisa membeli beberapa buku lagi.


Sejak Yuda pindah ke Bandung, Nisa merasa kehilangan partner kerja yang bagus karena ia nyaman kerja luar dengannya, ia juga tidak terlalu capek karena Yuda bisa melakukan semuanya, tidak dengan karyawan lain. Sepintas Nisa jadi merindukan anak itu. Apa kabar dia sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia tidak merindukannya? Nisa menghela napas panjang lalu berjalan ke parkiran.


🌸🌸🌸


Agar bisa tidur, malam ini Nisa akan membaca novelnya Vee, ia sungguh tidak sabar membaca novel Vee yang tadi ia beli. Nisa membuka halaman pertama.


'Kemana saat kaki ini akan melangkah, di sana aku selalu tertahan. Selalu ingin menengok kebelakang, lalu memandangmu lagi. Apakah semuanya bisa diperbaiki hanya dengan satu kata saja?


Cinta.


Aku tak yakin, karena kamu sekarang mungkin sudah bahagia dengan dunia baru yang kamu ciptakan. Tapi bisakah aku memilikimu sekali lagi? jika iya, aku akan memberikan seluruhnya yang aku punya, yang aku bisa. Agar kamu tidak menangis lagi hanya karena kebodohanku.


Menyesal memang tidak ada guna, tapi izinkan aku memperbaiki.'


Saat membaca prolog, entah kenapa hati Nisa seperti tersentil. Kebodohan seperti apapun, tapi kalau garis besarnya sebuah penghianatan, itu tidak patut untuk dimaafkan dan diberi kesempatan kedua. Tanpa sadar Nisa berspekulasi dengan dirinya sendiri.


Kayaknya si Vee Alledro ini sedang menyesali sesuatu.


Menit demi menit, jam demi jam Nisa terhanyut oleh novelnya Vee, awalnya Nisa ingin bisa tidur makanya ia membaca novel, tapi novel itu malah membuatnya tidak bisa tidur. Nisa terus terjaga hingga jam satu malam.


Nisa memberengut, tertawa, sampai meneteskan air mata. Ia seperti terbawa ke dalam dunianya Vee, ia ikut merasakan berbagai emosi yang Vee rasakan, ia juga ikut merasakan kegalauan Vee karena kesalahan yang kurang dari satu menit itu.


Namun, tiba-tiba tangan Nisa berhenti membuka halaman berikutnya, Nisa diam pada halaman 150. Ia merasa salah satu paragraf di halaman itu sangat mengena di hatinya:

__ADS_1


'Di mana pun ia berada, aku hanya ingin dia tahu. Bahwa sampai saat ini, detik ini, aku masih mencintainya setulus hatiku. Karena sebuah kesalahan yang kurang dari satu menit itu, sudah membuat hidupku seperti di neraka selama sebelas tahun. Aku menyesalinya hingga rasanya ingin mati. Karena demi Tuhan, tidak ada wanita yang aku cintai di dunia ini selain dia. Jika satu saat aku bisa bertemu lagi dengannya, aku hanya ingin meminta maaf. Yah, aku tidak ingin serakah, aku hanya ingin dimaafkan. Itu saja.'


Nisa menelan ludah, sepertinya kisah ini tidak asing? Semua halaman yang sudah ia baca, seperti benar-benar ia alami. Tiba-tiba mata Nisa melotot, ia seperti menyadari sesuatu. Nisa membolak-balik halaman sebelumnya dan ia membaca kembali sepintas-sepintas.


Kesalahan kurang dari satu menit? Ciuman dengan sahabat tokoh wanita yang ia cintai? Tertabrak mobil? Koma? Astaga, jangan-jangan? Dengan marathon Nisa melanjutkan membaca novel itu sampai habis. Tak terbendung lagi air matanya meleleh membasahi pipi.


Di halaman terakhir novel itu, Nisa melihat profil sang Novelis, walaupun ia menggunakan nama pena Vee Alledro, tapi Nisa melihat tanggal lahir Novelis itu adalah tanggal lahirnya Viko Andriano. Nisa masih ingat betul tanggal lahir pria itu.


Apakah Vee Alledro adalah Viko Andriano? Apakah Viko sengaja nulis novel ini untuk Nisa? tangan Nisa terkulai lemas, sekarang Nisa tahu bagaimana kehidupan pria itu selama sebelas tahun ini. Viko benar-benar hampir gila karena kejadian itu, ia sampai rutin terapi ke Psikiater. Ia tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, padahal Nisa tahu mimpi Viko waktu sekolah ingin menjadi Dokter bedah. Penyesalan dan rasa bersalahnya pada Nisa membuat ia menjadi pria terdingin di dunia. Banyak wanita yang mendekatinya, tapi ia abaikan begitu saja.


Orang tuanya bahkan menyerah terhadap Viko. Sudah beberapa kali orang tuanya berusaha menjodohkan Viko dengan beberapa wanita agar Viko berubah dan melupakan Nisa, tapi itu tidak berhasil. Viko malah semakin ekstrim, kabur dari rumah dan pergi ke Jakarta. Dengan modal izasah SMA, Viko melamar kerja ke sana-sini. Ia pernah menjadi sales perabotan rumah tangga yang dor to dor ke sebuah perumahan, menjadi Cleaning Servis di perkantoran, hingga pelayan restoran.


Pertemuannya dengan Brian menjadi titik balik kehidupan Viko. Ketika ia menjadi sales, Cleaning Servis, dan pelayan, Viko aktif menulis di blog pribadinya. Suatu saat blognya dibaca oleh Brian.


Brian sendiri adalah seorang editor di sebuah penerbit mayor Indonesia. Brian ingin membukukan tulisan-tulisan Viko. Lalu jadilah Viko seperti sekarang. Seorang penulis best seller. Namun, Nisa belum tahu kenapa pada hari itu Viko dan Gita berciuman? Viko tidak menuliskan kenapa mereka sampai melakukan itu.


Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mencari tahu sendiri? Apakah aku sanggup untuk mencari tahu?


🌸🌸🌸


Malam ini Nisa berhasil tidak tidur sedetik pun. Novel ini sudah membuatnya terjaga sepanjang malam dengan perasaan kacau.


'Viko, kenapa kamu tiba-tiba muncul dan merusak tatanan hatiku yang mulai baik-baik saja? Tapi kenapa di lubuk hatiku aku merasa senang setelah membaca novelmu ini? Apakah aku sudah tidak waras?' batin Nisa.


Seno melonjak kaget ketika ia membuka pintu apartemennya, karena ia melihat Nisa duduk di depan pintu sambil memeluk novel yang dari semalam bersamanya.


"Astaga! Nisa? Lo ngapain pagi-pagi di sini?" seru Seno kaget sekaligus cemas melihat Nisa yang terlihat kacau sekali. 'Ya ampun ... kenapa lagi nih anak?' batin Seno.


Nisa malah menangis terisak-isak.

__ADS_1


"Lo beneran udah kayak zombie yang lagi sekarat. Masuk!" Seno kembali ke dalam diikuti oleh Nisa.


"Gue punya waktu sepuluh menit sebelum gue udah beneran cabut ke kantor," ujar Seno sambil melihat arlojinya.


"Cepetan ngomong!" Seno melipatkan tangan di dada menunggu Nisa bicara. Tanpa bersuara Nisa hanya menyodorkan novel itu dengan tangan gemetar. Seno melihat novel itu dengan heran.


"Apaan nih?" tanya Seno sambil menerima novel itu.


"Sen, lo harus baca ini, lalu lo bilang apa yang harus gue lakuin? Gue beneran gak bisa mikir sekarang. Rasanya gue mau gila."


"Iya, emang kenapa gue harus baca novel ini?"


"Penulis novel ini adalah Viko, Sen. Dia menulis__" Nisa tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia cuma bisa terisak dan mengusap air mata yang memaksa keluar. Dengan cepat Seno mengerti ketika ia membaca sebuah kalimat di sampul novel itu. 'Based on true story.'


"Baiklah, gue akan baca ini," ucap Seno. Setelah itu Seno melirik lagi jam tangannya. "Sorry Nis, gue harus beneran pergi, nih." Nisa mengangguk berat.


"Oke."


"By the way lo gak kerja?"


"Enggak deh, hari ini gue izin dulu. Kebetulan juga gue lagi gak enak badan. Ya udah kalau lo mau cabut. Gue pulang dulu kalau gitu," kata Nisa dengan suara lemah, lalu ia keluar. Setelah Nisa pergi, Seno mematung di tempatnya berdiri sambil memandang novel di tangannya.


Nisa selalu menangis kalau menyangkut soal Viko, ia juga tidak bisa tidur gara-gara pertemuannya dengan Viko. Seno berpikir, bukankah kalau sudah tidak ada perasaan apapun ia tidak akan seperti itu? Benar bukan?


Sekarang Seno juga mengerti kenapa Nisa selalu menyuruhnya untuk diet agar terlihat kurus, itu karena tanpa sadar Nisa ingin merubah Seno seperti Viko. Kesimpulan semua ini adalah, karena Nisa masih mencintai Viko.


Tidak sulit untuk menarik kesimpulan karena itu terlalu jelas.


Seno menggenggam erat novel itu dengan perasaan sakit dan sedikit emosi, lalu ia melemparkan novel itu ke sofa. Pagi ini ia berangkat ke kantor dengan perasaan hancur.

__ADS_1


🌸🌸🌸


__ADS_2