
Malam semakin meninggi, jarum jam sudah melewati angka dua belas. Nisa dan mertuanya belum bisa memejamkan mata walau sekejap. Suasana hati Nisa berkecamuk, dia benci tapi juga khawatir. Foto-foto yang Andi kirim berhasil membuatnya terluka sangat dalam. 'Gue gak nyangka lo giniin gue, Sen! Gue benci sama lo! Kalau lo beneran selingkuh sama cewek itu, besok gue pengen cerai! Gue sendiri yang akan dateng ke pengadilan. Sialan lo!'
"Nduuuk, tidur dulu gih, udah malem. Nanti kalau ada kabar Mama bangunin."
"Aku enggak bisa tidur, Ma."
"Tenangin diri kamu, ambil wudhu, solat malem, lalu tidur. Siapa tahu habis kamu tidur ada kabar dari Seno. Orang-orang suruhan Papanya Seno itu orang-orang yang terlatih."
"Iya, Ma. Ya sudah aku ke kamar dulu kalau gitu."
Nurul mengangguk sambil tersenyum. Namun, saat Nisa akan menekan gagang pintu kamar, telepon Papanya Seno berdering. Nisa berbalik badan.
"Ya, Pak Jhon, sudah ada titik terang?" seru Aryan, papanya Seno. Nisa kembali ke kursi, ke samping ibu mertuanya.
"...."
"Apa! Cibubur? Jauh sekali. Kita lacak pake hapenya Seno."
"...."
"Mmm, saya tunggu secepatnya, Pak."
"...."
"Ya, terima kasih."
Aryan menutup telepon, lalu memandang Nisa dan Nurul bergantian. "Sudah dipastikan, Seno diculik. Hapenya ketemu di daerah Cibubur. Untungnya Seno mengaktifkan fitur GPS di ponselnya, jadi bisa dilacak oleh Pak Jhony."
"D--diculik?" tanya Nisa kaget, lalu foto-foto yang dikirim Andi apa? Apakah Seno diculik bersama wanita itu?
"Kenapa kita enggak kepikiran untuk bertanya ke karyawannya Seno, Pa?" seru Nurul.
"Papa enggak punya nomor pegawainya Seno."
"Aku ada," seru Nisa sambil menyambar ponselnya di kursi.
"Ini, Pa, namanya Aldi."
Nisa memberi nomor Aldi ke papanya Seno. Tak menunggu lama, Aryan menghubungi Aldi. Namun, panggilan itu tak kunjung diangkat, mungkin Aldi sudah tidur.
"Kita hubungi nanti lagi, mungkin orangnya sudah tidur."
"Ya sudah, aku ke kamar dulu, ya Ma, Pa. Mama Papa kalau mau istirahat juga, aku udah siapin kamar yang depan."
"Iya, Nduk," kata Nurul. Aryan mengangguk, tapi raut wajahnya masih menyiratkan kecemasan yang teramat.
Nisa melangkah ke kamarnya lalu menutup pintu. Dia menatap jas dan kemeja Seno yang tadi pagi dia siapkan, tapi suaminya itu malah memilih kemeja dan jas yang lain dengan alasan stelan jas yang Nisa pilih terlalu formil, hari itu Seno enggak ada pertemuan penting dengan klien.
Tungkai lemah Nisa menuju jas tersebut lalu me dekapnya ke dalam pelukan. 'Seno ... kamu di mana, sih? Apa kamu baik-baik aja? Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa wanita itu, Sen? Apakah firasaku benar? Apakah watak playboy cap pausmu kembali lagi? Pliiis jangan lakuin itu, Sen. Aku bisa hancur!'
Nisa beranjak ke tempat tidur masih dengan jas di pelukan. Dia mencoba menutup mata barang kali bisa. Perlahan kelopak mata Nisa memberat, lalu dalam hitungan menit dia pun tertidur. Namun, belum satu jam dia memejamkan mata, dari luar terdengar sahutan ibu mertuanya.
"Nisa ... Nis, bangun, Nduk, bangun. Posisi Seno udah ditemukan."
Masih antara sadar dan tak sadar, Nisa mendengar ucapan itu seperti dalam mimpi, tapi setelah dia sadar sepenuhnya ini bukan di alam mimpi, Nisa langsung terperanjat bangun lari membuka pintu.
"Ma, Seno udah ketemu?"
__ADS_1
"Iya, Nis, Papa sedang menghubungi Pak Wirya, polisi kenalan Papa, karena ini sudah pasti kasus penculikan. Sementara Pak Jhoni dan anak buahnya udah di lokasi, ayo kita kesana jemput Seno."
Nisa mengangguk lalu masuk ke dalam kamar lagi menyambar sweeter yang menggantung di kapstok, dan sweeter yang dia ambil ternyata milik Seno, Nisa tidak peduli walau sweeter itu kebesaran untuk tubuhnya.
Nisa dan mertuanya segera menuju TKP yang sudah di share loc oleh Pak Jhony, sementara Pak Wirya dan dua orang polisi lainnya sudah lebih dulu menuju ke sana.
"Nis, ini Seno." Nurul memerlihatkan foto-foto yang dikirim Pak Jhony. Nisa syok menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Terlihat Seno sedang terikat di sebuah kursi dengan luka di mana-mana. Darah terlihat mengucur dari kepalanya, dan tubuhnya telanjang hanya menyisakan boxer. Nisa menangis tidak sanggup melihat foto-foto itu.
"Siapa yang tega ngelakuin ini sama Seno, Ma, apakah saingan bisnisnya?" Nisa bertanya sambil terisak-isak.
"Belum tau, Nis, nanti mau diselidiki Pak Wirya. Sabar ... sabar ya, yang penting Seno udah ketemu."
"Apakah wanita ini ada bersama Seno?" Nisa menunjukkan foto-foto yang dikirimi Andi ke papanya Seno yang duduk di jok depan.
Dahi Aryan mengernyit, lantas dia menggeleng. "Kata Pak Jhony Seno sendirian, dan cuma dijaga oleh empat bodyguard. Kamu dapet foto ini dari siapa?"
"Dari temenku, Pa, foto ini dia ambil beberapa jam sebelum kejadian. Dia menyangka Seno selingkuh, jadi dia ngirimin foto-foto ini sama aku."
"Ngawur! Seno mana mungkin selingkuh, dia itu cinta mati sama kamu, Nis. Mama tau banget!" Nurul menyambar tak terima. "Nis, mama itu paling kenal dan paling ngerti gimana Seno. Dia bela-belain beli apartemen di samping apartemen kamu biar apa coba? Biar selalu dekat sama kamu! Dia ngerengek kayak bayi mohon-mohon buat ngelamar kamu tahun lalu padahal dia lagi sibuk kuliah dan papa lagi sakit, kenapa coba? Dia takut kamu keburu digondol orang katanya. Kamu jangan percaya kalau ada info aneh soal Seno main cewek. Itu enggak bener! Kamu harus percaya seratus persen sama suami kamu, Seno itu cinta banget sama kamu."
Nisa tersenyum. Mendengar semua itu dari mamanya Seno sekarang hatinya merasa lega. "Iya, Ma, aku percaya sama Seno."
"Nah, bagus itu," timpal papanya Seno sambil senyum-senyum.
***
Setelah sampai di TKP, rupanya keempat bodyguard itu sudah diringkus oleh Pak Jhony dan Pak Wirya beserta anak buahnya, mereka akan dibawa ke kantor polisi dan diintrogasi siapa dalang dibalik penculikan ini, Seno belum bisa memberikan keterangan karena tak sadarkan diri.
Nisa berlari menghambur memeluk Seno yang sudah berada di mobil Pak Jhony akan segera dibawa ke rumah sakit. "Cepat bawa suami saya ke rumah sakit, Pak!" seru Nisa pada anak buah Pak Jhony.
"Iya, Mbak."
"Tega banget mereka! Ya Tuhan, Sen, kenapa kamu jadi begini." Nisa menangis tersedu-sedu tak peduli dengan Pak Jhony yang sedari tadi melihatnya prihatin dari kaca spion.
"Nis," samar Nisa mendengar suara Seno memanggil namanya, tapi Nisa lihat mata Seno masih terpejam.
"Sen, kamu sadar?" Nisa mengelus-elus pipi Seno. Perlahan Seno membuka matanya. "Aku ... rindu," ucapnya nyaris berbisik lalu kembali terpejam dan diam. Nisa mengangguk, memekik menahan tangis agar tak meledak.
Jemari kurus Nisa membelai rambut Seno yang penuh darah. Maafin aku, Sen, aku udah suudzon sama kamu, maaf ....
Sesampainya di rumah sakit, Seno langsung ditangani oleh dokter dan perawat, sementara Nisa dan orang tua Seno melihat dari kejauhan. Setelah membersihkan luka-luka dari tubuh Seno, seorang perawat laki-laki memakaikan baju piama rumah sakit karena hanya boxer yang tersisa di tubuh Seno.
"Sobek di kepala Pak Seno lumayan besar, dia mendapatkan lima belas jahitan," ucap dokter pada Nisa dan orang tua Seno.
"Tapi suami saya baik-baik aja kan, Dok?"
"Dia baik-baik aja, tapi harus menjalani perawatan dulu di sini. Ya, minimal tiga hari untuk memulihkan kondisi tubuhnya."
"Iya, Dok, terima kasih."
Setelah beres di IGD, Seno langsung dipindahkan ke ruang perawatan. "Nis, mama sama papa mau pulang dulu ya, sebentar lagi juga subuh. Nanti pagi-pagi mama kesini lagi, papa mungkin mau ke kantor polisi buat menyelesaikan perkara ini."
"Iya, Ma. Kalian istirahatlah dulu, biar aku yang nemenin Seno di sini."
Nurul mengangguk lalu pergi. "Sabar, ya, Nduk," sahut papanya Seno sambil menepuk pelan bahu Nisa lalu pergi menyusul istrinya keluar.
Setelah mertuanya pergi, Nisa meraih jemari Seno lalu menciumnya dengan takzim. Tak dipinta, air matanya pun meluruh lagi, dia tidak bisa membayangkan siksaan seperti apa yang didapat suaminya hingga seperti ini. Nisa mendekap lengan Seno sambil tergugu menangis sendirian di ruang perawatan yang sepi dan lengang.
__ADS_1
***
Beberapa karyawan Seno datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar buruk mengenai bos mereka. "Semua ini pasti perbuatannya Bu Martha!" cetus Aldi.
"Bu Martha? Apakah maksud kamu orang ini?" Nisa menunjukan foto dari Andi.
"Iya betul Bu, dia orangnya. Malam itu Bos diminta makan malam dengannya karena proyek North Oil sukses besar, Bos sempat menolak, tapi Bu Martha maksa."
"Seno bilang akan meeting di kantor."
Aldi menunduk. "Itu enggak benar, Bu, Bos enggak berani bilang takut Ibu marah, sedangkan menurutnya dinner kali ini sangat penting karena Bu Martha salah satu klien kelas kakap kami. Bos harus menunjukan citra baik pada klien-klien kelas kakap karena itu enggak langsung memengaruhi track record perusahaan."
Nisa mengangguk mengerti. "Tapi kenapa Bu Martha sampai tega ngelakuin semua ini sama suami saya?"
Aldi, Hilman, dan Ezar menunduk. Aldi tak yakin dengan praduganya, tapi bisa saja Bu Martha melakukan semua ini karena terobsesi sama Bosnya.
Aldi mendongak. "Mungkin Bu Martha sakit hati karena ditolak Bos," tutur Aldi.
"Maksud kamu?" Nisa menautkan kedua alisnya.
Aldi berdeham pelan lalu berkata, "Bu Martha suka sama Bos."
"Apa!"
Aldi kembali menunduk. "Gila tuh orang! Emangnya dia single?" sungut Nisa geram.
"Iya, Bu, dia janda. Padahal dia udah tau Bos udah punya istri."
Nisa tertawa kesal. "Ya Tuhan, ternyata cewek-cewek kayak gitu tuh enggak cuma ada di sinetron-sinetron, di dunia nyata juga banyak. Semoga Seno cepet pulih dan memberi kesaksiannya sama polisi."
"Iya, Bu. Saya yakin pelakunya Bu Martha! Dan motifnya itu tadi yang saya bilang."
Darah di tubuh Nisa terasa mendidih. Kalau yang dikatakan Aldi benar, dia harap cewek bernama Martha itu enggak masuk penjara, tapi masuk neraka sekalian.
***
Menjelang siang Seno bangun, dan langsung mencari Nisa. Istrinya itu sedang keluar sebentar mencari makan dan udara segar.
"Ma ...." Seno hanya menemukan ibunya di ruangan. Nurul langsung bangun dari pambaringannya di sofa mendengar Seno memanggilnya.
"Iya, Sen, kamu udah bangun."
"Nisa mana?"
"Istri kamu lagi nyari makan siang." Seno kembali terpejam setelah mendapatkan jawaban. Kepalanya masih pusing dan tubuhnya terasa remuk, tak ada tenaga sedikit pun bahkan untuk menggerakan tangan.
"Sen, Kamu harus hati-hati sama orang-orang di sekeliling kamu atau Nisa."
Seno kembali membuka mata. "Hati-hati kenapa, Ma?"
"Kayaknya ada yang ingin rumah tangga kalian hancur, semalam ada yang ngirimin foto-foto kamu sama perempuan di restoran ke HP-nya Nisa. Untung mama berhasil meyakinkan Nisa bahwa kamu enggak mungkin selingkuh."
"Hah! Masa sih, Ma?"
"Iya, Sen. Pokoknya kamu harus hati-hati. Pokoknya kamu harus bisa mempertahankan rumah tanggamu."
"Iya, Ma, makasih infonya, dan kayaknya Seno udah tau siapa orang itu."
__ADS_1
"Bagus! Kamu kasih perhitungan deh sama dia. Jangan ganggu rumah tangga orang, gitu!"
"Iya, Ma. Makasih juga udah ngeyakinin Nisa." Seno tersenyum sekilas lalu kembali terpejam. Nis, pasti kamu berpikir aku kembali jadi playboy cap paus, kan? Tenang aja, Nis, itu enggak akan terjadi lagi. Demi kiamat hari ini, itu enggak akan pernah terjadi lagi.