
Orang-orang di kantor Nisa mulai rese karena selalu menanyakan perihal kehamilan. Sudah sepuluh bulan sejak menikah, tapi tanda-tanda itu belum ada juga. Jujur saja, Nisa mulai merasa was-was, padahal kata dokter dia dan Seno tak ada masalah apa pun.
Tak jarang dia googling tips-tips biar cepat hamil, tapi setelah semua tips itu diterapkan, tamu bulanan tetap saja datang. Ujung-ujungnya Nisa frustrasi sendiri. Tak hanya Nisa, Seno pun sama. Dia sering meminta kiat-kiat dan sebagainya ke Dean dan Sandy, dua sahabatnya, agar istrinya cepat hamil, dan setelah kiat-kiat itu dilkukan, Nisa tak kunjung hamil juga. Ujung-ujungnya Seno senewen sendiri.
Mereka sudah bosan membahas perihal ini, dan akhirnya malah bertengkar. Nisa malah ngungkit-ngungkit mantan Seno, atau Seno yang menyinggung soal Andi atau Harir yang menyukainya.
Seperti malam itu. Ketegangan kembali terjadi saat Nisa mengangkat telepon dari Andi. Seno marah, dia tidak terima Nisa berhubungan lagi dengan Andi. Padahal dia itu licik. Andi melakukan berbagai cara agar Nisa membenci suaminya sendiri.
"Mas Andi cuma nanya kapan aku ziarah ke makamnya Viko, itu aja! Kamu kok gitu aja cemburu, sih! Apalagi kalau kayak aku, liat kamu bisik-bisik mesra sama Susan!"
"Aku bilang gak usah ngungkit-ngungkit masalah itu lagi!" seru Seno tak terima.
"Kenapa? Kamu gak terima? Tabiat cowok itu emang sama. Egois!"
"Apa kamu bilang?!" Seno melotot.
"EGOIS!" Nisa lebih nyolot. Dan itu bikin Seno geram. Seno tak mau pertengkaran ini berlanjut, jadi dia balik badan masuk ke dalam kamar membanting pintu. Jika sudah begitu, Nisa cuma bisa bengong sambil menahan emosi yang memuncak di dalam dada.
Suasana apartemen sedang panas. Nisa berpikir, dia akan menenangkan diri dulu dengan bertemu Lala. Namun, saat Lala dihubungi, sahabatnya itu tidak bisa datang menemui karena sekarang memegang program talk show yang tayang pukul sembilan malam. Alhasil Nisa cuma duduk sendiri sambil bengong di salah satu cafe menikmati cangkir demi cangkir kopi yang dia tandaskan tanpa merasa mual sedikit pun.
Nisa memikirkan Seno yang jadi sensitif jika ngomongin soal anak. Padahal dia sendiri yang bilang sama ibunya untuk sabar, tapi malah dianya sendiri yang tidak sabar. Siapa sih, yang enggak mau dikasih cepat? Namun, jika Tuhan belum berkehendak mau gimana lagi? Nisa menelungkupkan kepalanya ke atas meja. Menangis.
Dia mengabaikan panggilan telepon Seno yang meneleponnya beberapa kali. Sekarang Nisa tidak mau bicara dulu sama Seno. Dia masih tidak terima Seno memarahinya karena menjawab telepon Andi.
Di apartemen, Seno was-was Nisa tidak ada ditambah tidak mau mengangkat telepon darinya. Seno melirik jam. Sudah jam sembilan. Seno semakin was-was. "Kamu kemana, Sayang?" Seno mengacak rambutnya sendiri dengan kasar.
Seno mondar-mandir tidak keruan, duduk, berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. "Gue gak bisa diem aja kayak gini. Pliiisss otak berpikirlah!"
Satu-satunya orang yang bisa dia tanyai adalah Lala. Mudah-mudahan dia tahu di mana Nisa, atau mungkin sekarang Nisa sedang bersamanya.
Nada tunggu itu terdengar sebentar, Lala langsung menjawab, "Halo, Sen," sapa Lala.
"Halo, La. Sori nih, gue ganggu malem-malem." Seno mendengar suara ribut di belakang. "La, lo masih kerja, ya?"
"Iya, nih, gue lagi di studio. Ada apa, Sen?"
"E--enggak, tadinya gue mau tanya, apa Nisa sama lo sekarang, tapi lo masih kerja mah ya udah gak jadi nanya, hehehe."
"Nisa? Sekitar sejam yang lalu dia WA gue ngajak ketemu di Strawberry, tapi gue gak bisa, kirain dia sama lo juga. Emang kenapa?"
"Enggak, gak apa-apa, ya udah thanks ya, La."
"Kenapa, sih? Lo berdua berantem lagi, ya?" tebak Lala langsung.
"Biasalah, bumbu rumah tangga, hehe."
Lala mendengkus. "Ya elah... kalian tuh dikit-dikit ribuuuut mulu! Bosen gue. Sebentar ribut, sebentar baek. Hadeuh pusing, deh. Kalian tuh karena terlalu cinta jadi gini."
Seno terkekeh. "La ...."
"Apa?"
"Suka bener lu kalau ngomong, hahaha."
"Gue itu paling tau lo berdua kayak gimana. Ya udah sono jemput bini lo, jangan-jangan pantat dia udah akaran di Strawberry. Haha."
"Sialan! Ya udah thanks ya, La. Salam ama Brian."
"Iya entar gue salamin."
***
Setelah dapat info dari Lala, Seno langsung tancap gas ke kafe yang disebut Lala. Di sepanjang perjalanan Seno berpikir dan terus berpikir hingga menemukan jawabannya sendiri. Dia meraupkan tangan ke muka, menyesali keributan yang sudah terjadi. Sekarang dia tidak sabar untuk menemukan istrinya lalu memeluknya seerat mungkin, dan meminta maaf padanya dengan tulus.
Sesampainya di kafe Strawberry, Seno tidak menemukan Nisa di mana pun. 'Apa dia udah pulang?' batinnya. Namun, ketika Seno akan berbalik badan pulang, dia melihat Nisa berjalan keluar dari lorong arah toilet. Rupanya dia sudah dari toilet.
__ADS_1
Senyum Seno langsung merekah. Sedangkan Nisa belum tahu kalau suaminya ada di sana. Seno berjalan ke arah Nisa, dan Nisa pun
berjalan ke arah Seno, tapi karena jalan sambil nunduk, Nisa masih tidak menyadari Seno tengah menghampirinya.
Di tengah-tengah kafe, mereka bertemu. Nisa melihat sepatu skate yang sangat dikenalnya tiba-tiba menghalangi langkahnya. Dia mendongak dan mendapati Seno berdiri di depannya.
"Sen ...."
Seno tersenyum. "Nis ... kok gak ngajak-ngajak mau ke sini?" seloroh Seno. Nisa mengernyit tak mengerti.
"Apaan, sih!" Dia menyingkirkan Seno, lalu kembali berjalan.
"Sayaaaang...." Seno mengejar, meraih tangan Nisa yang sudah berada di luar kafe.
"Ayo kita pulang. Kamu enggak bawa mobil, kan?"
"Gue udah pesen ojol," katanya sambil menghempaskan tangan Seno.
"Batalin!"
"Enggak bisa! Itu ojol gue udah nungguin." Nisa menunjuk ojek online yang sudah menunggunya di pelataran parkir. Tanpa babibu, Seno menghampiri ojek online itu lalu bicara padanya, "Bang, maaf orderannya dibatalin, istri saya mau pulang bareng saya. Ini buat ganti rugi, ya, Bang." Seno menyodorkan uang seratus ribu ke ojek online tersebut.
"Baik, Pak, enggak apa-apa. Terima kasih uang ganti ruginya."
"Sama-sama, Bang."
Nisa menatap Seno tak percaya dari tempatnya berdiri di ambang pintu kafe. Dia melipatkan tangan di dada melihat tingkah Seno yang menyebalkan. Seno kembali ke hadapan Nisa sambil senyum-senyum.
"Bang Ojolnya udah pergi tuh, yuk pulang...." Dia menarik tangan Nisa yang terlipat di dadanya.
"Enggak! Gue lagi sebel sama lo, tauk!" Nisa melepas paksa tangannya dari genggaman Seno.
Seno menghela napas panjang, tapi dia tak mau menyerah. "Ya udah, maafin Mas, ya, Sayang. Pliissss maafin Mas yang cemburuan ini." Seno menangkupkan kedua tangannya di depan muka.
"Maafin, ya ... ya ...! Huf...huf...huf...huuufff." Seno menirukan gaya anjing yang meminta tulang pada majikannya.
"Nyebelin kamu, Mas! Nyebelin, tauk!"
Setelah itu Nisa pasrah membiarkan tangannya diraih Seno dan dituntunnya ke mobil. Di tengah perjalanan, Seno membelokkan mobilnya ke arah tol dalam kota. Nisa yang baru menyadari mereka bukan melewati jalan pulang pun bertanya, "Sen, mau kemana kita?"
"Ada, deh."
***
Sekarang di sinilah mereka sekarang. Duduk berdua di kursi besi beralaskan pasir Pantai Ancol menikmati angin malam dan menatap milyaran bintang di langit sana. Laut hitam keperakkan terhampar pasang tersedot cahaya rembulan. Cakrawala dan laut seolah menyatu satu sama lain, dan itu sungguh menakjubkan.
"Nis, kamu inget tempat ini?" Nisa mengernyit tak mengingatnya. "Enggak," katanya. Memang setelah kecelakaan di Bali itu, Nisa kadang jadi pelupa akut. Seno tahu hal itu, tapi kata dokter itu tidak berbahaya, jadi dia tak begitu mengkhawatirkannya.
"Tempat ini adalah tempat pertama gue patah hati sepatah-patahnya."
"Hah?"
"Iya, dulu kamu nanya ke aku, apa kamu harus kembali sama Viko atau enggak karena dia sakit. Dan aku nyuruh kamu kembali, padahal saat itu aku udah menyadari bahwa perasaanku ke kamu beda. Sumpah itu nyakitin banget, tapi aku mencoba bertahan sekuat tenaga dengan kesakitan ini. Aku mencoba tersenyum dan nguatin kamu, meluk kamu dengan keadaan berbeda. Tau gak? Itu adalah hal paling bodoh yang udah aku lakuin selama hidup aku."
Nisa terkesiap. Sekarang ingat sudah. Dia menelan ludah sedih bercampur miris. Saat itu Seno memeluknya erat, tapi dia tidak tahu bahwa pelukan itu didasari luka. Nisa menatap Seno di sampingnya, lantas meraih tangannya dan meremasnya pelan.
"Dan akhir-akhir ini kita sering cekcok, itu membuatku seribu kali lebih sedih dibanding saat itu. Nis ... kita udah sama-sama selama dua belas tahun, bahkan lebih. Kita udah saling kenal satu sama lain. Kitalah yang paling tahu karakter masing-masing dibanding yang lain, tapi kita enggak bisa memahami dan ngendaliin cemburu. Cemburu adalah hal baru di dalam hubungan kita. Dan itu sangat sulit diterima. Kita sangat cemburuan satu sama lain. Dan tadi Lala bilang di telepon kita jadi cemburuan dan sering ribut itu karena terlalu cinta. Menurutku Lala bener."
Nisa mengangguk. "Sen, tapi aku enggak suka juga kalau kita ribut soal anak. Aku tertekan kalau ngomongin soal itu. Aku mau mulai saat ini stop ngomongin soal anak. Kalau ada orang yang nyinggung-nyinggung soal itu, kita aminin aja, deh. Kita itu bukan Tuhan yang bisa nyiptain anak."
Seno mengangguk setuju, lantas menarik Nisa ke pelukannya. "Maafin aku, Nis," lirihnya.
***
Karena sudah malam mereka tidak pulang ke apartemen, melainkan langsung chek in di salah satu hotel di sana. Kebetulan saat itu jumat malam, jadi besok mereka tak harus buru-buru ke kantor. Mereka masuk ke kamar diantar petugas.
__ADS_1
"Kalau udah halal kayak gini, kita enggak perlu ribet pulang kalau kemalaman. Chek in aja udah. Gampang."
"Hehe, bener banget."
Seno melemparkan tubuhnya ke atas kasur. "Ah, aku lelah."
Nisa meletakkan tas selempangnya ke atas meja rias, lalu menyalakan AC.
"Sini, Nis ...." Seno menumpu kepalanya dengan satu tangan dan menepuk-nepuk kasur. Nisa tersenyum menghampiri Seno.
Setelah Nisa di dekatnya, serta-merta Seno memeluknya dari belakang. "Aku suka wangi rambut kamu," cetusnya.
"Kemarin kan aku baru creambath."
"Kamu jangan sering-sering dulu creambath, kamu kan baru dioperasi lima bulan lalu."
"Ih, aku malah lebih enak pas udah creambath, Sayang."
"Masa?"
"Iya. Jadi relex gitu, deh."
"Mau lebih relex?"
"Mau."
"Sini...." Seno menghadapkan Nisa ke depannya, lalu meraih kaki Nisa dan memijatnya pelan.
"Kamu baik banget, sih. Jarang-jarang nih, kamu tiba-tiba begini." Nisa terkekeh.
"Kamu berbaring, deh."
"Siaaaaap." Nisa merentangkan badannya dan menikmati relaksasinya.
Namun, lama kelamaan tangan nakal Seno meraba sesuatu yang sensitif milik Nisa. Serta-merta Nisa terbangun. "Sen! Kamu ngapain pegang-pegang itu! Dasar mesum! Itu pelecehan namanya."
"Hah?" Seno melotot tak percaya. "Pelecehan kamu bilang? Oke, kalau itu pelecehan, sekalian aku buka aja baju kamu!"
"Senooooo."
Nisa menggeliat kegelian saat Seno menggelitik sambil membuka pakaiannya. "Sini Sayang...." Seno menarik Nisa ke dadanya, menatap mata bulat itu dengan segenap rasa yang ada. Dan itu berhasil membuat Nisa tenggelam dalam kesyahduan.
Seno menelan saliva. Nisa sampai melihat jakun suaminya itu naik turun. "Malam ini kita berdoa dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan Tuhan berbaik hati menitipkan benih di rahim kamu."
Nisa mengangguk dengan mata berkaca. Setiap berhubungan badan Nisa selalu memohonkan itu, tapi dia tak menyangka sekarang Seno mengatakannya.
Setelah berdoa, Seno merebahkan tubuh Nisa ke atas kasur, lalu sentuhan-sentuhan lembut penuh cinta pun dia luncurkan. Kini mereka melakukan hubungan dengan sangat bergairah karena sudah bertengkar. Nisa sangat menikmati berbagai permainan yang Seno mainkan. Dia sampai terkapar tak berdaya. Stamina Seno selalu bagus kalau sudah urusan ranjang. Dan itu bikin Nisa takjub sendiri.
"Makasih udah bikin malam ini sangat indah," ucap Nisa. "Aku enggak nyangka kita terdampar di Ancol kayak gini, hehe."
"Iya, tapi kamu seneng, kan?"
"Iya...."
"Aku yakin banget kali ini jadi. Kamu lagi masa subur, kan?"
Nisa mengangguk. "Mudah-mudahan, ya."
"Jaga stress kamu, ya, aku akan bikin kamu seneng tiap hari. Kalau kamu sedih atau ngerasa stress di kantor, cepet-cepet telepon aku, nanti aku kirimin kamu obat anti stress."
"Hahaha, apaan tuh?"
"Ada, deh pokoknya. Hehe."
"Hhhmm iya, deh."
__ADS_1
Setelah itu mereka pun tertidur bersama dengan satu harapan yang sama.