Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 51


__ADS_3

"Sayang, aku udah nyuruh Ayah sama Ibu pulang diantar Pak Wisnu, tapi mereka keukeuh pengen naik kereta."


"Ya udah gak apa-apa mungkin mereka pengennya ke kereta," ucap Nisa acuh. Padahal Seno ingin ada gunanya untuk mertua.


"Sen, kayaknya bulan ini gagal." Kening seno berkerut. "Gagal apaan?"


Nisa menggigit bibir bawah. "Gue mens."


"Apa?"


"Mens mens mens." Nisa sampai mengulangnya tiga kali.


"Ya udah gak apa-apa mungkin belum rejeki. Itu artinya Tuhan nyuruh kita buat ikhtiar lebih keras lagi."


"Ingat ya, seminggu tiga kali."


"Enggak juga, ah."


"Senoooo."


"Iya ... iya, tapi kalau aku kebelet boleh dong dikasih bonus, hehehe."


"Hadeuh." Nisa tertawa.


Hening beberapa saat. Mereka tenggelam dengan pikirannya masing-masing manikmati suara detak jarum jam yang menuju tengah malam.


"Sen," sahut Nisa pelan.


"Mmm?" Seno menatap Nisa yang ada di pelukannya, di bawah selimut, di kasur mereka yang empuk.


"Aku ... pengen cepet-cepet ke Bali rasanya. Di kantor tuh mumet banget sekarang." Nisa teringat bosnya yang naksir.


"Mumet kenapa?"


"Ya ... mumet aja, Sen. Aku pengen cuti rasanya, tapi enggak mungkin jatah cutiku udah abis dipake ke Manchester sama Swiss kemaren."


"Kalau mumet, ya udah kamu resign aja, Sayang."


"Gak bisa, Sen. Lagian kalau aku resign aku bisa mati bosan di rumah."


Seno menghela napas berat. "Ya udah kalau kamu gak mau. Tinggal jalanin aja apa pun dan bagaimanapun itu. Aku cuma bisa dukung kamu asal masih dalam koridor."


Nisa melingkarkan tangannya ke pinggang Seno dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang itu. "Sen, kalau tiba-tiba aku berubah gimana?"


"Maksud kamu?"


"Aku ... takut ada toxic dari luar terus bikin aku berubah sama kamu."


"Enggak mungkin, aku percaya banget sama kamu. Karena apa? Karena kamu adalah Danisa Alia."


Nisa mengembangkan senyumnya, dan mengecup dada bidang milik suaminya. "Makasih kamu udah mau percaya sama aku, Sen."


"Ya udah kita tidur, yuk. Aku ngantuk banget, nih. Besok aku akan masuk kantor, tapi bentar doang, abis meeting internal langsung pulang," ucap Seno.


"Tadi sore ada Aldi, Ezar sama Sisy, kan? Kirain udah kelar urusannya."


"Itu beda lagi, Sayang. Ya udah sebaiknya sekarang kita tidur, gak usah ngomongin kerjaan dulu, nanti stress lagi."


Nisa mengangguk, lalu merebahkan kepalanya ke bantal.


"Good night." Satu kecupan mendarat dengan mulus ke kening Nisa.


***


Pagi-pagi setelah menyiapkan sarapan untuk Seno, Nisa bergegas ke kantor menggunakan ojek online karena sore nanti Seno yang akan menjemputnya ke kantor, setelah itu akan makan malam di luar sama Rian dan calonnya.


"Sayang Pak Hasan nge-WA, katanya terapi kamu selanjutnya dilakukan di kantornya aja,"


"Kapan?" tanya Seno sambil menyeruput kopi yang dibuat Nisa.


"Lusa katanya. Kita kosongkan waktu buat itu, ya. Pokoknya kamu harus sembuh."


Seno mengangguk sambil tersenyum. Nisa mencium tangan suaminya sebelum berangkat ke kantor. "Aku berangkat dulu, ya. Bang ojol udah nungguin di bawah."


"Hati-hati, Sayang."


"Iya."


Sesampainya di kantor, Nisa dikejutkan oleh setangkai mawar merah yang dibungkus rapi oleh plastik di mejanya dekat laporan reture yang Nisa pinta kemarin ke Lena. Ini seperti dejavu, dulu si berondong Yuda yang ngelakuin ini, bedanya yang Yuda beri adalah kopi berikut kartu ucapan.


Nisa meringis sendiri, dia tahu pasti siapa pelakunya, pasti Pak Harir. Serta-merta Nisa membuang bunga itu ke tempat sampah. Aduh sayang juga sih sebenarnya, bunganya wangi dan segar, seperti baru metik dari tangkainya, tapi bunga itu bukan dari Seno.


"Mbak ...." Lena masuk ke ruangan. Nisa terlonjak kaget, lalu menoleh.


"Iya, Len?"


"Mbak, gawat, Ketua Tim cabang Bandung katanya kecelakaan pas mau berangkat ke kantor, kondisinya lumayan parah, tulang rusuknya ada yang patah katanya. Sekarang di rumah sakit."


"Apa? Mas Satria kecelakaan?" Nisa melotot kaget. Lena mengangguk.


"Mau enggak mau kita harus cari ketua tim yang baru buat sementara."


Nisa duduk ke kursinya. Menopang kedua siku ke meja dan memegangi kepalanya. Kenapa harus ada musibah disaat mau ada kampanye produk baru gede-gedean? Sekarang Nisa harus memilih orang yang beneran tepat untuk menggantikan posisi Satria sementara. Salah-salah, nanti penjualan produk baru tersebut enggak akan mencapai target.

__ADS_1


"Aduh siapa, dong?" Nisa bertanya pada Lena. Lena menggeleng. Nisa melirik bunga yang sudah dibuangnya di tempat sampah. Seketika dia teringat Yuda. Walaupun dia masih baru, tapi Nisa tau betul kinerja anak itu seperti apa.


Nisa mengangkat wajah menatap Lena di depannya. "Aku pilih Yuda aja," cetus Nisa yakin.


"Hah?" Lena melongo.


"Yuda. Kamu inget sama dia, kan?"


"Iya aku inget, Mbak, tapi kan dia masih baru jadi karyawan, pasti nanti ada omongan-omongan yang enggak enak."


"Gak apa-apa, yang penting aku yakin sama dia. Aku yang tau betul gimana dia kerja. Yuda lulusan UI juga, kan? Fix, aku pilih Yuda." Lena mengangguk ragu. Namun, Danisa lah yang punya wewenang penuh atas ini.


Pukul sepuluh pagi, tiba-tiba pimpinan mengadakan rapat dadakan. Entah apa yang mau dibahas. Orang-orang pada berbisik di belakang. "Pimpinan sekarang hobi bangat rapat," cetus Gabriel, yang dibalas kekehan Nadya dan Nisa.


Setelah semua berada di ruangan, rapat pun dimulai. Siang ini rapat begitu membosankan, sebenarnya hal yang dibahas di rapat ini enggak penting-penting banget. Nisa melihat teman-temannya seperti sekuat tenaga menahan bosan. Bahkan Nadya sudah beberapa kali menguap. Pak Harir masih saja berceloteh ngomongin produk baru, dan inovasi-inovasi selanjutnya. Ini sama sekali enggak pas untuk dibahas sekarang. Entahlah, Nisa tidak ngerti dengan jalan pikiran bos barunya itu.


Menjelang makan siang rapat pun selesai. Orang-orang kembali ke divisinya masing-masing. Namun, saat Nisa juga akan kembali, Harir menahannya.


"Nisa ...," serunya. Nadya yang belum keluar ruangan ikut menoleh. Wanita itu menatap Nisa khawatir, lalu keluar.


"Iya, Pak?" Nisa berbalik menghadap Harir.


"Kamu ... mau temenin saya makan siang?"


Mata Nisa langsung terbelalak kaget. "Hah? M--makan siang?"


"Iya."


Nisa melihat sorot mata Harir kini berbeda. 'Nih orang maunya apa, sih? Hadeuh bikin gue gak nyaman aja, sih.'


"Mau, kan? Saya enggak mau makan siang sendirian kali ini."


"I--iya, Pak, baik." Harir langsung tersenyum lebar.


"Kita berangkat sekarang?"


"S--saya ke ruangan dulu, Pak, ngambil tas."


"Silakan. Saya tunggu di lobi kalau gitu." Nisa mengangguk lalu keluar ruangan. Ketika dia akan berbelok ke koridor ruangannya, Nadya menyeretnya. "Tadi Pak Harir ngapain elo, Nis?"


Nisa menghela napas gusar. "Dia ngajakin gue lunch sekarang. Parah gak, tuh? Gue gak enak mau nolak."


"Udah jelas dia itu suka sama lo, Nis. Kalau laki lo tau sekarang lo lunch sama bos, kelar!"


"Enggak bakal. Suami gue itu percaya seratus persen sama gue."


"Gila ya zaman sekarang. Sebelum bendera kuning berdiri, janur kuning tuh gak berlaku. Kalau suka ya tikung aja, bebas."


"Hati-hati, Nis." Nadya menepuk pelan lengan Nisa lalu pergi. Beberapa saat Nisa mematung. 'Apa yang gue lakuin? Kenapa gue nerima ajakan lunch bos? Ah, sekarang udah terlanjur, mau gimana lagi.'


Nisa berderap ke ruangan mengambil tas lalu menemui Harir di lobi. Dia yakin ketika menemui bosnya di sana, orang-orang di belakangnya bergosip, terutama cewek-cewek pengagum bos.


Harir mengajak Nisa makan di sebuah restoran mewah, di sebuah hotel bintang lima. Sungguh dia merasa tidak nyaman Harir membawanya makan di sana.


Mereka duduk di salah satu meja dekat jendela kaca. View kota Jakarta dari ketinggian langsung memenuhi kornea mata. Indah sih, tapi akan lebih indah lagi jika teman makannya adalah Seno. Harir memesan makanan yang mahal dan enak, Nisa tambah enggak enak. "Pak, Anda enggak perlu pesan makanan yang mahal-mahal," cetus Nisa.


"Saya ingin memberi yang spesial buat kamu. Oh iya, kamu udah terima bunga dari saya?"


Nisa langsung melotot kaget. "B--bunga itu dari Anda?"


Harir mengangguk. "Kamu jangan berpikir yang macam-macam dulu mengenai bunga itu. Tadi pagi di perjalanan menuju kantor, saya melewati toko bunga dan lihat mawar merah itu sangat cantik, dan saya langsung inget kamu. Cantiknya sama kayak kamu. Saya tau kamu udah nikah, tapi ... saya ingin melakukan hal yang spesial buat kamu. Sebagai bos."


Nisa berdeham. Aduh, kagak beres nih urusan. "Saya sangat berterima kasih atas perhatian Anda, Pak, tapi perlakuan Bapak terhadap saya akan menimbulkan kecemburuan karyawan lain. Saya enggak mau ada omongan-omongan jelek tentang Bapak ataupun saya. Apalagi saya statusnya istri orang."


Harir menunduk sambil ******* bibirnya. Dia tahu itu dan Nisa benar, tapi hasratnya tak bisa ditahan. Apalagi Nisa sangat cantik dan ada kemiripan sedikit dengan mendiang istrinya.


Sepeninggal istrinya Harir sudah beberapa kali berusaha moveon, tapi tak bisa. Namun, saat dia melihat Nisa untuk pertama kalinya, bedaran itu muncul kembali. Dan lambat laun dia menyadari bahwa itu adalah ketertarikan. Dia belum berani menyebutnya cinta, butuh beberapa step untuk mengartikan bahwa itu cinta. Harir ingin mencari wanita baik-baik untuk putri semata wayangnya. Dan entah kenapa dia berpikir Nisa lah orang yang tepat.


Namun, siang ini ucapan Nisa berhasil menamparnya. Mendadak dia sangat merindukan mendiang istrinya. Harir mencurahkan kegundahan hatinya pada Nisa. Tentang kesendiriannya yang terasa berat, dan tentang perasaannya sendiri.


Nisa tertegun, dia paham apa yang dirasakan bosnya itu. Hidup tanpa istri itu berat, apalagi ada anak yang harus diurus. Harir menunjukan foto putrinya, dan Nisa kagum dengan kecantikan gadis kecil itu. 'Kasihan dia harus ditinggal ibunya di usia dini,' batin Nisa.


"Sekarang putri Bapak dijagain siapa?"


"Ada pengasuh, namanya Lisa. Dari Ester bayi, Lisa udah ikut saya. Dia telaten mengurus anak."


"Oh, syukurlah, Pak."


"Saya bersyukur punya pengasuh seperti Lisa. Dia mengasuh Ester untuk membantu biaya sekolah adik-adiknya di kampung. Lisa memang masih sangat muda, tapi dia sangat telaten." Harir tersenyum saat mengatakan itu.


"Lisa usianya berapa, Pak?"


"Dua puluh lima tahun. Saya akan sangat bingung kalau dia berhenti karena akan berumah tangga. Akan sangat susah mencari pengasuh yang seperti Lisa. Ester juga terlanjur dekat dengan Lisa."


"Berat juga ya, Pak, kalau Ester terlanjur dekat sama Lisa kalau suatu saat Bapak nikah lagi, bakal repot. Ester maunya nempel Lisa terus. Hehehe."


"Nah itu dia."


Pesanan mereka pun datang diantar pelayan bertuxedo. "Dimakan, Nis, jangan sungkan-sungkan, ya."


Nisa mengangguk. 'Sebenarnya kasihan juga, Pak Harir pria kesepian. Kenapa dia enggak nyoba deketin baby siternya aja, dia kan udah cocok sama anaknya. Ya, gak? Hhhmmm tapi kalau enggak cinta susah juga, sih.' Nisa membatin sambil menatap pria maskulin di hadapannya.


***

__ADS_1


Pukul lima sore, Seno sudah nongkrong depan kantor Nisa ditemani Pak Gani. "Hai, sayang ...," seru Seno saat Nisa keluar.


"Udah lama, Sayang?"


"Cieeee sekarang udah nikah jadi manggilnya sayang-sayangan, nih? Dulu ... aja manggilnya elo-gue," seloroh Pak Gani, satpam yang sudah hafal betul pada Seno karena sering menjemput Nisa dulu.


"Iya dong, Bang. Masa masih elo-gue, sih, yaaaa mungkin kecuali kalo lagi ngambek kali, ya. Hehehe."


Nisa mendelik sebal. "Apaan, sih, lo nyindir gue, ya?"


"Tuh tuh Pak, denger, kan? Kalau ngambek dia kembali ke mode elo-gue," tutur Seno sambil menunjuk Nisa.


"Akur-akur ya kalian, semoga langgeng sampe kakek nenek, dikaruniai anak yang lucu-lucu, berkah dah pokoknya."


"Makasih ya, Pak Gani," ucap Nisa. "Ya udah kami pulang dulu kalau gitu."


"Ya udah hati-hati, dah. Penganten baru mah maunya cepet-cepet pulang aja, ya, kan?"


"Ah, Bapak tau aja, tapi sekarang istriku lagi palang merah, Pak. Merana aku seminggu. Hahaha."


"Seno!" Nisa memukul lengan Seno gemas. "Ya udah, kami pulang dulu, Pak, makin lama nanti laki gue makin ngelantur omongannya." Nisa menyeret Seno ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.


***


"Sayang, kamu pulang dari kantor jam berapa?" tanya Nisa.


"Jam dua juga aku udah pulang," jawab Seno sambil menyetir.


"Oh iya, Sayang, tadi siang kamu makan di Grand Hyatt, ya?"


Nisa terlonjak kaget. Dari mana Seno tahu? Jantung Nisa langsung berdetak cepat, takut Seno marah. Karena sudah tertangkap basah, berbohong akan lebih memperburuk keadaan.


"Kok, kamu tau?" Nisa balik bertanya.


"Iya, Dean nge-WA katanya liat kamu di sana."


"Dean? Kok aku gak liat dia, ya?"


"Sama siapa? Kata Dean kamu makan berdua sama cowok." Seno bertanya, tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nisa menelan saliva dengan kesusahan.


"Sama Pak Harir, Sen, bosku yang baru."


"Baik banget ya dia ngajakin istriku lunch di resto mewah, pasti ada apa-apa, deh."


"Pagi ini juga dia ngasih aku bunga," kata Nisa dengan kepala tertunduk.


"Hadeuh, aku kalah saing dong sama dia. Aku malah belum pernah ngasih kamu bunga. Cuma ngasih bunga bank doang." Seno terkekeh.


"Seno, ih!" Nisa mencubit pelan pinggang Seno. "Ya kamu ngasih-ngasih aku bunga kek, cokelat kek, atau apa gitu."


"Alhamdulillah kamu enggak minta Chanel yang edisi summer itu."


Nisa terlonjak di kursinya dengan mata berbinar. "Sen, aku gak jadi minta bunga, aku minta yang barusan kamu sebut aja."


"Huuuuh maunya." Sebelah tangan Seno terulur mengacak rambut Nisa, tapi pandangannya tetap lurus ke depan memerhatikan kendaraan-kendaraan yang ada di depannya karena sore ini Jakarta mulai dengan kemacetannya. "Tabunganku nanti abis cuma buat beli satu tas doang."


Nisa mengerucutkan bibirnya. "Ya udah kalau gitu, bunga ama cokelat aja, deh."


"Satu truk aku beliin buat kamu."


"Bisa aja kamu."


Hening sesaat.


"Kenapa? Jadi ini alasan kamu mulai enggak nyaman di kantor? Karena bos kamu suka sama kamu?"


Nisa mengangguk. "Emang dia enggak punya istri?"


Nisa mengangguk lagi. "Dia duda satu anak."


"Kalau kamu mau ambil aja," seloroh Seno. Nisa langsung melotot kaget. "Senoooo, elo tuh gak abis-abisnya ngegoda gue mulu. Nyebelin, tauk! Amit-amit jabang bayi aku ambil-ambil cowok sembarangan, emangnya gue cewek apaan!"


Seno tertawa ngakak. Nisa melirik Seno sebal bercampur gemas. "Kamu aja sana sama si Martha!"


"Idih, amit-amit!"


"Ya udah makanya jangan ngegoda gue mulu!"


Nisa memeluk Seno yang sedang menyetir. "Sen, aku tuh takut kamu marah Pak Harir suka sama aku. Aku takut kamu cemburu." Seno mencium kepala Nisa di dadanya. Sebenarnya Seno cemburu banget, apalagi si bos kampret itu udah berani ngasih-ngasih Nisa bunga segala. 'Hadeuh nyebelin banget.'


"Aku senang kamu terbuka kayak gini, Nis. Kunci utama langgengnya rumah tangga itu terbuka dan saling percaya. InshaAllah kita udah pegang semua itu."


Nisa mengangguk. "Maafin juga waktu itu aku udah berpikir yang bukan-bukan waktu kamu diculik."


"Kamu enggak salah, ngapain minta maaf. Kamu begitu wajar aja karena dikomporin si Andi. Aku mau bikin perhitungan sama dia."


"Jangan, Sen, udah biarin aja, yang penting sekarang aku tahu dia kayak apa." Seno mengangguk, sekarang hatinya lega Nisa sudah tahu Andi ada misi terselubung. Tapi rasa kesalnya belum hilang.


"Tapi ... ngomong-ngomong, aku rada susah juga nih nyetirnya kamu peluk-peluk aku gini."


"Hehehe." Nisa menyeringai.


***

__ADS_1


__ADS_2