
"Nis, aku enggak butuh Psikolog!" ucap Seno pelan namun tajam saat Pak Hasan tiba di rumah sakit besok paginya. Seno menyeret Nisa ke toilet untuk bicara.
Nisa terdiam sambil menatap Seno dengan saksama berusaha meyakinkannya. "Sayang, kamu sakit! Kamu enggak baik-baik aja. Kejadian kemarin itu menyisakan trauma buat kamu! Plis, aku enggak mau kamu kenapa-napa, semakin cepat akan semakin baik buat nyembuhin trauma kamu."
"Itu artinya, aku harus mengungkapkan semua apa yang aku alamin kemarin, aku enggak sanggup, Nis."
"Daripada dipendam dan jadi boomerang buat diri kamu sendiri? Mending ungkapkan semuanya biar kamu plong dan kamu dapet pertolongan buat jiwa kamu sendiri. Aku tahu kemarin kamu enggak cuma nerima kekerasan fisik aja, kan?"
Seno menunduk. "T--tapi aku takut, Nis. Itu terlalu mengerikan buat aku." Pria itu menelan salivanya dengan susah payah.
Nisa meraih jemari Seno lalu meremasnya pelan. "Ada aku, kamu jangan takut. Ungkapin semua sama Pak Hasan, oke? Biar dia bisa terapi kamu dengan benar."
Seno membuang napas sekaligus, mencoba membuang ketakutan dan kegundahannya. "Kita temuin Pak Hasan, ya? Kesian dia udah datang jauh-jauh."
Seno bergeming sesaat, setelah itu dia mengangguk. "Oke."
Nisa dan Seno keluar dari toilet. Nisa langsung meluncurkan senyum ramah pada Pak Hasan, dan duduk di sofa di dekatnya, diikuti Seno. Pria empat puluh tahunan itu pun membalas senyuman Nisa. "Maaf saya agak terlambat, seharusnya jam sembilan saya udah ke sini," cetus Pak Hasan.
"Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih udah mau datang," ucap Nisa.
Pak Hasan mengangguk, lalu pandangannya dia alihkan pada Seno. "Gimana keadaanmu sekarang, Sen? Kemarin ibumu telepon saya, dan saya agak kaget mendengar kamu dapat musibah. Saya turut prihatin."
"Sekarang udah lebih baik, Pak. Terima kasih sudah mau nolong saya."
Pak Hasan tersenyum. "Itu udah kewajiban saya."
Setelah berbasa-basi sebentar, sesi terapi pun dimulai. Pak Hasan mulai mengorek apa yang dialami Seno kemarin, entah apa yang dilakukannya, sehingga Seno dengan gamblang menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, padahal awalnya dia enggan bicara sedikit pun, rupanya Pak Hasan menerapkan pula hypnoterapi diam-diam sehingga pasien tidak malu-malu untuk mengungkapkan semuanya.
Pak Hasan bilang, jika yang dialamin Seno tidak segera diungkapkan dan mendapat pertolongan, dampak panjangnya akan sangat buruk. Korban pelecehan seksual akan membuat si korban akan merasa malu, kaget, bingung, hingga rasa bersalah. Jika perasaan-perasaan ini terus muncul, korbannya berpotensi terkena gangguan kesehatan jiwa seperti depresi, post traumatic stress disorder, narkoba, gangguan makan, dan gangguan kecemasan. Semua itu berdampak pada keseharian korban, seperti sulit tidur, aktivitas terhambat, sampai sulit melakukan hal yang sebenarnya menyenangkan. Bahkan hal yang lebih buruknya pasien akan berpikir untuk bunuh diri.
Makanya diperlukan strategi yang tepat dalam mengatasi trauma akibat pelecehan seksual tersebut. Pak Hasan terus meyakinkan Seno untuk berhenti menyangkal dan menerima semua kenyataan bahwa semuanya akan baik-baik saja, itu hanya musibah yang harus diterima. Tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar mengapa ada orang yang melecehkan. Ketika terus menyangkal, rasa sakit dan amarah akan terus muncul. Jadi Pak Hasan menyuruh Seno untuk bisa melepaskan dan menerima semua itu dengan ikhlas.
Nisa melihat Seno jauh lebih tenang. Terapi pun terus berlanjut hingga dua jam, dan sekarang Seno sudah bisa tersenyum dengan lepas. Pak Hasan menyuruh Seno untuk yoga atau meditasi setelah keluar dari rumah sakit agar jiwanya jauh lebih tenang. Dan tak lupa untuk selalu mendekatkan diri pada Tuhan.
"Minggu depan ita lakukan terapi season ke dua, ya. Semoga kamu cepet sembuh," ucap Pak Hasan sambil menepuk pelan bahu Seno.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, ya udah kalau gitu, saya permisi dulu."
"Iya. Terima kasih, hati-hati di jalan, Pak," ujar Nisa lalu menyalami Pak Hasan, disusul Seno pun menyalaminya.
Setelah Pak Hasan pergi, Nisa ke toilet untuk sejenak menenangkan dirinya sendiri. Jujur, Nisa sangat syok mendengar apa yang dialami suaminya. Dia marah sekaligus sedih, tapi dia sadar hal itu tak boleh ditunjukan di depan Seno.
Nisa tak bisa membayangkan gimana perasaan Seno saat itu. Demi Tuhan, dia tidak menyangka hal mengerikan ini terjadi pada diri sahabatnya, suaminya--orang yang paling dia cinta.
"Aku harus gimana, Sen?" Nisa mentap dirinya sendiri di depan cermin, tak terasa air mata meluruh pada pipi mulusnya, tapi secepatnya dia hapus. "Aku enggak boleh nangis. Aku enggak boleh terlihat sedih. Kamu kuat, Danisa!" Nisa mengambil wudhu untuk bersiap salat Duhur.
***
Minggu sore Seno pulang dari rumah sakit. Sesampainya di apartemen tiba-tiba dia meminta dibuatkan mie instan pake sawi, telor sama cabe rawit. Nisa bersyukur untung stok mie instan di lemari masih tersisa satu. Memang, sesudah sesi terapi itu nafsu makan Seno sudah kembali padahal sebelumnya dia tak mau makan apa pun, cuma minum air putih saja.
"Tau gak, Nis, menu ini adalah andalannya semua orang buat ngilangin stress. Mie instan pake rawit adalah obat anti stress terampuh. Aku berani jamin."
"Masa, sih? Bisa aja kamu." Nisa terkekeh.
"Serius, loh."
"Oh iya, Sen, Ayah sama Ibuku dalam perjalanan ke sini, dia dikasih tau Rian kalau kamu sakit."
"Oh, ya udah kita minta tolong Pak Wisnu buat jemput mereka di stasiun."
__ADS_1
Nisa mengangguk. "Kamu mau coba, gak?" Seno menggeser mangkuk mie instannya ke depan Nisa.
"Suapin, dong."
"Boleh...." Seno menyendok mie instan itu, meniupnya, lalu menyuapkannya ke mulut Nisa. Mereka pun memakan mie instan itu berdua sampai habis.
"Besok Ibuku yang jagain kamu kalau aku ke kantor," ucap Nisa sambil menyimpan mangkuk kotor ke wastafel, mengambil botol air dari kulkas, lalu menuangkan air untuk Seno dan dirinya.
"Mamaku juga mau ke sini katanya. Aduh enggak kebayang besok ramenya kayak apa kalau Mamaku sama ibu kamu ketemu, aku harus menghadapi dua ibu itu sendirian." Seno meneguk air yang diberi Nisa sekaligus habis.
"Hahaha, sabar ya sayang. Besok aku gak bisa bolos, mau ada meeting buat ngomongin proyek baru itu." Nisa kembali duduk di samping Seno setelah minum dan menyimpan kembali botol air itu ke dalam kulkas.
Seno merangkul bahu Nisa. "Enggak apa-apa, aku ngerti, kok."
"Sen, aku sayang kamu," cetus Nisa.
Seno menatap Nisa curiga. "Kenapa, nih? Kok tiba-tiba ngomong sayang?"
"Gak apa-apa, mau ngomong aja." Nisa menyandarkan kepalanya dengan manja ke dada Seno.
"Ah, aku tau, pasti ada sesuatu yang pengen kamu beli, ya?"
Nisa terkekeh, lalu berkata, "Dan itu harganya lumayan mahal."
"Tuh, kan, udah tau sekarang aku." Padahal sebenarnya tidak ada barang yang mau Nisa beli. Nisa berkata seperti itu karena dia masih terbayang kejadian yang dialami Seno.
"Walaupun kamu ngebebasin aku buat beli apa pun sama credit card kamu, tapi tetep aku harus bilang dulu, kan?" Nisa mengangkat kepalanya.
"Memangnya apa yang pengen kamu beli, Nis?"
"Lingerie."
"Hehe, aku lupa belum gantiin lingerie kamu yang putus."
Seno terkekeh. "Maaf, aku udah bikin lingerie kamu rusak, Nis."
"Dimaafkan. Karena hari itu kamu udah bikin aku pergi ke tempat terindah di dunia. Syurga dunia terindah yang pernah kamu kasih ke aku. Kamu udah bikin aku bahagia."
Keduanya bergeming. Suasana mendadak terasa syahdu dengan tatapan mata masing-masing. Lalu tiba-tiba Seno berkata, "Nis, aku--takut enggak bisa membawamu ke tempat itu lagi, dan aku takut enggak bisa ngasih kamu itu lagi." Suara Seno bergetar menahan tangis.
Nisa menangkup kedua pipi suaminya. "Kamu bisa, aku yakin!" Seno meraih tangan Nisa di pipinya lalu menciuminya dengan lembut.
"Kita coba sekarang?" ucap Nisa. Seno mendongak menatap kedua bola mata istrinya dengan sendu. Dan dia menemukan keyakinannya di sana. Mengangguk.
Keduanya bangkit dari kursi menuju kamar. Perlahan Nisa terus meyakinkan dan mencoba mengenyahkan ketakutan Seno. Sekarang dirinyalah yang lebih aktif, sebisa mungkin Nisa akan melenyapkan trauma itu.
"Sen, aku Danisa, aku istri kamu! Aku bukan penjahat itu!" Nisa terus membisikan itu di telinga Seno.
Seno menatap lekat wajah wanita di depannya. Memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali. Segugus wajah orang yang paling dia cintai memenuhi kornea matanya. Sorot mata itu meredup, sekarang Seno merasa aman dan tidak takut. Kemudian hormon-hormon kelelakiannya pun seketika bangkit.
"Aku Danisa, cium aku!"
Dengan hati yang bergetar hebat, Seno mencoba mendekatkan wajahnya pada Nisa, menutup mata, lalu perlahan meraih bibir Nisa dengan bibirnya. Ciuman itu penuh cinta dan ketulusan, Seno bisa merasakannya. Dan sedikit demi sedikit ketakutannya pun terbang dengan bebas ke angkasa dan dia akan menguncinya agar tak kembali masuk ke benaknya. Cuma Danisa yang berhak mendapatkan semua itu darinya.
Diam-diam Nisa tersenyum Seno sudah mulai nyaman. Dia melucuti satu per satu pakaian yang melekat pada tubuh Nisa. Kemudian sentuhan demi sentuhan Nisa terima seperti biasanya. Sekarang dia yakin trauma itu telah lenyap.
Nisa membalas sentuhan-sentuhan itu hingga Seno benar-benar yakin bahwa sekarang yang tengah menyentuh adalah Danisa. Istrinya. Sore itu keheningan terasa syahdu. Seno tersenyum dengan tatapan yang membuat Nisa luluh lantah.
Sekali lagi Seno berhasil membawa Nisa pada tempat itu. Dimana hanya ada mereka, cinta, dan peluh kasih sayang. Bagaimana bisa Nisa tidak mencintainya? Seno yang baik, bertanggung jawab, dan Seno yang selalu membawanya pada syurga itu? Semoga selamanya akan selalu seperti ini.
Seno mengecup pucuk kepala Nisa sambil memeluknya di tempat tidur. Kulit yang saling menempel tanpa sehelai benang pun di bawah selimut menghasilkan kehangatan alami dari tubuh masing-masing.
__ADS_1
"Makasih buat semuanya, Nis."
"Sama-sama."
"Ngomong-ngomong, kamu belum dateng bulan lagi, ya?"
Bola mata Nisa melirik ke atas mengingat-ingat. "Belum."
Tangan Seno masuk ke bawah selimut mengusap-usap perut Nisa. "Semoga aja dia segera hadir di perut kamu."
"Iya. Eh, aku udah tanya-tanya sama Lala soal dokter kandungan, dan dia merekomendasikan dokter kandungannya. Katanya bagus."
"Kamu mau periksa, gitu?"
"Ya, sekalian mau konsul juga, sih."
"Kapan? Nanti biar aku anter."
"Gak usah, biar aku sama Lala aja."
"Kenapa?"
"Takutnya kamu sibuk, Sayang."
"Enggaklah."
"Oke, deh."
Seno lebih merapatkan pelukannya. "Hhhh Nis, nanti gimana ya rasanya kalau kita punya anak? Aku gak sabar rasanya."
"Yang jelas kalau kita udah punya anak, kita gak mungkin bisa pelukan kayak gini kalau dia enggak tidur."
"Hehehe, bener juga. Kamu mau punya anak cowok apa cewek?"
"Apa aja kalau aku."
"Papaku ngarep banget kita punya anak cowok, tau."
"Masa, sih?"
"Iya. Masa dia ngasih tips-tips segala biar kita punya anak cowok."
"Hehe iya kamu udah bilang kalau itu. Papa kamu tuh gokil juga ya ternyata. Awalnya aku pikir dia itu kaku orangnya. Agak segan juga aku dulu."
"Kamu enggak tau aja waktu kuliah dia jadi anak band atau boyband gitu."
"Hah?" Nisa terkejut sampai merubah posisi.
"Iya, entar kamu tanya Mamaku, deh. Duran-duran, Curt Cobain, New Kids on The Block, semua itu artis idolanya."
"Keren, Papa kamu suka Curt Cobain, roker juga dia, ya."
"Bukan cuma roker, dia juga penganut boyband."
"Ya ampun, hahaha, ya ... ya, New Kids on The Block, itu kan boyband legend."
Tak lama suara bel menggema ke seantero ruangan. "Sen, ada yang dateng. Jangan-jangan itu ibu aku."
"Hah! Masa, sih? Kok cepet banget."
Keduanya langsung melesat dari tempat tidur, dan cepat-cepat memakai baju, sampai tidak sadar kalau kausnya Seno terbalik.
__ADS_1
***