Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 49


__ADS_3

"Alhamdulillah, Ayah sama Ibu nyampe dengan selamat, padahal aku mau telepon Pak Wisnu untuk jemput di stasiun," tutur Seno setelah mencium tangan mertuanya. Sedangkan Nisa sibuk membenarkan rambut panjangnya yang kusut. Ibunya melirik curiga putri sulungnya. Dia lantas tercengang sendiri melihat kaus Seno yang terbalik. Wanita lima puluh tahunan itu ingin tertawa, tapi dia tahan sekuat tenaga. Dia tahu dengan sendirinya apa yang sudah terjadi di sini.


"Enggak perlu, Sen. Rian sudah pesankan taksi online," ucap Dodi, ayahnya Nisa.


"Sekarang Rian mana?"


"Dia di apartemen kamu sama Angga, tau tuh lagi ngapain."


"Seno, ini ada oleh-oleh dari Sukabumi buat mama papa kamu, nanti kasihin, ya?" tutur Rita, ibunya Nisa sambil menaruh barang bawaannya ke meja.


"Besok Mama mau ke sini, kok, Bu."


"Wah, syukurlah. Nisa, besok kamu emang kerja?"


"Kerja, Bu."


"Suami masih sakit, kok, kerja." Rita sudah mulai dengan kebawelannya.


"Ya gimana lagi, Bu, aku gak bisa izin."


"Maafin Nisa ya, Sen. Dia emang sibuk terus," ucap Rita.


"Enggak apa-apa, kok, Bu. Aku udah biasa ngadepin orang sibuk ini dari dulu." Seno mengacak rambut Nisa yang sudah dia rapikan susah payah. Nisa mencebik kesal.


"Oh iya, kalian ... udah mandi belum?" tanya Rita sambil menunjuk Seno dan Nisa.


"Hah?"


"Pasti sebelum kami datang sudah terjadi sesuatu, kan? Lihat Seno sampe enggak nyadar kausnya kebalik gitu."


"Hah?" Seno menatap dirinya sendiri sambil meraba-raba kausnya. Setelah menyadari semua itu, pipi Nisa dan Seno seketika memancarkan semburat merah, lantas saling tatap malu luar biasa.


"Namanya juga masih pengantin baru, Bu, dimana ada kesempatan, ya tancap. Dulu juga kita gitu, kan?" cetus Dodi yang membuat sejoli itu malu luar biasa.


Rita terkikik-kikik. "Tapi jangan keseringan juga, ya, nanti kualitas spermanya Seno jadi kurang bagus. Ya ... seminggu tiga kali, cukuplah," tutur Dodi.


"Hah?" Seno melongo sambil memilin ujung kausnya. Membahas hal ini dengan orang lain mungkin akan terasa biasa saja, tapi kalau dengan mertua rasanya sangat malu. Rasanya Seno ingin menyembunyikan wajahnya ke bawah selimut.


"Sana mandi-mandi, sebentar lagi Magrib." Rita mendorong pelan Nisa dan Seno ke kamar.


"Iya, Bu, iya kami mandi dulu kalo gitu," tutur Nisa sambil mengerucutkan bibirnya. "Ayah sama Ibu istirahat dulu aja di kamar depan, buat makan malam aku udah delivery," sambungnya.


Mendengar itu, raut wajah Rita sudah bersiap untuk meluncurkan aksi protes, tapi keburu disanggah Nisa, "Enggak ada bahan makanan untuk dimasak, Bu, aku belum sempat belanja," kata Nisa, dia tahu betul apa yang akan dikatakan ibunya.


"Ya sudah besok ibu yang belanja. Di rumah tuh, isi kulkas jangan sampai kosong. Gimana kalau malem-malem Seno laper dan minta dimasakin? Ibu udah bilang berkali-kali sama kamu, sekarang kamu udah nikah, jangan disamain waktu masih single!"


"Iya, Bu ... iya." Nisa suka kesal sendiri kalau ibunya sudah ngebawelin ini itu. Seno cuma bisa menahan tawa kalau sudah begini.


Sesampainya di kamar Nisa melirik Seno sebal. "Kamu sih, pake kebalik segala itu baju! Ketahuan deh kita abis anu," cetusnya.


"Hah? Anu? Anu apaan, tuh?" Seno terkekeh. Dia sengaja menggoda Nisa. Dia tahu Nisa bete gara-gara diceramahin ibunya. Nisa memonyongkan bibirnya kesal.


"Aku enggak sadar, Sayang, kan tadi kita cepet-cepet, kaget juga." Seno melingkarkan tangannya ke pinggang Nisa, menarik tubuh istrinya itu sampai menempel dengan tubuhnya. "Ayah kamu tuh ternyata sebelas dua belas sama Papaku, ya. Aku suka, sih, tapi malu juga kalau gini."


Nisa melemparkan pandangannya ke arah lain. Dia beneran bete. Seno menarik dagu Nisa dengan lembut agar dia memandangnya.


"Hei ...," lirih Seno.


"Ada apa? Kamu bete sama aku gara-gara aku pake kaus kebalik, atau bete gara-gara ibu?"


Nisa bergeming. Seno semakin mengeratkan tangannya. "Nisa, dengar aku! Aku enggak masalah kamu enggak bisa masak, enggak mau masak, atau enggak belanja kebutuhan dapur. Itu jangan sampai dibikin beban buat kamu. Aku ini orang yang paling kenal kamu dari semua orang di dunia. Aku tau banget kamu dibanding ibu kamu sekalipun!"


Perlahan pandangan Nisa bergeser pada Seno, dan memandangnya dengan takzim. Sejujurnya dia takut Seno menginginkan istri sempurna seperti yang dimaksud ibunya. Nisa takut enggak bisa memenuhi standar tersebut.


"Aku nikah sama kamu karena ingin pendamping, bukan ingin nyari tukang masak. Kamu bisa bikinin aku mie instan kayak tadi juga aku udah bersyukur banget. Aku nikahin kamu karena aku yakin, aku akan bahagia sama kamu, dan aku enggak bisa hidup dengan baik kalau enggak sama kamu. Kamu enggak tau gimana hancurnya hati aku saat kamu ngabarin mau lamaran sama Viko. Aku ngerasa saat itu duniaku udah hancur, enggak ada harapan."


Mendengar semua itu, pandangan Nisa tiba-tiba mengabur terhalang air mata yang siap tumpah. Serta-merta dia memeluk Seno, dan menumpahkan air matanya ke kaus yang kebalik itu.


"Nis, kamu nangis, ya? Kok basah?" Seno meraih pipi Nisa di dadanya, lantas mengusap air mata yang sudah menganak sungai di pipi Nisa.

__ADS_1


"Sori, Sen."


"Nis, kejadian yang aku alamin kemarin udah bikin aku sadar sepenuhnya, bahwa semua yang aku milikin ini enggak ada apa-apanya dibanding kamu! Aku ngebela-belain nurutin klien gila itu demi sebuah proyek agar terus dipegang sama aku, tapi apa nyatanya? Di saat aku tersiksa kayak gitu, enggak ada hal lain di otakku selain kamu! Aku nangis mikirin kamu, aku takut enggak bisa liat kamu lagi. Aku takut banget!" Seno hampir tersedak oleh tangisnya yang tiba-tiba ingin meledak.


Nisa menangkup kedua pipi Seno, mengusap matanya yang kini berair. Tak ada kata yang sanggup Nisa ucapkan mendengar ucapan itu, yang bisa dia lakukan hanya berjinjit, melingkarkan tangannya ke leher Seno, memeluknya, dan menciumi pipi itu dengan takzim.


Beberapa saat mereka larut dalam isak tangis. Nisa melepas pelukannya, dan perlahan Seno mencium lembut bibir istrinya dengan segenap perasaan yang ada. Nisa sangat suka jika sudah dicium seperti itu. Semua energi cinta yang dipancarkan dari hati Seno seolah menembus jantungnya.


***


Air mengucur dari shower membasahi dua tubuh yang tanpa sehelai benang pun. Mereka melakukan sentuhan demi sentuhan penuh kelembutan. Nisa merasa sedih setiap kali melihat beberapa bekas luka, bahkan luka yang masih agak basah di tubuh Seno.


"Apa ini sakit?" tanya Nisa sambil menyentuh pinggiran luka di perut Seno.


"Perih sedikit."


"Apa lagi yang sakit?"


"Enggak ada," lirih Seno.


"Kepala kamu masih pusing?" Seno menggeleng.


"Sen, kamu inget waktu kita di Singapore? Aku dulu masih sering pusing karena kecelakaan gara-gara tragedi Viko sama Gita ciuman. Kamu selalu ada setiap aku sakit, bahkan saat aku pingsan kamu mengendongku ke rumah sakit. Aku tersentuh banget waktu itu, Sen. Izinkan sekarang aku membalas semuanya, aku akan mengurus kamu sebisaku, aku akan mengabdi sepenuh hatiku sama kamu," tutur Nisa lalu menyandarkan kepalanya ke dada Seno yang basah.


Seno mengangguk. "Iya, Nis," katanya, lalu mencium pucuk kepala Nisa yang sudah bau wangi shampo.


"Nis, tau enggak?"


"Apa?"


"Kalau kamu nyender kayak gini ke dada aku, itu kamu bikin aku pengen ...."


Seno menatap kedua gundukan Nisa yang menempel di dadanya. Nisa yang menyadari hal itu langsung menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Dasar mesum!" serunya sebal.


"Hah, mesum? Gak apa-apa dong mesum sama istri sendiri. Hehe."


"Hehe, aku bercanda, Nis. Lagian aku udah capek."


"Yakin?"


"Loh, kamu nantangin, nih?"


Nisa menjulurkan lidahnya. Seno memencet hidung Nisa kalau sudah dibuat gemas seperti itu. "Nyebelin ya kamu, bikin aku tergoda mulu. Ayo buka tangan kamu!" Seno menarik tangan Nisa dari dadanya.


"Mau apa!"


"Mau liat aja."


"Aku enggak percaya!"


"Ya udah kalau enggak percaya."


"Kamu kan udah sering liat."


"Sekarang pengen liat." Dengan sedikit takut, Nisa menurunkan tangannya perlahan, nanti jika Seno meluncurkan serangan tiba-tiba, Nisa bisa langsung menutupnya kembali.


Sedetik setelah tangan Nisa turun sedikit, Seno langsung menyerangnya tanpa ampun, dan tangan Nisa tak sempat untuk melindunginya lagi. Permainan pun berlanjut di bawah guyuran air shower hingga ke puncak Everest. Seno menyentuh seluruh lekuk tubuh Nisa tanpa tersisa. Nisa selalu tak berdaya jika sudah seperti ini.


"Dasar kamu tukang boong. Nyebelin!" rutuk Nisa.


"Siapa suruh kamu menggodaku."


"Aku enggak ngegoda kamu, kok!"


"Tubuh kamu yang menggodaku." Seno menyeringai.


"Kita shampoan lagi nih berarti?"

__ADS_1


"Iya kayaknya."


"Huft!" Nisa kesal, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.


***


Suasana makan malam kali ini sedikit ramai karena semua keluarga Nisa berkumpul. Angga yang menempati apartemen Seno sekarang sudah berhasil meluncurkan single baru. Mereka harus mengakui bakat 'si bungsu' itu ada di seni, khusunya tarik suara dan memainkan alat musik. Rian pun hadir malam itu, pria dua puluh tujuh tahun itu biasanya selalu sibuk dan paling jarang ikut berkumpul seperti ini. Dan malam itu Rian lah yang habis menjadi bulan-bulanan semuanya karena sebentar lagi akan menikah.


"Rumah ibu pindahin aja gitu ke Jakarta. Anak ibu semuanya di sini, sedangkan ibu dan ayah di Sukabumi sendiri."


"Yah, jangan dong, entar kalau lebaran enggak bisa mudik. Mudik tuh seru, tau."


"Seru? Yang ada macet!" Nisa menoyor kepala adik bungsunya itu.


"Aku juga pengen deh, lebaran bisa mudik, Sayang," cetus Seno pada Nisa.


"Abang kan udah bisa mudik taun sekarang," ucap Rian.


"Oh, iya ya, hehe. Seru, nih."


"Kalian yang akur-akur, ya, kalau ayah sama ibu udah enggak ada," ucap Rita sedih.


"Ibu ngomong apaan, sih! Ayah sama ibu akan sehat dan panjang umur, sampe cucu-cucu udah dewasa, menikah, dan punya anak nanti."


"Tauk, ih. Ibu kalau ngomong suka sembarangan aja. Aku masih kecil, masih jauh buat nikah, jangan meninggal dulu."


"Apa? Masih kecil? Kamu itu udah dewasa, temen kamu si Erwan malah udah punya anak," ujar Dodi.


"Bu, aku masih kecil kan, Bu?" Angga memeluk Rita dengan manja.


"Iya ... iya ... kamu masih kecil." Rita mengelus-elus kepala pemuda tampan itu.


"Halah, sekarang aja ngomongnya masih kecil, entar kalau ada cewek yang ditaksir ngebet minta kawin," cetus Rian sambil nyomot pisang nuget, lalu menyuapkannya sekaligus. Nisa dan Seno terkikik-kikik.


"Apaan, enggak! Gue mau fokus karir dulu. Biar bisa beli rumah sama mobil. Emang lu pada aja yang boleh sukses, gue juga mau sukses kali."


"Iya, aamiin, gue doain."


"Ga, gimana single barunya?" tanya Seno.


"Lumayan naik, Bang. Itu juga karena terbantu sama tampang ganteng gue, hehe. Rencananya gue mau bikin konten-konten youtube, nih. Subscriber-nya udah lumayan."


"Keren."


"Oh iya, minggu depan gue udah mulai promo-promo, nih, ke radio-radio sama acara live musik di TV. Bakal sibuk banget entar."


"Enggak nyangka gue bakal punya adik artis," kata Rian lalu terkekeh.


"Sama." Nisa menimpali.


"Harus aku pantau, nih," kata Seno.


Dodi dan Rita dari tadi menyimak obrolan anak-anaknya sambil makan makanan penutup. Namun, setelah itu Dodi bersuara, "Nanti kalau udah di atas jangan sombong, jangan lupa sama keluarga."


"Ya, enggak dong, Yah!"


"Bagus."


"Ibu sama Ayah pulang ke Sukabumi kapan? Biar nanti diantar supir aku, jangan naik kereta," ucap Seno.


"Besok sore kayaknya, ibu sama ayah sebenarnya ingin lebih lama di sini nemenin kamu, Sen, Nisa sibuk terus. Tapi tau sendiri pabrik di sana enggak bisa ditinggal lama-lama."


"Enggak apa-apa, Bu. Aku udah seneng banget kalian udah mau dateng ke sini jenguk aku, padahal aku sakit enggak parah-parah amat, kok."


"Ibu kaget banget pas Rian telepon katanya kamu diculik." Nisa menyentuh lengan ibunya supaya enggak membahas masalah itu. Rita mengerjap, dia langsung mengerti dengan kode itu.


"Alhamdulillah kamu selamat, Sen. Pas dengar kabar itu, ibu enggak henti-henti berdoa buat kamu." Padahal Rita penasaran ingin tanya-tanya soal penculik dan motifnya, tapi Nisa sudah duluan memberi kode.


Seno menunduk sambil tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2