
Lantai dasar Senopati Production pagi itu terlihat lengang walau jarum jam sudah menuju angka delapan. Bukan tanpa alasan, karena pagi itu Seno sedang mengumpulkan seluruh karyawannya untuk melakukan meeting kuartal. Mereka mengevaluasi semuanya, dan merencanakan target yang akan diraih untuk kuartal berikutnya.
Di setiap kuartal, Seno selalu memberi reward untuk karyawan yang berprestasi dari divisi masing-masing. Dari divisi administrasi dan keuangan, Seno memberikannya pada Zaki, suaminya Gita temannya Nisa dari Bandung. Dari HRD, Seno memberikannya pada Cintya, gadis yang hampir dipacarinya dulu, sedangkan dari divisi kreatif, Seno memberikannya pada Natasha, copy writer baru dari Cirebon, walaupun baru, tapi kinerja Sasha--sebutan akrabnya--sudah bagus dan menguasai serta mampu bekerja sama dengan timnya.
Kali ini Seno memberi reward sebuah ponsel seharga lima jutaan. Semua orang di ruangan tampak iri pada ketiga orang pemenang reward tersebut. "Semoga kuartal berikutnya gue yang dapet," cetus Nindi.
"Elu kan udah yang dapet reward kuartal kemarin," sela Raihan tak terima. "Giliran yang lain, dong!" Nindi nyengir kuda menunjukkan deretan gigi putihnya pada Raihan.
"Bos, reward kuartal berikutnya tiket liburan, dong," usul Sisy.
"Bisa diatur. Tapi tiketnya doang ya, akomodasi yang lain tetap kalian yang tanggung sendiri," cetus Seno, lalu terkekeh.
"Yah, nanggung banget, Bos."
"Rugi bandar dong gue." Seno garuk-garuk kepala. "Ya udah meeting selesai ya, sekarang kalian boleh kembali ke meja masing-masing, kecuali tim kreatif," sahut Seno.
Satu-satu mereka berdiri dan meninggalkan ruangan, sekarang tinggal beberapa orang yang tergabung dalam tim kreatif. Ada dua tim kreatif di Senopati Production yang mereka sebut dengan Tim Sisy dan Tim Ezar. Kedua tim tersebut dipimpin oleh Stefan Renaldi atau yang akrab disapa Aldi, sahabat sekaligus orang yang paling Seno percaya di sana. Aldi sendiri sebagai Head Creatif Director.
"Jadi gimana, nih, soal proyek Starme dan Bank Mandiri itu? Udah dapet konsep, kah?" tanya Seno sambil menyatukan kedua tangannya, menumpunya dengan siku ke atas meja.
Hening. Tak satu orang pun menimpali ucapan Seno.
"Jadi gini, Bos ...." Aldi mulai bicara. "Sebenarnya dari kemarin kita tuh udah nyari-nyari ide dan konsepan buat dua proyek ini, tapi kan belum maksimal banget. Tim Ezar masih sibuk ngurusin Girl Spirit yang belum deal, terus timnya Sisy pun masih ngurusin proyek minyak angin itu. Mereka beneran rewel banget, Bos. Beda deh sama Vreeset, mah."
Seno malah terkekeh mendengar ucapan Aldi. "Vreeset gak rewel karena bini gue yang urusin."
"Nah itu dia. Kita bersyukur banget Mbak Nisa gak rewel kayak perusahaan minyak angin itu. Stress banget gue," ujar Aldi seraya mengusap-usap keningnya.
"Kira-kira Girl Spirit dua hari lagi kelar, gak? Bukan apa-apa soalnya bisa dibilang ini mega proyek kita, guys. Kita beneran harus ngejar banget. Gue udah ngajuin cast yang cocok ke pihak bank tersebut, dan untungnya mereka setuju, karena kebetulan artis itu nasabah mereka," tutur Seno.
"Oh, ya? Siapa dia, Bos?" tanya Aldi.
"Reindra," jawab Seno lugas.
"Aaaaaaa ... Reindraaaaaa? Gue Reilover tau gak, sih! Bos, pliiiiisss kasih proyek itu ke tim gue, pliiiiiisss banget pokoknya!" Sisy histeris sendiri sambil menangkupkan kedua tangannya di depan muka memohon. Melihat rivalnya yang begitu bersemangat, Ezar mendecih.
"Ambil, Sy, ambiiiiil dah, lebay!" cetus Ezar kesal.
"Apaan sih, lo! Gue gak mau ribut sama lo ya sekarang. Gak mood." Sisy manyun.
"Ya udah berarti tim Ezar yang hendel Starme, ya," ucap Seno.
"Ya udah deh, Bos, enggak apa-apa, susah kalau debat sama bucin. Berabe entar," kata Ezar.
"Apa lo bilang?" Sisy melotot.
"Hadeuh ... kalian kapan akurnya, sih? Musuhan mulu! Kalau musuhan jangan lama-lama entar cinta," goda Seno
"Huuueeekkk. Amit-amit jabang bayik." Sisy bergidik sambil menggetok-getok meja. Semua orang di ruangan itu terkikik-kikik kecuali Ezar.
"Hei, kalo dipikir-pikir kalian tuh emang cocok kok," ucap Hilman tambah ngomporin.
"Mas Hilman! Mau gue pecat dari tim gue, heh!" Sisy makin sewot, sedangkan wajah Ezar yang seputih susu berubah merah seperti tomat.
"Canda kali, Sy. Sensi amat kek pantat bayi."
"Emang iya, sih. Mbak Sisy sama Ezar tuh cocok." Kali ini Nindy yang nyeletuk.
"Kalian tuh kenapa, sih! Gue cabut aja deh, kalau gitu." Sisy bangkit dari duduknya.
"Eeeeh, jangan Sy. Maafin kita-kita kalau gitu, ya." Seno menahan Sisy.
Sisy pun duduk lagi, tapi bibirnya masih manyun. Dengan bawahannya Seno sudah seperti teman, dia tidak membedakan diri dengan mereka. Makanya karyawannya betah bekerja bersamanya.
__ADS_1
"Kembali ke soal tadi ya, gimana udah ada gambaran dikit, gak?" Seno keukeuh ingin membahasnya sekarang.
Semua tim saling pandang dengan diam. Namun tak lama, Sasha salah satu tim Ezar mulai bicara. "Bos, Starme itu produk smarthphone yang ingin mengusung kwalitas kamera depannya, kan?"
"Betul, Sha. Gimana-gimana, kamu ada ide kah?"
Pandangan semua orang di sana tertuju pada copy writer yang baru dapat reward tersebut.
"Kita ambil view di daerah berdebu kayak proyek atau tambang gitu, deh. Terus model yang seorang pekerja melakukan video call dengan anaknya, dan karena kualitas kamera yang oke punya sampe debu-debu yang bertebaran tertangkap jelas sama kamera tersebut. Gimana?"
Hening beberapa saat. Semua orang tampak berpikir. "Menurut gue, video call kurang tepat, sih, Iqbaal Ramadan masih muda banget kali kalo harus jadi ayah dengan satu anak," cetus Hilman.
"Ya ... bisa juga dengan ceweknya, atau ibunya enggak harus dengan anaknya, tapi konsep pertambangan itu oke juga, sih." Aldi menimpali.
"Tapi masalahnya Iqbaal Ramadan mau kagak tuh, kotor-kotoran di tambang?" Ezar bersuara.
"Ya harus, dong! Kalau gak mau, gak profesional itu namanya." Aldi kembali menimpali.
Seno mengusap-usap dagunya mempertimbangkan. "Menurut gue masih kurang nendang, tapi view debu itu udah pas. Kalian bisa tambahin apa entar biar lebih nendang," tutur Seno.
"Oke, Bos." Ezar mengangkat jempolnya.
"Nanti kalian presentasikan visualnya lagi ke gue."
"Siap, Bos."
"Cieeee Sasha, mentang-mentang udah dapet reward, idenya jadi mancur kek air mancur, hihihi," goda Aldi. Sasha menunduk, tersipu.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Nindi pura-pura terbatuk-batuk. Semua orang di ruangan mengerti, dan sudah jadi rahasia umum jika Aldi naksir copy writer baru itu.
"Lama-lama kantor gue jadi tempat biro jodoh kayaknya. Ezar-Sisy, Aldi-Sasha," cetus Seno sambil senyum-senyum.
"Bos!" Sisy mendelik tidak terima. Seno tertawa. Dan semua orang ikut tertawa kecuali empat orang itu.
***
"Sen, kamu bawa baju empat biji cukup?"
"Cukuplah, kalo enggak cukup nanti aku beli kaus barong."
"Hah?"
"Hehehe."
"Apaan sih, kok kaus barong? Barongsai?" Seno tertawa, menghampiri Nisa lalu mengacak rambutnya. "Packingnya udah belum, tidur, yuk." Seno jongkok di depan istrinya.
"Bentar, dikit lagi ini. Kamu tidur duluan aja, kalau ngantuk."
"Ya udah aku tidur duluan aja, ya. Besok ada pertemuan penting sama klien."
"Oh, ya? Awas besok jangan terlambat loh, pesawat kita take off jam enam."
"Enggak dong sayang, pertemuannya kan pagi, tapi ada yang sore juga sih, biar si Aldi yang hendel." Seno bangkit lalu beranjak ke tempat tidur, berbaring di bawah selimut.
Tak lama dia menopang kepalaya dengan sebelah tangan. "Nis, sini ...." Seno menepuk bantal di sampinnya.
Nisa menoleh. "Sebentar sayang ... dikit lagi, ya. Aku takut ada yang lupa. Mmm apa lagi, ya." Nisa berdiri sambil meletakkan telunjuknya di dagu. Lalu melangkah ke depan lemari.
"Oh, iya, ini dia." Nisa meraih lingerie pink yang baru dibelinya. Mata Seno langsung melotot melihat itu.
"Wah, kapan kamu beli itu?"
"Ada, deh. Kamu kan lupa gantiin, jadi aku beli sendiri aja."
__ADS_1
"Maaf ya, hehe. Kamu mau bawa itu ke Bali?"
Nisa mengangguk. "Gimana kalau sekarang kamu cobain dulu di sini."
"Hah? Sekarang?"
"Iya, aku pengen lihat."
"Kalau lihat, nanti kamu kepengen," cetus Nisa, memonyongan bibirnya. Seno tertawa. "Enggak, aku pengen liat aja."
Nisa menggigit bibir ragu. Namun, setelah itu dia pun mengangguk. "Ya udah deh."
Nisa melucuti satu-satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah itu berganti dengan lingerie transparan baru tersebut. Kegiatan itu tak luput satu detik pun dari pandangan Seno.
Tak dapat dipungkiri, melihat semua itu hasrat kelelakian Seno langsung bergejolak. "Sini, Nis." Seno kembali menepuk bantal di sampingnya.
"Ogah! Ngapain? Katanya liat doang."
Seno terkekeh. "Aku ralat deh."
"Tuh, kan, aku gak percaya sekarang kalau kamu bilang mau liat-liat aja, pasti habis itu minta lebih. Kayak waktu itu di bawah shower," rutuk Nisa. Seno terkikik lagi, lantas beranjak dari tempat tidur menghampiri Nisa.
Jantung Nisa berdetak kencang karena tahu suaminya itu akan melakukan serangan. Walaupun kegiatan itu sudah dia lakukan berkali-kali, tapi dia masih saja merasa gugup.
"Sen, kamu mau apa?" tanya Nisa.
Senyum Seno memudar, tatapannya pun berubah, Nisa tahu betul tatapan itu adalah tatapan yang mendamba sesuatu. Dan ... Nisa selalu dibuat tak berdaya dengan sorot maut itu.
Tangan Seno terangkat lalu mengelus pipi Nisa. "Istriku cantik banget ya Allah," lirihnya. "Aku tergila-gila sama kamu." Nisa menelan ludah. Gugup bukan main.
"Sayang, aku--masih harus packing."
Seno tidak peduli dengan ucapan itu. Dia malah mendekatkan wajahnya lalu mengecup kening Nisa dengan takzim. "Aku mau kita melakukan sunah malam jumat," ucap Seno nyaris berbisik, tapi Nisa bisa mendengarnya dengan jelas. Nisa terenyak. Seno menginginkan dirinya malam ini, dan dia tidak mau membuatnya kecewa.
"Mau di sofa atau di kasur?" tanya Nisa akhirnya. Seno tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Di sofa dulu nanti di kasur." Nisa mengangguk.
Suara detak jam dinding seolah menjadi lagu termerdu yang mengalun menemani dua manusia yang tengah bermandi peluh menikmati malam jumat yang syahdu. Seperti biasanya Nisa selalu kewalahan menerima semua cinta yang Seno luncurkan padanya. Benar-benar tak berdaya karena Seno terlalu ahli melakukannya. Dan dengan sabarnya, Seno selalu menuntunnya agar Nisa pun bisa melakukannya dengan baik. Hubungan suami-istri yang penuh dengan keterbukaan itu akan memuaskan satu sama lain.
Seno mengeratkan pelukan pada istrinya di bawah selimut setelah setengah jam penuh pergi ke dimensi liar yang didasari cinta tersebut.
"Sen, tau, gak?" Seno melonggarkan pelukannya.
"Apa?"
"Aku suka kayak tadi," cetus Nisa malu-malu.
"Yang mana?"
"Yang itu tuh, aduh aku malu ngomongnya, hehe."
"Ih, pake malu segala sama suami."
"Yang tadi di sofa," jawab Nisa. Wajahya seketika memerah seperti pakai blushon.
"Hehehe, kan aku udah bilang, kamu pasti menyukainya. Tapi enggak sakit, kan?"
Nisa menggeleng. "Nanti kita coba lagi di Bali," ucap Seno.
"Hah? Oke, siapa takut."
Seno terkekeh lalu beranjak dari tempat tidur. "Aku mau ngambil jus, kamu mau?" tanyanya.
"Mau."
__ADS_1
"Bentar, ya." Seno mengenakan pakaian dalamnya sebelum berderap ke dapur. Sementara Nisa melanjutkan packing yang terhenti gara-gara kegiatan tadi.
***