Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 46


__ADS_3

"Sen, kenapa lo pake boongin gue? Kenapa lo bilangnya repat padahal dinner sama cewek itu?" sungut Nisa kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Seno yang sedang berusaha mengumpulkan tenaganya kembali, hanya tersenyum melihat tingkah Nisa seperti itu. Dia sudah menduganya, wanita di hadapannya itu akan marah-marah dan membahas hal itu secepatnya.


"Jawab, dong! Kok malah senyum-senyum, sih! Nyebelin." Nisa makin sewot. Seno meraih lengan Nisa dan mengusap-usapnya pelan. "Nis, kepalaku masih pusing tauk, kamu jangan marah-marah gak jelas gini, dong. Aku kan jadi sedih."


"Apa? Sedih?" Nisa menarik lengannya dari tangan Seno. Sedih dia bilang? Kamu sedih cuma gara-gara aku ngomel-ngomel kayak gini? Kamu gak tau aja semalam aku sedihnya udah kayak apa tau. Aku mau mati rasanya, apalagi pas aku mendapat foto-foto itu dari Mas Andi. Aku sedih karena sudah menuduh kamu macam-macam, padahal saat itu kamu lagi disiksa, kamu hampir mati di tangan cewek psikopat itu. Ya Tuhan, Senooooo aku enggak mau sedih kayak gitu lagi, demi Tuhan gak mau.


Perlahan mata Nisa menghangat, kelenjar air mata rupanya siap tumpah dari netra bulatnya. Dia menangis bukan karena kesal, tapi karena terlalu sayang dan takut kehilangan. Apalagi jika dia menatap kedua mata Seno yang memandangnya dengan cara seperti itu, membuatnya semakin sedih dan ingin menangis karena dia bisa merasakan gelombang cinta sangat dahsyat yang dipancarkan mata itu.


Bulir bening itu pun berhasil lolos dari mata Nisa. Melihat ada air yang mengaliri pipi istrinya, Seno menarik tangan Nisa lalu mendekapnya dengan erat ke dalam dadanya. "Maafin aku, aku memang salah, Nis. Aku udah bohongin kamu karena aku tau kamu itu istri paling cemburuan sedunia. Karena aku bohong, makanya aku celaka kayak gini. Aku janji hal ini enggak akan terjadi lagi."


"Janji, ya," kata Nisa sambil terisak-isak.


"Iya, aku janji."


"Aku takut banget semalam. Gak tau lagi deh aku khawatirnya udah kayak apa, hampir gila rasanya. Kamu nyebelin banget! Nyebelin!" Nisa memukul-mukul pelan punggung Seno. Orang yang dipukulnya meringis kesakitan karena memang sekujur tubuhnya masih sakit.


"Sori, Sen, sakit ya?" Nisa melepas pelukan, khawatir.


"Sakit ...," sahut Seno dengan ekspresi seperti kesakitan banget, sengaja biar punggungnya dielus-elus Nisa. Dan ternyata itu berhasil.


"Ya ampun, sebelah mana sini." Nisa meneliti punggung Seno sambil mengusap-usapnya pelan. Seno tersenyum senang.


"Sini, deh." Seno menarik tangan Nisa dan merubah posisi duduk menghadapnya, kakinya yang penuh luka lebam dibiarkannya menggantung di bibir ranjang.


Seno mengusap mata istrinya yang berair, mengelus lembut pipi dan bibirnya. "Rasa sakit ini enggak ada apa-apanya bagi aku, Nis. Aku akan sangat sakit kalau kamu enggak percaya sama aku, kamu menganggapku selingkuh, enggak setia! Mama udah ceritain semuanya ke aku tadi, makasih kamu udah percaya. Sebelas tahun, Nis! Sebelas tahun aku mencintai kamu dalam diam, dan sekarang aku berhasil mendapatkanmu seutuhnya, akan sangat bodoh kalau sekarang aku berpaling. Dan ... dalam hati dan pikiranku gak ada sedikit pun terlintas selingkuh dari kamu. Demi Tuhan gak ada! Aku sudah merasa sempurna punya kamu."


Nisa meraih tangan Seno dan menciumnya dengan takzim. "Maafin aku karena udah mengira kamu selingkuh. Foto-foto itu beneran bikin aku sakit hati!" Tangis Nisa kembali meledak. Seno menangkup kedua pipi Nisa dan mengusap air mata itu dengan lembut.


Nisa melihat Seno kembali menatapnya dengan tatapan yang berhasil melemaskan seluruh otot-ototnya. Nisa menghidar dari tatapan maut itu. Jujur, dia selalu tidak kuat jika ditatap Seno seperti itu.


"Maafin aku." Lirih Seno berucap. Nisa kembali menatap kedua manik mata itu. Suara detak jarum jam dinding seolah menjadi simfoni indah yang mengalun di ruangan senyap itu, dan mengantarkan keduanya pada sebuah dimensi lain yang hanya mampu dimasuki oleh mereka. Seno masih menatap Nisa dengan tatapan mautnya, sementara Nisa telah berhasil ditelan bulat-bulat olehnya.


Perlahan Nisa memejamkan mata karena tahu Seno akan menciumnya saat itu juga. Melihat Nisa sudah bersiap dengan aksi yang akan dilakukannya, Seno pun lebih mendekatkan wajahnya, kemudian meraih bibir Nisa dengan bibirnya sambil memejamkan mata pula.


Dua menit penuh mereka berciuman, hingga akhirnya dimensi itu buyar oleh suara geseran pintu. Nisa dan Seno langsung melepas ciumannya dan memandang seseorang yang mematung di ambang pintu tengah menyaksikan keduanya dengan perasaan geli bercampur jengah.


"Sepertinya papa datang di waktu yang tidak tepat. Lanjutkan-lanjutkan, papa pergi lagi, ya." Aryan berbalik.


"Eeee, Pa, enggak, jangan pergi!" seru Seno. Aryan masuk ke ruangan sambil senyum-senyum.


"Udah?" tanya Aryan sambil mengerucutkan kedua tangannya dan menempelkannya satu sama lain.


Nisa dan Seno menunduk dengan pipi memerah. Apalagi Nisa, dia beneran malu banget ke-gep ciuman sama mertuanya sendiri, untung mamanya Seno enggak ikut serta.


"Papa ke sini cuma mau menyampaikan. Salah satu bodyguard itu sudah jujur, bahwa dibalik penculikan kamu adalah Martha Duph, CEO perusahaan North Oil."


"Ya, emang die," seru Seno sebal.

__ADS_1


"Tapi masalahnya, sekarang dia kabur keluar negeri, polisi kesulitan melacaknya karena rupanya dia pake identitas lain. Rupanya dia sudah lihai melakukan kejahatan. Polisi curiga, dia punya hubungan erat dengan sindikat tertentu di luar negeri."


"Gila! Gak nyangka banget gue punya klien kayak gitu. Pantesan aja dia diceraikan suaminya, ternyata emang dia cewek gak bener."


"Papa sih takutnya dia masih penasaran sama kamu, Sen. Salah saru bodyguard itu bilang, dia sangat tergila-gila sama kamu."


Mendengar itu Nisa langsung ketakutan dan telapak tangannya berkeringat dingin. Martha Duph bukan orang sembarangan, dia sangat berbahaya ternyata.


"Tenang aja, Pa. Lain kali aku akan lebih bisa jaga diri, kok."


"Sen, gimana kalau kamu merekrut bodyguard buat selalu jagain kamu," usul papa Seno.


"Enggak, ah, risih aku."


"Iya bener, Sen. Aku setuju sama Papa," kata Nisa.


"Kalau kamu mau, nanti papa hubungin Pak Jhony. Anak buahnya udah sangat berpengalaman."


"Mmmm ya udah liat entar, deh."


"Oke." Aryan ngangguk-ngangguk.


Setelah itu hening. Suasana kembali jengah mengingat insiden kepergok tadi. "Papa udah makan?" tanya Nisa mencairkan suasana.


"Belum, papa belum makan, nih. Papa belum sempet pulang ke rumah, dari kantor polisi langsung ke sini."


"Ya udah, aku beliin makan ya, Pa, tunggu sebentar." Nisa mengambil dompet lalu keluar ruangan.


Seno langsung menatap papanya tidak percaya sekaligus malu. "Papa apaan, sih? Enggak! Seno punya gaya sendiri."


Aryan menjauhkan wajahnya tak terima. "Kenapa enggak, itu terbukti nanti kamu punya anak cowok! Praktekin ya, papa pengen gendong cucu laki-laki. Kalau perempuan kan udah ada Jasmin."


Seno mendecakkan lidah, tapi tak lama dia tersenyum geli. "Iye-iye dah, entar aku praktekin kalau udah sembuh ye ...."


"Nah, gitu dong. Bagus!" Aryan menepuk-nepuk pelan bahu anak bungsunya itu.


***


Ponsel Nisa bergetar di atas rak kabinet, dia lupa membawa serta ponselnya. Seno mengambil ponsel Nisa dengan sedikit kesusahan karena menahan nyeri pada tulang rusuknya. Matanya seketika terbelalak melihat nama siapa yang tertera di layar. Dia menyunggingkan senyum kesal. "Kebetulan banget lo telepon," gumam Seno, lantas mengangkat telepon.


"Halo," seru Seno tegas. Orang di seberang telepon terkesiap, yang mengangkat ternyata bukan Nisa.


"Maaf, Nisa ada?"


"Gak ada, cuma ada gue, suaminya! Ngapain telepon?" tanya Seno sinis.


"Enggak, gak ada apa-apa, ya udah kalau gitu."

__ADS_1


"Tunggu! Elo yang ngirimin Nisa foto-foto waktu gue makan sama klien gue, kan? Maksudnya apa lo fotoin gue lalu dikirim ke Nisa? Mau bikin gue sama Nisa ribut?"


Andi gelagapan, dia tak menyangka sama sekali Seno bisa langsung tahu. "Bukan itu maksudku."


"Lalu apa? Lo gak suka sama gue, atau lo suka sama istri gue?"


"Apa!" Andi beneran kaget.


"Kayaknya yang bener opsi nomor dua. Lo suka sama Nisa, kan? Kapan kita ketemu? Gue mau ngelurusin urusan ini sama lo!"


"Dasar gila!" Andi langsung menutup telepon dengan kesal. Ucapan Seno memang benar, dia ada hati sama Nisa, tapi selain itu, ada sesuatu yang mendasar dan membuat dirinya tak terima Nisa bersama laki-laki lain. Sesuatu yang mendasar itu tak lain adalah Viko. Sahabatnya. Andi tak rela Nisa menikah dengan Seno, dia tidak ikhlas jika Nisa sampai melupakan Viko. Andi tahu betul gimana penderitaan sahabatnya itu karena mencintai Nisa. Dari itu dia bersikap seperti itu. Andi ingin Nisa bersamanya, dia ingin Nisa menjadi miliknya.


Andi ingin menjaga Nisa untuk Viko.


Setelah telepon itu berakhir, Nisa datang membawa sekotak makan siang untuk ayah mertuanya. "Papa tidur?" kata Nisa sambil melihat laki-laki berumur enam puluh tahunan itu berbaring di sofa.


"Iya, kesian dia kelelahan kayaknya."


"Iya, dari semalam mungkin dia belum tidur." Nisa menyimpan makan siang itu ke meja.


"Maafin aku, ya, aku jadi bikin repot kalian semua."


"Awas aja kalo kamu giniin kami lagi!"


"Iya, enggak. Tenang, ya. Nis, kita terusin yang tadi?" kata Seno sambil senyum-senyum genit. Nisa mengernyit tidak mengerti, tapi tak lama dia mengerti, lalu memukul lengan Seno pelan.


"Ogah!"


"Papa tidur,"


"Ogah, iiiiih!" Nisa melotot, tapi bibirnya menyunggingkan senyum.


Seno menarik pinggang ramping Nisa sampai menempel ke bibir ranjang, lalu di tahan oleh kedua pahanya agar Nisa tak bisa meloloskan diri.


"Cium aku, Nis!"


Nisa menoleh ke belakang melihat ayah mertuanya. "Nanti Papa bangun." Nisa berkata dengan suara tertahan.


"Enggak, dia kalau tidur pules banget." Nisa menggigit bibirnya ragu. "Jangan gigit-gigit bibir kayak gitu, aku tergoda," sahut Seno, terkekeh pelan.


"Ih!" Nisa melotot lagi, tapi setelah itu perlahan dia mencium bibir suaminya. Nisa tidak mau membuat Seno kecewa.


Namun, ketika ciuman itu berlangsung, tiba-tiba Seno terbayang bagaimana saat Martha Duph menciumnya dengan paksa. Serta-merta Seno melepas ciumannya dan mendorong Nisa menjauh darinya.


Nisa kaget bukan kepalang Seno bersikap seperti itu. Beberapa detik suasana hening dan mereka saling tatap dengan tatapan berbeda satu sama lain. Nisa memandang tak mengerti, sedangkan Seno memandang Nisa sedikit ketakutan.


Setelah sadar yang menciumnya bukan Martha, Seno berdiri dan menarik Nisa ke pelukannya, lalu mencium kepala Nisa berkali-kali. "Maafin aku, Nis--maafin--aku," ucap Seno dengan suara tercekat-cekat.

__ADS_1


Nisa mengusap-usap punggung Seno dan mengangguk, walau dia masih belum mengerti apa yang tengah terjadi pada diri suaminya.


***


__ADS_2