Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 22


__ADS_3

Enam bulan setelah kepergian Viko ....


Seno beringsut dari tempat tidur karena ada yang memencet bel apartemennya. Ia tahu siapa yang datang pagi-pagi seperti ini saat weekend. Siapa lagi kalau bukan sepupunya itu.


"Elo enggak diantar Edward?" tanya Seno ketika melihat Niken hanya sendirian.


"Enggak ... tunangan gue mau bertemu klien, tau tuh weekend gini dia masih aja kerja. Jadi, daripada gue bete gak ada temen, ya mending ke sini aja."


"Elo gak ada temen di sini selain gue sama Edward gitu?"


"Ada ... tapi entahlah, mereka gak asik. Ngajakin gue maksiat mulu. Gak suka gue." Niken berucap sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Niken memang cewek baik-baik. Keluarga Om Dimas terkenal dengan agamanya yang kuat. Beda dengan keluarga Seno.


Seno melihat Niken sedang memandang cincin yang baru disematkan Edward di jari manisnya bulan lalu.


"Cie ... sampe segitunya mandangin cincin," seloroh Seno. Niken tersenyum lebar.


"Sen, tau gak sih. Gue gak nyangka beberapa bulan lagi gue mau jadi istrinya Edward. Rasanya kayak mimpi tau gak. Gue inget banget saat pertama kali ketemu dia di perpustakaan kampus. Dia terlihat serius banget membaca buku, tapi elo tau gak saat itu apa yang dia baca? Ternyata dia enggak lagi baca buku tapi qur'an. Gue bertanya sendiri, loh emang dia muslim? Ternyata dia sama keluarganya memang mualaf. Saat itu juga gue udah jatuh cinta sama dia."


"Lo beruntung, Ken," sahut Seno sedih. Niken menangkap kesedihan di muka Seno.


"Sen ... elo emang masih cinta sama cewek bernama Nisa itu?"


"Elo liatnya gimana?" Niken memiringkan bibirnya sambil menatap Seno dengan lekat.


"Sen ... gue tahu lo cinta banget sama tuh cewek. Kenapa sih elo enggak coba buat ungkapin? Asal lo tau, sebenarnya gue udah pernah telepon dia, dan bilang kalau elo cinta sama dia."


Seno langsung melotot kaget, ia menatap Niken tidak percaya. Astaga ... sepupunya itu benar-benar sudah membuat Seno jantungan pagi-pagi begini.


"Ken, e__elo bercanda, kan?" Lidah Seno sampai kelu.


"Serius gue."


"T__terus, Nisa bilang apa?"


"Tau deh, soalnya sesudah gue bilang begitu, dia diem aja. Gue panggil-panggil enggak nyaut, ya udah gue tutup deh, teleponnya."


"Kapan lo bilang sama dia?" Jantung Seno masih berdebar tanpa kendali.


"Kapan, ya?" Niken terlihat sedang mengingat-ingat.


"Oh, bulan November akhir, saat elo bilang dia mau lamaran, tuh."


Seno terdiam, jadi Nisa sudah tahu dari dulu? Tapi kenapa dia biasa saja seolah tidak tahu apapun?


"Elo emang udah gila! Ngapain coba elo pake bilang sama Nisa segala. Nyesel gue curhat sama lo," ucap Seno gemas.


"Abisnya gue kasian sama lo, Sen. Tapi menurut gue sih, dia juga cinta sama lo."


"Sok tahu lo!" Seno mendecakkan lidah.


"Serius. Ya udah kalo gak percaya. Sen, lo harus tahu, yang namanya cewek tuh, dia enggak mungkin ngungkapin perasaannya duluan sama cowok yang dia suka. Kecuali emang dia udah punya muka setebal mukanya badak. Lo tahu badak, kan? Apa salahnya lo coba, Sen? Sebelas tahun lo memendam cinta sama dia. Busyet udah kayak nyicil rumah aja. Gak cape apa lo?"


"Paan sih lo gaje."


Namun, ucapan Niken berhasil membuat Seno memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.


'Apa gue coba ungkapin aja, ya? Lagian Nisa juga udah tahu dari Niken. Aduuuh tapi gue malu banget.' Seno membatin.


"Woi! Lah dia bengong. Sen, ada makanan, gak? gue kelaperan nih, belum sarapan." Jiwa rampok Niken dimulai.


"Ada ... sono liat di kulkas ada apaan." Niken langsung bangkit lalu menuju dapur.


'Ayo Sen! Lo gak boleh kayak gini terus. Elo mau jadi jomblo seumur hidup? Elo mau menderita lagi apa? Sekarang Nisa bukan milik siapa-siapa. Saatnya lo maju.' Seseorang yang entah siapa berbisik di benak Seno.


"Baiklah, akan gue coba." Seno bergumam sendiri.


🌸🌸🌸


Pulang dari kantor, Nisa mampir ke rumah Lala. Entah ada apa, karena Lala menelepon Nisa sampai lima kali, sepertinya memang sangat penting.


Nisa memarkirkan mobilnya di halaman rumah Lala yang tidak begitu luas. Kalau dipikir-pikir dulu Nisa hampir jadi tetangga Lala, tapi Tuhan berkehendak lain. Saat Nisa keluar dari mobil, Lala keluar rumah menyambut Nisa.


"Hai, Nis ... Brian udah nungguin elo tuh," seru Lala sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

__ADS_1


"Ya Ampun bumil ... hai ponakanku, kamu baik-baik aja kan di dalam?" sahut Nisa sambil mengelus perut Lala.


"Aku baik-baik aja, dan aku udah pinter main bola di dalem, nendang-nendang perutnya bunda terus," sahut Lala dengan suara dibuat-buat seperti anak kecil. Nisa terkekeh.


"La, ada apa, sih? Emang ada hal penting banget, ya?"


"Iya ... ya udah yuk masuk. Nanti Brian ngasih tau."


Nisa dan Lala menemui Brian di ruang tengah. Nampaknya suaminya Lala itu sedang sibuk, terlihat ada tumpukan buku dan laptop di atas meja. Saat Brian menyadari kehadiran Lala dan Nisa, ia mendongakkan kepalanya lantas meluncurkan senyum pada Nisa.


"Halo, apa kabar, Nis?" sapa Brian.


"Baik," jawab Nisa dengan senyum.


"Silakan duduk." Nisa duduk di kursi, di hadapan Brian.


"Nis, mau minum apa, nih?" Lala berucap.


"Enggak usah, La, jangan repot-repot. Lo duduk aja ya, bumil gak boleh cape-cape."


"Ya ampun Nis ... sekarang elo tamu di rumah gue. Ya udah, gue ngambil minum dulu ya."


Brian tersenyum geli melihat tingkah kedua sahabat itu. Lala pergi ke belakang.


"Hm ...." Brian berdeham. "Jadi gini, Nis. Tapi sebelumnya gue minta maaf kalau nanti elo keingetan lagi sama Viko." Nisa menelan ludah agak tegang.


"Beberapa bulan sebelum Viko menikah sama lo, dia menulis novel tentang kalian. Katanya novel itu akan jadi hadiah pernikahan buat lo. Viko tidak peduli dengan penyakitnya yang mengharuskan dia beristirahat total hanya karena ia ingin segera menyelesaikan novel ini. Bahkan ia menolak saat dokter Vanesh menyuruhnya untuk rawat inap."


Benar. Nisa ingat sekarang, dulu Viko menolak saat dokter Vanesh menyuruhnya untuk dirawat. Ternyata ini alasan Viko.


"Dan ... alhamdulillah sebelum kalian menikah novel itu selesai walaupun masih sangat mentah. Dia minta tolong sama gue buat memperbaiki semuanya. Akhirnya gue baru bisa menyelesaikannya sekarang ini."


Brian berhenti sejenak karena Lala datang membawa baki berisi dua gelas minuman.


"Viko romantis banget ya, ngasih hadiah pernikahannya sebuah karya." Lala berkomentar.


"Terus kata Viko, nanti royalti dari novel ini buat elo, Nis," kata Brian


"Buat gue?"


"Seminggu sebelum kalian menikah, Viko bilang sama gue, 'Bri, nanti royalti novel ini berikan sama Nisa. Gue takut gak bisa bertahan, seenggaknya dengan novel ini gue masih bisa ngenafkahin istri dan mungkin anak gue nanti.' Dan gue yakin, Nis, setiap yang Viko tulis akan menjadi best seller."


Pertahanan Nisa runtuh, ia tidak peduli kalau harus menangis di depan Brian dan Lala. Nisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan menangis sesenggukan. Lala yang di samping Nisa ikut menitikan air mata sambil memeluk sahabatnya itu. Mata Brian juga terlihat berkaca-kaca.


"Gue enggak ngerti kenapa Tuhan selalu mengambil orang baik secepat itu? Terima kasih, Bri, elo udah ngebantu suami gue buat menyelesaikan novelnya." Nisa berkata sambil sesenggukan.


"Sama-sama Nis, tapi ini memang udah tugasnya gue sebagai editor." Tangan Brian terjulur ke bawah meja, lalu ia menyerahkan sebuah novel berwarna merah muda, dengan tulisan bercetak miring nan indah betuliskan "DANISA" dan ada sesosok siluet seorang perempuan dengan rambut tergerai. Di bagian bawah novel itu tertera nama sang penulis, Vee Alledro. Novelis favorit Nisa, sebelum tahu bahwa Vee Alledro adalah Viko.


Brian menyerahkan novel itu, dan Nisa menerimanya dengan tangan gemetar. Lihatlah, namanya tertera menjadi judul sebuah novel. Nisa sangat terharu bercampur sedih.


"Sebelum novel itu beredar di pasaran, gue mau elo yang baca duluan, karena ini tentang elo. Jujur aja Nis, gue terharu banget dengan isi novel itu. Viko sangat bisa mengaduk-ngaduk perasaan pembacanya. Di sana dia menceritakan bagaimana dahsyatnya mencintai seorang perempuan bernama Danisa. Kemudian bagaimana saat Danisa menemaninya berjuang melawan penyakitnya, menemaninya dengan ikhlas walaupun sebenarnya Danisa tidak mencintainya."


Nisa mendongak kaget. Viko menuliskan itu?


"Gue gak tahu cerita ini true atau bukan, tapi yang pasti Viko memang seorang penulis jenius."


Nisa memegang novel itu dengan tangan gemetar. Lalu perhatiannya teralihkan saat ponsel Brian berdering.


"Sorry Nis, gue angkat telefon dulu." Brian bangkit lalu pergi ke belakang.


"Nis, gue udah baca sampai habis novel ini." Tiba-tiba Lala bersuara membuyarkan pikiran-pikiran Nisa.


Nisa menoleh memandang Lala yang meluncurkan senyum untuk Nisa. "Nis, gue gak tahu isi novel ini benar atau enggak, tapi saat Viko bilang bahwa tokoh Danisa sebenarnya mencintai sahabatnya, gue jadi bertanya-tanya. Apakah yang dimaksud Viko dengan sahabat elo itu, Seno?"


Nisa menatap Lala dengan tatapan sendu. Lala pun melihat sahabatnya seperti sangat menderita, dan mata itu telah menjelaskan semuanya.


Serta-merta Lala merengkuh Nisa, membiarkan gadis itu menumpahkan tangis di pundaknya.


"Nis, kenapa elo lakuin itu? Kenapa elo menyiksa diri lo sendiri? Elo sampai mengambil keputusan besar rela menikah dengan Viko, padahal elo sangat mencintai Seno. Gue tahu elo ngelakuin itu demi Viko yang sedang sakit. Tapi bukankah Viko juga akan terluka?"


Nisa melepas pelukannya. "Iya, La. Viko tahu semuanya, tapi dalam suratnya dia bilang, dia enggak akan pernah ngelepasin gue buat pria manapun, walaupun dia tahu hati gue bukan miliknya."


Lala mendengkus. "Ini cinta segi tiga terrumit yang pernah gue liat selama hidup gue. Tapi apapun itu menurut gue, elo udah ngelakuin keputusan yang sangat tepat. Yang gue pengen tahu sekarang, apakah Seno tahu elo mencintainya?"

__ADS_1


"Enggak," jawab Nisa. Tapi Nisa tahu kalau Seno mencintainya, itu yang Niken bilang. Tapi ... Nisa ragu karena nampaknya Seno biasa-biasa saja saat mereka teleponan. Siapa tahu Niken hanya menduga-duga? Nisa tidak percaya sebelum ia dengar dari mulut Seno sendiri.


"Ternyata bener feeling gue kalau persahabatan di antara kalian memang ada apa-apanya. Nis, orang awam juga bisa liat, elo sama Seno itu udah kayak pasangan suami istri."


Nisa agak malu Lala bicara seperti itu, tapi memang seperti itulah adanya. Dan benar, sudah berapa orang yang menganggapnya seperti itu? Brian, Gita, sampai pelayan distro waktu di Bandung.


"Nisa, maaf gue harus pergi, nih. Ada hal penting di kantor. Elo bawa novelnya ya, nanti kita bicara lagi." Tiba-tiba Brian muncul dari belakang.


"Oh, oke." Nisa menyaut sambil mengusap matanya yang basah.


Brian meraih kunci mobilnya lalu menghampiri Lala. "Aku pergi dulu ya, Sayang ...." Brian mengecup kening istrinya. Lala mengangguk sambil melepaskan senyum untuk suaminya.


"Dah ...." seru Brian sebelum berlalu.


"Kalian bikin gue iri aja," sahut Nisa. Lala terkekeh. "Gue harap elo juga bisa bahagia, Nis."


"Amin."


Lala melirik jam di dinding. "Ngomong-ngomong udah jam 7 nih, elo udah makan malam belum?"


"Belum."


"Makan yuk, gue laper nih. Aneh, padahal tadi sebelum elo dateng gue baru makan siomay. Ternyata bener apa kata orang, ibu hamil itu nafsu makannya jadi tiga kali lipat, gue gak peduli deh badan udah segede kebo juga."


"Hahaha, ya ampun La, ngatain badan sendiri kayak kebo. Ya udah yuk, lo mau makan apa?"


"Pertama, gue pengen makan nasi goreng sama kwetiau seafood, terus martabak red velvet, ngemilnya pengen kwaci atau kacang asin, minumnya jus jeruk sama jus sirsak." Nisa terlohok.


"Lo yakin mau makan semuanya?"


"Yakin, lah."


"Ya udah yo ... demi ponakan gue."


🌸🌸🌸


Seno mondar-mandir di kamar dengan gelisah. Ia ingin menelepon Nisa dan mengungkapkan perasaannya, tapi demi Tuhan ia tidak berani. Ia melirik jam. Di Indonesia sekarang jam 9 malam, biasanya Nisa belum tidur jam segini.


Seno meraih ponselnya di kasur. Sedetik kemudian ia letakan lagi. Ia memejamkan matanya kuat, lalu seketika terbuka lebar. Ia terpikir sesuatu. "Gue tulis email aja, deh."


Seno membawa laptop yang tergeletak di meja ke tempat tidur, lalu menyalakannya.


Sekarang badan emil menganga di depan matanya. Perlahan tangannya meraih keyboard, lalu mulai mengetik sesuatu.


Ia mengetik-menghapus, mengetik lagi-menghapus lagi, sampai satu jam badan email itu tetap kosong. Seno mendengkus frustasi.


'Seno, elo emang payah!' Seseorang yang entah siapa berbisik lagi.


Seno menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan lewat mulut, ia mencoba mengetik lagi.


'Nis ... apa kabar? Elo baik-baik aja, kan? Maaf akhir-akhir ini gue jarang banget ngehubungin elo. Kuliah gue padet banget karena gue menargetkan dua tahun harus udah lulus. Gue gak bisa ninggalin perusahaan lama-lama apalagi bisnis dengan Nick sudah mulai berjalan.


Nis ... gue juga minta maaf karena gue belum bisa pulang, tapi gue usahain pas liburan akademik pulang. Enggak kerasa gue udah mau setahun aja di sini. Rasanya gue udah kangen banget sama suasana Jakarta. Gue pegel tiap hari ngomong bahasa Inggris mulu, hehehe ....


Nis ... jujur gue syok banget pas tahu Viko enggak ada. Gue enggak bisa ngebayangin gimana terguncangnya elo. Belum genap satu minggu kalian jadi suami istri tapi Viko sudah pergi.


Nisa ... sebenarnya gue malu banget nulis email ini, tapi gue berusaha sekuat tenaga buat bisa ungkapin rasa di hati gue yang udah bikin gue jadi kayak orang gila dan orang **** secara bersamaan. Nis ... gue bahagia jadi sahabat yang selalu ada di samping elo. Kurang lebih sebelas tahun gue kenal elo, dan karena kita selalu sama-sama, akhirnya gue merasakan sayang yang lain sama lo selain sayang sebagai sahabat. Dan ....


Kalau boleh jujur, gue udah jatuh cinta saat pertama kali melihat elo tersenyum di hadapan gue, dan itu sebelas tahun yang lalu saat elo menolong gue di Singapore. Elo boleh ketawa atau apapun terserah soal perasaan gue ini. Yang jelas rasa cinta dan sayang gue sama lo tulus banget.


Seperti kata elo, gue emang playboy cap paus yang terdampar. Itu karena selama ini gue enggak benar-benar cinta sama mantan-mantan gue yang jumlahnya lebih dari sekodi itu. Hati gue hanya untuk satu orang yaitu elo. Seorang cewek yang terbelenggu oleh rasa trauma akan cinta, sampai cewek itu tidak bisa melihat laki-laki lain lagi selain Viko.


Jujur, waktu elo nginep di apartemen gue saat elo enggak bisa tidur karena mikirin Viko, saat itu gue kesiksa banget. Gue lihat elo tidur nyenyak di sofa, sedangkan gue berperang dengan hasrat kelelakian gue karena cewek yang gue cintai tidur di bawah atap yang sama. Lo tahu? Gue enggak bisa tidur sampe pagi. Sekali lagi lo boleh ketawa sampe guling-guling, dah!


Akhirnya setelah sebelas tahun, gue baru berani buat ungkapin semua ini sama lo. Gue harap setelah elo tahu perasaan gue ini, elo enggak berubah sama gue. Tetaplah menjadi Nisa yang gue kenal.


Terima kasih ....


Aku mencintai kamu (Ya Tuhan, aku-kamu, hahaha)


Senopati Aryan K.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Jangan segan kasih jempol sama komen ya ... 😘😘😘


Gimana pendapat kalian tentang part ini???


__ADS_2