Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 37


__ADS_3

"Kok nangis, sih? Masa lagi bulan madu sedih-sedih?" ucap Seno dengan suara serak.


"Alhamdulillah kamu udah sadar." Nisa menghambur memeluk suaminya. Masih menangis.


Seno tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Nisa. "Sudah jangan nangis, Nisa yang aku kenal itu kuat, masa nangis cuma gara-gara aku pingsan, sih? Aku gak apa-apa, kok."


Nisa mengangkat kepalanya dengan muka memberangut.


"Kan kamu yang bikin aku nangis kek gini. Kamu tuh ya. Tau gak waktu kamu pingsan aku takutnya udah kayak apa? Aku__shok banget. Beneran kayak pengen pingsan juga."


Seno terkekeh. "Dasar! Suami pingsan, masa istri juga pengen ikut-ikutan pingsan."


"Kamu gak tau dan enggak akan ngerti gimana ketakutannya aku tadi, Sen. Aku beneran takut jadi janda dua kali!"


"Hah? Hahaha." Seno tergelak-gelak sampai menahan perutnya. Lantas dia bangun, duduk di tempat tidur sambil bersandar.


"Seno, ih! Emang lucu apa!" Nisa cemberut.


"Sini." Seno menarik Nisa ke dalam pelukannya, mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan.


"Maaf ya, Sayang ... aku bahkan lupa kalau nikah sama janda, soalnya aku enggak ngerasa. Hehehe."


Nisa melepaskan diri dari pelukan Seno lalu memukulnya pelan. "Iyalah, aku janda tapi kamu yang dapet semuanya."


Seno kembali tergelak, lalu menarik Nisa ke pelukannya lagi. "Beruntungnya aku, hehe. Tapi Nisa ... kamu harus ingat satu hal, kita enggak bisa menahan dan enggak tau kapan ajal menjemput. Selama kita masih dikasih kesempatan hidup, sebisa mungkin kita enggak boleh berpisah. Apapun masalah di masa depan nanti, kita harus bisa menyelesaikannya. Selama ini kita kan selalu menghadapi semuanya berdua. Dan aku ingin kita terus lakukan itu."


Nisa mengangguk di dalam dekapan Seno. "Aku percaya sama kamu, Sen. Aku percaya banget."


"Makasih. Aku juga percaya sama kamu."


Seno melepas pelukannya, dan menghapus air mata yang tersisa di pipi Nisa.


"Tadi aku ketawa-tawa, sekarang aku ngerasa sehat," ucap Seno.


Nisa meletakan punggung tangannya di kening Seno. "Kamu masih demam, Sayang. Yaaaah kalau kamu sakit begini, lingerie-nya gak kepake dong. Hehehe." Nisa mengerlingkan matanya.


"Siapa bilang? Mungkin malam ini enggak bisa dipake, tapi besok aku pastikan kamu pake itu seharian."


"Hah? Kenapa seharian?"


Seno tertawa. "Karena besok kita enggak akan ke mana-mana, aku harus sehat dulu. Habis itu di hari terakhir, kita jalan-jalan lagi."


"Besok kita seharian di kamar sambil lihat air terjun?"

__ADS_1


"Yes."


Nisa terlihat sedikit kecewa. Padahal besok dia ingin naik Barnina Express. Melewati jalur rel Bernina yang melintas naik dan turun punggungan-pegunungan Alpen dari Chur dan berakhir di Tirano selama 4 jam. Menikmati pemandangan Swiss sampai Italia yang menakjubkan.


Melihat ekspresi Nisa seperti itu, Seno menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut, lalu berucap, "Maafkan aku yang tiba-tiba sakit di hari spesial ini. Tapi beneran aku pengen istirahat dulu biar sembuh total. Kamu beneran enggak mau jadi janda dua kali, kan?"


Nisa mengeplak lengan Seno. "Ish, ngomong apaan sih kamu, ya enggak lah!"


"Kenapa aku milih penginapan jauh dari Zurich?"


Nisa menggeleng. "Kenapa emang?"


"Supaya kita sejenak menepi dari keramaian. Cuma ada kita dan alam."


Nisa mengangguk, tak lama seulas senyum tersungging dari bibirnya. "Baiklah besok seharian aku pake lingerie. Tapi kalau nanti aku masuk angin, kamu tanggung jawab ya," seloroh Nisa.


"Haha, kan ada penghangat ruangan, kamu gak akan kedinginan, dan kalau penghangatnya rusak, aku yang akan menghangatkan kamu seharian."


"Bisa aja, kamu. Aku akan suka kalau penghangatnya rusak, hehehe."


Seno memencet hidung Nisa. Lantas mereka tertawa berdua di ruang IGD yang sepi.


***


Seno meraba keningnya. Demamnya sudah turun, kepalanya pun sudah tidak berat seperti kemarin. Sekarang benar-benar sudah sembuh. Dia menyibakkan selimut, dan bangun, menatap keluar jendela yang sudah terbuka lebar, merasakan mentari pagi yang hangat masuk dengan leluasa ke dalam kamar.


Hamparan padang sabana hijau sejauh mata memandang terhampar di depan mata Seno, dan di kejauhan, air terjun yang jatuh dari tebing pegunungan Alpen menjuntai bak selendang putih bidadari.


Seno memejamkan matanya sejenak menikmati udara tersehat di bumi ini. Swiss benar-benar mengagumkan. Dia membayangkan jika Jakarta memiliki udara seperti ini, mungkin setiap hari dia merasa ada di syurga.


Tak lama kemudian hidungnya mencium aroma kopi. Pasti Nisa yang sedang menyeduh kopi di dapur.


Penginapan itu memang dilengkapi dengan dapur kecil dan satu set meja dan kursi makan.


Seno beringsut dari tempat tidur, lalu melangkah ke dapur. Benar. Nisa tengah menyiapkan sarapan.


Dan ... seketika matanya terbelalak, senyumnya pun merekah lebar.


"Udah bangun?" sahut Nisa.


"Udah. Nis, kamu beneran pake lingerie, nih?" Mata Seno berbinar-binar melihat pemandangan menakjubkan di depan matanya. Pemandangan yang tidak jauh menakjubkannya dengan pemandangan di luar sana.


Tubuh indah istrinya terhalang kain lingerie yang tembus pandang. Dengan sepuas hati dia melototi tubuh yang sangat didamba itu. Dan itu berhasil membangkitkan Seno kecil di dalam sana.

__ADS_1


"Katanya aku harus pake ini seharian?"


"Iya, tapi aku kira kamu enggak bakal mau."


"Hehe, aku sempet mikir juga sih tadi, tapi ... aku beneran pengen nyenengin kamu."


Seno mendekat, lalu memeluk istrinya dari belakang. "Makasih, ya. Aku seneng banget. Jadi ... kita mau praktekan tips dari Papa aku?"


"Hah? Sekarang? Kopinya entar dingin, gak apa-apa?"


"Gak apa-apa, kalau dingin bikin lagi. Aku menginginkannya sekarang."


"Kamu baru bangun."


"Baru bangun atau pagi-pagi itu malah bagus."


Napas Seno yang berembus di belakang telinga membuat Nisa merinding. Laki-laki itu menyibakkan rambut Nisa supaya tidak menghalangi leher jenjangnya, sejurus kemudian dia meluncurkan kecupan-kecupan kecil di sana. Dan itu berhasil membangkitkan hasratnya. Seno beneran sudah tahu di mana letak kelemahannya.


"Haruskah kita melakukannya di sini?" bisik Seno.


Nisa berbalik badan menghadap suaminya. Sekali lagi dia melihat sorot mata itu seperti menghamba, dan seolah berkata, aku mencintaimu, tidak akan berubah selamanya, aku sangat menginginkanmu, aku mengagumimu, dan Nisa tertawan di dalamnya. Total. Sungguh dia tidak berdaya.


Siapa sangka laki-laki yang melingkarkan tangan di pinggangnya sekarang adalah, pemuda yang dulu terlunta-lunta di bandara Changi karena kehilangan satu tasnya.


Tangan Nisa bergerak pelan dan khidmat ke wajah tampan tepat lima sentimeter di depannya, mengusap pipi itu, dan menyentuh bibirnya dengan lembut.


"Jangan sakit lagi, aku sedih," lirih Nisa.


Seno mengangguk sambil tersenyum. Secepat aliran listrik di jaringan syaraf, secepat itu Nisa terpesona dengan senyuman indah itu. Selama dua belas tahun mengenal Seno, dia tidak menyangka laki-laki itu mempunyai senyuman semanis itu hingga dirinya terkapar tidak berdaya.


Nisa tidak peduli dengan stigma playboy cap paus yang dulu selalu dia sematkan padanya. Yang dia tahu sekarang adalah Seno yang mencintainya, Seno yang menghamba, dan Seno yang mampu membahagiakannya.


Dan ... Nisa ingin memberikan yang terbaik sekuat yang dia bisa. Semoga itu cukup.


Perlahan wajah Seno mendekat ke wajah Nisa, meraih bibir wanita itu dengan bibirnya dengan lembut. Udara pagi Swiss yang hangat berubah menjadi semakin hangat seiring ciuman itu berlangsung.


Nisa berani bertaruh, suaminya memang juara dalam hal ini, dan dia suka. Benar-benar suka.


Nisa merasakan udara tiba-tiba menjadi panas setelah suaminya itu meluncurkan sentuhan-sentuhan yang semakin intens di sekujur badannya. Semuanya terjamah tanpa kecuali. Dan Nisa membiarkan suaminya itu bermain-main sepuas yang dia mau.


Tiba-tiba Seno mengangkat tubuh Nisa dari dapur ke tempat tidur, dan semuanya berlangsung menggila di sana.


Pagi itu menjadi pagi terpanas yang pernah ada. Dan Nisa tidak mau pagi itu berlalu dengan cepat. Sungguh, dia tidak ingin.

__ADS_1


***


__ADS_2