Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 34


__ADS_3

Auditorium besar telah dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa S2 yang akan wisuda. Seno dan Nick termasuk di dalamnya. Sekarang Nisa tahu Nick, orang yang menjadi alasan Seno tidak pulang untuk menghadiri pernikahnnya dengan Viko dulu. Seno dan Nick memang menjalani kerjasama, tapi Nisa tidak tahu dan tidak mengerti kerjasama dalam bentuk apa, yang pasti kata Seno kerjasamanya dengan pria berrambut pirang itu sangat menguntungkan. Entahlah, mungkin kerjasama dalam bentuk konsep multimedia atau copy writer?


"Sudahlah, kamu jangan tau nanti pusing," cetus Seno nyebelin. Oke deh, Nisa memang tidak terlalu paham tentang periklanan.


Sekarang salah satu Profesor tengah melakukan pidatonya di depan mimbar, setelah itu sambutan dari salah satu mahasiswa berprestasi dengan nilai paling tinggi di angkatan Seno. Seorang gadis berkulit hitam keturunan Afrika lah yang menyabet predikat itu. Tesis yang dia ajukan tidak main-main, dan kabarnya menjadi barometer. Mahasiswi jurusan ekonomi politik itu telah menjadi kebanggaan negaranya, dan salah satu Profesor menyebutnya kelak dia akan menjadi politikus genius.


Yah, bagaimanapun geniusnya dia, Seno tidak terkesan kalau urusannya dengan politik yang penuh intrik.


Satu-satu mahasiswa dipanggil ke mimbar untuk menerima izasah dan pemindahan tali toga. Saat wisuda setiap mahasiswa pasti mengenakan toga, dan pada akhirnya tali toga itu akan dipindah arahkan. Mengapa tali toga yang ada di sebelah kiri akan dipindahkan ke sebelah kanan? Tali toga sebelah kiri artinya selama menjadi mahasiswa, bagian otak yang dipakai mahasiswa kebanyakan adalah otak kiri dimanta otak itu berhubungan dengan bahasa juga hafalan. Ketika tali toga dipindahkan kesamping kanan, itu diartikan agar setelah lulus para mahasiswa tidak hanya menggunakan otak kirinya, melainkan harus lebih banyak menggunakan otak kanan. Otak kanan itu sendiri berhubungan dengan daya imajinasi, kreativitas juga inovasi seseorang.


Hal ini juga berhubungan dengan jenis pekerjaan yang harus dipilih oleh para lulusan, yang diharapkan setelah lulus mereka tidak hanya menggunakan otak kiri yang hanya berkerja pada orang lain, tapi harus bisa berpikir kreatif, imajinatif dan inovatif dan menggunakan otak kanan untuk menciptakan pekerjaan sendiri. Arti dari semuanya adalah supaya para lulusan bisa berwirausaha dengan baik.


Filosofi itu sebenarnya tidak perlu untuk Seno, karena dia sudah menjalaninya dengan baik. Dan dia bersyukur untuk itu.


Rasa bangga menyelubungi hati Nisa saat nama suaminya disebut untuk menerima izasah. Padahal dulu dia sangat terpuruk ketika Seno memutuskan pergi meninggalkannya untuk kuliah ke sini. Dan kepergian Seno juga telah menyadarkan akan perasaannya sendiri. Jika Seno tidak pergi, mungkin selamanya dia tidak akan menyadarinya.


Nisa tersenyum sendiri memikirkan hal itu.


***


Setelah acara selesai, semua mahasiswa melakukan foto-foto bersama keluarganya, pun dengan Seno. Dia sudah membawa kamera terbaiknya dari tanah air. Dia berfoto dengan orang tua, mertua, dan tentu saja Nisa. Namun, Seno sangat terkejut ketika Mr dan Mrs Arman datang menemuinya untuk memberinya selamat.


"Wah, thank you so much for coming," kata Seno sambil memeluk Mr Arman lalu Mrs Arman.


"No problem. Congratulations, darl," kata Mrs Arman seraya mengusap-usap lengan Seno.


"Thank you, Mrs. Oh ya, she is my wife," kata Seno, menggamit tangan Nisa ke depan suami istri serasi itu.


Mereka terpana melihat Nisa. "Beautifull," cetus Mrs Arman.


"Thank you, Mrs," kata Nisa.


"And they are my parents and my in-laws," kata Seno memperkenalkan orang tua dan mertuanya. Seketika mereka pun mulai akrab dan hangat walau sedikit terkendala bahasa. Ayah Seno lah yang paling mahir berbahasa Inggris.


Foto-foto pun dilanjut bersama Mr dan Mrs Arman. Namun, tiba-tiba ada seorang perempuan cantik berkerudung pink datang menghampiri. Dia langsung terlihat akrab dengan mama papanya Seno. Mata Nisa memicing, dia baru melihat wanita itu. Siapa dia? Apakah dia mengenal keluarga Seno dengan baik? Dia sangat cantik dengan wajah khas Indonesia.


Setelah berramah tamah dengan orang tua Seno, wanita itu menghampiri Seno lalu merangkulnya dengan akrab. Dan Seno pun terlihat sangat akrab dengannya. Sementara Nisa memerhatikan bersama orang tuanya dengan wajah penuh tanya.


"Congratulations, Sen," seru wanita itu.


"Gila, gue kangen banget sama lo, Sen. Sumpah gua kangen banget. Pas lo balik ke indo, gue kayak kehilangan tumpuan."


Seno menoyor pelan kepala wanita itu. "Kehilangan tumpuan? Hah! Elu mah bukan kehilangan tumpuan, tapi kehilangan duit berjalan!"


"Sialan! Suka bener kalo ngomong, haha."


"Ken, itu Nisa, istri gue."

__ADS_1


"Waaah, jadi ini yang namanya Nisa? Kenalin, aku Niken. Inget kan aku pernah nelepon kamu? Mudah-mudahan inget ya, hehe. Pantesan Seno cinta mati sama kamu, cantik sih orangnya."


Nisa terlohok, jadi dia yang namanya Niken? Gara-gara wanita itu, Nisa pernah berpikir yang bukan-bukan pada Seno karena pagi-pagi yang mengangkat teleponnya seorang Wanita. Dan karena dia pula, dia tahu kalau Seno punya perasaan terhadapnya.


"Oh iya, dan ini mertua gue."


"Halo Om, Tante," ucap Niken sambil menganggukkan kepala dengan sopan. Orang tua Nisa tersenyum hangat pada Niken.


Kemudian gadis berkerudung itu menyalami orang tua Nisa dengan hangat.


"Kamu sepupunya Seno?" tanya ayahnya Nisa.


"Iya, Om. Tente Nurul adalah adiknya papaku."


"Kamu kuliah juga di sini?" tanya ibunya Nisa.


"Enggak, Tante, saya stay di sini, kebetulan saya kerja di sini, dan kebetulan juga bersuami orang sini. Saya jarang banget pulang ke Indo, makanya saya seneng banget pas Seno kuliah di sini."


"Betah kamu di sini, Nak?" tanya ibunya Nisa.


"Yah, betah enggak betah sih, Tan. Hehe. Saya suka kangen sama makanan Indo, terlebih masakannya mamaku."


"Nanti, kalau pulang ke Indonesia, main ke Sukabumi ya, saya buatin kamu mochi yang banyak."


"Wah, beneran, nih?"


"Siap deh kalo gitu." Niken semringah.


Setelah itu orang tua Nisa bergabung dengan orang tua Seno yang tengah mengobrol seru dengan Mr dan Mrs Arman.


"Sen, mertua lo baik banget. Gue kan paling demen kalo urusannya ama gratisan. Haha"


Nisa menyeringai.


"Sori, Nis. Nih cewek emang ngomongnya ceplas-ceplos," ucap Seno.


"Udah bawaan orok gue begitu, Nis, sori ya."


"Enggak apa-apa, seru kok."


Seno melihat Niken dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Sejak kapan lu jilbaban? Buset, pangling gue."


"Sebulan lalu lah kira-kira. Malu lah, Sen, keluarga suami gue kan jilbaban semua, gue gak mau tersesat sendirian, hahaha."


"Oh iya, salam sama Edward ye,"


"Siap, kalian maen dong ke apartemen gue. Nanti gue bikinin barbeque paling enak."

__ADS_1


"Aduh, sori, habis ini kita mau ke Swiss."


"Ngapain?"


"Ngapain lagi, honey moon lah," kata Seno sambil senyum-senyum.


"Widiiiih. Yaaa, udah sepantasnya sih, sebelas tahun memendam cinta udah kayak kredit rumah terbayar dengan honey moon ke Swiss," seloroh Niken.


Nisa tergelak-gelak. Niken lucu juga ya orangnya.


"Tau gak Nis, waktu kamu habis telepon pagi-pagi tuh, si Seno ngurung diri di kamar, kagak kuliah, kagak makan. Seharian gue nungguin dia keluar kamar, gelisah, takut dia mati di dalem. Hahaha."


"Sialan!" Seno mengeplak lengan Niken.


"Bongkar aja semuanya sekalian, Ken!" seru Seno kesal.


"Gue kira kenapa nih cowok, taunya patah hati karena katanya kamu mau lamaran. Hahaha. Kadang cowok-cowok tuh lebih aneh tau gak. Sepupu gue ini playboy kelas kendurian, tapi kagak berani nembak cewek yang beneran dia sayang. Gue ampe gemes sendiri, makanya gue telepon kamu bilang kalo Seno cinta. Eh, tapi gue malah diomelin, bukannya bilang terima kasih. Kurang ajar gak sih?"


Nisa tertawa. Muka Seno sudah memerah karena dipermalukan di depan istrinya sendiri.


"Gue komporin aja sekalian, mojok-mojokin dia buat ungkapin perasaannya sama kamu. Tau deh dia ungkapin atau kagak setelah itu."


"Seno ngungkapinnya lewat email," cetus Nisa sambil terkikik-kikik.


"Hah? Buset, parah lo, Sen! Lo kata ngungkapin cinta sama dengan ngelamar kerja pake email? Gue kira telepon langsung, hadeuh. Cemen amat lu!"


"Haha enggak papa, itu malah unik, sampe sekarang tuh email belum aku hapus, buat kenang-kenangan."


"Yah, bagaimanapun juga gue seneng kalian akhirnya bisa nikah. Dan sori gue gak bisa dateng di pernikahan kalian, tapi kadonya nyampe dong?"


"Nyampe. Thanks, Nik."


"Have fun, kalian di Swiss, semoga cepet dapet baby, biar entar anak gue ada temennya," tutur Niken sambil memegang perutnya.


Nisa dan Seno sontak terlohok kaget. "Lo udah isi?" tanya Seno.


"Alhamdulillah, baru jalan 5 minggu."


"Selamat ya," ucap Nisa.


"Makasih."


"Doain kita, Nik, semoga abis dari Swiss dapet oleh-oleh," cetus Seno sambil mesem-mesem pada Nisa.


"Siiiiip, gue doain."


Setelah foto-foto, acara pun di lanjut dengan lunch bersama di salah satu restoran.

__ADS_1


***


__ADS_2