Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 50


__ADS_3

"Mbak, disuruh Bos ke ruangannya," tutur Lena.


"Sekarang?" Lena mengangguk. "Ngapain?"


"Gak tau." Lena mengangkat bahu. Nisa menghela napas, lalu beranjak dari kursinya dengan malas. Ada apa, ya? Apa ada hal penting yang urgent? Sepanjang perjalanan ke ruangan bosnya, Nisa terus bertanya-tanya.


Sekarang dia sudah sampai di depan pintu dari kaca tersebut. Dia mengetuk pintu lalu masuk. "Selamat sore, Bos? Apa Bos manggil saya?"


"Iya. Duduk, Nis." Nisa mengangguk, lalu berjalan ke arah kursi dan duduk. Bos muda bernama Harir itu selalu terlihat memesona di mata semua orang. Wajah tampannya terlihat segar walau hari sudah sore kayak gini.


"Kemarin saya lupa ngasih tau sama kamu, kalau produk baru kita itu pangsa pasarnya buat anak-anak muda. Jadi pastikan kamu bisa menembak sasaran dengan tepat, ya. Maksud saya, kampanye yang akan divisi kamu lakukan harus berhasil."


"Oh, gitu? Kok tumben Nadya enggak bilang sama saya, ya?"


Harir tersenyum sekilas. "Mungkin dia lupa. Divisi design juga sibuk banget, kan," jawabnya. Padahal Harir meminta pada Nadya untuk tidak dulu memberi tahu Nisa, biar dia sendiri yang memberitahunya supaya ada alasan untuk memanggilnya ke ruangan.


Mata Nisa menyipit. Mana mungkin Nadya bisa lupa sama info penting kayak gini? Walaupun dulu mereka enggak akur, tapi kalau urusan pekerjaan mereka profesional. Aneh banget, deh! batin Nisa.


"Oh, gitu. Baik, Pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin."


"Saya percaya sama kamu. Kamu sudah terkenal sebagai ketua tim marketing terandal. Mungkin itu karena faktor fisik kamu juga yang good looking. Jadi ... kamu bisa dengan mudah memasarkan produk-produk Vreeset."


Nisa agak kaget mendengar ucapan bosnya itu. Jujur, dia agak tersinggung. Selama ini Nisa sudah bekerja keras mati-matian untuk perusahaan ini, dan sekarang semuanya dipadamkan oleh ucapan tersebut. Jadi maksudnya kalau Nisa enggak cantik penjualan sepatu-sepatu itu enggak bagus? Rasanya Nisa ingin melontarkan aksi protes, tapi dia menahannya sekuat tenaga. Bagaimanapun juga Harir adalah bos yang harus dia hormati, dan dia harus jaga sikap di depannya.


Nisa tersenyum masam. "Ada lagi, Bos? Kalau enggak, saya mau kembali ke ruangan sebentar lagi saya sama Deni kerja luar."


"Kerja luar, ya? Oh iya, nanti malam saya dan ketua divisi lain mau makan malam bareng, kamu mau gabung?" tawar Harir. Nisa melongo heran. 'Kenapa Pak Harir ngajak gue dinner? Pimpinan sebelumnya bahkan enggak pernah. Dan siapa ketua divisi lain itu? Nadya? Albert? Atau Noni? Ah, enggak mungkin.'


"Maaf saya enggak bisa, Bos. Suami saya sedang sakit, baru kemarin dia keluar dari rumah sakit." Air muka Harir langsung berubah kecut saat Nisa menyebut "suami".


"Oh, gitu. Tapi lain kali kamu harus mau, ya?" Dengan ragu Nisa mengagguk. Harir tersenyum.


"Kalau gitu saya permisi dulu, Bos."


"Silakan ...."


Nisa bangkit berdiri, berjalan ke arah pintu, dia membungkukkan badannya sedikit saat akan menutup pintu.


Saat Nisa berjalan menuju lift, terlihat Nadya tengah berjalan dengan asistennyatak jauh dari sana. Buru-buru Nisa berlari menghampirinya.


"Naaad, Nadya ...," seru Nisa. Nadya menoleh dan menghentikan langkahnya, sedangkan asistennya tidak.


"Ada apa?" tanya Nadya setelah Nisa berdiri di depannya.


"Nad, emang lo lupa enggak ngasih tau gue soal produk baru yang mau kampanye besar-besaran itu?"


Nadya melipatkan tangan di dada. "Mmmm, bukannya lupa, tapi Pak Harir sendiri yang minta gue buat enggak bilang dulu sama lo. Tau tuh kenapa. Lo abis dari ruangannya sekarang?"


"Iya, Nad. Heran juga gue sama dia."

__ADS_1


Nadya memicingkan matanya menatap Nisa curiga. "Nis, kayaknya dia cuma nyari-nyari alasan supaya bisa berinteraksi sama lo. Inget, Nis, dia duda kesepian. Jangan-jangan dia naksir lo."


Nisa terenyak kaget, lantas mengeplak lengan Nadya. "Hus! Bacot lo itu kagak disaring dulu kalau ngomong. Mana mungkin! Dia tau gue udah punya laki, Nad!"


"Hey ... zaman sekarang tuh janur kuning udah enggak berlaku. Kalau suka, ya tikung."


Nisa bergidik ngeri. Dia teringat tragedi yang dialami Seno kemarin. Orang itu bahkan lebih sadis, dia menculik, menyiksa, sekaligus melakukan pelecehan seksual pada Seno. Seseorang yang udah dibutakan oleh cinta memang suka gak punya akal sehat. Sekarang tiba-tiba dia takut hal itu terjadi padanya.


Nisa menggelengkan kepala kuat-kuat. Ah, mungkin itu cuma praduga Nadya doang, pikir Nisa.


"Lo jangan nakutin gue, dong!"


"Gue enggak nakutin lo, gue cuma ngomongin fakta. Udah banyak banget yang kayak gini, kan?"


'Iya juga, sih, Nadya benar, tapi bagaimanapun juga, gue gak akan pernah berpaling dari Seno,' batin Nisa.


***


Nisa menghampiri Lena di balik partisinya. "Len, kamu sama Deni yang kerja luar hari ini, ya. Aku enggak tega ninggalin suamiku lama-lama, dia masih sakit."


"Oh iya, Mbak, sip. Mbak mau pulang sekarang?"


"Iya. Sori ya, besok pagi-pagi laporan reture simpen aja di mejaku."


"Iya, Mbak."


Nisa melirik jam tangannya. Baru jam empat sore, dia harus cepat-cepat karena sebentar lagi jalanan akan macet. Nisa langsung tancap gas meninggalkan pelataran parkir kantornya.


Selang setengah jam dia sampai di apartemen. Rupanya Seno sedang melakukan meeting sama beberapa karyawannya. Tau gitu tadi Nisa membeli camilan dan minuman buat mereka di jalan.


"Eh, ada tamu," sahut Nisa basa- basi.


Semua orang di ruangan meluncurkan senyum ramah pada Nisa.


"Kamu tumben udah pulang, Sayang?" tanya Seno.


"Iya, nih, aku khawatir sama kamu, jadi yang kerja luar Lena sama Deni. Ngomong-ngomong ayah sama ibuku udah pulang?"


"Belum, tadi sih katanya mau ke tempatnya Rian."


"Oh gitu, mereka mau pedekate kali sama calon mantu, hehe. Oh iya, kalau tau di rumah lagi ada tamu gini aku mampir beli camilan dulu ke minimarket."


"Jangan repot-repot, Mbak," ucap Aldi sungkan.


"Sayang, coba kamu lihat isi kulkas sama lemari, Ibu kamu sama Mamaku udah menuhin semuanya."


"Hah? Serius?"


"Iya."

__ADS_1


Nisa bergegas ke dapur, dan benar apa kata Seno. Kulkas dan lemarinya kini penuh! Semua ada kayaknya. Nisa mengeluarkan beberapa camilan dan minuman untuk karyawannya Seno.


"Aduh, Mbak, jangan repot-repot," ucap Ezar enggak enak. Mana ada istri bos nyuguhin makanan buat karyawan? Mungkin cuma Nisa saja yang kayak gitu.


"Enggak repot, kok, ini cuma makanan kecil," ucap Nisa. Seno tersenyum melihat apa yang dilakukan istrinya itu.


"Ya udah saya permisi ke dalam dulu," Nisa berderap ke kamar.


Jujur, dari tadi Nisa merasa tidak nyaman dengan ucapan Nadya. Dia takut bosnya beneran naksir dia. "Aduuuuh runyam, nih, urusan." Nisa mengacak rambutnya sendiri.


Nisa membuka blazernya, merentangkan tubuhnya ke atas kasur dan menatap langit-langit dengan perasaan campur aduk. 'Gue harus jaga jarak sama dia mulai sekarang! Loh, bukannya selama ini jarak gue sama bos jauh, ya? Yaaa mungkin sekarang harus lebih jauh lagi.'


Selang satu jam Seno selesai meeting. Setelah anak buahnya pulang, dia menghampiri Nisa di kamar. "Kirain kamu udah mandi, malah lagi tiduran," cetus Seno.


"Kamu capek?" Seno meraih betis Nisa dan memijitnya pelan.


"Enggak terlalu, tapi kalau kamu mau mijitin sih boleh, hehe."


"Sini-sini aku pijitin, kamu yang bener dulu posisinya." Nisa menurut. Dia beringsut agar kakinya tepat di pangkuan Seno.


"MashaAllah, beruntung banget aku punya suami sekaligus tukang pijit," seloroh Nisa.


Seno mengeplak betis Nisa pelan. Nisa terkekeh. "Sen, kapan-kapan kita spa bareng yuk."


"Nanti kalau kita ke Bali."


Mendengar itu Nisa langsung terduduk tegak dan wajahnya semringah seketika. "Serius? Kapaaaaan?"


"Kapan-kapan, hehe."


Nisa mengerucutkan bibirnya sambil melipatkan tangan di dada. "Ish, nyebelin."


"Kapan-kapan tuh, bisa juga kan minggu depan atau bulan depan? Gimana kalau sesudah proyek kamu beres?"


Wajah Nisa kembali semringah. "Asiiiik." Seno tersenyum senang melihat istrinya sampe melonjak kegirangan kayak gitu.


"Lanjutin gak nih pijitnya?"


Nisa menggeleng. "Sekarang aku aja yang pijitin kamu."


"Huh, ini mah modus. Gara-gara Bali nih pasti."


Nisa terkekeh, beringsut ke belakang Seno, meraih pundak kokohnya, lalu memijitnya pelan. Namun, belum lama dia malah melingkarkan tangannya ke leher Seno, memeluknya dari belakang.


"Aku sayang kamu, Sen."


"Aduh, tibang rencana ke Bali aja kamu ampe kayak gini. Masa kalau kamu pengen kayak gini terus harus traveling dulu?" Seno terkekeh. Nisa lebih mengeratkan pelukannya. Padahal Nisa masih sedikit kepikiran hal tadi, bukan karena traveling. Nisa hanya ingin memeluk Seno agar ketakutan itu lenyap.


***

__ADS_1


__ADS_2