
Sejak turun dari Bernina Express bibir Nisa masih saja monyong lima senti. Seno sudah membujuknya beberapa kali supaya enggak ngambek lagi, tapi sia-sia.
"Nyebelin, nyebeliiiiiiiin! Kamu nyebelin banget. Kenapa aku gak dibangunin pas ketiduran tadi," rutuk Nisa.
"Aku enggak tega, Sayang. Kamu kan suka gitu kalau di kendaraan. Tidur."
"Tapi kan ini di Bernina Express, beda, aku pengennya melek."
"Ya udah, ya udah, nanti kapan-kapan kita ke sini lagi, naik itu. Udah dong, jangan manyun terus, jelek tauk! Sekarang mau beli es krim?"
Nisa melirik suaminya malu-malu, lalu bibirnya yang monyong perlahan memudar.
"Es krim?" tanyanya malu-malu mau.
Seno mengangguk. "Pesawat kita take off sejam lagi. Kita makan es krim dulu di kafe sana." Tunjuk Seno ke salah satu kafe bandara.
"Mau."
"Senyum dulu, dong."
Masih dengan malu-malu Nisa merekahkan bibirnya.
"Gitu, dong, kan cantik, tuh." Seno mencubit gemas pipi Nisa.
"Yuk." Seno memberikan tangannya untuk Nisa pegang.
"Yuk." Nisa menyambutnya, dan memasukkan jemarinya ke sela-sela jemari Seno.
Sekarang mereka duduk di salah satu meja khusus untuk berdua, sambil melihat deretan pesawat yang tengah parkir di bawah sana dari jendela kaca raksasa.
Tak lama es krim yang mereka pesan datang diantar pelayan kafe.
"Thank you," ucap Seno pada pelayan berrambut pirang itu.
"Wah, porsinya gede banget." Nisa menatap semangkuk penuh es krim berbagai rasa plus wafel yang tebal di pinggirnya.
"Harus habis, ya."
"Gak mungkin."
Seno tersenyum, kemudian mulai melahap es krim rasa cafe latte miliknya di wadah gelas yang mungil.
"Sen, bulan madu ini ngabisin budget berapa?" tanya Nisa lalu mengemut es krim.
"Berapa, ya? Gak tau. Yang pasti enggak nyampe seratus. Tapi kalau ditambah ongkos pesawat orang tua kita pulang pergi Manchester-Indo, lebih sih."
Nisa ngangguk-ngangguk. "Sen, gimana kalau kita jual apartemen, terus beli rumah di daerah rumahnya Lala. Bagus tau."
Mendengar penuturan Nisa, tangan Seno mengapung di udara saat akan menyuapkan es krim itu ke mulutnya.
"Kamu nyesel enggak jadi tetanggaan sama Lala, ya? Dulu Viko beli rumah di situ, kan?" tutur Seno sambil meletakkan sendok es krimnya ke gelas.
Tenggorokan Nisa tercekat. "Bukan itu maksud aku, Sayang. Aku suka aja rumah-rumah di situ, daerahnya juga aman, penjagaannya juga ketat banget, kan?"
"Enggak, ah. Aku pengen rumah yang luas, di sana rumahnya kecil-kecil."
"Enggak kecil-kecil banget, kok."
"Enggak mau. Nanti enggak muat buat keluarga besar kita."
"Hah, maksud kamu?"
"Iya. Aku kan maunya kita punya anak lima."
"Hah?" Mata Nisa melotot.
Seno menyemburkan tawanya. "Iya lima."
"Enggak sekalian tujuh?" ujar Nisa satire.
"Tujuh?" Seno meletakan telunjuk di dagunya, menimang-nimang.
"Boleh," ucapnya seraya tersenyum penuh semangat.
Nisa dibuat gemas, dia pun melempar tisu pada Seno.
"Ish! Emang ngelahirin anak kagak sakit apa! Nyebelin! Dasar cowok!" rutuk Nisa.
Seno terkekeh. "Biasanya setahun dua tahun nanti lupa sakitnya, terus aku akan bikin kamu melendung lagi, deh. Hehe."
"Seno! Ih, kamu tuh, ya! Enggak mauuuuuu! Aku maunya dua, udah titik!"
"Lima." Seno mencondongkan wajah sambil tersenyum menyebalkan.
Nisa sudah beneran gemas, dia pun menyubit kedua pipi suaminya dengan kencang.
"Aduh, sakit! Kamu dendam ya sama aku." Seno mengusap-usap pipinya yang merah.
__ADS_1
Nisa terkekeh. "Mau lagi?"
"Enggak!"
"Tuh, liat, baru dicubit pipi aja sakit, kan? Kamu enggak mau lagi. Gimana kalau lahiran, coba?"
Tangan Seno terulur ke kepala Nisa, lalu mengacak rambutnya dengan sayang. "Bisa aja kamu, ya udah cepetan abisin es krimnya, habis ini kita cepet-cepet chek in, entar ketinggalan pesawat."
"Iya. Sen, bantuin abisin, dong."
"Kamunya pesan yang itu segala, sih. Hadeuh. Mana sini."
Nisa menggeser mangkuk es krimnya ke tengah-tengah meja, lalu melahap es krim itu sama-sama.
***
Dari bandara Fiumicino atau yang lebih dikenal dengan nama bandara Leonardo da Vinci Italia, Seno dan Nisa tidak langsung ke bandara Soekarno-Hatta, melainkan ke bandara Changi Singapore. Dari Changi baru dilanjutkan ke Soeta.
Sampai di Changi, pukul dua pagi. Mereka pun memutuskan beristirahat sejenak di hotel bandara tersebut. Nanti pagi-pagi, mereka baru terbang lagi ke Indonesia.
Lelah berjam-jam duduk di pesawat, ketika menemukan kasur, mereka pun langsung tertidur dengan lelap.
Setelah itu ....
"Sen ... Sen ...! Bangun ... bangun!"
Seno menggeliat sambil mengucak matanya.
"Apa, Nis?"
"Liat, jam berapa?"
Seno terperanjat. "Jam berapa?"
"Haaaah! Kita ketinggalan pesawat?" Seno terlohok melihat jarum jam di dinding itu sudah menunjukan ke angka sepuluh.
"Iya. Kita tidur udah kayak kebo semua."
"Ya sudah, kita ambil penerbangan siang aja."
"Sayang banget uangnya."
"Ya sudah gak apa-apa, yang penting kita tidur nyenyak, kan? Dari pada entar salah satu dari kita drop lagi karena kelelahan."
"Iya sih, ya udah, deh. Sekarang aku lapar, cari makan, yuk."
Nisa melirik suaminya sebal. "Sekarang kamu jadi hobi banget ya mandi berdua?"
Seno terkekeh. "Ayo, Nis. Mau aku bukain bajunya?"
Nisa bangkit lalu melempar wajah Seno dengan bantal. "Aku bisa sendiri," ucapnya sambil ngeloyor ke kamar mandi.
"Nisa ... tungguin, dong." Seno beringsut dari tempat tidur, menyusul istrinya ke kamar mandi dengan semangat.
Setelah itu, tsunami lokal kembali terjadi. Seperti biasa, Nisa selalu kewalahan dibuatnya. Namun, dia sangat menyukainya. Dan ... selalu menginginkannya serta merindukannya.
***
Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta, Wisnu, supir pribadi keluarga Seno sudah menunggunya.
Ketika sedang memasukan koper ke bagasi mobil. Seseorang di kejauhan melihat mereka berdua. Dia ragu antara mau mendekat atau tidak, tetapi akhirnya dia pun mendekat juga.
"Nisa," sapanya.
Nisa dan Seno kompak menoleh.
"Mas Andi? Loh, Mas abis dari mana?" Nisa melihat Andi menenteng satu koper.
"Aku abis dari Singapore," kata Andi.
"Hah? Jangan-jangan kita satu pesawat tadi? Aku juga dari Singapore."
"Benarkah? Wah, kebetulan banget."
Mata Seno memicing. Saksama dia mengamati, lagi-lagi otaknya seperti menjalankan scanning, orang itu lagi, yang dulu pernah dilihatnya waktu Nisa ikut bersamanya meeting dengan klien di Siam's Spice. Feeling kuat Seno bekerja. Dan dia menangkap ada satu bahaya tengah mengintainya.
"Oh, iya, Mas, kenalin ini suamiku. Senopati," kata Nisa.
Seno langsung mengulurkan tangan dan tersenyum, namun senyuman itu tidak terlalu ramah.
"Andi," katanya sambil menyambut tangan itu. Setelah itu tatapannya langsung dia alihkan kembali pada Nisa, seolah enggan berlama-lama bertatapan dengan Seno.
"Nis, kapan-kapan main dong ke rumah."
"Aduh, gimana ya, aku bakalan sibuk banget kayanya, Mas. Kapan-kapan, deh, inshaAllah."
"Kamu kan emang selalu sibuk."
__ADS_1
"Hehehe, iya. Mas, salam buat Dara sama Mas Alan, ya."
"Iya, sip." Andi mengangkat ibu jarinya. "Aku duluan ya, Nis," ucap Andi sambil tersenyum hanya kepada Nisa. Setelah itu dia berlalu tanpa menatap Seno sedikit pun.
Mata Seno tak lepas mengamati, bahkan ketika Andi mengangkat ibu jarinya, dan tersenyum hanya kepada Nisa, ada gelombang yang tertangkap radarnya. Gelombang yang mengisyaratkan ketidakberesan, situasi tidak aman, dan Seno sangat tidak nyaman dibuatnya.
Wisnu menutup bagasi mobil setelah memastikan barang-barang majikannya sudah masuk dengan aman.
"Yuk, Mas, Mbak," ucap Wisnu membuyarkan segala pikiran dan feeling jelek Seno.
"Yuk, masuk, Sayang." Seno membuka pintu mobil untuk Nisa.
"Makasih, Sayang." Nisa masuk ke mobil diikuti Seno.
Setelah itu Wisnu membawa mereka ke kediaman orang tua Seno.
Setelah sampai, mereka langsung disambut hangat oleh orang tua, kakak dan kakak ipar.
"Haiii cantiiik." Seno membopong Jasmine, keponakan tersayangnya.
"Om kangen deh, sama kamu."
"Om, au engen aik ecaaaat," ucap gadis mungil berusia tiga tahun itu. Seno mengernyit tidak mengerti.
"Apa?"
"Aik ecaaaaaat," seru Jasmine kesal.
Seno melirik kakak iparnya meminta penjelasan. Santi, kakak ipar Seno terkekeh. "Naik pesawat," ucapnya.
"Astaga, aik ecaaaat. Oke-oke nanti aik ecaaat ya, Sayang."
"Jasmine protes kagak diajak ke Manchester itu," seru Agam, kakaknya Seno.
Seno mencium pipi gadis mungil itu. "Maafin, Om, ya. Nanti kapan-kapan Om ajak Jasmine aik ecaaaat, oke?"
Seno mengajak Jasmine tos. Tangan mungil Jasmine menepuk tangan Seno pelan.
"Au au albie," ucap Jasmine lagi. Seno kembali mengernyit dan kembali menatap Santi.
"Aku mau Barbie, Om," kata Santi.
"Hah?" Seno melirik Nisa panik, dia lupa membeli oleh-oleh untuk keponakannya itu.
Nisa menghampiri Seno, untuk memberi pengertian pada Jasmine.
"Jasmine mau Barbie, ya?" ucap Nisa. Jasmine mengangguk.
"Gimana kalau besok kita beli ke mall? Di Swiss enggak ada Barbie, Sayang. Mau, ya, besok pergi sama Tante?"
"Auuu," seru Jasmine.
"Mau katanya," ucap Santi sambil terkekeh.
Seno dan Nisa menghela napas lega.
"Kalian tuh ya, dasar. Bulan madu sampe enggak inget sama apapun, hadeuh," protes Agam. Nisa dan Seno meringis.
"Sudah-sudah, ayo kita makan es buah, Mama udah nyiapin es buah dari tadi untuk menyambut kalian," ucap Nurul.
"Makasih, Ma," kata Nisa.
Nurul, Nisa dan Santi pergi ke dapur, sekarang di ruang tengah tinggal ada Seno, Agam dan Papa Seno.
"Sen, kamu udah praktekan tips dari Papa?"
"Hah?" Wajah Seno memerah mendengar pertanyaan dari papanya.
"Tips apaan, tuh?" tanya Agam sambil mengambil alih Jasmine dari gendongan Seno.
"Papa nih, aneh-aneh aja, Mas," ucap Seno pada Agam.
"Masa dia ngasih tips-tips posisi senggama biar dapet anak cowok."
Agam tergelak-gelak. "Jangan heran, dulu juga ke gue gitu. Sekarang giliran elo deh. Hahaha, tapi lo harus berhasil, ya, jangan kek gue."
"Apaan, sih! Mas aja ngasih adek cowok buat Jasmine. Jasmine ... kamu mau enggak punya adek cowok?"
"Nggaaaak!" seru Jasmine.
Agam dan Papanya Seno terkikik-kikik. "Mau adek dari Om Seno sama Tante Nisa aja, ya, Sayang?" ujar Agam.
"Iya." Jasmine senyum-senyum pada Seno.
Seno mengangkat kedua alisnya sambil garuk-garuk kepala walau enggak gatal.
***
__ADS_1