Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 62


__ADS_3

Nurul memandang menantunya yang sedang memakan serabi buatannya dengan lahap di meja makan. Bibirnya sedikit tersungging ke pipi. Ada rasa puas dan senang serabi buatannya dilahap sampai tandas oleh Nisa.


"Mama emang paling juara deh kalau urusan masak. Aku beruntung banget bisa dimasakain kayak gini sama Mama. Makasih, ya, Ma," tutur Nisa seraya senyum-senyum malu sekaligus senang.


"Sama-sama, Nis. Mama juga seneng bisa bikinin kamu serabi gini. Tapi, kok kamu ujug-ujug pengen serabi, sih?"


"Sebenarnya dari kemarin-kemarin aku kepengen banget makan ini, Ma, tapi enggak sempet nyari aja. Pagi ini aku sama Mas Seno muter-muter keliling Jakarta enggak nemu. Ya ... terpaksa deh aku minta tolong sama Mama buat dibikinin."


"Kalau kamu kepengen sesuatu, tapi enggak nemu, bilang aja sama Mama nanti mama buatin."


Wajah Nisa langsung semringah. "Wuaaah serius, Ma? Makasih ya, Ma ...." Nisa sungguh merasa beruntung punya mertua seperti mamanya Seno. Walaupun dia agak bawel, tapi perhatiannya juara banget, sampai ngalahin ibu kandungnya sendiri.


"Mama juga di rumah enggak ada kerjaan ini. Kalau bosan di rumah biasanya Mama nemuin Jasmin, atau kalau enggak ngurusin taneman."


"Bentar lagi mama bakal enggak kesepian lagi karena cucunya bakal nambah." Seno tiba-tiba menyambar obrolan Nisa dan Nurul setelah dari kamar mandi. Kedua wanita di meja makan menoleh kompak ke sumber suara.


"Beneran, Nis?" Nurul tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Wajahnya serta-merta semringah, bibirnya yang terpoles lipstik pink nude merekah lebar ke pipinya yang chubby.


Nisa mengangguk. "Iya, Ma ... Alhamdulillah setelah menanti hampir satu tahun, akhirnya Allah ngasih amanah ini ke aku sama Mas Seno."


"Ya Allah ... Nisaaa." Nurul bangkit dari duduknya lalu memeluk menantunya itu dengan erat. Seno yang melihat itu tersenyum haru.


"Kamu jaga kesehatan ya, Nak. Jaga baik-baik amanah ini. Doa mama buat kalian akan dikencengin lagi mulai sekarang."


Nisa mengangguk dalam pelukan Nurul dengan mata berkaca-kaca. Adakah orang yang seberuntung dirinya mempunyai ibu mertua seperti ibunya Seno? Kebanyakan hubungan mertua-menantu tidak akur, dan itu kadang menjadi penyebab hancurnya rumah tangga. Makanya Nisa merasa jadi wanita paling beruntung sedunia memiliki mertua sebaik orang tuanya Seno.


"Makasih, Ma ... aku akan mematuhi semua perintah dan wejangan-wejangan Mama."


Nurul melepas pelukannya. Sekarang Nisa melihat di kedua manik mata ibu mertuanya itu ada kaca-kaca. "Mama senang banget ini. Sayangnya Papa kamu lagi ke Solo, dia enggak langsung mendengar kabar membahagiakan ini."


Seno duduk di samping Nisa. "Papa kapan pulang, Ma?" tanya Seno.


"Besok pakai pesawat pagi."


"Jangan dikasih tau dulu dia, biar surprise." Seno terkekeh.


"Ish, jangan gitu kamu mah!" Nisa memukul pelan lengan kekar Seno. "Papa tuh, udah enggak sabar banget denger kabar ini dari dulu."


"Tau tuh Seno." Nurul membenarkan. Seno nunduk sambil garuk-garuk kepala walau tidak gatal.


"Sen, Pak Wisnu mulai hari ini ikut kamu aja ya, biar setiap hari Nisa diantar jemput sama supir. Mama khawatir kalau Nisa ke kantor naik ojek online atau malah nyetir sendiri."


Nisa dan Seno saling pandang memertimbangkan. "Gimana? Lagian Papa kamu kan sekarang udah jarang ke mana-mana. Pak Wisnu jadi sering nganggur."

__ADS_1


"Terus entar kalau Mama atau Papa mau keluar dianter siapa, dong?"


"Gampang itu sih. Nisa, yang penting sekarang."


Seno terdiam sesaat berpikir. "Ya udah, deh. Sayang, kalau pakai supir, nanti kamu ke kantor pake mobil Mas aja, biar Mas pake mobil kamu."


"Serius? Tapi kan mobilku cewek banget, Mas, hehe."


Seno kembali garuk-garuk kepala. Benar juga, pikirnya. Dia jadi bingung sendiri. Seno enggak pede ke kantor pake mobil mungil dengan warna merah mentereng.


"Buat sementara engga apa-apa deh. Nanti mobil kamu mau Mas tuker ke mobil yang pantes buat dipake sama CEO," tuturnya dengan alis turun naik, membanggakan diri.


"Jangaaaan! Enak aja! Itu mobil penuh kenangan, Mas. Itu aku dapetin dari hasil kerja kerasku. Kamu kan tau sendiri gimana bangganya aku pas abis beli mobil itu. Kalau mau, beli sendiri aja. Jangan korbanin si merahku."


"Hehe iya, deh, maaf ya sayang, Mas lupa."


Nisa cemberut sebal. Nurul geleng-geleng kepala, dia prihatin sendiri, kenapa putranya sampai melupakan barang-barang kesayangan istrinya sendiri?


***


"Sen, kalau ngerasa mual-mual itu pas bulan ke berapa, ya? Kok aku enggak ngerasa mual sedikit pun, ya?"


"Ya mana aku tau, aku kan enggak pernah ngerasain hamil, Sayang."


Nisa tergelak. "Boong, dulu kan kamu hamil."


Nisa masih tergelak-gelak sambil menahan perutnya. "Sen, gendutin lagi dong perut kamu, seksi tauk."


"Diem!"


"Hahaha. By the way, besok sore kita periksain yuk ke dokter rekomendasinya Lala lagi."


Seno mengigit bibir mengingat-ingat barang kali ada janji dengan klien atau tidak. Ah, iya ada, pekiknya dalam hati.


"Nis, besok sore aku ada janji buat presentasi final sama perusahaan smartphone."


"Yah, kamu enggak bisa, dong?"


"Maaf ya. Gimana kalau besoknya lagi?"


Bola mata Nisa melirik ke atas. "Mmmm, oke, deh. Tapi beneran bisa kan?"


"Iya Sayang, InshaAllah."

__ADS_1


***


Rabu sore, Nisa dan Seno sudah berada di ruangan dokter Obgyn yang direkomendasikan Lala. Dokternya perempuan, jadi Nisa enggak ngerasa canggung diperiksa atau konsultasi padanya.


"Nah, lihat ke sini," ucap dokter yang berhijab itu. Nisa dan Seno melihat ke layar komputer. "Tuh, ruang buat dedek bayinya sudah ada. Janinnya belum kelihatan banget karena masih sebesar kacang. Tapi inshaAllah sehat. Pada perkembangan kehamilan enam minggu ini, bayi sudah berukuran 2-5 mm dari puncak kepala hingga bokong. Saat ibu hamil enam minggu, otak dan sistem saraf janin berkembang sangat cepat. Perkembangan matanya pun sudah mulai terbentuk. Karena usia kandungan masih sangat muda, jadi masih rawan. Mbak Nisa harus jaga banget. Stress juga harus dikontrol ya,"


"Itu ngaruh dokter?"


"Ngaruh banget," ucap dokter seraya tersenyum.


"Jenis kelaminnya belum kelihatan ya, Dok?" tanya Seno polos. Dokter tergelak mendengar Seno bertanya seperti itu. "Ya jelas belum terlihat, Pak. Nanti inshaAllah usia kandungan empat bulan baru bisa terlihat."


"Saya enggak sabar pengen tau dia cowok apa cewek, Dok, maaf ya, hehe."


"Sabar, ya, Pak." Dokter tersenyum geli.


"Suami saya emang suka aneh, Dok, harap maklum, ya." Dokter kembali tergelak. Setelah selesai USG, Nisa dan Seno duduk di depan meja dokter.


"Peran suami pun harus ada di kehamilan istri ini. Kalau istri tiba-tiba emosinya naik turun, manja, atau bad mood gak jelas harap dimaklumi. Semuanya dikarenakan perubahan hormon yang sangat signifikan. Hormon apa aja itu? Yang pertama ada HCG atau Human Chorionic Gonadotropin, hormon ini adalah kunci selama kehamilan. Ini diproduksi oleh apa yang akhirnya menjadi plasenta. Pekerjaan dasar HCG itu memberi tahu tubuh wanita bahwa ada bentuk kehidupan yang tumbuh di rahimnya dan tubuhnya perlu membangun sarang untuk itu. Wanita dengan kadar HCG yang lebih tinggi biasanya sering mengalami lebih banyak mual dan muntah."


"Dokter saya, kok, enggak ngalamin mual dan muntah ya?"


"Itu malah lebih baik, Mbak bisa makan makanan apa pun yang dimau, asalkan sehat, ya."


"Oh, gitu. Iya, Dok."


"Lalu ada hormon Estrogen dan Progesteron. Kedua hormon ini perannya hampir mirip, dibuat pada awal kehamilan oleh kista pada ovarium yang disebut corpus luteum. Corpus luteum terus memproduksi hormon ini hingga sekitar 10 minggu, ketika produksinya diambil alih oleh plasenta. Progesteron melemaskan semua otot polos yang paling penting, dinding otot rahim atau rahim di dalam tubuh. Ini juga menyebabkan relaksasi pembuluh darah ke seluruh tubuh. Hormon inilah yang mendorong tekanan darah lebih rendah dari biasanya, yang menyebabkan kadang-kadang ibu ngerasa pusing, serta gejala gastrointestinal seperti mulas, refluks, sendawa, mual, muntah, bahkan sembelit. Progesteron membuat otot rahim tetap rileks dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta membantu menoleransi adanya DNA asing. Sedangkan Esrtrogen mempersiapkan payudara untuk produksi ASI dengan memperbesar saluran ASI. Sebenarnya masih banyak hormon yang memengaruhi ibu yang mengandung, tapi nanti kalian dengernya bosen."


"Enggak apa-apa, Dok, biar saya tau," tutur Seno. Dokter terkekeh. "Mungkin lain kali akan saya jelaskan lebih lengkap lagi ya, Pak. Pokoknya Mbak Nisa jangan terlalu kecapean dan stress, ya, nanti saya kasih vitamin biar ibu dan janinnya sehat."


"Iya, Dokter, terima kasih, ya."


***


Baru kemarin sore dokter menyuruh Nisa jangan kecapean, tapi pagi ini dia mendapat kabar bahwa harus pergi ke Bangkok buat menghadiri penghargaan pencapaian atas kerja kerasnya selama ini. Tidak semua Tim Marketing dapat, Nisa salah satunya yang dapat, dan itu sangat membanggakan untuk Indonesia, khususnya untuk diri Nisa sendiri, karena dialah ketua Tim Marketing untuk cabang Indonesia.


Bahkan Singapore dan Malaysia tidak dapat. Nisa sungguh tidak percaya dengan pencapaian yang diraihnya itu. Dia tidak tahu lagi harus mengekspresikannya gimana. Ini terlalu menyenangkan. Setelah pulang kerja, Nisa bersama bawahannya menggelar syukuran kecil-kecilan di sebuah kafe. Menurutnya keberhasilan yang diraihnya selama ini, tak lepas dari mereka serta tim dari cabang kota lain yang sudah bekerja keras untuk perusahaan.


"Selamat buat Bos kita ...." Hendra mengangkat gelas berisi minuman soda untuk bersulang. Semuanya berdiri, bersulang.


"Makasih ... makasih banyak buat kalian semua sudah bekerja keras sama aku. Sumpah aku enggak nyangka banget bisa dapet penghargaan ini. Ini semua berkat kalian juga. Pokoknya malam ini kalian silakan makan sepuasnya, kita happy-happy pokoknya."


"Yeeeaaayyy." Ucapan Nisa disambut sorakan senang bawahannya.

__ADS_1


Setelah bersenang-senang selama dua jam di kafe, Nisa pun pulang dijemput Pak Wisnu yang sudah mulai bekerja pada Seno. Di dalam mobil, Nisa tercenung. Dia belum memberitahu Seno tentang rencananya pergi ke Bangkok. Dia takut Seno tak mengizinkannya pergi. Sepanjang perjalanan pulang Nisa terus berdoa semoga Seno mengizinkan. Namun, mau tidak mau Seno harus mengizinkan karena ini acara penting banget untuk Nisa.


***


__ADS_2