
Berkat obat dari Seno sekarang Nisa sudah baikan. Biji kedondong di tenggorokannya perlahan hilang, dan demamnya pun sudah minggat dari badannya. Dua hari ini Nisa sangat sibuk dengan acara anniversary perusahaan, berangkat pagi pulang malam. Acara ini memang semi formal. Semua pimpinan dan ketua tim hadir. Dari pagi sampai sore acaranya membahas tentang inovasi produk baru dengan bahan yang semakin nyaman untuk dipakai dan tentunya berkualitas. Lalu malamnya dilanjutkan dengan party bersama.
Setelah acara kantor selesai, waktunya Nisa dan yang lainnya jalan-jalan sebelum besok pulang ke Jakarta. Dan rencananya sekarang Nisa akan berkunjung ke Manchester menemui Seno.
Nisa menuju Euston Station. Dari tempatnya menginap kurang lebih 15 menit yang bisa ditempuh dengan bus. Jadwal keberangkatan kereta masih ada 30 menit. Untuk mengisi waktu, Nisa memutuskan jalan-jalan dulu di sekitar stasiun.
Stasiun ini adalah salah satu stasiun tersibuk dan stasiun antar kota yang pertama dibuka di London. Di pintu masuk akan disambut oleh patung perunggu Robert Stephenson seorang insinyur kereta api terkenal.
Nisa mendengarkan musik dengan headset, ia berjalan dari toko satu ke toko yang lain sambil mengamati masyarakat kota. Fasilitas stasiun ini pun sangat lengkap, cafe-cafe, toko yang menjual beragam, hingga perpustakaan. Jadi tidak akan bosan walaupun menunggu lama.
Nisa mengerjap tiba-tiba ada pesan dari Seno.
"Nis, hati-hati, ya. Gue nunggu di stasiun. Awas jangan ngelirik cowok cakep di jalan, karena gue akuin cowok di sini cakep-cakep." Nisa menyeringai sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Beberapa saat kemudian Nisa masuk ke kereta lalu meluncur ke kota Manchester. Kurang lebih dua jam perjalanan, Nisa pun sampai di Manchester Piccadilly Station.
Manchester Piccadilly adalah stasiun besar di kota Manchester. Hampir seluruh kereta antar kota berhenti di stasiun ini. Fasilitasnya tergolong sangat lengkap dengan banyaknya toko penjual makanan dan juga kios-kios. Tak jauh dari stasiun, pengunjung akan menemukan deretan pertokoan dan juga akses bus menuju berbagai tempat di dalam kota.
Nisa turun dari kereta sambil membenarkan posisi tali ransel kecilnya. Setelah itu mengeluarkan ponsel di saku celana jeans, sementara tangan yang lain mencopot headset di telinganya.
Di kejauhan Seno sudah melihat Nisa turun dari kereta, namun gadis itu belum melihatnya. Seno tidak langsung memanggil atau pun menghampiri. Laki-laki itu hanya diam sambil memandang haru wanita yang sangat dicintainya sekarang memijakan kaki di kota yang sama dengannya. Ia tidak menyangka sama sekali hal ini bisa terjadi. Tangan Tuhan telah mengatur sedemikian rupa untuk dirinya dan Nisa bersama dengan hati yang saling terpaut. Bukankah ini ajaib?
Nisa berdiri di tengah-tengah orang yang berlalu lalang sambil memegang ponsel, sepertinya ia sedang mengetik pesan pada Seno.
Seno melihat gadis itu sangat berbeda. Aura kecantikannya sangat terpancar dibanding dengan wanita-wanita yang berdiri tidak jauh darinya. Hati Seno bertekuk lutut, sampai merasa kakinya lemas. Nisa begitu sempurna di matanya. Terlebih jika melihat Nisa senyum dengan sorot mata berbinar kepadanya, dalam hitungan detik Seno sudah terpesona.
Sekarang Nisa terlihat membelakangi Seno, ia pun berjalan menghampiri Nisa.
"Hei ...." Seno berseru pelan setelah tepat berada di belakang Nisa. Gadis itu menoleh lalu langsung meluncurkan senyumnya. Dan hati Seno yang dari tadi sudah meleleh, sekarang mungkin sudah mencair.
"Gue udah ngirim pesan dari tadi." Nisa berujar.
"Oh gitu, ya udah yuk," sahut Seno sambil mengulurkan tangannya untuk Nisa pegang, tapi Nisa malah bergeming menatap tangan Seno di sampingnya. Ia masih merasa malu dan canggung dengan status mereka sekarang yang berubah menjadi sepasang kekasih.
"Ayo ...." Seno berucap lagi. Perlahan sekali Nisa meraih tangan Seno. Lalu rasa hangat dari telapak tangan Seno langsung menjalari seluruh tubuhnya. Sedetik kemudian dada Nisa berdegup kencang sampai ia susah untuk mengendalikan diri.
Seno langsung menggenggam erat tangan Nisa menuntunnya menuju bus yang akan membawanya ke apartemen.
***
Mata Nisa berkeliling melihat apartemen Seno yang tidak terlalu luas. Hanya ada ruang tengah sekaligus ruang tamu, dua kamar, dan dapur dengan satu kamar mandi. Tidak banyak barang di sana. Di ruang tengah hanya ada satu set sofa, televisi, dan penghangat ruangan. Di dapur ada kitchen set yang sederhana dan kulkas.
"Oh, jadi ini apartemennya seorang mahasiswa S2 Terapan Advertising di Manchester. Lumayan." Nisa mendengikan bahu.
Kemarin saat bertemu pertama kali, Nisa memaksa ingin berkunjung ke Manchester dan melihat-lihat apartemen dan kampusnya Seno. Seno sudah mengajak Nisa berkeliling Inggris karena di negara ini banyak sekali tempat yang bagus untuk dikunjungi. Seperti Buckingham Palace alias tempat tinggal Sang Ratu, London Eye alias kincir angin raksasa untuk melihat pemandangan seluruh kota London di ketinggian, atau naik kapal pesiar di sungai Thames untuk melihat kemegahan kota London. Namun, gadis itu malah ngotot ingin ke Manchester.
"Kenapa, jelek ya?"
"Enggak. Bagus, kok. Lo betah tinggal di sini?"
"Ya ... kalau boleh jujur sih, enggak," jawab Seno.
"Loh, kenapa?"
"Karena elo enggak ada di sini. Setiap hari gue rindu sama lo, bahkan saat tidur pun gue rindu sama lo, Nis." Wajah Nisa langsung bersemu merah.
"Gombal terus ...."
"Ya udah kalau gak percaya. Oh iya, lo mau minum apa?" ujar Seno sambil berlalu ke dapur.
"Apa aja."
Sesaat kemudian Seno datang dengan dua minuman soda dalam kaleng. Dan memberikannya satu pada Nisa.
"Makasih, ya. Oh iya, bukannya lo punya sepupu di sini?"
"Iya. Kayaknya dia lagi sibuk, jadi enggak ke sini. Biasanya kalau weekend dia suka datang buat numpang hidup sama gue. Ngomong-ngomong, apa dulu Niken pernah bilang sesuatu sama lo?"
Nisa tersenyum lalu berucap, "Bilang kalau lo cinta sama gue?" Seno tersenyum malu.
"Iya itu," katanya sambil mengusap tengkuknya.
"Lo tau gak? Saat Niken bilang begitu, gue lagi di kereta mau pulang ke Sukabumi buat lamaran. Saat itu juga rasanya gue pengen turun dari kereta dan lari pulang ke apartemen. Tapi mau gimana lagi, mungkin ini sudah jalannya dari Tuhan. Gue nangis sepanjang perjalanan, sampai-sampai si Angga bingung harus gimana nenangin gue."
Seno meletakan minumannya di meja lalu meraih tangan Nisa.
"Maafin gue, Nis. Si Seno emang payah!" Seno menjitak kepalanya sendiri. Nisa menyeringai.
__ADS_1
"Nisa ... tungguin gue satu tahun lagi. Gue mohon lo jangan pernah berpaling sedikit pun. Karena gue tahu saingan gue banyak banget apalagi mereka tahu sekarang lo single. Setelah lulus, gue mau langsung ke Sukabumi nemuin ayah sama ibu lo. Gue__" Seno menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya, "Gue mau nikahin elo," ucapnya tegas.
Mata Nisa langsung berkaca-kaca. Ia bisa melihat kesungguhan dari mata Seno kalau pria itu benar-benar mencintainya dan serius menginginkannya untuk jadi istri.
"Iya ... gue pasti nunggu elo, Sen. Satu tahun bukan waktu yang lama, kan?"
"Makasih, ya ...."
Perlahan Seno mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nisa, lalu mendekap Nisa dalam pelukannya. Rupanya kelenjar air mata di mata Nisa bekerja dengan kuat sehingga bulir-bulir bening dari matanya membasahi kaus Seno.
Seno melepas pelukannya lalu mengusap pipi Nisa yang basah. Lalu entah ada setan apa yang merasuki dada Seno sehingga pria itu perlahan sekali merunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Dan beberapa detik kemudian bibir Seno sudah menempel ke bibir Nisa.
Nisa melihat wajah Seno semakin mendekat dan napas pria itu terasa hangat di wajahnya. Entah ada dorongan apa yang membuatnya tiba-tiba memejamkan mata.
Dalam keheningan mereka berciuman. Satu menit ... satu menit lebih ....
Lalu tiba-tiba ponsel Seno berbunyi. Mereka tersentak lalu saling menjauh.
Dengan gugup Seno mengambil ponsel di saku celananya melihat siapa pengirim pesan itu. Ternyata dari Niken yang cuma menanyakan hal yang tidak penting.
"Ini dari Niken," sahut Seno sambil melirik Nisa malu.
Beberapa saat mereka bergeming, mengendalikan debaran hebat yang membuncah di dada masing-masing.
"Nis, sori tadi__"
"Ini ciuman pertama gue!" Nisa berseru memotong ucapan Seno. Sontak Seno mendelik kaget. "Hah? Jangan bercanda, ah!"
"Terserah elo mau percaya atau enggak. Yang jelas selama gue hidup, gue baru pertama kali melakukan ciuman. Barusan, sama lo." Nisa berkata dengan merundukan kepala.
"Tapi__lo udah nikah," sahut Seno.
"Iya, lo benar. Gue janda, tapi seluruh badan gue masih suci. Viko belum nyentuh gue sedikit pun kecuali kening gue. Waktu pacaran dulu pun, Viko enggak pernah sekali pun nyium gue. Waktu sekolah, pacaran kita cuma di perpus baca buku bareng, sama makan bersama di kantin. Setiap malam minggu kita tidak pernah keluar karena ayah ketat banget, enggak ngebolehin gue keluar malam, apalagi sama cowok."
Seno manatap Nisa tidak percaya.
"Jadi, lo masih ...." Seno bahkan sampai tidak bisa melanjutkan ucapannya karena syok. Nisa mengangguk. Lalu perlahan Seno tersenyum.
"Gue malu sama lo, Nis. Lo udah nikah tapi masih perawan. Sedangkan gue__"
Nisa memonyongkan bibirnya. "Hmm, gombal lagi."
Seno menjawil pipi Nisa dengan gemas. "Gue masih perjaka, Nis." Akhirnya Seno berucap dengan mimik muka serius.
"Iya-iya deh, gue percaya sama lo," ucap Nisa sambil senyum-senyum.
"Kok, ada 'deh' nya?"
"Astaga, iya gue percaya sama lo, oke?" Sekarang Seno menyeringai lega.
"Even though I'm not your first love, but I want to be your true love forever. Second love to be true love forever." Seno berucap sambil mengelus punggung tangan Nisa dengan lembut.
***
Kejadian demi kejadian sebelum mereka bertemu di Singapore itu memang sudah jalannya dari Tuhan. Di dunia ini konsep kebetulan itu tidak ada, namun semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan.
Memang perih dan berat terlebih untuk Nisa, tapi bukankah dari setiap kesabaran akan membuahkan hasil? Mungkin itu cara Tuhan untuk mendewasakan Nisa.
Setiap helaan napas yang berhembus, keringat yang mengucur, dan air mata yang jatuh, Nisa jalani kehidupan ini dengan kuat. Sekarang ia hanya ingin bahagia dan melepaskan segala bayang-bayang masa lalunya yang menyakitkan. Bukankah Viko menuliskan seperti itu di suratnya?
Sekarang, bolehkah Nisa melakukannya? Seno menawarkan kebahagiaan untuknya, dan Nisa ingin meraihnya.
Pria itu datang bak malaikat penjaga, selalu ada saat senang dan sedih tanpa absen sekali pun. Nisa ingin dia selalu ada untuknya hingga nanti. Membangun lagi kebahagiaan dari awal berdua, walaupun nanti di depan ada rintangan dan cobaan, tapi Nisa ingin kali ini tidak ada lagi air mata.
"Hati-hati Nis. Tungguin gue di Jakarta," sahut Seno sebelum Nisa chek in. Nisa mengangguk, lalu perlahan masuk sambil menyeret kopernya. Hari ini Nisa kembali ke Jakarta, Nadya dan pimpinannya sudah pulang duluan tadi pagi, Nisa pulang dengan pesawat yang lain sore hari. Itu karena ia masih ingin bersama Seno sedikit lebih lama.
Saat Nisa masih di ambang pintu, Seno berseru, "Nisa ...." Nisa menoleh, lalu dalam sekejap ia sudah mendapati tubuhnya berada dalam pelukan Seno.
"Sen, lepasin gue! Malu tau." Nisa berusaha melepaskan diri, namun pelukan Seno terlalu kuat.
"Bodo! Mereka enggak kenal kita ini." Seno berkata di telinga Nisa. Setelah beberapa lama, Seno pun melepaskan pelukannya.
"Inget pesen gue!"
"Pesen yang mana?" Nisa pura-pura lupa.
"Astaga, lo ini emang kebangetan. Pesen gue, lo enggak boleh berpaling dari gue sedikit pun!"
__ADS_1
"Oh itu. Iya-iya gue udah denger lo bilang itu lebih dari dua puluh kali dari kemarin."
Seno menyeringai. "Gak nyangka lo ngitungin."
"Udah ah, gue cabut. Ntar ketinggalan pesawat lagi," cetus Nisa.
"Ya udah sono. Jangan lupa kabarin kalau udah nyampe, oke?"
"Iye ...." Perlahan Nisa melangkah mundur, namun baru beberapa langkah ia maju lagi ke hadapan Seno.
"Cepet lulus, terus nikahin gue!"
"Pasti."
Sekarang Nisa telah benar-benar pergi. Ia berjalan menunduk sambil menatap sepatunya sendiri.
"Sekarang aja gue udah kangen sama lo, Sen. Gamana nanti?" Nisa mengusap matanya yang berair.
***
Nisa berjalan cepat memecah genangan air hujan di tanah. Sepatu tepleknya yang berbahan beludru basah tapi tidak ia hiraukan. Sesekali ia melirik Seiko di pergelangan tangannya.
"Ya ampun gue telat-ya ampun gue telat." Nisa terus mengucapkan kalimat itu seperti merafalkan doa.
Selang lima belas menit ia berdiri di depan pintu kaca tebal dengan tulisan, "Bride House" perlahan Nisa membuka pintu kaca itu. Lalu seorang wanita berumur enam puluh tahunan langsung menoleh ketika Nisa datang.
"Nisa ... kamu sibuk banget ya, di kantor?" tanya wanita itu.
Wanita itu amat sangat menyayangi Nisa, wajahnya serupa dengan Seno tapi versi perempuan. Kerutan di wajahnya memang terlihat jelas, namun itu tidak memudarkan kecantikannya sedikit pun.
"Iya, Tante. Maaf ya, hari ini aku terpaksa kerja luar, soalnya asistenku tiba-tiba ada urusan mendesak," sahut Nisa dengan mimik menyesal.
"Eh, kok tante sih? Mama aja dong manggilnya, sebentar lagikan kamu jadi anaknya mama juga." Nisa tersenyum lalu mengangguk segan.
"Ya udah yuk ke atas, Bu Aneu sudah menunggu dari tadi."
Malam ini Nisa akan fitting baju pengantin diantar calon mertuanya alias ibunya Seno.
Saat liburan akademik yang berbarengan dengan idul fitri beberapa bulan kemarin, Seno telah resmi melamar Nisa. Mumpung pulang ke Indonesia, Seno tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengutarakan keinginannya itu pada orang tuanya.
Orang tua Seno sangat terkejut sekaligus senang dengan keputusan yang sangat mendadak itu. Lalu dengan persiapan seadanya seluruh keluarga Seno dari Jakarta dan beberapa dari Solo berangkat ke Sukabumi untuk meminta Nisa pada orang tuanya. Semuanya dilancarkan, semuanya dimudahkan.
Dan beberapa bulan lagi Nisa akan menikah dengan Seno setelah lulus. Bukankah Tuhan menyatukan mereka dengan cara yang sangat unik? Nisa harus melewati jalanan yang berkelok-kelok, naik turun, dan berbatu untuk sampai pada jalanan mulus beraspal bagus.
Nisa mematut diri di cermin dengan kebaya putih nan indah yang akan ia kenakan saat akad nikah nanti. Sementara asisten Aneu meneliti apakah ada yang harus diperbaiki.
"Sepertinya bagian ini harus dikecilkan sedikit," ujar asisten Aneu sambil memasangkan jarum pentul di bagian lengan.
Nisa mengangguk setuju. Nisa melihat calon ibu mertuanya menatapnya di cermin dengan takjub. "Kamu cantik banget, deh," katanya. Nisa menunduk malu.
"Iya. Seno beruntung banget ya, Bu. Punya calon istri cantik begini," ucap Aneu yang tengah duduk di meja kerjanya. Hidung Nisa serasa kembang kempis mendengar pujian-pujian itu.
"Duh ... aku malu." Nisa berucap sambil menutup muka. Semua orang di sana tertawa.
"Baju untuk resepsi sepertinya belum bisa di fitting malam ini. Mungkin minggu depan," sahut Aneu.
"Oh gitu. Ya udah, enggak apa-apa."
"Gimana, kamu suka enggak sama bajunya?"
"Suka banget, terima kasih ya, Bu." Nisa menjawab sambil meluncurkan senyum tulusnya pada Aneu.
***
Setelah fitting selesai, Nisa diantar pulang ke apartemen oleh supir keluarga Seno yang sebelumnya mengantar calon ibu mertuanya dulu ke rumah.
Hari ini sangat melelahkan, tapi rasa lelah itu tidak begitu terasa kerena Nisa bahagia.
Nisa menghempaskan diri ke kasur, lalu ekor matanya menangkap novel "DANISA" di atas bantal. Seperti prediksi Brian, novel itu memang telah menjadi best seller. Bahkan sudah cetak ulang untuk ke tiga kalinya sejak launching. Kemarin Brian mengatakan novel itu sudah terjual lebih dari tiga puluh ribu eksemplar. Dan kemungkinan ini masih terus bertambah. Wow, itu angka yang sangat fantastis untuk sebuah buku fiksi. Sekarang Nisa tahu bagaimana Viko sangat kaya dari buku-bukunya itu.
Royalti novel itu memang masuk ke rekening bank Nisa, namun setelah itu Nisa langsung mentransfernya ke ibunya Viko untuk disumbangkan ke fakir miskin dan anak yatim. Awalnya Mia tidak setuju dengan ide Nisa itu, namun pada akhirnya Mia setuju, apalagi sekarang Mia tahu Nisa akan menikah lagi.
Nisa meraih novel itu lalu mendekapnya di dada, hingga ia tertidur.
***
Horeeee akhirnya udah nyampe part24. Tadinya aku mau selesakan sampe part 24, tp aku putuskan buat kasih bonus 1 part+epilog. Biar Seno lovers seneng .
__ADS_1