
Rita meletakan beberapa kebaya di tempat tidur untuk Nisa pakai saat lamaran nanti malam. Pandangan Rita tertuju pada pintu kamar mandi yang tertutup. "Nisa ... kamu di dalam?" sahut Rita.
"Iya Bu ... aku lagi mandi," jawab Nisa.
"Oh ... Nis, ini kebaya dari Bu Sarah sudah datang. Pilih yang kamu suka, ya ... biar nanti sisanya bisa langsung dikembalikan."
"Iya Bu, nanti aku pilih."
Rita melirik jam di dinding, sudah jam 4 sore, tapi sampai saat ini masih ada beberapa yang belum ia persiapkan. Rita bergegas keluar dari kamar Nisa.
Di dalam kamar mandi, Nisa hanya duduk diam sambil memeluk lutut dengan shower yang ia biarkan menyala mengguyur kepalanya. Ia masih meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang ia lakukan sekarang adalah benar. Nisa tidak bisa menyakiti Viko. Selama ini pria itu sudah sangat menderita. Tidak kunjung mendapat jantung baru saja sudah membuat Viko sedih, apalagi kalau Viko tahu Nisa tidak mencintainya dan ingin membatalkan lamaran ini?
Di tempat lain, Viko tengah berdiri di depan cermin besar. Ia sedikit memiringkan kepalanya melihat tubuhnya sendiri di cermin yang semakin kurus, kantung matanya juga semakin cekung dan hitam.
Dada Viko sesak malihat perubahan itu. Sekarang tidak ada lagi tubuh yang segar seperti dulu.
'God ... tolong sembuhkan aku. Aku ingin membahagiakan Nisa,' ratap Viko dalam hati.
Viko melepas jas yang sedang ia coba lalu memilih setelan jas yang lebih kecil agar terlihat pas di tubuhnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Seseorang mengetuk pintu kamar Viko.
"Masuk ...," seru Viko. Yang datang Mia, ibunya Viko, sambil membawa beberapa obat yang harus Viko minum.
"Waktunya minum obat?" tanya Viko.
"Iya ... saat lamaran, kamu enggak boleh tiba-tiba pingsan, bukan?" Mia meletakan nampan berisi obat dan segelas air ke atas nakas lantas menatap anak sulungnya itu dengan mata haru.
"Kamu bahagia?" tanya Mia. Viko mengangguk sambil tersenyum.
"Mama senang akhirnya kamu akan menikah. Dan semoga saja setelah kamu menikah ada keajaiban terjadi, tiba-tiba dokter Vanesh telefon jantung baru buat kamu sudah tersedia."
"Amin ... semoga itu terjadi. Viko mau sembuh, Ma ...."
Mia mengangguk dengan mata berkaca.
"Lihat, anak mama sangat tampan dengan jas ini." Mia berkata sambil menatap Viko di cermin.
"Dari lahir anak mama yang satu ini udah ganteng, kan." Viko menyeringai. Mia mengusap-usap lengan pria tampan itu sambil tersenyum hangat.
🌸🌸🌸
Pandangan Viko terus menatap lurus pada seorang gadis di hadapannya yang dari tadi hanya menunduk sambil sesekali mengulum senyum. Viko bersumpah, tidak ada perempuan secantik dia di dunia ini, dan satu-satunya perempuan yang ia cintai dari berumur empat belas tahun.
Perempuan itu bernama Danisa Alia.
Sesepuh dari keluarga Viko sedang beramah tamah dengan keluarga besar Nisa. Sekarang lamaran sedang berlangsung. Semua orang berbahagia. Kecuali Nisa__dan mungkin orang tua Nisa juga.
Namun, Nisa mampu menunjukan senyum termanis pada calon suaminya itu. Bukankah ia pelakon yang handal? Nisa bisa terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang hanya demi kebahagiaan satu orang.
Acara lamaran berlangsung dengan meriah, sekarang cincin emas putih bermatakan white diamond sudah tersemat di jari manis Nisa. Viko memesan cincin itu dari seorang disigner perhiasan kenalannya, ia meminta untuk membuatnya dengan seindah mungkin karena cincin itu akan dipakai selamanya oleh wanita yang paling special di hidupnya. Viko benar-benar telah mempersiapkannya dengan matang.

Sekarang seluruh keluarga tengah menikmati hidangan dengan suasana sedikit lebih santai. Setelah makan malam acara dilanjutkan dengan menetapkan tanggal pernikahan. Setelah dihitung-hitung dengan hitungan kuno yang tidak Nisa mengerti, akhirnya tanggal pernikahan jatuh pada tanggal 26 Desember, kurang lebih sebulan dari sekarang.
Nisa syok, ternyata waktunya secepat itu.
"Kamu bahagia?" Viko bertanya. Nisa menoleh pada Viko di sampingnya. Mereka sekarang duduk di bangku besi, di gazebo belakang rumah Nisa. Aroma mochi dari pabrik menyeruak harum, mengundang selera.
"Iya ... tapi aku masih tidak percaya kalau tanggal pernikahannya akan secepat itu."
"Lebih cepat lebih baik," sahut Viko.
Tenggorokan Nisa tercekat. Viko menengadah menatap langit yang cerah. "Semesta merestui kita," katanya dengan senyum terus tersungging di bibirnya.
"Lihat. Langit cerah, bintang di mana-mana, bulan juga ada. Aku harap ini sebagai pertanda kalau masa depan kita juga secerah malam ini." Nisa hanya bisa tersenyum. Ia tidak tahu harus bilang apa saat itu. Mata Viko berkilat-kilat terpapar cahaya lampu, di sana tergambar jelas sekali kalau ia sangat bahagia.
__ADS_1
"Ko, tapi kamu harus ingat dengan kesehatanmu. Aku tidak mau hal buruk terjadi."
Viko merubah posisi duduknya menghadap Nisa lalu kedua tangannya menangkup pipi Nisa dengan lembut.
"Aku janji, aku akan sekuat tenaga bertahan dengan jantung ini. Aku ingin melakukan hal-hal yang ingin aku lakukan denganmu. Aku juga ingin menjadi suami yang baik buat kamu, dan ayah yang bertanggung jawab buat anak-anak kita nanti." Nisa menatap lekat mata coklat Viko, pria itu benar-benar tulus mencintainya. Rasa haru seketika menyeruak dalam dada Nisa yang mendorongnya untuk menganggukan kepala.
Viko mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa lalu sedetik kemudian bibir Viko mendarat di kening Nisa. Saat itu tubuh Nisa menegang, kaku seperti papan, tidak kenyangka laki-laki itu akan menciumnya. Walaupun sekarang raganya sangat dekat dengan Viko, tapi hatinya jauh. Jauh sekali.
🌸🌸🌸
Pernikahan mulai dipersiapkan. Nisa dan Viko telah sepakat tidak akan menggelar pernikahan besar-besaran. Acaranya akan digelar sesederhana mungkin. Tidak ada resepsi mengundang ribuan orang. Setelah akad nikah hanya akan kumpul-kumpul bersama keluarga dan sahabat dekat saja. Itu karena demi kesehatan Viko.
Viko tidak mungkin berdiri salaman sampai berjam-jam dengan tamu undangan. Hanya berdiri lima belas menit saja ia sudah merasa kepalanya berputar-putar dan sesak.
Setelah acara pertunangan, hari minggu sore Nisa sudah kembali ke Jakarta, kali ini tidak bersama Angga. Adik bungsunya itu akan tinggal lebih lama di Sukabumi sebelum nanti kembali ke Jakarta untuk melakukan seleksi berikutnya, karena seleksi pertamanya lolos.
Nisa menjatuhkan tubuhnya ke sofa di ruang tengah. Di tempat inilah ia sering menghabiskan waktu bersama Seno untuk sekadar makan pizza atau ngobrol soal apapun. Termasuk curhat tentang pacar-pacar Seno yang selalu kabur. Nisa mengusap sandaran sofa yang biasa Seno sandari. Nisa rindu melihat Seno tersenyum padanya, Nisa rindu Seno mengacak rambutnya ketika pria itu dibuat gemas olehnya, Nisa rindu aroma parfum Seno. Nisa rindu semuanya.
Sekarang gadis itu akan menikah dengan Viko. Ia tidak yakin rindu ini akan hilang ketika ia sudah menikah. Atau bahkan mungkin akan lebih kuat.
Nisa melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya, ia harus memberi tahu Seno tentang pernikahannya, bukan? Nisa meraih ponsel itu. Ia tidak berani bicara langsung, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan saja. Kedua jempolnya pun menari-nari di layar ponsel mengetik sebuah pesan untuk Seno.
'Sen, gue akan menikah tanggal 26 Desember. Gue tahu lo sibuk, tapi gue harap elo pulang. Karena tanggal pernikahan gue saat semua universitas di dunia libur akhir tahun, bukan?'
Beberapa saat setelah pesan itu terkirim, Seno menelefon. Nisa terkejut. Jantungnya seketika berdegup kencang seperti akan mendapat serangan. Setelah tahu dari Niken bahwa pria itu mencintainya, entah kenapa Nisa jadi kikuk dan canggung.
Dengan ragu Nisa menggeser tombol gagang telefon ke kanan. Lalu ia meletakan ponselnya ke telinga. "Halo, Sen ...," sahut Nisa dengan suara dibuat sesantai mungkin. Seperti biasanya.
"Yeay ... akhirnya sahabat gue sebulan lagi nikah. Nis, bilang sama gue elo pengen hadiah apa, gue pasti beliin buat lo." Suara Seno terdengar ceria.
Nisa menutup mulutnya dengan satu tangan. Jantungnya yang berdebar berubah sesak. Bagaimana bisa pria itu bersikap seceria itu? Dan menawarinya hadiah pernikahan segala. Nisa tahu Seno pasti tersiksa, tapi pria itu mampu menutupinya dengan mudah. Apakah mungkin karena sudah terbiasa?
"Gue enggak mau hadiah apapun. Gue cuma mau elo pulang." Permintaan Nisa memang terdengar kejam. Meminta pria yang mencintainya selama sebrlas tahun untuk melihatnya menikah dengan pria lain, tapi sungguh Nisa ingin melihat Seno ada.
Seno berdeham. "Nis, dengar. Gue bukannya enggak mau datang, tapi__" Ucapan Seno terputus. Seno memasok udara ke dadanya sebagai pertahanannya untuk tidak meneteskan air mata lagi. 'Gue benar-benar enggak bisa melihat elo nikah sama pria lain, Nis.' Tentu saja kata-kata itu tidak Seno ucapkan.
"Tapi apa?" tanya Nisa.
"Bisnis?"
"Iya. Kami mau kerjasama. Temen gue itu punya perusahaan periklanan juga."
"Oh gitu." Suara Nisa terdengar kecewa. Nisa mengerti Seno tidak akan datang walaupun ia memaksa.
"Elo marah, ya?"
"Gak! Gue kecewa!"
"Sorry ya Nisa, Sayang ...."
Jantung Nisa hampir saja melompat keluar saat mendengar Seno mengucapkan 'sayang'.
"Pikirin dari sekarang elo pengen hadiah apa, nanti gue beliin, oke?"
"Baiklah," sahut Nisa pasrah.
Seno menutup telefon, sedangkan tangannya yang lain meremas botol minum hingga isinya meluber ke luar. Rahangnya mengeras, dan matanya memerah lagi.
***
Dua minggu sebelum pernikahan, kesehatan Viko kembali drop. Ia semakin sering tiba-tiba pingsan. Nisa sangat khawatir dengan kesehatan calon suaminya itu, untungnya tidak sampai mendapat serangan seperti waktu di restoran dulu. Demi Tuhan Nisa tidak mau melihat kejadian itu lagi. Sebenarnya dokter Vanesh menyarankan Viko untuk rawat inap, tapi Viko menolak, katanya ada hal penting yang harus ia selesaikan sebelum hari pernikahannya. Nisa tidak tahu apa itu, dan laki-laki itu juga nampaknya merahasiakannya dari Nisa. Namun akhirnya dokter Vanesh membolehkan, asal Viko jangan sampai mengalami serangan. Karena itu sangat berbahaya.
"Ko, apa sebaiknya kamu menuruti perintah dokter Vanesh aja?" bujuk Nisa.
"Enggak apa-apa, Nis. Aku masih ngerasa baik-baik aja kok, ya ... walaupun sekarang aku jadi sering sesak sama pusing."
"Tuh kan ... aku enggak mau kamu kenapa-napa."
Viko meremas jemari Nisa menenangkan. Matanya yang sipit menatap gadis itu dengan takzim. "Kamu tenang aja ya ... aku akan baik-baik aja selama kamu ada di sampingku." Nisa mengerjap, lalu seulas senyum berusaha Nisa terbitkan untuk Viko.
__ADS_1
Viko tidak perlu memberitahu Nisa bahwa apa yang barusan ia bilang adalah bohong. Ia tidak merasa baik-baik saja, setiap menit, setiap detik, ia ketakutan kalau jantungnya yang malang tiba-tiba berhenti berdetak tanpa peringatan. Viko tidak mau Nisa cemas. Setiap hari ia berdoa ada keajaiban terjadi. Yaitu, jantung baru untuknya sudah tersedia.
***
Seno menuruni lima anak tangga dengan cepat keluar dari pintu perpustakaan John Rylands. Ia harus cepat-cepat pulang lalu memenuhi undangan makan malam keluarga Mr. Armand. Sekarang malam Natal, ia tidak mau membuat keluarga itu kecewa, apalagi mereka sudah mengundangnya dari jauh hari. Selain itu Seno juga ingin melupakan sejenak tentang pernikahan Nisa yang akan dilaksanakan lusa.
Selama sebulan ini rencana pernikahan itu tidak sebentar pun hilang dari pikiran Seno. Ini benar-benar sudah mengganggunya dan membuatnya frustasi hingga tidak enak untuk melakukan apapun. Untuk melampiaskan, sepulang kuliah Seno mulai rutin menjalani olah raga di Gymnasium.
Suhu Manchester malam ini jatuh di minus 2° walau begitu semua orang larut dalam suka cita Natal. Pertunjukan jalanan semakin meramaikan suasana. Di cafe-cafe, gereja, bahkan di pinggir jalan semua orang berbaur dengan hangat walau di tengah dinginnya kota.
Seno membenarkan posisi tali ranselnya di pundak lalu menerobos ke kerumunan orang-orang yang tengah menonton pertunjukan jalanan. Seno melirik Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
'Semoga enggak telat,' harapnya.
Selang lima belas menit Seno sudah berdiri di depan pintu apartemen keluarga Mr Armand. Seno memencet bel interkom yang menempel di samping pintu. Sambil menunggu seseorang membuka pintu, Seno melonggarkan syal yang melilit lehernya, karena udara sudah tidak sedingin di luar. Tak lama terdengar suara kunci otomatis terbuka, sesaat kumudian Mrs. Armand sudah di hadapan Seno dengan senyumnya yang hangat.
"Senopati ... welcome, we are waiting for you." (Selamat datang kami sudah menunggumu)
"Sorry, i'am late," (Maaf aku telat) sahut Seno dengan menunjukan wajah sesal.
"It's okey. Come in," (Tidak apa-apa, ayo masuk) sahut Mrs. Armand sambil memberi jalan untuk Seno masuk.
"Ya ...."
Seno disambut oleh keluarga Mr. Armand lainnya yang datang dari London. Suasana sangat meriah. Pohon natal berdiri anggun di sudut ruangan dengan hiasan yang membuatnya semakin cantik, berbagai makanan kecil dan minuman memenuhi meja di ruang tengah, belum lagi hidangan makan malam sudah tersedia di meja makan. Rupanya mereka sengaja belum makan malam karena menunggu Seno. Seno sangat terkesan.
Seno menyalami mereka dengan sopan, lalu berusaha membaur. Mereka sangat bersahabat, dan itu membuat Seno nyaman berada di tengah-tengah mereka.
"You are very handsome, do you want me to introduce to my daughter?" (kamu sangat tampan, apakah kamu ingin aku kenalkan kamu pada putriku?) sahut wanita berambut pirang yang terlihat seumuran dengan Mrs. Armand. Sepertinya dia akan menjodohkan putrinya dengan Seno.
Seno cuma tersenyum malu menanggapinya.
"See ... your smile is very sweet!" (Lihat ... senyummu sangat manis) seru ibu yang lainnya sambil menjawil pipi Seno dengan gemas.
"Hey don't make him shy, tonight he's our guest." (Hei, jangan membuatnya malu, malam ini dia tamu kita) Mrs. Armand menyelamatkan Seno.
"It's okey, Mrs," (Tidak apa-apa, Nyonya) sahut Seno sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
"Do you have a lover?" (Kamu punya pacar?) Rupanya si ibu berambut pirang tadi tidak main-main ingin menjodohkan putrinya dengan Seno. Jujur, Seno jadi kikuk dibuatnya. Akhirnya Seno berucap. "Forgive me, i already have a girlfriend in Indonesia," (Maafkan aku, aku sudah punya pacar di Indonesia) tutur Seno bohong.
"Yes of course, a handsome man you must have a very beautiful girlfriend, right?" (Ya tentu saja, pria tampan sepertimu pasti punya pacar yang sangat cantik, bukan?) timpal Mr. Armand sambil menghentikan permainan caturnya dengan pria berambut gelap yang sepertinya masih seumuran dengan Seno.
Seno menyeringai sambil mengangguk malu. Si ibu berambut pirang terlihat kecewa.
"Okay, because Seno has come, let's have dinner now," (Oke, karena Seno sudah datang, ayo makan malam sekarang) seru Mrs. Armand. Mereka pun menuju meja makan.
Rupanya makanan khas Natal di Eropa sangat beraneka ragam. Biasanya setiap negara memiliki makanan khas yang berbeda-beda. Seperti di Indonesia saat lebaran yang harus ada ketupat dan opor ayam.
Keluarga Mr. Armand semuanya dari Inggris maka dari itu makanan khas Natal negara ini wajib ada di meja makan, yang tidak lain adalah mashed potato dengan gravy dan saus cranberry. Selain makanan itu ada juga hidangan khas lainnya yaitu roasted turkey alias kalkun panggang berukuran sangat besar yang di kelilingi oleh irisan lemon.


Mrs. Armand sengaja tidak menghidangkan daging **** yang dilapisi roti dan bacon, padahal makanan itu adalah hidangan khas Natal yang lainnya. Mrs. Armand tahu Seno seorang muslim yang diharamkan memakan daging ****.
Makan malam berlangsung dengan hangat. Sebagai makanan penutup keluarga itu menghidangkan Risgrynsgröt makanan khas dari Swedia. Risgrynsgröt ini adalah pudding beras yang memiliki rasa manis dengan warna putih. Risgrynsgröt ini akan dihidangkan saat Natal untuk disantap bersama keluarga besar.

Orang Swedia percaya bahwa mereka yang mendapatkan Risgrynsgröt berisi almond akan mendapatkan keberuntungan. Dan ternyata Seno lah yang mendapatkan Risgrynsgröt berisi almond itu.
"Hey you will get luck!" (Hei, kamu akan mendapatkan keberuntungan!) seru mereka kompak.
Seno terlohok. Benar, ia yang mendapatkannya. Sebenarnya Seno tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu, tapi ia berusaha menghormati tradisi itu.
Dan siapa tahu bahwa keberuntungan itu benar-benar ada untuknya, bukan?
🌸🌸🌸
__ADS_1
Keberuntungan Seno di malam Natal? Hmmmm kira2 keberuntungan apakah itu? Jreng-jreng.... 😂😂😂