Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 64


__ADS_3

"Bos, kok tiba-tiba gini, sih? Emang ada apa?" tanya Aldi yang baru saja diberitahu soal ke Bangkok. Seno ngusap-ngusap tengkuk, bingung mau jawab apa. Dia agak malu aja kalau harus jujur pergi ke sana karena tidak rela Nisa pergi berdua sama bosnya.


"Ada urusan keluarga aja, Al," jawab Seno. Mata Aldi memicing, alisnya bertaut, dia tidak yakin dengan jawaban itu. Seno melirik Aldi, dia bisa merasakan kalau Aldi tidak yakin dengan ucapannya.


"Serius, Al. Kenapa lo? Gak percaya?" Seno mencoba meyakinkannya lagi.


Aldi tersenyum ke arah lain. "Bos, kita itu udah kenal lama banget, kan? Gue tau banget lah gimana Bos. Termasuk kalau lagi boong kayak gini."


Seno tergelak. "Sialan lo. Oke deh, gue ngaku. Iye gue boong. Puas lo!"


"Hahaha, nah gitu dong, kan enak, nih." Aldi merobah posisi duduknya. "Emang ada apa sih, Bos?"


Seno berdeham, melipatkan tangan ke atas meja. "Bini gue mau ke Bangkok buat nerima penghargaan, dan gue enggak bisa ngebiarin dia pergi berdua doang ama bosnya. Gue pernah cerita sama lo, kalau bosnya Nisa itu naksir dia, kan?"


Aldi ngangguk-ngangguk, tapi lantas dia menyemburkan tawa. "Hadeuh, kirain mau ngapain, Bos."


"Ya lo bayangin aja, Nisa nginep di hotel yang sama Harir berdua doang di negeri orang, terus mereka makan berdua, jalan berdua, terus apa lagi yang berdua? Di pesawat berdua duduk sebelahan, pegangan tangan." Seno menggelengkan kepala kuat-kuat sambil memejamkan mata. "Ngebayanginnya aja gue mau gila rasanya."


"Masa pegangan tangan, Bos? Haha." Aldi tergelak.


"Ya kali aja, si Harir kan nyosor sama bini gue. Gue pengen banget sekali-sekali ngebogem duda sialan itu. Kesel banget gue, Al. Sumpah. Kalau Sasha begitu, pasti lo ngelakuin hal yang sama kayak gue."


Aldi terenyak. Bukan apa-apa, ucapan Seno itu berhasil menyentil hatinya. Bagaimana sekarang dia berada di tengah kecemasan menunggu jawaban khitbanya yang belum ditanggapi. Demi apa pun, Aldi sangat mencintai gadis berhijab di kantornya itu.


Kehadiran Sasha di kantor, telah melelehkan gunung es di hati Aldi yang bertahun-tahun menjulang tanpa tersentuh. Dan lelehan gunung es tersebut membanjir ke seluruh tubuhnya, membuat dia merasa sejuk dan bahagia. Rasa yang sudah sangat lama lenyap dari hatinya itu kini kembali menyapa, dan menghasilkan hormon-hormon kesenangan. Mood pun terasa baik setiap hari. Ternyata inilah yang dibutuhkan Aldi. Sebuah rasa yang telah lama hilang dalam hidupnya.


Jatuh cinta.


"Ya mungkin aja, Bos. Ngomong-ngomong berangkatnya kapan?"


"Minggu sore."


"Good luck, Bos. Jangan pikirin kerjaan dulu, biar gue, Sisy sama Ezar yang hendel buat sementara."


"Thanks, Al, gue gak ngerti lagi deh di kantor kalau enggak ada lo-lo pada. Gue mengandalkan kalian pokoknya."


***


Sebagai ketua Tim Marketing rupanya Nisa sudah tak diragukan lagi, dan itu sudah diakui hingga Paris sana. Dia punya semangat kerja gila-gilaan. Dan dia akan melibas siapa pun yang kerjanya menye-menye, memble, dikit-dikit ngeluh. Julukan The Quin Ice itu masih melekat di dirinya sampai sekarang. Bagi yang belum kenal betul, akan melihat Danisa orang yang sombong dan judes, tapi kalau sudah kenal, pandangan tersebut pasti berubah seratus delapan puluh derajat. Wanita cantik itu banyak diiriin orang-orang di kantornya. Kadang ada yang terang-terangan ngajak bersaing. Nisa merasa enggak perlu nanggepin hal-hal remeh temeh kayak gitu. Yang penting dirinya masuk kantor dan kerja yang bener. Itu saja.


"Nis, lo gak papa pergi ke Bangkok berdua doang sama Bos? Hati-hati, loh, doi kan naksir lo."


"Tenang aja, Nad, laki gue ngikut, kok," jawab Nisa, lalu menyeruput kopinya. Nadya dan Nisa tengah santai minum kopi di dapur kantor. Dua musuh bebuyutan itu kini jadi sahabat dekat, bahkan lebih dekat dibanding dengan yang sebelumnya akrab dengan Nisa. Orang-orang pada heran. Ada juga yang mencibir, tapi Nisa enggak peduli. "Ah, palingan mereka musuhan lagi entar." Atau, "alah itumah akrab ***-*** ayam. Liat aja nanti juga perang lagi." Nisa dan Nadya ngakak aja denger mereka ngomong gitu.


"Nad, ternyata orang-orang di kantor ini pada happy kita perang," kata Nisa ketika itu.


"Rugi banget ya dulu kita perang, sakit hati, kesal juga, tapi mereka malah seneng. Kita udah jadi badutnya mereka! Kesel banget gak, sih?"


"Iya. Riset membuktikan, manusia di bumi ternyata lebih menyukai keributan, kegaduhan sama peperangan."


"Yoi."

__ADS_1


Kesamaanlah yang mereka berubah jadi dekat. Nadya pun sekarang tengah hamil, sama dengan Nisa. Bedanya kehamilan Nadya lebih tua.


"Serius laki lo ngikut?"


"Serius. Dia takut gue digondol Pak Har. Hahaha."


"Ya iyalah gila aja. Semua orang juga udah tau kali kalau doi ngebet sama lo."


"Haha, itu mah dulu, sekarang sih biasa aja kayaknya. Denger-denger dia mau nikah. Bener gak, sih?"


"Sama baby sitternya itu?"


Nisa mengangguk. "Lo percaya?" Nadya bertanya, menyipitkan mata.


"Mmm gimana ya. Ya ... percaya enggak percaya. Pak Har kayaknya ilfil gitu sih sama baby sitternya."


"Nah itu dia. Kayanya dia enggak benar-benar mau ngawinin dia. Gue denger dari Albert, Pak Har dipaksa ibunya buat nikahin baby sitternya itu, soalnya anaknya udah lengket banget sama dia."


"Haha, melas juga Pak Har. Kesian." Nisa tertawa menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Nasib cinta duda keren bin kaya itu enggak semulus mukanya ternyata, hihihi." Giliran Nadya yang terkikik-kikik.


"Woi, lo berdua ngapain ghibahin bos di dapur!" Orang yang baru saja disebutkan namanya nyelonong ke dapur.


"Brisik lo!" semprot Nadya pada Albert.


"Nad, lo itu lagi hamil, kurang-kurangin deh ghibahin orang. Entar mau anak lo jadi tukang ghibah juga?"


"Nis, Nadya yang hamil, kenapa lo yang istigfar?" Albert bertanya bingung.


Nisa nyengir memamerkan deretan gigi putihnya. "Jangan-jangan lo hamil juga?" tebak Albert.


"Hehehe, iya, udah enam jalan tujuh minggu."


Nadya dan Albert langsung melotot kaget, tapi setelah itu mereka semringah bersama. "Serius lo?" Nadya bertanya tak percaya.


Nisa ngangguk sambil senyum-senyum. "Huuaaa congrest Nisa ... anak kita entar seumuran, beda empat bulan aja." Nadya meluk Nisa erat, tapi Nisa mendorongnya pelan. "Nad Nad, kasian anak lo kegencet."


"Haha iya lupa. Maafin Mama, Nak." Nadya mengusap-usap perut.


"Tapi gue agak worry juga nih, tapi kata dokter gue sih inshaAllah aman."


"Ini musim apa sih di kantor? Kok tiba-tiba banyak orang bunting. Bawahan gue juga ada yang bunting," tutur Albert.


"Bunting? Kucing kali!" protes Nadya.


"Hahaha, sori-sori. Hamil maksud gue."


"Hadeuh. Sekalian bini lo buntingin Al," seloroh Nisa.


"Anak gue udah tiga, cuy! Emang bini gue kucing, beranak mulu!"

__ADS_1


Nadya dan Nisa menyemburkan tawa. "Udahlah gue cabut. Kebawa somplak gue ngomong ama kalian berdua." Albert pergi dari dapur setelah menyeduh kopi.


***


Nisa dan Seno diantar Pak Wisnu ke Bandara. Tak berselang lama, Pak Harir pun datang bersama supirnya. Namun, setelah itu ada seseorang lagi yang keluar dari mobil. Nisa sampai menahan napas saat orang itu mulai menapaki kakinya ke aspal.


Selasar Bandara Soeta terminal tiga lumayan ramai sore itu, tapi sosok itu seolah mencuat dari ratusan orang di sana. Tubuh mungil, rambut panjang hitam tergerai menutupi lehernya yang jenjang. Bibir tipis tersapu lipstik pink nude membuat cerah di kulit wajahnya yang seputih susu.


Sumpah dia cantik banget. Pikir Nisa.


Setelah itu, dia mengeluarkan kereta bayi dari bagasi, lalu menggendong anaknya Pak Har, dan menaruhnya ke stroller. What apa dia baby sitter anaknya Pak Har? Nisa berseru kaget dalam hati.


Harir melihat Nisa dan Seno berdiri di dekat kursi panjang lantas meluncurkan senyum. Harir dan baby sitternya mendekat ke arah Nisa dan Seno.


"Sore, Pak." Nisa menyapa dengan sopan. Seno meluncurkan senyum dengan malas.


Harir mengangguk, lalu melirik di dekat Nisa ada dua bongkah koper. Keningnya berkerut. Ngapain Nisa membawa dua koper? pikirnya.


Nisa juga melempar senyum pada orang di samping Harir, orang itu pun membalas senyuman Nisa. "Oh, kenalin, ini Lisa. Pengasuhnya Ester, atau lebih tepatnya calon ibunya Ester."


Nisa merasa lega sekaligus senang mendengar Harir sudah mengakui real status baby sitternya itu. Nisa menyalami Lisa dengan ramah. Sedangkan Seno masih agak manyun. Dia sungguhan tidak memercayai kalau nanti pernikahan mereka benar-benar pernikahan.


Nisa terpesona melihat kecantikan Lisa. Apalagi kalau dilihat dari dekat kayak gini. Matanya yang bulat dan ditumbuhi bulu-bulu mata yang lentik membuat siapa pun yang melihatnya seperti dinaungi pepohonan rindang. Sejuk sekali melihatnya. Pak Harir beruntung banget ya bisa mendapatkan cewek secantik dia, pikir Nisa.


"Ngomong-ngomong, kenapa bawa koper dua? Kita di sana cuma tiga hari, loh," ucap Harir heran.


Nisa dan Seno saling melempar pandangan, lantas Seno berdeham. "Saya akan ikut kalian ke Bangkok," ucap Seno.


"Apa?" Harir melongo.


"Iya, Pak, saya mau ikut ke sana, kebetulan saya enggak lagi sibuk di kantor. Ya sekalian jalan-jalan juga."


Harir mengangguk-ngangguk, tapi lantas dia tersenyum geli. Rupanya dia tahu apa yang tengah terjadi. Seno pasti mengira dirinya masih mengharapkan Nisa. Ya ... walau enggak dipungkiri, dirinya masih menyukai Nisa, tapi dia sadar, merebut itu bukan hal baik. Lagian sebentar lagi dirinya akan menikah dengan Lisa. Baginya Ester adalah segalanya, dan yang dibutuhkan Ester adalah ibu seperti Lisa.


"Oh, begitu. Syukurlah kalau Pak Seno ikut, biar Nisa ada yang jagain juga."


"Oh, iya jelas, saya kan suaminya, Pak." Seno senyum penuh kemenangan, dan Harir sebal mendengar Seno ngomong gitu.


"Kalau Mbak Lisa mau ikut juga?" tanya Nisa.


Lisa terkesiap namanya disebut. "Oh, enggak, Mbak, saya cuma nganterin Bapak sampe bandara aja, Ester nangis pengen ikut."


Nisa tersenyum. "Oh, gitu." Dia pun suka sama suaranya Lisa. Walaupun logat jawanya jelas terdengar, tapi enak aja didengarnya di telinga.


Harir menghampiri Ester lalu mencium gadis kecilnya itu. "Papa berangkat dulu, ya, Sayang. Baik-baik di rumah sama Kak Lisa."


Seno menelan ludah melihat itu. Rasanya dia sungguh tak sabar bisa merasakan hal itu juga. Setiap pagi saat akan ke kantor ada yang nangis pengen ikut, atau setiap pulang kantor ada yang menyambutnya berlari memeluk dirinya. Ah, indah banget rasanya. Dunia ini akan terasa genap saja.


Seno menoleh pada Nisa. Dan wanita inilah yang akan menggenapkan dunianya. Seno tersenyum haru.


***

__ADS_1


__ADS_2