Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 60


__ADS_3

Bertambahnya usia seseorang tak menjamin bertambah kadar kedewasaannya. Kadang semakin dewasa malah semakin manja, mencari perhatian orang yang dicinta. Dan Nisa termasuk ke kategori kedua tersebut, tapi dia tak menyadari.


Nisa manja pada Seno, dan Seno memanjakannya. Dan entah kenapa kadar manja Nisa akhir-akhir ini bertambah berkali-kali lipat. Seno yang tiba-tiba menyadari hal itu mengernyitkan dahi sambil memandang Nisa yang selonjoran di sofa habis meminta dibikinin jus jambu.


"Enak jusnya?" Seno bertanya.


"Hah?" Pandangan Nisa beralih dari HP ke Seno.


"Enak. Makasih, Sayang. Jus buatan kamu tuh paling enak sedunia."


Seno mencebik. "Boong. Bilang gitu biar aku bikinin lagi, kan?"


"Serius, jus buatan kamu itu manisnya pas, aku suka."


"Mmm ... makasih kalau gitu." Seno mengangkat kaki Nisa, duduk di sofa, dan meletakkan kaki Nisa di pangkuannya.


"Nis, Pak Harir masih deketin kamu, gak?"


Nisa menggeleng. "Enggak. Sekarang dia biasa aja sama aku, kayak ke karyawan lainnya. Gak tau kenapa, denger-denger sih, dia udah ada pacar sekarang."


"Ah, syukurlah. Aku tuh was-was terus kalau kamu pergi kerja."


Nisa tersenyum, meletakkan gelas jusnya ke meja. "Sen ...." Nisa meraih tangan suaminya yang ada di pahanya.


"Kita udah sepakat enggak akan cemburuan lagi, kan? Cemburu bikin kita renggang dan berantem. Aku udah percaya sepenuhnya sama kamu, dan aku juga pengen kamu percaya sepenuhnya sama aku."


Seno mengangguk. "Kadang rasa takut masih menghantui aku, entah kenapa punya istri cantik tuh enggak tenang. Hehe."


Nisa menopang dagu dengan satu tangan, matanya mengedip-ngedip manja. "Aku cantik? Cius, nih?"


Seno tergelak. Tangannya terulur ke kepala Nisa dan mengacak rambutnya. "Enggak percaya? Sana ngaca!"


"Hahaha. Duh, dipuji suami sendiri cantik tuh rasanya kayak terbang ke langit. Seneng banget tau. Sering-sering aja kamu muji aku cantik, Sen."


"Serius. Kamu itu wanita tercantik yang pernah deket sama aku. Aku ngerasa beruntung jadinya. Hehehe. Jadi enggak malu-maluin kalau aku ajak kondangan atau ke acara gathering biro-biro periklanan."


"Hhhh, kalau aku jelek kamu malu, gitu?"


Seno nyengir kuda. "Kamu lihat foto itu, deh." Seno menunjuk foto besar yang menggantung di dinding. Foto pernikahan mereka, dan foto waktu Seno wisuda di Manchester.


"Setiap orang yang datang ke sini, baik itu orang-orang kantor, temen, atau saudara, pasti muji kecantikan kamu di dua foto itu."


"Masa, sih? Kok aku gak tau."


"Kalau kamu tau, entar kegeeran lagi. Waktu denger itu dari mulut mereka, aku ngerasa jadi cowok paling beruntung di dunia, bisa dapetin cewek secantik kamu. Walaupun kamu janda, tapi aku yang merawanin kamu. Hahaha."


"Dasar! Kamu menang banyak dari Viko."


"Hehehe, namanya juga rejeki anak soleh. Oh iya, Nis, ngomong-ngomong soal gathering, aku jadi inget, minggu depan ada gathering di Hotel Mulia, sekalian mau ada acara penghargaan juga."


"Serius? Wah, semoga kamu dapetin penghargaan itu lagi. Terakhir kapan kamu dapet penghargaan, Sen?"


Bola mata Seno melirik ke atas. "Mmm ... lupa. Tiga tahun lalu gitu?"


"Masa sih udah selama itu? Kayaknya baru kemarin kamu lompat-lompat di depan aku sambil nunjukkin piagam sama trofi penghargaan itu."

__ADS_1


"Hahaha. Tau enggak, aku seneng banget waktu itu, gak nyangka juga. Kok bisa aku dapetin itu semua?"


Nisa mendecih. "Perayaan kita buat penghargaan itu enggak asik."


"Hah?"


"Iya, kamu nlaktirnya cuma nasi goreng doang. Kirain mau ngajakin aku ke restoran Jepang."


"Hahaha. Ya udah kalau nanti aku dapet lagi, kita makan ke restoran Jepang."


"Bener, ya... kali-kali nyenengin bini dinner romantis gitu. Udah lama banget kita enggak candle light dinner. Terakhir tuh waktu di Swiss. Kalau udah ada baby kita gak mungkin bisa ngelakuin itu, kan?"


"Hehe, iya, biniku Sayang. Maafin Mas yang selalu sibuk ini, ya...."


"Sen, besok ke rumah Mama, yuk. Aku kangen, udah lama enggak ketemu, nih."


"Oke, besok pulang kerja kita mampir ke sana."


***


Untuk pertama kalinya Nisa ikut acara gathering biro-biro periklanan. Dia enggak nyangka orang-orangnya akan sebanyak ini. Kata Seno ada puluhan kantor periklanan yang berpartisipasi. Dan Nisa sadar orang-orang di sana adalah orang-orang hebat dalam bidang itu. Termasuk Seno.


Acara yang berlangsung di sebuah win lounge itu berlangsung meriah. Penganan yang disuguhkan berupa gelas-gelas berisi anggur merah dan putih, serta makanan-makanan ringan berukuran kecil yang diedarkan di atas baki.


Perut Nisa yang belum diisi nasi dari siang mulai menunjukkan aksi pemberontakkan. "Sen, di sini enggak ada perasmanan gitu?" bisik Nisa.


"Gak ada. Ini wine lounge, Sayang. Kenapa? Kamu laper, ya?"


Nisa mengangguk dengan wajah memelas. "Sabar, ya, sebentar lagi kita makan di luar. Aku mau nyapa orang-orang penting dulu."


Seno berlalu meninggalkan Nisa di sisi meja yang penuh dengan gelas anggur ke orang-orang yang tengah mengobrol. Dari tempatnya berdiri, Nisa masih bisa melihat dengan jelas gerak-gerik suaminya itu.


Disaat pandangannya beredar, tiba-tiba Nisa menangkap sekerumunan cewek-cewek yang tengah memandang ke arah Seno. Pandangan mereka seperti terpesona. Saling bisik-bisik, tertawa, dan memasang ekspresi gemes. Alis Nisa seketika bertaut. Radarnya langsung menangkap ketidak beresan. 'Mereka ngapain coba liatin laki gue kek gitu?' batinnya kesal.


Sepuluh menit kemudian Seno kembali menghampiri Nisa. "Yuk, kita makan di luar."


"Bentar, Sen, aku mau ke toilet dulu."


"Ya udah, aku nunggu di luar, ya."


Nisa mengangguk, lalu pergi ke toilet. Ketika masuk, di dalam ternyata ada empat orang yang tengah ngobrol asik di depan cermin sambil membenarkan riasan mereka. Nisa masuk ke salah satu bilik toilet, dan enggak sengaja nguping pembicaraan cewek-cewek tersebut.


"Sialan, makin ganteng aja tuh orang!"


"Iya. Makin keren, dia," timpal yang lain.


"Gue mau kali kalau dikerem seminggu sama dia."


"Gue sebulan!"


"Edan, lo!"


"Hahaha."


"Tapi sayang banget dia udah nikah."

__ADS_1


"Katanya dia bawa bininya ke sini. Lo semua udah liat bininya? Gue penasaran, secantik apa sih bininya sampai bisa luluhin dia?"


"Kata Meta sih cantik."


"Meta siapa?"


"Meta salah salah satu karyawannya doi. Dia gue jadiin mata-mata di sana."


"Geblek lo! Hahaha."


"Tetep aja, seganteng-gantengnya dia kalau udah merried buat apa?"


"Hari gini ... janur kuning tuh udah enggak ngaruh. Sebelum bendera kuning berdiri, kompetisi tetap terbuka."


"Najis lo. Hahaha."


"Bener, tuh. Hahaha."


Di dalam toilet Nisa bergidik sendiri mendengar obrolan itu. Dia jadi teringat ucapan Nadya waktu, ternyata benar adanya. Pergaulan zaman sekarang semakin edan saja.


"Hhhh, cowok kek Senopati tuh idaman semua cewek-cewek sejagat raya. Ganteng, kaya, baik, smart pula. Gue denger dari anak SP (Sebutan populer buat Senopati Production) dia sampai diculik sama kliennya sendiri."


DUAAAARRRRR!


Mendengar itu, tiba-tiba seperti ada yang meledak di hati Nisa. Jadi dari tadi yang mereka bahas adalah suaminya? Nisa meremas tisu toilet sekuat tenaga untuk melampiaskan kekesalannya. Dadanya panas, ubun-ubunnya pun seperti sudah mendidih.


BRAAAAKKKKK.


Nisa keluar dari toilet. Keempat cewek itu menoleh bersamaan. Kaget. Lirikan mata mereka penuh selidik. Menurutnya dia sudah tidak sopan membuka pintu dan membantingnya.


Dengan berusaha santai Nisa berdiri di samping mereka, cuci tangan di wastafel, lalu mengeringkan tangan di bawah alat pengering. Setelah itu dia mengeluarkan ponsel di tas tangannya.


"Eh, ngomong-ngomong enggak ada anak SP, kan?" tanya cewek bergaun pink itu.


"Gak ada. Aman."


Nisa yang masih berdiri di samping cewek-cewek itu menelepon Seno. Tak berapa lama Seno mengangkatnya.


"Halo, Sayang...."


"Nis, kok lama banget di toiletnya? Cepetan katanya laper."


"Iya, bentar, aku ada urusan dulu sebentar di sini," ucap Nisa sambil melirik ke empat cewek itu. "Tunggu aku bentar lagi ya, suamiku, Senopati-ku. Hehe."


"Kamu kenapa, sih?"


"Enggak, enggak kenapa-napa. Ya udah bentar ya, daaah."


Mendengar Nisa menyebut nama Senopati, cewek-cewek itu menoleh bersamaan. Seketika wajah mereka pun pucat pasi.


Setelah menutup telepon, Nisa memandang wajah ke empat cewek itu satu-satu. "Kalian tau, gak? Apa yang barusan kalian bahas itu sangat menjijikan! Percuma punya muka cantik kalau otak kagak dipake! Jadilah cewek yang punya martabat dan harga diri! Cewek-cewek kayak kalian itu pantesnya sama cowok-cowok hidung belang, tapi sory, itu bukan suami gue! Seno cowok baik-baik yang enggak akan kegoda sama cewek murahan kayak kalian! Jadi ... mulai sekarang buang jauh-jauh pandangan dan pikiran menjijikan kayak gitu, ngerti! **** lo semua!" Nisa bergegas pergi dari toilet yang berhawa panas itu.


Setelah Nisa pergi, keempat cewek itu saling pandang. "Hei, dia istrinya Senopati?"


"I--iya. ******, dia cantik banget!"

__ADS_1


Nisa berderap keluar dengan kesal. Malam ini dia menyadari bahwa suaminya itu ternyata menjadi most wanted di kalangan orang-orang biro iklan. Dan mulai sekarang dia akan lebih waspada dan hati-hati lagi. Sampai mati, sampai hidup lagi di akhirat, Nisa enggak akan pernah melepaskan Seno. ENGGAK AKAN PERNAH.


***


__ADS_2