Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 61


__ADS_3

Nisa melangkah keluar gedung menghampiri Seno yang tengah bersandar di tiang beton sambil melipatkan tangan di dada. "Kamu kok lama banget sih, Nis, abis BAB, ya?"


Mata Nisa mendelik. "Gue udah ngedamprat cewek-cewek yang terobsesi sama lo, tauk! Dan sekarang nafsu makan gue ilang."


Seno berdiri tegak antara kaget dan tidak percaya. "Apaan, sih, ngarang aja kamu." Sekarang giliran Nisa yang melipatkan tangan di dada seraya menatap suaminya gemas. "Kamu enggak percaya?" Nisa tidak terima. "Sen, kita pulang sekarang aja, deh, gue udah gak mood di sini. Suasananya nyebelin banget, apalagi tadi di toilet beneran pengen muntah gue denger cewek-cewek itu ngomongin laki orang. Masa mereka bilang, 'Hari gini ... janur kuning tuh udah enggak ngaruh. Sebelum bendera kuning berdiri, kompetisi tetap terbuka,' najis banget gue dengernya." Dada Nisa sampai kembang kempis menahan amarah.


Seno terdiam sesaat memerhatikan gerak-gerik istrinya yang beneran kesal. Dia tau betul bagaimana Nisa kalau sedang beneran kesal atau enggak. Seno meraih tangan Nisa di dadanya dan meremasnya pelan. "Nis ... aku paham betul perasaan kamu gimana sekarang. Biarin mereka mau ngomong apa. Terserah aja, tapi malam ini aku beneran harus mengikuti acara sampai selesai. Gimana kalau perusahaanku dapet penghargaan tapi akunya malah enggak ada? Malu-maluin, kan? Jadi pliiiisss kamu tahan dulu kesalnya. Malam ini aku enggak akan lepasin tangan kamu biar cewek-cewek yang kata kamu terobsesi sama aku itu diem. Aku akan memperlihatkan sama semua orang, inilah istrinya Senopati, inilah wanita yang udah memenangkan hatinya, oke? Sebaiknya sekarang cari makan dulu sebelum acara inti dimulai."


Nisa menghela napas mencoba meredakan amarahnya. "Udah, dong, jangan manyun terus," ucap Seno sambil mengusap-usap pipi Nisa.


"Hhhh ... sebel banget gue!" Nisa meletakkan tangan di kedua pinggangnya.


Seno tersenyum lalu mencondongkan badannya supaya wajahnya sejajar dengan wajah Nisa. "Tau enggak, aku takut banget kalau kamu cemburu kayak gini."


"Takut?"


"Iya. Aku takut kamu celaka. Inget tragedi di Bali? Gara-gara cemburu, kamu celaka, kan? Kalau itu terulang, aku gak tau harus apa lagi buat meredakan cemburu kamu ini."


Nisa menurunkan tangannya. "Gue juga enggak ngerti, Sen. Kenapa gue jadi cemburuan banget kayak gini, ya? Apa karena gue terlalu cinta sama lo, ya?"


Seno terkekeh. "Sudah pasti itu." Dia berkata dengan bangga. Nisa memukul lengan Seno pelan. "Huh, nyebelin! Ya udah deh, kita makan dulu. Sensor lapar gue bekerja lagi, nih."


Seno mengacak pelan rambut Nisa. "Yuk."


***


Kedai bubur ayam di pinggir jalan adalah pilihan makan malam mereka. Seno tersenyum geli melihat Nisa yang sangat bersemangat menyendok bubur yang tadi menggunung di mangkuknya sekarang tinggal lapisan tipis di dasar mangkuk, itu pun masih disendoki Nisa dengan semangat.


Seno terikikik geli. "Kalau aku jadi tukang bubur, aku bakal menjadikan kamu brand ambassador. Kamu dapet omset 20 persen dan makan sebanyak yang kamu mau asalkan kamu makan persis kayak tadi di depan pembeli. Mereka pasti ngiler, gak mungkin enggak."


"Dasar tukang iklan!" cetus Nisa, lantas tertawa.


"Makan kamu dari dulu tuh dahsyat banget, ya. Tapi aku bingung, makanan sebanyak itu larinya kemana, sih? Apa kamu buang semua ke WC? Badan kamu tetep aja mungil kayak gini."


"Sen, ususku itu ada di mana-mana. Kalau tangan aku dibelek tuh isinya usus, kakiku dibelek isinya usus juga. Hehehe," seloroh Nisa.


"Hadeuh ... bisa aja kamu."


"Sen, tau enggak apa keuntungannya nikah ama sahabat sendiri?"


"Apa?" Seno bersidekap.


"Kita bisa jadi diri sendiri, kagak ada tuh yang namanya jaim-jaiman. Bener, gak?"


"Betul banget. Menjadi diri sendiri itu nyenengin banget. Dan ... aku salah satu manusia yang beruntung itu."


Senyum Nisa mengembang. "Aku juga."

__ADS_1


"Jadi enggak nyesel dong nikah ama aku?"


"Enggak, lah. Eh, Sen, habis ini aku mau roti bakar dong, dari tadi wanginya menggelitik hidungku terus."


Seno melongo dan terduduk tegak. "Nis, jangan-jangan kamu hamil? Kok nafsu makanmu meningkat dua kali lipat, sih?"


"Masa, sih?"


"Coba kamu inget-inget, bulan ini kamu udah haid belum?"


Mata Nisa memicing mencoba mengingat-ingat. Urusan di kantor yang akan meluncurkan produk baru telah menyita ingatannya akan hal itu. Nisa menggeleng pelan enggak yakin. "Sen, harusnya aku mens tanggal berapa sih bulan ini? Sumpah aku lupa."


"Kayaknya dari mens terakhir kamu udah lama banget. Jangan-jangan udah telat. Kenapa kamu enggak coba beli tespek."


"Oke, deh, tar aku beli habis ini ke minimarket di depan, tapi roti bakar dulu, ya...."


Seno melirik jam tangannya. "Gimana kalau roti bakarnya dipending dulu. Takutnya kita enggak keburu buat hadir di acara inti, si Aldi pasti bingung nyariin aku di dalem."


Nisa manyun. "Ya udah, deh, tapi nanti doble, ya ...."


"Triple aku kasih buat kamu." Nisa terkekeh. Dia lupa bahwa tadi sudah berperang dengan rasa cemburunya.


***


Ballroom di gedung itu telah terisi penuh oleh para undangan. Nisa dan Seno yang datang terlambat berjalan ke kursinya yang berada di jajaran VIP. Tangan Seno tak sebentar pun melepas tangan Nisa. Ekor mata Nisa tak sengaja menangkap cewek-cewek toilet tengah menatapnya kesal. Nisa mengeratkan pegangan tangannya dan menatap mereka dengan penuh kemenangan. Ingin rasanya menjulurkan lidah sama mereka, tapi dia tahan. Nisa meluncurkan senyuman sinis. Dan mereka kesal dibuatnya.


"Emang enak!" lirih Nisa dalam hati, lalu tersenyum penuh kemenangan.


Betapa bangganya dia menjadi istri sehebat dia. Laki-laki yang terlunta-lunta di Bandara Changi karena kehilangan satu tasnya, dan Nisa lah satu-satunya orang yang peduli ketika itu. Ternyata skenario Tuhan lebih indah dari skenario film romantis apa pun.


"Terima kasih atas kepercayaan Anda semua terhadap perusahaan saya. Saya dan Tim akan berusaha lebih keras lagi untuk menciptakan ide-ide kreatif dan inovatif, semoga ide itu senantiasa mengalir seperti air tak ada habisnya, dan menjadi jalan untuk kesuksesan kita semua, klien dan perusahaan periklanan itu sendiri tentunya. Terima kasih. Selamat malam."


Sambutan penutup Seno disambut oleh tepuk tangan meriah. Ketika Seno di atas mimbar, Nisa menyadari kalau Seno harus membeli jas dan dasi baru. Menurutnya itu sudah terlihat kuno, padahal tidak untuk orang lain. Seno terlihat bersinar dengan stelan itu.


Dalam sekejap Seno sudah berada di samping Nisa. "Alhamdulillah ...." Seno berkata pelan sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Kemudian dia mengobrol dengan Aldi di sisi kirinya.


"Semoga dengan penghargaan ini, klien kita makin banyak, Bos." Nisa mendengar Aldi berkata seperti itu, selebihnya tidak dia dengar.


Tepat pukul dua belas malam, acara pun selesai dilaksanakan. Seno meminta Pak Wisnu untuk menjadi supirnya malam itu. Dan mungkin itu akan berlanjut.


***


Sabtu pagi ini Nisa bangun agak siang. Setelah salat Subuh dia tidur lagi karena semalam pulang dari acara pukul satu dini hari, dan setelah itu Seno meminta jatah hingga pukul dua. Badan Nisa remuk rasanya. Apakah dia harus minum obat atau vitamin?


Ketika dia akan mengambil botol vitamin di lemari atas, mendadak dia tercenung. Dia teringat obrolan dengan Seno tadi malam di tukang bubur. 'Apa bener gue udah telat haid, ya? Sumpah gue gak inget dan enggak tau!' Nisa berkata dalam hati seraya menggetok-getok kepalanya. 'Apa gue beli tespek ya sekarang? Semalam lupa.'


Nisa menyambar sweeter di kamar lalu pergi ke bawah. Di lantai dasar apartemennya ada minimarket, jadi dia tak perlu jauh-jauh untuk keluar. Setelah membeli tespek, dia pergi ke kamar mandi dan membaca petunjuk di kemasan tespek tersebut. Saat urinenya dia tampung ke wadah kecil, tiba-tiba jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Dengan tangan sedikit gemetar, dia mencelupkan ujung tespek itu ke urinenya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, hasilnya perlahan terlihat. Nisa memekik tak percaya ketika melihat garis merah muda itu menyembul keluar yang satu dengan yang lainnya. Itu artinya dia positif hamil.


"Alhamdulillah ... garisnya ada dua!" Cepat-cepat dia keluar dari kamar mandi dan menghambur Seno yang masih di balik selimut.


"Sen banguuuun, Sen!"


Seno menggeliat, mengerang, lalu menutupi kepalanya dengan selimut tak mau diganggu. Nisa menguncang-guncang tubuh Seno dengan kesal.


"Sen! Bangun, dong! Kamu tuh ya kalau tidur udah kayak kebo aja, mentang-mentang weekend. Ngeselin, tauk!"


"Ada apa, Sayang?" Seno berkata dari balik selimut, "aku masih ngantuk, nih."


"Bangun dulu liat ini sebentar! Kamu pasti kaget."


"Apaan, sih?" Seno membuka selimut, menatap Nisa seperti mau nangis karena sudah mengganggu ritual tidur sucinya.


"Tadaaaa, lihat ini." Nisa menunjukkan benda pipih persegi panjang itu ke depan mukanya. Seno yang masih linglung mengernyitkan mata. "Apaan, tuh?" tanyanya.


"Ini tespek, Sayang. Aku hamil!"


"Apa!" Seketika mata Seno membeliak.


"Lihat, garisnya ada dua!" Nisa menyerahkan tespek itu ke tangan Seno. "Kali ini aku harus mengakui kalau kamu emang beneran punya feeling yang kuat."


Melihat itu Seno bergeming. Rasa tak percaya sekaligus bahagia membungkusnya di pagi hari ini.


"Sen?"


Seno mendongak, dan Nisa melihat mata suaminya kini bersaput air. Dalam hitungan detik, Nisa sudah mendapati dirinya berada dalam pelukan Seno. "Alhamdulillah, akhirnya doa-doa kita selama ini dikabulkan. Aku seneng banget, Nis."


Seno melepaskan pelukan lalu beranjak dari tempat tidur melakukan sujud syukur di atas karpet. Cukup lama dia sujud di bawah sana, hingga akhirnya dia kembali memeluk Nisa di tempat tidur. Nisa sungguh terharu melihat Seno seperti itu.


"Mulai hari ini, kamu harus lebih menjaga kesehatanmu, ya ...." Nisa mengangguk.


Seno melepaskan pelukan. "Hari ini kamu mau makan apa? Biar aku masakin."


"Masakin? Serius, nih?"


"Mmm ... aku serius."


"Kalau gitu, ada satu makanan yang pengan aku makan pagi ini."


"Apa?"


"Serabi."


"Hah?" Seno melongo. "Kalau itu aku nyerah, deh. Kita nyari keluar aja kalau gitu."

__ADS_1


Alhasil pagi itu mereka muter-muter mencari serabi, tapi tak ketemu. Akhirnya mereka riques ke mamanya Seno agar dibuatin. Akhirnya Nisa pun memakan dengan lahap serabi buatan mertuanya hingga kekenyangan.


***


__ADS_2