Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 56


__ADS_3

Mata Nisa memicing menatap pemandangan yang mengusik hatinya. Dia manajamkan mata sambil cemberut. Dari kejauhan dia melihat Seno sedang mengobrol asik dengan seorang wanita berbaju seksi, berbadan bagus seperti model, dan berrambut hitam panjang menutupi punggung. Sesekali wanita itu merangkul bahu Seno dengan akrab, dan mereka tergelak bersama setelah wanita itu membisikkan sesuatu ke telinga Seno. Melihat itu hati Nisa langsung panas dan ingin marah, menyeret Seno ke sampingnya. Namun apa daya, yang bisa dia lakukan cuma melihat dari kejauhan sambil sekuat tenaga menahan tangis.


Suasana kafe siang itu memang sedikit ramai, Nisa sendiri sudah dari toilet, saat kembali dia malah melihat pemandangan menyebalkan itu.


Dengan langkah gusar, Nisa meninggalkan kafe, meninggalkan Seno dengan kekesalan yang ada. Kejadian tadi membuat Nisa berspekulasi sendiri. Jangan-jangan di belakangnya kelakuan Seno lebih parah dari yang dia lihat hari ini? Jangan-jangan Seno masih berhubungan baik dengan mantan-mantannya yang bejibun itu? Jangan-jangan Seno menjalin hubungan khusus dengan klien-kliennya?


Kata 'jangan-jangan' tiba-tiba memenuhi otak Nisa hingga rasanya mau meledak. Rasa cemburu dan curiga mendominasinya karena terlalu cinta.


Nisa berjalan sendiri di bawah teriknya mentari pukul sebelas sambil menangis. Dia tidak tahu mau kemana, dan tidak tahu seluk-beluk daerah tersebut. Nisa tidak peduli mau nyasar atau apa pun, yang dia pikirkan sekarang cuma ingin menjauh sementara dari Seno.


Di pertigaan jalan, di jalanan yang ramai dengan kendaraan, Nisa yang berjalan sambil menunduk dan menangis, tidak tahu kalau di kejauhan ada motor melaju kencang ke arahnya.


Nisa tidak melihat motor itu, sementara si pengendara tidak bisa mengendalikan motornya, ngerem mendadak pun sepertinya percuma. Akhirnya ....


BRUUUUKKKKK ...


Nisa tertabrak motor itu hingga jatuh tersungkur, si pengendara pun jatuh terguling-guling hingga menimbulkan kecelakaan beruntun. Ada tiga motor yang terlibat kecelakaan tersebut. Dan semua korban masih bisa bangun sendiri kecuali Nisa.


***


Sementara itu Seno kebingungan sendiri Nisa belum juga kembali dari toilet. Mau menelepon, HP dan tasnya dia tinggalkan di meja, menyusulnya ke toilet pun tak ada. Seno mengusap-usapnya keningnya bingung dan cemas, mengigit bibir bingung mau minta bantuan siapa.


"Seno ... gue pergi dulu, ya, pokoknya kita harus ketemu lagi nanti di Jakarta, oke?"


"Oke, San."


"Istri lo belum kembali?" tanya Susan.


"Belum, nih, gue gak tau dia kemana."


"Telepon aja."


"Kalau bisa udah gue lakuin dari tadi. HP-nya ada di gue ini."


"Mmm gitu. Jangan khawatir, mungkin istri lo lagi ke suatu tempat dulu, nanti juga kembali. Ya udah gue cabut ya, Sen. Sampai ketemu nanti."


"Oh, iya, hati-hati, San."


Wanita itu pergi. Setelah dia pergi, Seno pun pergi mencari Nisa sambil menenteng tasnya. Agak malu juga dia membawa tas cewek, tapi mau gimana lagi.


Seno bertanya ke tukang parkir barang kali melihat Nisa keluar. Seno menjelaskan ciri-ciri Nisa ke tukang parkir tersebut. "Dia pake kaus pendek warna putih sama rok plisket warna pink muda. Rambutnya panjang ... kulitnya putih ... badannya tinggi agak kurus."


"Oh, perempuan cantik yang tadi keluar sambil nangis?"


"Apa?" Seno melongo. Kok, nangis? Batinnya heran.


"Bapak yakin, tuh?" tanya Seno.


"Yakin, dia pake kaus putih pendek ada gambar menara Eiffel-nya, kan?"


"Betul-betul, itu baju istri saya."

__ADS_1


"Dia keluar sambil nangis ke arah sana." Tukang parkir tersebut menunjuk arah kemana Nisa pergi.


"Oh, gitu. Makasih, Pak." Seno menepuk pelan lengan tukang parkir itu lalu pergi dengan setengah berlari. Kemudian di perempatan jalan, tempat Nisa kecelakaan tadi masih ramai oleh orang-orang, bahkan ada polisi juga. Seno berhenti sejenak dan mengerti di tempat tersebut pasti sudah terjadi kecelakaan.


"Wanita itu yang terluka parah," cetus seseorang di dekat Seno.


"Kasihan, semoga dia selamat," cetus yang lain.


"Ada apa, ya, Pak?" Seno pun akhirnya bertanya.


"Abis kecelakaan, Mas."


"Oh, kecelakaan motor mobil?"


"Bukan, tapi ada seorang wanita yang ketabrak motor, terus terjadilah tabrakan beruntun," jelas Bapak berrambut ikal itu. Entah kenapa hati Seno serasa tersentak mendengar penjelasan itu.


Wanita? Tiba-tiba feeling kuat Seno bekerja. "Pak, wanita yang ketabrak itu pake baju apa?" tanya Seno cemas luar biasa. Dia berharap feelingnya kali ini salah.


"Dia pake kaus putih sama rok warna pink," jawab pria berrambut ikal itu.


Deggg! Dada Seno langsung seperti tertonjok balok beton. 'Astagfirullah itu istri gue,' jerit Seno dalam hati.


"A--pa? Bapak yakin wanita yang ketabrak itu pake baju itu?"


"Iya, saya yakin. Saya liat dengan mata kepala saya sendiri. Emangnya kenapa, Mas?"


"Dia istri saya, Pak." Seno hampir saja menangis saat mengatakan itu.


"Apa!" Pria itu dan dua orang di dekatnya kaget bukan main.


"Iya. Ini--saya lagi nyariin dia," tutur Seno, dan kali ini air matanya jatuh ke pipi. Rasa takut dan cemas langsung menghujamnya tanpa ampun, menggulungnya seperti ombak lalu menghempaskannya dengan keras ke karang yang menjulang. 'Danisa ... Nisa ....' teriaknya dalam hati.


Sebenarnya Seno masih bertanya-tanya dalam hati tidak mengerti. Kenapa Nisa sampai pergi dan menangis? Apakah dirinya membuat kesalahan? Dan tak lama dia terkesiap. Apakah Nisa melihatnya bersama Susan tadi di kafe lalu marah? Padahal tadinya Seno akan memperkenalkan Susan pada Nisa.


Susan adalah mantan pacar Seno waktu SMA, mereka sudah tak pernah bertemu sejak Susan menikah dan tinggal di Bali dengan suaminya. Sekarang Susan sudah punya dua putri dan hidup harmonis dengan suaminya yang berasal dari Belgia. Jika Nisa cemburu pada Susan hingga terjadi kecelakaan ini, Seno tak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Paaak, ini keluarga korban, Pak. Dia suaminya," seru Bapak berrambut ikal pada polisi.


Polisi bertubuh tegak itu menoleh. "Anda suami korban?"


"I--iya, saya suaminya." Seno bicara dengan kesusahan berusaha meredakan kecemasannya.


"Ayo ikut saya, istri Anda dibawa ke rumah sakit BIMC."


"Baik, Pak."


Sesampainya di rumah sakit, Seno langsung menuju IGD dan melihat Nisa sedang ditangani oleh tenaga medis. Perawat menyuruh Seno untuk tenang dan menunggu di luar, tapi dia tak bisa menunggu di luar, Seno memohon untuk tetap di dalam dan janji tak akan mengganggu, dia cuma ingin melihat saja, lebih tepatnya tidak mau jauh-jauh dari Nisa. Perawat pun mengizinkan.


"Nis ... bangun, Nis...," lirih Seno, lantas Air matanya meluruh lagi. Selang sepuluh menit, dokter yang menangani Nisa keluar dan menghampirinya. "Anda suami pasien?"


"Iya, Dokter? Gimana istri saya?"

__ADS_1


"Sepertinya benturan di kepala istri Anda agak serius, kita harus melakukan CT scan takutnya ada gumpalan darah. Apakah sebelumnya istri Anda pernah mengalami trauma di kepala?"


Deg! Dada Seno kembali seperti tertonjok balok beton. 'Trauma kepala? Astagfirullah iya pernah, dulu waktu SMA, waktu dia lari menghindari Viko, lalu tertabrak mobil.'


"Iya, pernah, Dok, waktu dia SMA."


"Pantas, di kepalanya ada bekas sayatan pisau bedah. Kalau ada gumpalan, terpaksa dia harus dioperasi lagi."


"Apa?" Tubuh Seno langsung lemas seketika. Dia terduduk di bangku tunggu sambil mendekap tas Nisa yang dia bawa.


"Kalau itu yang terbaik dan istri saya bisa selamat lakukan aja, Dok. Saya mau menghubungi keluarga saya dulu di Jakarta."


"Baik. Kami akan langsung melakukan tindakan kalau gitu."


***


Setelah dikabari Nisa kecelakaan, Nurul dan Aryan langsung terbang ke Bali saat itu juga. Sementara orang tua Nisa tidak bisa langsung berangkat. Mereka baru bisa pergi besoknya lagi bersama Rian juga.


Setelah menjalani pemeriksaan secara intensif, memang benar, trauma di kepala Nisa yang dulu kembali terkoyak, dan harus dilakukan pembedahan. Kalau tidak nanti bisa membahayakan nyawanya. Sore hari Nisa masuk ruang operasi, dan untungnya Nurul dan Aryan sudah sampai jadi Seno tidak sendirian. Dia menangis sesenggukan di pelukan ibunya.


"Seno enggak becus jagain Nisa, Ma. Aku gak guna!" Nurul mengusap-usap punggung Seno. "Sabar, Sen, tenang! Kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri, enggak baik. Sebaiknya kita doain Nisa agar operasinya lancar dan dia selamat."


Seno mengangguk. "Dokter di rumah sakit ini hebat-hebat, Nisa pasti selamat, tenang aja." Aryan bersuara.


Seno kembali mengangguk. "Ma, titip tas Nisa, aku mau pergi dulu."


"Mau kemana, Sen?"


Seno tidak menjawab, dia mengayunkan kakinya ke lantai bawah, lalu pergi ke musala. Tak ada tempat yang cocok selain rumah Tuhan untuk memohon. Seno duduk di dalam musala sambil menunggu salat Magrib.


Dia bersimpuh dan berdoa dengan khusyuk di sana. Sore itu musala terlihat lengang, dan sampai waktu salat magrib pun musala itu masih saja lengang. Seno lupa bahwa ini adalah Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu.


Seno salat magrib sendiri, setelah itu dia kembali berdoa dengan khusyuk, sangat khusyuk, sampai tak menyadari air mata kembali luruh ke pipi. Seno tidak tahu jika tak ada Nisa di hidupnya, mungkin dirinya juga akan mati.


Malam minggu ini seharusnya mereka bersenang-senang di Jimbaran, dinner di pinggir laut dengan suasana yang hangat dan romantis, seharusnya juga siang tadi mereka bersenang-senang di Kuta mencoba fasilitas apa pun di sana. Melayang di udara dengan parasailing, seru-seruan dengan banana boat, dan mencoba main jet ski. Sebelum tidur semalam, Nisa sangat antusias ingin mencoba semuanya. Dan besok pun seharusnya shopping, menyusuri Jalan Legian dan mengunjungi galeri Reindra dan Alan yang baru dibuka, lalu membeli lukisan untuk oleh-oleh orang tua mereka.


Namun, sekarang Seno malah bersimpuh di musala Rumah Sakit Bali International Medical Centre. Dan Nisa terbaring tak berdaya di operating room. Seno tidak bisa membayangkan kepala Nisa harus dibedah untuk kedua kalinya. Seno masih terbayang gimana sekaratnya Nisa waktu di Singapore dulu ketika kepalanya pusing akibat cederanya. Seno tak kuasa membayangkannya jika hal itu kembali terjadi. Itu terlalu menakutkan.


"Nis, aku janji, setelah ini aku akan menjagamu lebih baik lagi. Maafin aku, Nis ...."


***


Selang tiga jam operasi pun selesai dilakukan. Nisa dipindah ke ruangan observasi, dia akan dipantau beberapa jam ke depan oleh dokter. Karena ini operasi kedua, jadi kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Seno sampai lemas saat diberi tahu hal itu oleh dokter.


Aryan meraih pundak putra bungsunya itu. "Sabar. Sebaiknya kamu istirahat, biar mama sama papa yang nungguin Nisa."


"Enggak, Pa. Aku mau di sini aja. Sebaiknya Mama sama Papa yang istirahat, kalian pasti capek, kan? Udah Seno bookingin hotel dekat sini buat kalian. Nanti kalau ada apa-apa aku kabarin."


Aryan dan Nurul saling pandang mempertimbangkan. Setelah itu mereka mengiyakan. "Ya sudah, kami ke hotel dulu kalau gitu," kata Nurul.


Selepas orang tuanya pergi, Seno tercenung sendiri. Jujur, dia masih memikirkan kenapa Nisa sampai kecelakaan. Apakah benar karena dia kesal dan cemburu terhadap Susan? Kalau benar, bagaimana ini? Seno resah sendiri.

__ADS_1


Istrinya adalah orang yang paling cemburuan di dunia. Perkara The Ascher waktu di Swiss aja dia manyunnya sampe malam. Seharusnya Seno bisa menjaga sikap kalau tau watak istrinya seperti itu. Tapi ... sekarang nasi sudah terlanjur menjadi bubur, tak ada yang bisa dia lakukan. Seno hanya berharap Nisa segera sadar dan bisa meminta maaf padanya.


***


__ADS_2