
Pagi ini Nisa merasa sedih, tamu yang tak diharapkan datang. Dia kira tamu itu tak akan datang bulan ini. Ketika Nisa mengatakan itu pada suaminya, dia pun sama sedihnya. "Kita berusaha lagi, semoga bulan depan tamunya enggak dateng," kata Seno tadi pagi setelah Nisa mengabarkan hal itu.
Nisa mengangguk lalu memeluk suaminya. Entah kenapa perkara ini telah membuatnya merasa kurang berguna. Seno sangat mendamba buah hati, dan dia ingin memberikan yang terbaik. Namun, rupanya Tuhan belum mengizinkannya bulan ini.
Ternyata pernikahan tidak semudah yang dibayangkan, bahkan perjalanannya masih terlalu jauh untuk ditempuh. Banyak hal dan faktor yang memengaruhinya, salah satunya soal anak. Semoga bulan depan tamu itu tak datang lalu bermertamorfosis menjadi sesosok makhluk lucu di perutnya.
Karena hal itu, mau tidak mau suasana hati Nisa jadi buruk hingga terbawa ke kantor. Hormon progesteron yang memengaruhi suasana hatinya berkerja lebih kuat, sehingga sedikit saja ada yang tidak sesuai dengan hatinya Nisa akan sensi lalu.marah-marah enggak jelas.
Bawahannya sampai ada yang nyeletuk. "The Quin Ice is back! Hati-hati."
Setelah meeting untuk kampanye besar-besaran produk baru, Nisa langsung kabur menemui Lala, karena memang sekarang waktunya makan siang. Suasana hatinya sedang buruk, dan tak ada yang bisa menghiburnya selain manusia satu itu.
Nisa melihat wanita yang memakai seragam sebuah stasiun TV itu sudah menunggunya di sebuah kafe tempat janjian mereka. Nisa bergegas menghampirinya.
"Hai," sapa Nisa.
"Dateng juga lo."
"Hehe, gue abis meeting tadi, untung aja enggak molor meetingnya, gue udah kelaperan. Eh, udah pesen belum?" Nisa duduk di depan Lala.
"Udah. Cieeee yang udah honneymoon, ngomong-ngomong gimana honneymoon-nya? Happy dong?"
Wajah Nisa langsung bersemu merah ditanya seperti itu. Dia menopang dagunya dengan satu tangan, tersenyum, membayangkan suasana Swiss yang indah bersama orang yang paling dia cintai. Rasanya sampai saat ini dia masih merasakan bau salju saat maen ski di Titlis, naik cable car, makan di The Äscher, naik Barnina Ekspress, hingga melihat panorama gotic Lucerne. Mengingat nama tempat itu, air muka Nisa tiba-tiba berubah.
"La, masa si Seno pingsan coba di Lucerne."
"Hah!" Lala melohok kaget. "Kok bisa orang kek dia pingsan?"
"Iya, dia sakit. Lo bisa bayangin gimana paniknya gue. Ah, gak tau lagi gue nangisnya udah kayak apa waktu itu."
"Ya Tuhan, Seno. Tapi dia enggak kenapa-napa, kan?"
"Enggak, dia cuma kecapean aja."
"Syukurlah," ucap Lala, setelah berkata seperti itu lantas dia senyum-senyum geli. "Seno kecapean sampe pingsan segala, emangnya kalian abis ngapain aja?"
Nisa tergelak. "Haha pertanyaan apaan, tuh? Nggak! Kita gak abis ngapa-ngapain."
"Yakin? Ah, gak percaya gue. Serius enggak ngapa-ngapain? Pengantin baru kan biasanya lagi hot-hotnya, tuh. Apalagi orang kek Seno. Dia mendem cinta sama lo selama sebelas tahun, pasti dia ngelampiasinnya udah kayak apa tau."
Nisa tertawa. Mengingat pagi itu mereka bercinta sampai berjam-jam tanpa jeda. Seno yang bersemangat sampai memutuskan tali lingerie-nya. Mendadak saat itu dia merindukan suaminya itu.
"Hahaha lo bener, La. Gue tuh ya, masih gak nyangka aja bisa nikah sama si playboy cap paus itu."
"Lo aja masih gak nyangka, apalagi gue. Hahaha."
"Eh, La. Ngomong-ngomong dulu lo kosongnya lama, ya?"
Bola mata Lala melirik ke atas mengingat-ngingat. "Lumayan, sekitar delapan bulanan."
"Lo punya kenalan dokter kandungan, gak?"
Mendengar pertanyaan itu, Lala berpikir Nisa sudah telat haid sekarang. Buset, senjatanya Seno tajem juga, ya. Lala terkekeh sendiri.
"Kok ketawa, sih? Ada, gak?"
"Hehe sori-sori. Ada, Nis. Emangnya kenapa lo nanyain dokter kandungan? Lo udah telat?"
Nisa mengerjap. "Enggak, gue malah lagi dapet sekarang."
"Lah terus ngapain? Mau program? Menurut gue jangan dulu program, tunggu sedapetnya aja, nikmatin masa-masa pengantin baru kalian. Kalau udah punya anak repot."
"Enggak, gue enggak mau program, gue mau memeriksakan diri aja, takutnya ada apa-apa sama reproduksi gue."
Lala ngangguk-ngangguk. "Ada. Dokter obgyn langganan gue. Enak konsul sama dia, dokternya cewek, jadi lo gak akan malu."
"Boleh-boleh. Lo punya kontaknya gak?"
"Bentar." Lala mengambil hape di saku bajunya. Lalu mengirim kontak klinik tersebut ke WA Nisa.
"Tuh, udah."
__ADS_1
"Thanks, La."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong lo emang pengen banget punya anak, ya?"
Nisa menghela napas berat mendengar pertanyaan Lala. "Sebenarnya gue belum siap punya anak sekarang, La, tapi Seno sama Mama Papanya kayaknya berharap banget kita cepet-cepet punya anak. Mengingat kita juga umurnya udah 30 lebih."
"Udah, jangan terlalu dipikirin, entar lo malah stres lagi. Kalau mau cepet dapet, pikiran juga harus happy, jangan stres-stres."
Benar juga. Namun, entah kenapa perkara ini seperti telah menjadi momok tersendiri untuk Nisa. Rasa was-was dan takut tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Seno dan keluarganya telah menggerogoti hatinya perlahan.
"Iya, La. Gue emang lagi stress banget sekarang. Apalagi di kantor mau lounching produk baru yang akan kampanye besar-besaran. Rasanya beban di pundak gue udah berton-ton beratnya."
"Produk baru lagi?"
"Iya. Kali ini target pasar kita anak-anak muda, harganya terjangkau, tapi masih dapet kualitas Vreeset yang terbaik. Kali ini gue manargetkan bisa menjual jutaan sepatu, makanya sekarang kita lagi gencar mati-matian, nih."
"Wow, proud of you, Sis. Semoga berhasil. Kalau itu tercapai lo tambah kaya, nih. Jangan lupa traktirnya." Lala terkekeh.
"Beres. Lo tau, gak, siapa yang nanganin iklan sepatu gue?"
Mata Lala membulat, lalu menjentikkan jarinya. "Senopati Production," katanya.
"Betul, hehehe."
"***** emang lo berdua, nyebelin. Pinter banget nyari duit, tau aja peluang bagus. Si Seno beruntung juga dapet klien bini sendiri."
Nisa terkekeh. "Minggu depan Tim dari kantornya Seno mau presentasi. Gue udah penasaran dari sekarang, sebagus apa entar hasil kerjaan laki gue. Hahaha."
"Dijamin bagus! Lo gak liat iklan yang berseliweran di TV hasil laki lo?"
Lagi-lagi Nisa terkekeh. "Liat-liat, bagus emang. Semalam kita ngobrol, di kantornya lagi sibuk juga sama proyek perusahaan North Oil yang enggak kelar-kelar karena rewel, banyak maunya banget. Hhhh, entahlah, sekarang kita kalau mau tidur jadi ngobrolin kerjaan mulu. Rasanya gue pengen terbang kembali ke Swiss."
Sekarang giliran Lala yang terkikik geli. "Kalau kalian stres mulu, entar dedek bayi kagak bakal nongol-nongol. Nih, gue kasih tau, Nis, sesibuk-sibuknya lo berdua, sempetin deh seminggu sekali pacaran kemana, kek. Nginep di hotel, kek, anything. Sampe sekarang gue sama Brian masih ngelakuin itu walau udah ada Liana. Menurut ahli, hal itu bisa menekan angka perceraian rumah tangga."
"Masa, sih? Ngarang lo, bukan menurut ahli, itu menurut lo kali."
"Ya, kan gue ahlinya, hehehe."
Seorang pelayan mengantarkan pesanan mereka ke meja. Sebelumnya Nisa memang sudah bilang lewat WA menu apa yang mau dipesannya.
"Laper gue, makan dulu, ah."
Lala terkekeh. "Aduh kasian bininya temen gue kelaperan."
***
Saat Nisa akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia agak terkejut melihat siapa yang telepon. Mas Andi.
'Tumben Mas Andi telepon, ada apa, ya?' Dengan ragu Nisa mengangkat telepon tersebut.
"Halo ...," sapanya.
"Halo, Nisa."
"Mas Andi."
"Iya ini saya. Gimana kabar kamu?"
"Baik ... baik. Mas Andi gimana?"
"Alhamdulillah, saya baik. Ngomong-ngomong saya ganggu, gak?"
"Enggak, kebetulan aku abis makan siang sama temen. Mas Andi tumben telepon?"
Andi tertawa kecil. "Iya, nih. Udah lama banget ya kita enggak komunimasi gini. Jadi gini, Nis, saya telepon mau ngasih tau sekaligus nawarin kamu ikut sama saya buat nemuin Viko."
"Hah? Kapan? Udah lama juga, sih, aku enggak ziarah. Aku izin suamiku dulu kalau gitu."
"Sekalian saya mau nagih janji kamu buat nemenin saya keliling Sukabumi. Inget?"
Nisa tergelak. Iya dia ingat, dulu dia sering bilang gitu sama Andi. Tidak disangka sekarang dia menagihnya.
__ADS_1
"Hahaha siap-siap, Mas. Tapi nanti kalau aku ngajak suamiku gak apa-apa, kan?"
Hening.
Suara itu tidak kunjung Nisa dengar. Setelah hampir satu menit, dia mendengar Andi mendesah seperti orang kecewa.
"Maaf, Nis, kalau ngajakin suami kamu, saya enggak mau. Bukan apa-apa saya enggak akrab dengannya. Enggak enak juga."
Nisa menelan saliva bingung. Dia tidak mau mengecewakan Andi, tapi di sisi lain, dia tidak mau pergi tanpa Seno.
"Mmm gitu, ga udah aku pikir-pikir dulu ya, Mas."
"Sip, nanti jangan lupa kabarin saya. Thanks, Nis."
"Sama-sama."
Telepon ditutup Andi. Nisa memasukkan teleponnya ke tas. Mendadak dia teringat bagaimana dekatnya Viko sama Andi dulu. Mereka bertemu ketika Viko menjadi Office Boy di kantornya Andi, saat itu Viko baru mengijakkan kaki di Ibu Kota. Walaupun waktu itu Viko cuma Office Boy, tapi Andi tidak sekali pun memandang rendah dirinya. Rasa bangga pun membuncah dalam dada Andi ketika Viko sukses menjadi penulis novel. Tidak henti-hentinya dia memuji sahabatnya itu di depan Nisa.
Nisa ingat betul bagaimana terharunya Andi saat dia dan Viko memberinya kabar pernikahan mereka. Andi memeluk Viko dengan erat di rumah sakit ketika Viko dirawat sambil meneteskan air mata. Dia memang salah satu orang yang tahu banget cerita mereka.
Namun, saat Viko tiada, Andi tidak datang takziah. Entah apa alasannya, Nisa tidak tahu. Dan sekarang dia mendadak telepon ingin ziarah ke makam Viko. Pasti memang terjadi sesuatu dalam dirinya. Nisa tidak tahu apa itu.
***
"Bos, pitching buat North Oil, udah beres, nih, besok kita mulai garap buat Vreeset Shoes," ucap Aldi di ruangan Seno. "Tapi ...." Ucapan Aldi terhenti.
Seno yang tengah memandangi laptopnya mendongak mendengar Aldi menghentikan ucapannya. "Apa?" tanya Seno.
"Bu Martha ngajakin Bos dinner."
Seno tergelak sendiri. Benar-benar! Janda kaya itu ingin menggaetnya. "Al, coba lo pikir, baru kali ini, kan, ada klien model Bu Martha? Gue tuh beneran heran aja gitu, apa sih yang dia lihat dari gue sampe-sampe ngebet banget gitu?"
Aldi terkikik-kikik, teringat bosnya dulu dicium oleh Bu Martha. "Awas ketahuan Mbak Nisa, runyam dah tuh urusan. Tapi, Bos, kalau Bos enggak nemenin dia dinner, next projec North Oil itu gak bakal dia kasih lagi ke kita."
"Serius dia ngomong gitu?" Mata Seno terbeliak.
"Iya, Bos, sekretarisnya yang bilang."
Seno menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Dia tidak nyangka urusannya bakal serumit ini. North Oil itu klien kelas kakap-nya, kalau dia sampai kehilangannya, otomatis klien kelas kakap yang lainnya akan mempertimbangkan kontrak. Mereka pasti bertanya-tanya kenapa, nih, sekelas perusahaan North Oil memutuskan kontrak? Seno takut mereka berpikir di perusahaannya lagi ada masalah.
Mungkin untuk makan malam sekali aja gak apa-apa kali, ya?
Seno mengangkat kepalanya. "Kapan, Al?" tanyanya.
"M__malam ini, Bos." Aldi menjawab tidak enak.
"Serius, lo?" Aldi mengangguk. Seno mengacak rambutnya dengan kasar frustasi. Setelah itu dia mengambil ponselnya di samping laptop lantas menelepon Nisa. Aldi duduk di sofa menumpang kaki menunggu Bosnya telepon.
Tak berapa lama sang istri mengangkat telepon Seno. "Sayang ...." seru Seno, dia mengigit bibir, ragu mengatakan maksud menelepon.
"Iya, Mas?"
"Sayang, sepertinya malam ini aku pulang telat."
"Oh, ada apa memangnya?"
Seno semakin keras menggigit bibirnya sendiri, memikirkan alasan pulang telat. "Malam ini mau ada rapat dadakan di kantor," ujar Seno sambil memejamkan matanya. Dia merasa berdosa sudah berbohong, tapi jika dia berkata jujur, seratus persen Nisa enggak akan mengizinkan. Dia tahu betul istrinya sangat cemburuan. Dia nonton dangdutan sama Aldi saja cemburu. Matthew ngasih info soal The Äscher saja cemburu. Apalagi ini dinner sama seorang janda cantik, bisa-bisa Seno enggak akan dapet "jatah" lagi.
"Oh, ya sudah, kamu hati-hati, ya, pulangnya. Jaga kesehatan. Oh iya, di appartemen ada si Angga sama Rian. Tadinya mereka mau ngajakin kita makan di luar malam ini. Tapi kalau kamunya sibuk mah enggak apa-apa."
"Ada Rian juga?"
"Iya, Mas."
"Salam aja ya, sama adik-adik iparku yang ganteng."
"Oke, hehe. Dah, sayang ... love you."
"Love you too," balas Seno. Aldi tersenyum mendengar ucapan Bosnya. Mereka suami istri yang romantis, pikirnya. Ada sedikit rasa iri dalam benaknya. Sekarang usianya sudah dua puluh delapan tahun, mungkin sudah saatnya dia memikirkan pernikahan. Selama ini dia belum menemukan kriteria wanita idamannya, tapi kemarin, ada copy writer baru yang mendekati type wanita idealnya. Dia anggun dan berhijab. Aldi sudah menyukainya pada pandangann pertama. Dan dia memohon pada Hilman staff HRD yang ikut mewawancarainya kemarin untuk menerimanya. Hilman menyetujuinya. Sekarang Aldi merasa bersemangat di kantor karena ada dia.
"Al, lo hubungi sekretaris Bu Martha, buat tentukan tempat dinnernya."
__ADS_1
"Sip, Bos." Aldi berkata sambil bangkit berdiri.