Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 17


__ADS_3

Sudah dua hari ini, Niken__sepupu Seno__menginap di apartemen. Sejak Seno tinggal di Manchester Niken memang jadi sering berkunjung menemui Seno. Bukan tanpa alasan, itu adalah aksinya untuk berhemat, karena kalau bersama Seno, Niken tidak akan mengeluarkan uang seperak pun. Semuanya ditanggung.


"Gak sia-sia gue punya sepupu Bos kayak elo, Sen, hahaha," seloroh Niken.


"Ye jangan salah, abis ini gue mau minta tagihan sama Om Dimas."


"Ya elah, ngapain bawa-bawa bokap gue, sih!" seno terkekeh.


"Elo enggak minta jatah bulanan sama cowok lo gitu? Si Edward kan, tajir."


"Iye, tajir tapi pelit."


"Haha nasib lo apes bener ...."


"Jangan ngomong gitu dong, sedih nih gue."


Niken itu sepupu Seno yang dari kuliah sampe kerja tinggal di Inggris. Umurnya lebih muda dua tahun dari Seno. Pulang ke Indo setahun sekali lebaran saja, itu juga kalau dikasih cuti sama perusahaannya. Hubungan dengan pacarnya pun sudah serius. Kabarnya tahun depan mau lamaran.


Niken masih meringkuk di sofa dan membenamkan tubuhnya di balik selimut. Pagi hari yang begitu dingin, suhu di termometer menunjukan angka 5°.


"Sen, gue nyalain penghangat ruangan, ya ...."


"Iye ... gue mandi dulu, deh." Seno menaruh ponselnya di meja dekat sofa yang ditiduri Niken. Kemudian bangkit berlalu ke kamar mandi.


"Ya udah sono lo mandi. Bentar lagi lo berangkat kuliah juga, kan?" Niken berdiri meraih remot penghangat ruangan yang menempel di dinding lalu menyalakannya.


Baru saja Seno masuk kamar mandi ponsel yang tadi ia letakan di meja berbunyi. Niken penasaran siapa yang menelepon, karena suara dering ponsel itu sedikit mengganggunya.


Niken melihat layar ponsel Seno.


"Nomor Indonesia?" gumamnya.


"Siapa, ya? Jangan-jangan tante Nurul nyokapnya si Seno." Niken meraih ponsel Seno di meja.


"Angkat jangan, ya? Takut penting, nih. Ah angkat aja deh." Niken menggeser gagang telefon. "Halo ...," sapa Niken.


Di seberang telefon napas Nisa tertahan beberapa detik mendengar siapa yang menjawab bukan Seno melainkan suara seorang perempuan. Nisa melirik jam tangannya, jam 1 siang. Berarti di Manchester sana jam 7 pagi. Kenapa pagi-pagi sekali Seno sudah bersama dengan seorang wanita? Apa jangan-jangan ....


Pikiran Nisa seketika kacau.


"Halo ... sorry, this phone is not Seno?" tanya Nisa.


"Betul, ini hapenya Seno. Maaf dengan siapa saya bicara?"


Nisa tidak menjawab ia malah terdiam. 'Dia ngomong bahasa Indonesia dengan baik. Pasti perempuan itu orang Indonesia,' batin Nisa.


"Halo ...," seru Niken karena tidak ada jawaban.


"Oh, maaf. Saya Nisa, temannya Seno. Apa Senonya ada? Saya mau bicara penting dengan dia."


"Wah, Seno baru aja masuk kamar mandi, tuh. Kamu telefon setengah jam lagi ya, soalnya Seno kalau mandi lama," tutur Niken. Nisa langsung bungkam, bahkan perempuan itu tahu Seno mandinya lama. Nisa merasa dadanya tiba-tiba sesak dan panas. Ia kesal dan__cemburu berat.


"Oh oke. Nanti saya telefon lagi." Tanpa mengucapkan terima kasih Nisa langsung menyudahi sambungannya dengan kesal.


"Rupanya di sana lo main perempuan ya, Ndut ... ketangkap basah lo sekarang!" Nisa merasa menyesal sudah merindukan laki-laki itu kalau kenyataannya di sana dia happy-happy dengan perempuan.


***


"Sen, tadi ada yang nelpon dari Indo," seru Niken ketika melihat Seno keluar dari kamar mandi.


"Siapa?" Seno bertanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Cewek, namanya Nisa," jawab Niken datar. Seno langsung menoleh kaget pada Niken. "Kok, lo gak ngasih tahu gue, sih!" kata Seno sambil mengambil hapenya di meja.


"Ya ... gue kira engga penting." Niken berkata dengan santai. Seno menatap Niken sebal.


"Siapa dia? Cewek lo, ya? Santai aja, nanti dia bakal nelfon lo lagi kok, gue suruh nelfon setengah jam lagi."


"Gue yang mau nelpon dia sekarang."


"Tuh cewek emang penting banget ya, buat lo?"


"Banget!" sahut Seno sambil berlalu ke kamar.

__ADS_1


Niken geleng-geleng kepala saat Seno sudah menghilang di balik pintu. Niken hapal dengan tabiat sepupunya itu. Melihat ekspresi Seno saat menatapnya sebal barusan, pasti tuh cewek sangat berarti buat dia.


Niken kembali meringkuk dan menaikan selimutnya hingga ke leher.


Seno cepat-cepat menghubungi Nisa. Ia tahu ini pasti sangat penting karena gadis itu rela menelefon duluan, selama ini hanya Seno yang selalu menelfonnya. Sudah deringan ke lima Nisa belum mengangkatnya juga. Seno melirik jam di dinding. Di Indonesia sekarang jam setengah dua siang. Apakah Nisa masih makan siang?


Di sana Nisa bergeming sambil terus menatap ponselnya yang berdering dari tadi di atas meja kerjanya. Ia masih kesal. Hatinya masih panas. Seno di sana bersenang-senang dengan perempuan. Sedangkan ia di sini sangat menderita karena merindukannya. Selama hidupnya Nisa tidak pernah merasakan kerinduan pada seseorang sampai menangis. Nisa merasa air matanya terbuang sia-sia.


Nisa tidak mengangkat telefon hingga deringan itu berhenti dengan sendirinya.


"Kemana tuh anak?" Seno bergumam. Seno kembali memencet tombol call. Berharap kali ini Nisa mengangkatnya. Lalu beberapa saat kemudian ponselnya bergetar tanda Nisa menerima panggilannya.


"Halo ...," seru Nisa.


"Nis, tadi elo nelfon gue ya? Tumben lo nelfon, ada apa?"


Nisa membuang napas dari mulut mencoba mengenyahkan rasa kesalnya. Tidak dengan rasa cemburunya, karena itu tidak akan berhasil.


"Ya ... enggak terlalu penting, sih."


"Apaan emang?" Seno melempar handuknya ke kasur.


"Hm."


"Sen, hari sabtu depan gue mau lamaran. Viko mau ngelamar gue, Sen."


Ucapan Nisa seperti echo yang terus bergema di otak Seno. Apakah ia tidak bermimpi? Sahabat baiknya. Kekasih hatinya akan menikah? Bukan dengannya, tapi dengan orang lain. Seno menutup mulutnya dengan satu tangan, ia sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak meledak.


"Wah ... selamat ya, Nis. Akhirnya sahabat gue nikah juga." Seno yakin Nisa mendengar kalau suaranya bergetar, tapi Seno harap Nisa tidak curiga ia terluka dengan kabar ini.


Entah kenapa Nisa tidak suka dengan ucapan selamat dari sahabatnya itu. Sungguh!


"Status kejombloan lo akan berakhir, Nis. Cie ... Cie ... yang sebentar lagi jadi istrinya Penulis."


"Apaan sih lu, Sen. Gak perlu cie-cie segala, ah!" Nisa mengerucutkan bibirnya.


"Ya ... sayang deh, gue gak ada di hari paling bersejarah buat lo, Nis."


"Makanya pulang dong lo. Masa sahabat kawinan lo gak dateng, kan gak seru," seloroh Nisa. Seno tersenyum kecut.


"Kuliah gue padet, Nis. Sorry ya, gue gak bisa dateng. Gue turut bahagia aja."


"Lo jahat emang! Sebel gue!"


Seno menunduk sambil menggigit bibir kuat. Dadanya sudah terlalu sesak hingga ia kesulitan untuk bernapas. Bukankah seorang pria juga manusia? Tidak ada salahnya ia menangis, bukan?


"Nis, udah dulu ya ... gue lagi sibuk nih, mau cepet-cepet cabut ke kampus," kata Seno. Nisa menggertakan giginya. Nisa yakin bukan karena itu Seno menyudahi telefonnya, melainkan karena sekarang ada perempuan di sampingnya.


"Oh, ya udah deh. Sorry gue udah ngeganggu kencan lo," sinis Nisa.


Mata Seno mendelik. "Maksud lo?"


"Ya elah pura-pura ****, lu." Nisa masih kesal.


"Serius, emang gue gak tau maksud lo." Seno menaikan nada bicaranya. Lalu tiba-tiba Seno terpikirkan sesuatu. Pasti Nisa mengira Niken pacar Seno, karena tadi dia yang mengangkat panggilan Nisa.


"Oooh gue tau sekarang, pasti lo bertanya-tanya siapa yang tadi mengangkat telefon elo waktu gue mandi, kan? Dia sepupu gue yang udah lama tinggal di UK. Namanya Niken, anaknya Om gue. Dari kemarin dia nginep di sini karena air di apartemennya mati. Padahal sih gue tau, itu cuma alasan dia doang, alasan sebenarnya buat numpang hidup sama gue karena duit gajinya udah habis."


"Oh, kirain." Bibir Nisa tersungging. Dadanya pun sedikit demi sedikit mulai melonggar, lalu perasaan nyaman kembali menyelubunginya. Nisa tahu Seno bukan type laki-laki brengsek yang suka tidur dengan perempuan.


"Kirain apaan? Wah, pikiran lo ngeres, ya? Sorry ye gue enggak secabul yang elo pikirin, Nis. Gini-gini juga gue masih inget dosa, tau!"


Nisa tertawa. Inilah sahabatnya. Senopati. Pria terbaik yang pernah Nisa kenal. Pria yang sekarang sangat Nisa cintai, tapi tidak mungkin ia miliki.


🌸🌸🌸


Seno berdiri mematung di balkon apartemennya sambil melihat langit Manchester yang kelabu pagi ini. Hari ini masih terlalu pagi, tapi ia sudah mendapat kabar yang membuat hari-harinya kedepan tidak akan sama lagi.


Ini sangat sakit. Sungguh. Ia tidak menyangka dampaknya akan sedahsyat ini.


Seno menggenggam erat ponsel di tangannya. Sekuat apapun ia menahannya, tapi ia juga masih mempunyai sisi lemah. Ia tidak bisa pura-pura baik-baik saja, sedangkan hatinya saat ini sudah porak poranda, tidak berbentuk, dan mungkin sebentar lagi akan menjadi debu dan beterbangan ketika angin berembus.


Bolehkah sekarang ia menangis? Sebelas tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu memang mereka selalu bersama, tapi hanya sebatas sahabat. Kalau saja Seno lebih cepat menyadari bahwa kebersamaannya dengan Nisa itu didasari dengan rasa cinta, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.

__ADS_1


Dan kalau saja ia lebih cepat selangkah daripada Viko untuk menyatakan cintanya, mungkin keadaanya tidak akan seburuk ini.


Cuma untuk bilang, 'Nis, gue cinta sama lo,' kenapa itu sangat berat? Padahal Seno begitu entengnya mengatakan cinta pada wanita mana pun, entahlah ... mungkin itu tidak benar-benar dari hatinya. Karena sebenarnya selama ini telah ada satu nama terpatri tanpa ia sadari. Satu wanita yang setiap saat ada di pikirannya bahkan saat ia meeting bersama klien. Dan wanita yang setiap saat ia rindukan bahkan ketika wanita itu ada di sisinya.


Seno merundukan kepala ke pagar balkon. Lalu setitik air bening jatuh ke punggung tangannya.


'Sekarang apa gue masih berhak buat rindu sama lo, Nis?'


Seno beringsut pelan ke tempat tidur, lalu membenamkan seluruh kesedihannya di sana. Hingga siang ... sore ... malam ....


🌸🌸🌸


Niken sangat khawatir Seno tidak keluar dari kamarnya sejak ia pamit untuk menelefon cewek bernama Nisa itu. Bahkan Seno tidak kuliah dan makan.


Niken mengetuk pintu kamar Seno.


"Sen ... lo di dalam, kan? Gue boleh masuk?" Niken berseru. Tidak ada jawaban. Lalu beberapa saat kemudian pintu kamar Seno terbuka.


Terlihat Seno seperti yang akan bersiap untuk pergi. Ia memakai mantel tebal, celana jeans dan sepatu boots. Niken terkejut melihat sepupunya itu keluar dari kamar dengan pakaian seperti itu.


"Lo mau kemana malem-malem gini?" tanya Niken.


"Ken, temenin gue, yuk?"


"Ke mana?"


"Udeh, ikut aja."


Tanpa banyak tanya lagi Niken meraih jaket dan syalnya lalu memakainya sambil berjalan mengikuti Seno yang sudah di depan pintu lift.


Mereka berjalan menembus hawa dingin Manchester yang mampu menggemelutukan gigi. Suasana malam di kota ini mulai lebih ramai karena sebentar lagi Natal tiba. Manchester memang tidak seramai kota-kota yang lain di Inggris seperti London. Dan inilah yang bikin Seno betah.


Mereka sudah berjalan kaki selama lima belas menit, akhirnya mereka sampai di pintu masuk sebuah bar kecil di sudut kota.


"Lo mau ngajak gue mabok, ya? Enggak deh sorry, gue anti ama yang begituan. Lagian besok gue kerja, sama mau ketemu Edward." Niken bersungut kesal.


"Enggak ... udah yuk, masuk. Gue cuma mau ketemu sama temen gue." Seno berucap sambil masuk.


"Siapa? Orang Indo?" Niken bertanya dengan mengimbangi langkah Seno yang besar-besar.


"Bukan. Tar juga lo tahu."


Saat mereka sudah masuk, lalu ada seorang pria berambut pirang melambaikan tangan ke arah mereka. Seno dan Niken menghampiri pria itu yang tengah duduk santai di spot dekat penghangat ruangan.


"Hai Senopati. Your late," kata pria itu sambil melirik arlojinya. (Hai Senopati, kamu terlambat)


"I'm sorry Nick. I actually forgot about this promise," (Maafkan aku, Nick. Aku benar-benar lupa tentang janji ini), sahut Seno sambil menarik kursi di depan Nick lalu duduk diikuti Niken duduk di samping Seno.


"Damn!" (Sialan!) seloroh Nick kesal, tapi dengan bibir tersungging. Seno terkikik.


"This morning I got something very shocking, so I forgot. Oh, introduce this my cousin, Niken," (Pagi ini aku mendapat sesuatu yang sangat mengejutkan, jadi aku lupa. Oh, kenalkan ini sepupuku, Niken), sahut Seno. Niken mengulurkan tangan pada Nick.


"Nice to meet you," (Senang bertemu denganmu), ujar Niken sambil meluncurkan senyum yang keliatan kaku pada Nick.


"Nice to meet you too. Want to order something?" (Senang bertemu denganmu juga.  Ingin memesan sesuatu?) Nick mengangkat gelas besar berisi Beer ke hadapan Seno dan Niken.


"No, thanks." (Tidak, terima kasih) Seno menolak dengan halus.


"Ok. So we just discuss our business?" (Baik.  Jadi kita mulai membahas bisnis kita?)


"Okay, of course." (Iya tentu saja.)


Jadi, pria bernama Nick adalah teman sekelas Seno yang sama-sama mempunyai perusahaan periklanan. Kurang lebih si Nick itu kayak Seno, dia mendirikan perusahaan dari nol dengan background pendidikan yang enggak nyambung dengan kerjaan dia. Dari sekedar ngobrol biasa saat di kampus, sampai akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama.


Selang dua jam mereka selesai berdiskusi. Niken hampir saja mati karena bosan ngedengrin dua orang cowok cas cis cus ngomongin yang enggak dia mengerti. Akhirnya Seno dan Niken pamit pulang duluan karena si Nick sepertinya masih betah duduk di sana dengan minumannya.


"Lo ngapain ngajak gue sih. Bete tau!" seloroh Niken kesal.


"Daripada lo duduk bengong di apartemen sendiri? Mending ngikut gue." Rasanya Niken pengen ngejitak kepala Seno.


"Ken, gue laper nih. Makan yuk? Seharian ini gue puasa. Orang patah hati juga butuh makan, ya, kan?"


Niken mendelik. Patah hati?

__ADS_1


🌸🌸🌸


__ADS_2