Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Chapter 39


__ADS_3

"Aku sedih deh, kita cuma sehari lagi di sini, coba kita gak usah pulang, Sen."


"Kamu gak mau pulang?"


"Mau sih, tapi rasanya kurang lama aja gitu waktunya. Setelah ini kita harus kembali ke rutinitas. Tugas luar lagi, rekap-rekap lagi, mana entar mau ada proyek promosi gede-gedean produk baru."


Mendengar penuturan yang keluar dari bibir istrinya, otak bisnis Seno langsung jalan.


"Maksud kamu bikin iklan?"


Nisa mendongak menatap wajah Seno. "Iya. Kenapa emang?"


"Kenapa? Sayang, suami kamu kan tukang iklan, serahkan proyek itu sama aku, dijamin beres."


Kedua mata Nisa langsung berbinar-binar. "Ya Tuhan, kenapa aku sampe enggak kepikiran sama kamu, ya? Udah jelas-jelas suami aku itu orang yang paling kompeten di bidang ini."


Nisa berdeham sebentar, merubah posisi tubuhnya menghadap Seno, lalu melanjutkan ucapannya dengan mimik serius, "Sebagai ketua Tim Marketing Vreeset Shoes Indonesia ... Pak Senopati, bisakah kita bekerja sama? Saya putuskan untuk menggandeng Senopati Production untuk menggarap iklan produk baru kami," tutur Nisa sambil mengulurkan tangan secara resmi.


Seno tersenyum lebar. "Baik, Bu Danisa, saya setuju." Seno menjabat tangan Nisa, tapi setelahnya, menarik tangan itu lalu menciumnya dengan tatapan genit.


Nisa yang merasa risih, langsung menarik tangannya dengan cepat. "Dasar! Anda tidak sopan, ya, Pak Senopati, saya itu Klien Anda!" Dia berkata sambil memonyongkan bibirnya.


"Saya akan lebih tidak sopan lagi pada Anda, Bu Danisa."


"Apa!"


"Iya."


Seno kembali menarik tangan Nisa, lalu melingkarkan tangan ke pinggangnya supaya tidak bisa meloloskan diri.


"Anda mau apa, Pak Seno?"


"Saya mau cium Anda, Bu." Seno mesem-mesem.


Nisa tergelak sambil melempar pandangan ke arah lain. Menatap hamparan sabana kekuningan karena tersorot mentari sore. Setelah itu kembali menatap Seno.


"Idih, Anda mesum!"


"Emang." Seno mendekatkan wajahnya hingga napasnya terasa hangat di kulit wajah Nisa.


Saat bibir Seno akan menempel pada bibirnya, jemari jenjang Nisa langsung menutup bibir yang akan menciumnya itu.


Mata Seno terbuka, dan langsung melihat istrinya tengah tersenyum geli. Dia pun ikut tersenyum sambil mengacak rambut Nisa dengan sayang.


"Kamu tuh, ya, nyebelin!" ujar Seno gemas.


Nisa menjulurkan lidah, dan itu membuat Seno semakin gemas, lantas mencubit dengan keras kedua pipi mulus istrinya itu.


"Sakit, ih!" Nisa mengusap-usap pipinya yang memerah sambil cemberut.


"Siapa suruh enggak mau dicium." Seno terkekeh.


"Oh iya, Sayang. Malam ini mau dinner di mana? Awas jangan makan di tempat ekstrim lagi, ya."

__ADS_1


"Hehe enggak. Di mana ya, yang ada hiburan organ tunggalnya?"


Nisa tergelak-gelak. "Enggak sekalian ada lenongnya?"


Seno terkekeh. "Oh, gak ada, ya?"


"Sayang ... ini Swiss, mana ada organ tunggal di sini, dikata ini Jonggol. Hahaha."


Seno tergelak. "Inget gak dulu kita nonton dangdutan?"


"Kapan? Enggak! Hayo sama siapa?" Mata Nisa langsung menatap penuh curiga.


"Eh, gak pernah, ya? Dulu aku nonton ama siapa, dong?"


"Hadeuh, gini nih, kalau cowok kebanyakan mantan."


"Hehehe." Seno mengusap-usap tengkuknya.


Hati Nisa sedikit terusik lagi kalau mikirin soal mantan-mantan Seno. "Nyebelin, ih! Udah ah, gue mau mandi. Elo yang nyari tempat bagus buat dinner!" Nisa ngeloyor ke kamar mandi dengan bibir cemberut.


Seno terlohok melihat Nisa pergi sewot. Tak lama dia tersadar, jika Nisa nyebut elo-gue lagi, berarti dirinya sudah membuatnya bete. Dan sialnya dia bete gara-gara dangdut organ tunggal.


Seno tepok jidat.


***


"Masih bete, Sayang?"


Seno terlohok lagi. Sebegitu menakutkannya kah wanita kalau cemburu? Nah, sekarang dia harus mengingat-ngingat dengan siapa nonton dangdutan? Ternyata selain menakutkan, dia bisa bertingkah aneh juga.


Seno memejamkan matanya sejenak, mencoba mengingat-ingat. 'Aduh sama siapa, ya? Melia, Sisi atau Desi? Atau ....'


Seketika Seno membuka matanya lebar-lebar, seperti telah mengingatnya.


"Nis, aku ingat sama siapa aku nonton!"


"Siapa?" ucap Nisa. Bibirnya masih monyong lima senti.


"Si Aldi. Saat kita mau ketemu sama salah satu klien PJ event yang mau bikin event Skeatboard Competitions. Eh, setelah kita ngebahas konsep dan segala macem, dia malah ngajak aku sama si Aldi nonton dangdutan di salah satu warga yang hajatan, gokil gak tuh? Aku kira dia diundang sama yang punya hajat, taunya enggak. Kamu bisa bayangin gimana malunya aku waktu itu."


Nisa yang masih cemberut, tidak tahan untuk tidak menyemburkan tawanya. "Hahahah. Serius, kamu?"


"Iya." Seno mengangguk.


"Lucu banget, sih. Kapan, tuh? Kok dulu kamu enggak cerita?"


"Aduh kapan ya, rada lupa juga soalnya udah lama benget. Kayaknya waktu awal-awal aku ngeset Senopati Production. Kita tuh dulu, nyari klien udah kayak nyari mutiara hitam yang langka. Susah banget. Jadi klien kayak apa juga kita jabanin, termasuk si PJ event yang hobi nonton dangdutan itu."


Nisa tertawa sambil menahan perutnya, dan sampai menitikan air mata. "Geblek lo emang, ya ampun ... temen gue malu-maluin banget, datang ke orang hajatan cuma numpang makan sama nonton organ tunggal doang."


Seno tertawa melihat Nisa tertawa. 'Alhamdulillah,' lirihnya dalam hati.


Seno meraih tangan Nisa di atas meja, lalu meremasnya pelan. Saat tangannya diraih suaminya, tawa Nisa terhenti.

__ADS_1


Suasana restoran yang syahdu dengan penerangan yang tidak terlalu terang, serta ornamen-ornamen klasik membuat suasana sangat romantis, ditambah ada pianis yang tengah memainkan lagu, menambah suasana semakin intim.


Langit malam Swiss yang berkilauan oleh bintang-bintang pun semakin menambah keromantisan malam itu tanpa tanding.


"Nis, aku suka kamu cemburu. Itu artinya kamu cinta sama aku. Aku senang. Tapi ... aku tidak suka kamu cemburu tanpa alasan kayak gini. Pertama, kamu cemburu cuma gara-gara temanku memberi info soal The Äscher, padahal yang ngasih info itu temen cowok aku. Dan sekarang kamu cemburu cuma gara-gara aku nonton dangdutan sama si Aldi."


Nisa menelan saliva. Memang, akhir-akhir ini dia merasa aneh pada dirinya sendiri, jadi terlalu takut, terlalu menerka-nerka dengan perasaannya sendiri. 'Apakah sebegitu cintanya aku sama sahabatku ini?'


"Nis, kamu adalah wanita yang aku pilih untuk mendampingi aku dikala susah dan senang, dan untuk menemaniku di masa tua nanti. Kenapa aku milih kamu? Karena kamu sahabatku, aku tahu betul gimana kamu. Aku udah bisa menghendel kalau kamu sedang marah, bete, atau sedih. Aku udah terlatih selama dua belas tahun, Nis. Dan yang terpenting adalah karena aku mencintai kamu, sayang sama kamu. Plis kamu jangan kayak gini lagi, ya? Soalnya kenapa? Aku belum terlatih menghadapi kamu kalau cemburu."


Nisa menatap mata yang tengah menatapnya dalam-dalam. Seperti menemukan oase saat kehausan dan sekarat. Lalu dia meminum air dari sana dengan sepuas hati. Dan seketika dia pun merasa hidup kembali.


"Maafin aku, Sen."


Seno mesem-mesem. "Gak apa-apa, Nis. Tau gak, kamu itu kalau lagi cemburu, gemesin banget. Pengan aku unyel-unyel, hahaha."


Nisa tertawa. "Cih, unyel-unyel. Aku itu udah habis kamu unyel-unyel mulu dari kemarin-kemarin, sampe enggak ada sisa."


"Hahaha malam ini kamu akan aku unyel-unyel lagi."


"Hadeuh. Eh, itu makanan kita dateng."


Seorang pelayan bertuxedo datang menghampiri meja mereka, lalu meletakan makanan ke atas meja.


***


Jalur kereta terentang panjang menuju permukaan air kebiruan yang beriak-riak tenang. Roda besi Bernina Express melaju di atas rel tersebut membawa Nisa dan Seno pada surga dunia, pada pemandangan-pemandangan indah bak lukisan yang ada di bumi. Danau itu semakin terlihat indah ketika kereta semakin mendekat, dan melaju di samping sepanjang danau tersebut.


Pengagum Pegunungan Alpen wajib menumpang perjalanan kereta ini. Rute yang dijuluki dengan nama tunnels galore atau sejenis roller coaster ini, bermula dari kota kuno Chur, melintasi Pegunungan Alpen sampai ke kota perbatasan Italia, Tirano, kawasan yang terkenal dengan wisata wine-nya yang enak.


Selama 4 jam 14 menit, penumpang akan diajak melintasi jalur spiral 360°, 55 terowongan, dan 196 jembatan. Mengagumkan, bukan? Selama empat jam lebih, Nisa dan Seno akan dimanjakan oleh pemandangan luar biasa bagusnya.


"Awas jangan ketiduran kalau enggak mau nyesel," ucap Seno.


"Enggak lah, naik ini kan mimpiku dari dulu. Masa udah susah payah supaya bisa naik ini, aku malah tidur. Rugi banget."


Seno terkekeh. Dia juga berharap begitu, karena dia sangat mengenali perempuan di sampingnya yang tidak akan tahan dengan rasa kantuknya jika di kendaraan.


Dalam gerbong yang ditutupi kaca bening raksasa itu, mereka bisa melihat keluar dengan leluasa.


Bernina Express merupakan scenic train yang terdiri dari beberapa gerbong, namun hanya dua gerbong saja yang dibuat dengan penutup kaca, mulai dari jendela hingga atapnya. Dengan begitu, mereka bisa melihat pemandangan di luar jendela dengan lebih luas dan jelas.


Perlahan, kereta melaju semakin ke atas. Pemandangan hijau pun samar-samar mulai menjauh, digantikan dengan pemandangan kebun yang tampak gersang karena tak ditanami. Kereta terus meliuk ke atas, mereka melewati sebuah jembatan yang begitu tinggi, yang kemudian membawa mereka ke dalam sebuah terowongan panjang.


Ketika keluar dari terowongan, mereka langsung disuguhi dengan pemandangan yang berbeda lagi, yaitu hutan pinus yang begitu indah. Dari sini, mereka bisa melihat dengan jelas rangkaian gunung yang terlihat putih berdiri dengan gagahnya. Begitu dekat hanya beberapa meter saja. Sangat menakjubkan.


Di Ospizio Bernina, Seno dan Nisa berhenti sejenak untuk makan siang, sebuah stasiun kecil dengan ketinggian 2253 mdpl, yang merupakan stasiun tertinggi yang dilewati oleh Bernina Express, serta menjadi salah satu stasiun kereta tertinggi di Eropa.


Stasiun ini memiliki pemandangan yang tak akan pernah bisa ditemukan di negara lain, di mana pun di dunia. Danau es, gunung, salju, dibungkus rapi oleh langit biru yang begitu cerah, kombinasi yang benar-benar sempurna untuk melihat betapa agungnya karya Tuhan.


Setelah makan siang, perjalanan mereka pun dilanjutkan, dan sampai ke Tirano tepat 4 jam 14 menit. Sisa perjalanan setelah dari stasiun Ospizio Bernina, Nisa habiskan dengan tidur karena kekenyangan.


Sesampainya di kota kecil klasik nan romantis ini, perjalanan mereka dilanjutkan ke Bandara, dan pulang ke tanah air.

__ADS_1


__ADS_2