
Sepanjang perjalanan pulang Nisa diam seribu bahasa, Seno pun tidak memancing membuka obrolan. Hingga mereka sampai di apartemen Nisa masih saja diam, padahal Seno penasaran setengah mati siapa pria tadi, tapi saat Nisa akan menekan gagang pintu apartemennya, ia berbalik.
"Sen ...," panggil Nisa. Seno yang tengah memencet kode kunci apartemennya menoleh.
"Apa?" jawab Seno santai.
"Lo gak penasaran apa yang terjadi barusan di rumah Lala?" tanya Nisa.
"Jujur aja, gue emang penasaran siapa cowok tadi. Tapi elonya diam aja, ya gue harus hargain dong."
"Masuklah, gue pengen curhat sama lo," kata Nisa sambil masuk ke apartemennya, Seno tersenyum lalu mengikuti Nisa ke apartemennya. Nisa mengambil dua minuman kaleng dari kulkas, ia lemparkan satu pada Seno lalu duduk di samping pria itu.
"Jadi siapa cowok itu?" tanya Seno sambil membuka minumannya.
"Cowok itu Viko, orang yang selalu gue ceritain sama lo. Makanya sekarang gue bingung mau curhat apa sama lo, karena lo udah tahu semuanya tentang dia, iya kan?"
Mendengar Nisa menyebut nama Viko, Seno langsung tidak jadi meminum minumannya.
"Viko? Serius lo?" tanya Seno tidak percaya. Nisa mengangguk. "Iya, dia si brengsek Viko. Sen, gue gak ngerti kenapa Tuhan mempertemukan gue sama Viko lagi, jujur aja gue tadi syok banget."
Seno terdiam, apakah mungkin ini arti dari perasaan tidak enaknya selama beberapa hari ini? Viko kembali hadir dalam hidup Nisa, dan Seno merasa seperti akan kehilangan Nisa. entah kenapa perasaan itu sangat kuat. Dari kecil Seno memang punya semacam kelebihan feeling yang kuat, dan tidak jarang feelingnya itu selalu terjadi. Jujur saja mempunyai kelebihan ini enggak enak banget. Ia jadi selalu menderita kewas-wasan yang tidak wajar. Namun baiknya, Seno jadi bisa menilai klien dengan feelingnya itu, mana klien yang menguntungkan dan mana yang tidak.
Seno berdeham, "Mungkin Tuhan ingin lo menyelesaikan masalah ini, sebenarnya masalah ini belum selesai, kan? Antara elo, Viko, dan Gita, masih ada yang harus kalian selesaikan. Gue tahu, selama sebelas tahun ini, lo enggak enjoy ngejalanin hidup lo karena masalah itu, makanya lo susah buat membuka hati lo lagi. Elo jadi menutup diri, padahal cowok yang mau sama lo banyak banget. Lo tahu kan, itu enggak baik buat lo."
Nisa menghela napas panjang, apa yang dikatakan Seno benar. Ia menjadi pribadi seperti ini karena dampak dari tragedi sebelas tahun yang lalu, sekarang apa yang harus Nisa lakukan? Ia masih tidak sanggup untuk berhadapan dengan Viko ataupun Gita, apalagi untuk menyelesaikan masalah yang selama sebelas tahun ini Nisa tutup rapat.
"Gue masih belum bisa, Sen. Ini berat banget buat gue. Kaki gue lemes kalau ingat kejadian itu. Apa yang lo rasain kalau pacar lo yang udah lo pacarin selama tiga tahun ciuman sama sahabat lo dari kecil di depan mata lo sendiri? Gue merasa di tusuk dari belakang, gue merasa dihianati oleh dua orang yang gue sayang sekaligus. Masih syukur gue gak gila, Sen. Jadi untuk berurusan lagi dengan mereka saat ini gue belum bisa."
Seno melihat mata Nisa berkaca-kaca, lalu sedetik kemudian air mata itu terjun bebas dari matanya. Rasanya Seno tidak tahan lagi untuk memeluk gadis itu, akhirnya Seno bergeser lalu mendekap tubuh Nisa.
Nisa tersentak ketika mendapati tubuhnya sekarang ada di dekapan Seno. Karena inilah pertama kalinya Seno memeluknya. Pelukan Seno pun berhasil meredam berbagai emosi dalam dada. Nisa mengehela napas dengan tenang kemudian air matanya berhenti mengalir. Ia merasa hangat ada dipelukan pria itu, ia merasa nyaman dan aman. Entahlah, ia tidak mengerti kenapa merasa seperti itu dipelukan sahabatnya.
"Ya udah kalau lo belum siap, tapi jangan terlalu lama ya, lo harus secepatnya menyelesaikan masalah ini kalau lo mau hidup tenang. Nis, lo harus membuka hati lo buat orang lain, terus nikah. Umur lo mau dua puluh sembilan tahun kan, lo mau jadi perawan tua?"
Nisa melepaskan diri dari pelukan Seno. "Enak aja perawan tua, elo tuh yang perjaka tua," sahut Nisa sambil manyun. Seno tertawa. "Iya-iya deh gue yang perjaka tua." Seno menghela napas sejenak, lalu berkata, "Nis, gue enggak mau nikah sebelum elo sendiri juga nikah, gue gak mau lo sendirian."
Nisa terkejut. Ada sebersit perasaan aneh saat Seno mengucapkan itu. Gue gak mau lo sendirian? Maksudnya apa? Jujur aja Nisa juga enggak tahu jadinya kalau Seno menikah dan meninggalkan dirinya, tapi di sisi lain Nisa juga ingin Seno bahagia dan membuka lembaran baru dengan pasangannya.
"Kasian pacar lo, Sen," ucap Nisa sambil memukul pelan lengan Seno. Seno menunduk, tapi Nisa melihat bibir pria itu menyunggingkan senyum.
"Jangan kasian sama orang, kasihanilah diri lo sendiri dulu," kata Seno sambil mendongak dan mengacak rambut Nisa pelan. Nisa kembali tersentak untuk kedua kalinya, matanya terbuka lebar menatap pria di hadapannya.
'Astaga, apa yang terjadi? Kenapa aku merasa aneh oleh semua perlakuan Seno malam ini?'
Suara deringan ponsel Seno berhasil membuyarkan pikiran-pikiran Nisa. Seno mengambil ponsel di saku celananya.
"Mama, nih, sebentar ya Nis, gue angkat telefon nyokap dulu." Seno merubah posisi duduknya ketika mengangkat telepon.
"Iya, Ma?"
"Seno, bukain pintu mama di depan, nih. Mama dari tadi mencet bel, tau!"
"Hah, di depan? Kok, gak bilang-bilang dulu mau ke sini?" Seno melotot kaget.
"Tau nih papa kamu, tiba-tiba pengen ke sini."
"Hah, Papa juga ikut?" Mata Seno semakin membelalak sambil melihat Nisa yang sama-sama terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kok, kamu kayak yang kaget gitu mama ke sini? Hayo ada siapa di dalam?"
"E_enggak ada siapa-siapa, kok! Oke deh, aku ke situ sekarang." Seno menyudahi teleponnya, Nisa mengigit-gigit kukunya cemas. Apa jadinya kalau orang tua Seno melihat anaknya keluar dari apartemen seorang gadis malam-malam begini? Pasti mereka akan berpikir yang bukan-bukan.
"Gimana, nih?" kata Nisa. Seno mengehela napas panjang lalu berkata, "Ayo kita keluar, jangan takut kita enggak ngelakuin apa-apa, kan?"
Seno keluar diikuti Nisa, orang tua Seno yang sedang berdiri di depan pintu apartemen Seno menoleh bersamaan ketika pintu apartemen Nisa terbuka, dan Seno keluar dari sana. Orang tua Seno terkejut melihat Seno dan Nisa keluar bersamaan. Nisa menganggukkan kepala dengan sopan pada orang tua Seno.
"Ayo Nis ...." Seno mengajak Nisa untuk menyapa orang tuanya.
"Apa kabar Om, Tante ...," sapa Nisa setelah berada di depan mereka. Orang tua Seno menyunggingkan senyum, tapi senyuman itu terlihat kaku.
"Baik. Kamu Danisa, kan?" tanya ibunya Seno. Selama berteman dengan Seno, Nisa memang baru bertemu dengan orang tua Seno tiga kali, pertama di Singapura waktu mereka masih sama-sama kuliah, kedua waktu di ulang tahun Seno ke 25 tahun, dan ketiga sekarang. Jadi Nisa tidak terlalu dekat dengan orang tua Seno.
"Iya, tante," jawab Nisa dengan gugup. Ayah Seno melihat ke arah pintu apartemen Nisa yang terbuka. "Kamu tinggal di sana?" tanya ayah Seno. Nisa mengangguk.
"Iya, itu apartemen saya, Om." Ayah Seno ngangguk-ngangguk.
"Pantesan dari tadi mama mencet bel kamu enggak bukain pintu, taunya kamu sedang di apartemen Nisa," tutur ibu Seno. Seno tersenyum sambil garuk-garuk kepala.
"Ya udah ayo masuk," sahut ayah Seno. Seno membuka pintu.
"Nisa, ayo masuk, tante bawa ikan nih, kamu udah makan malam belum?" Nisa mengerjap.
"Enggak Tante makasih, saya udah makan tadi," jawab Nisa bohong.
"Beneran kamu udah makan?" Sepertinya ibunya Seno tidak percaya.
"Iya udah kok, Tante." Seno menahan tawanya melihat Nisa yang kikuk.
"Baiklah. Ya udah kalau gitu tante masuk dulu ya ...."
🌸🌸🌸
"Sekarang mama tahu kenapa kamu ngotot banget pengen beli apartemen di sini," kata ibu Seno sambil meletakan bawaannya di meja makan. Sekarang orang tua dan anak itu sedang berkumpul di meja makan.
"Tidak benar apa yang Mama sama Papa pikirkan sekarang. Aku sama Nisa temenan doang, kok."
"Jangan bohong kamu," sahut ayah Seno.
"Serius, Pa!"
"Kalau kamu ketahuan bohong, papa tidak segan-segan untuk menikahkan kalian. Tidak baik tinggal seatap dengan seorang gadis, nanti apa kata orang dan orang tua gadis itu." Seno terperangah mendengar ucapan ayahnya.
"Siapa yang satu atap sih?! Kita tetanggaan doang kok. Udahlah jangan melebih-lebihkan lagian aku sama Nisa enggak ada hubungan apa-apa, kok."
Ibu Seno menatap anaknya dengan curiga, ia tidak percaya mereka tidak ada hubungan apa-apa, melihat sorot mata anaknya ketika melihat Nisa itu sudah jelas terlihat. Karena tidak ada yang sebaik mengenal Seno selain ia sendiri. Naluri keibuannya mengatakan kalau Seno mempunyai perasaan khusus pada Nisa.
"Udah ah, aku lapar nih ...."
🌸🌸🌸
Malam ini Nisa sangat susah memejamkan mata. Sungguh, kejadian tadi sore di rumah Lala sangat di luar dugaan, selama sebelas tahun ini Nisa berusaha melupakan Viko dan sampai sekarang belum seratus persen berhasil. Tapi sore ini usahanya melupakan Viko selama sebelas tahun kembali berantakan, bahkan ini sama saja seperti kembali dari awal.
Sudah ratusan kali Nisa berpikir, kenapa hidupnya seolah dirusak oleh satu cowok? Dirusak dalam artian secara batin, secara lahir tidak, karena selama tiga tahun pacaran dengan Viko Nisa tidak pernah melakukan apapun, ciuman pun tidak pernah.
Nisa melirik jam bekernya. Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Astaga ini sudah tidak sehat. Nisa harus segera tidur. Besok pagi-pagi sekali akan ada rapat dengan manager, ia tidak boleh terlihat lemas dan ngantuk. Nisa meraih ponselnya di meja rias lalu menelepon Seno. Tak lama kemudian ada jawaban.
__ADS_1
"Halooo ...," sapa Seno dengan suara serak, sepertinya pria itu sudah tidur.
"Sen, ini gue. Gue gak bisa tidur nih, gimana dong?"
"Elo yang gak bisa tidur kenapa harus telepon gue, sih! Ngerusak mimpi gue aja, gue lagi kencan sama Ariana Grande, gara-gara elo mimpi gue jadi berantakan."
"Mimpi lo ketinggian monyong. Sen, gue ke apartemen lo sekarang ya ...." Mata Seno langsung terbuka lebar mendengar Nisa akan ke apartemennya tengah malam begini.
Teringat bagaimana tadi sore Seno diceramahi panjang lebar oleh orang tuanya gara-gara tetanggaan sama Nisa, sekarang gadis itu malah akan menyambangi apartemennya tengah malam buta begini.
"Apa? Nisa .... lo jangan ke_" Seno menatap hapenya ternyata teleponnya sudah terputus.
Bagaimanapun juga Seno adalah laki-laki normal. Berduaan, di apartemen yang sepi tengah malam pula, bukankah itu sangat beresiko? Bagaimana kalau tiba-tiba ada setan lewat dan menggoyahkan iman Seno? Walaupun status mereka cuma sahabatan tapi yang namanya hasrat apakah bisa pilih-pilih yang mana sahabat atau pacar? Tidak, kan?
Tak lama kemudian ada suara bel. Seno mendengus, itu dia. Dengan malas ia membuka selimutnya lalu ke depan membuka pintu. Saat pintu terbuka Nisa langsung menerobos masuk. Ia datang sambil memeluk boneka sapi kesayangannya lalu selonjoran di sofa.
"Sen, gue gak bisa tidur. Gue kepikiran terus kejadian tadi sore. Gue takut besok-besok si Viko datang nemuin gue," tutur Nisa sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Terus?" kata Seno sambil menguap.
"Ya, gue takut Sen, gue takut dia nanya-nanya tentang gue ke Lala, gue takut dia datang ke kantor atau bahkan ke sini." Seno malah garuk-garuk kepala menahan kantuk.
"Haduuuhh Nis, besok aja kita ngomonginnya, sekarang gue ngantuk berat nih. Mending sekarang lo pulang sana. Lo gak tahu jam berapa sekarang? besok gue mau ketemu sama klien penting nih."
"Tapi gue gak bisa tidur Seno ...."
"Karena lo gak bisa tidur terus lo seenaknya ngerusak tidur orang lain? Ya ampun lo itu benar-benar! Terus gue harus gimana sekarang? Apa gue harus ngedengerin lo ngoceh soal si Viko sampe pagi? Sorry mending gue tidur."
"Bukan. Bukan itu Sen, astaga lo sensi amat kayak pantat bayi. Gue datang ke sini karena gue pengen tidur." Mata Seno terbelalak.
"Apa? Maksud lo, lo mau nginep di sini?" tanya Seno. Dengan polos Nisa mengangguk.
"Kagak ... kagak ... lo harus pulang! Gue gak mau sesuatu terjadi."
"Terjadi apa? Ya Ampun jangan-jangan pikiran lo ngeres ya? Enggak kok, gue gak akan tidur di kamar lo." Nisa memukul pelan sofa yang sedang didudukinya.
"Sofa ini juga kayaknya lumayan buat tidur. Please bolehin gue tidur di sini, malam ini aja."
Seno menyipitkan matanya pada Nisa, nih
cewek emang benar-benar menyedihkan. Gara-gara seorang cowok dia jadi begini.
"Oke-oke lo boleh tidur di sini. Dengan satu syarat: lo gak boleh ngiler di bantal gue."
🌸🌸🌸
Seno melirik jam yang nempel di dinding yang menghadap ke tempat tidur, jam setengah dua pagi. Sekarang giliran dia yang tidak bisa tidur. "Keterlaluan emang si Nisa, dia udah ngerusak tidur gue." Seno duduk di tempat tidur, ia kepikiran Nisa yang tengah tidur di ruang tengah. Apa dia tidur nyenyak? Jangan-jangan dia masih tidak bisa tidur karena banyak nyamuk atau tempat tidurnya terlalu sempit? Seno penasaran akhirnya ia melangkah ke luar kamar, ke tempatnya Nisa. Seno tidak menyalakan lampu ia berjalan di kegelapan.
Terlihat Nisa sedang tidur walau di sofa yang sempit, ia tidur nyenyak sekali. Dengan nyaman tangannya memeluk boneka sapi yang ia bawa. Tanpa sadar bibir Seno sedikit tertarik ke atas, ia tersenyum melihat wajah polos Nisa yang sedang tertidur.
'Danisa Alia sahabat gue. Gue harus gimana biar lo gak sedih lagi? Gue harus gimana biar lo terbebas dari masa lalu yang menyakitkan itu? gue harus gimana biar lo bahagia? gue tahu selama ini elo tidak pernah bahagia sekali pun. Apakah itu sangat sakit, sampai lo seperti ini? Gue bersumpah, gue enggak akan membuat lo meneteskan air mata setetes pun, dan gue bersumpah akan membuat lo tertawa saat lo bersama gue.'
Perlahan tangan Seno terangkat lalu dengan gugup ia membelai rambut panjang Nisa. sebenarnya Seno ingin menyentuh pipi gadis itu, tapi ia takut Nisa terbangun. Dengan susah payah ia menelan ludahnya. Saat tangannya tengah membelai rambut Nisa, tiba-tiba ia seperti telah terpikir sesuatu, lantas ia berhenti dan menjauhkan tangannya dari kepala Nisa.
Astaga, apa yang terjadi? Seno apa yang lo pikirkan? Seno memejamkan matanya kuat-kuat, ia berharap ia keliru dengan pikirannya sendiri. Ini tidak mungkin, ia tidak mungkin jatuh cinta sama sahabatnya sendiri. Ini konyol!
Tapi kenapa hatinya bergetar hebat saat membelai rambut gadis itu? terus kenapa ia merasa cemburu saat tahu Nisa terpikat oleh Yuda? Dan kenapa hatinya merasa tidak tenang dengan kemunculan Viko, dan takut Nisa akan kembali pada Viko?
__ADS_1
🌸🌸🌸