Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Teman Rasa Suami Season 2 (Intro/Pengenalan)


__ADS_3

Halo teman2 penggemar Senopati. Apa kabar, nih?


Sesuai janji aku cerita ini akan dibuat ke season 2. tapi mungkin nanti ceritanya akan slow update, soalnya aku juga sedang nulis cerita yg lainnya, ditambah kesibukan di duta juga, jd harap maklum ya. bagi kalian yang mau tau ceritaku yg lain silahkan tengok profilku ya.


Cekidot gaes.


Chapter 26


Seno memberengut sebal pada istrinya yang baru saja keluar dari kama mandi dan mengatakan bahwa sekarang dia mens. Malam pertama ini gagal total. Dan dia harus menunggu lagi selama satu minggu! Hah, satu minggu, bayangkan! Dia sudah menunggunya sebelas tahun, dan sekarang harus menunggu lagi satu minggu? Seno kembali membenamkan wajahnya di atas bantal.


“Sen, gue mens gimana, nih? “ ucap Nisa dengan raut wajah menyesal. Seno mengangkat wajahnya, “Ya udah gak apa-apa, mau gimana lagi, kita tidur aja sekarang,” katanya.


Perlahan Nisa naik ke tempat tidur dengan canggung, begitu pun dengan Seno. Setelah sama-sama di atas tempat tidur, Seno berdeham pelan. Bagaimanapun, malam ini adalah malam buat mereka tidur bersama. Mereka tidak yakin bisa memejamkan mata, padahal badan sudah lelah luar biasa, seharian ini menerima tamu yang jumlahnya ribuan.


“Sen.” Nisa merubah posisi menyamping menghadap Seno. Seno menoleh.


“Apa, Nis?”


“Gue gak pake pembalut,” katanya.


“Kita keluar, yuk, nyari pembalut bentar, gue gak berani keluar sendiri.”


Seno bangun. “Ya udah, yuk. Gue ganti baju dulu ya.”


“Hah, ganti baju? “


“Iya, masa gue keluar pake baju piama gini? Lo juga harus ganti baju, kan?”


Nisa terdiam. Ganti baju? Nanti kalau Seno melihat tubuhnya telanjang gimana? Dia akan sangat malu. “Kenapa? Lo gak mau ganti baju?” tanya Seno.


“Enggak, bukan gitu.” Rupanya Seno tahu apa yang ada di pikiran istrinya itu. “Lo malu ya?” tanyanya. Nisa mengerjap.

__ADS_1


“Oke, gue akan merem saat lo buka baju.”


“Beneran? Awas aja kalo ngintip.”


“Enggak, tenang aja. Ya udah lo dulu gih,” tutur Seno sambil senyum-senyum mencurigakan. Otak usilnya jalan. Saat Nisa buka baju, nanti dia akan mengintip sedikit.


Nisa beringsut dari tempat tidur dan mengambil baju di kopernya. “Awas, jangan ngintip!”


“Enggak!”


Perlahan Nisa mulai membuka kancing baju piamanya satu per satu. Dan ketika baju itu terlepas, Seno mengintip sedikit sambil senyum-senyum usil. Rupanya aksi Seno itu terlihat oleh Nisa dari bayangan cermin.


“Senoooooo! Lo bener-bener, ya!” Nisa menutupi tubuhnya dengan baju yang dipegangnya. Seno menyeringai. “Akhirnya gue tau, lo pake BH warna item, hehe.”


“Merem gak! Merem, Senooooooo!” teriak Nisa. Seno terkekeh, ia malah mendekati Nisa lalu memeluknya dari belakang.


“Jangan malu, Nis. Sekarang kita kan udah nikah. Gue akan menerima baik buruknya elo, walaupun kita udah kenal lama dan udah tahu sifat masing-masing, tapi dalam berumah tangga akan berbeda. Gue akan tetep sayang sama lo. Sekarang lo mau gue bajuin?”


“Malam ini, kita udah resmi jadi suami istri, Nis, gue harap lo gak canggung lagi sama urusan kayak gini. Gue akan menggauli lo sebaik mungkin, dan gue juga akan menghormati lo.”


Nisa memandang Seno haru. Lantas dia memeluk Seno dengan erat. “Maafin gue, Sen. Gue juga akan berusaha melayani lo dengan baik. Semoga gue bisa menjadi istri yang lo harapkan. Gue akan memberikan semuanya yang gue punya, yang gue bisa.”


Seno melepas pelukan Nisa. “Sini bajunya.” Nisa memberikan baju yang dipegangnya pada Seno. Lalu Seno memaikan baju itu pada Nisa. Setelah memakaikan baju, Seno melepaskan celana piama yang dikenakan Nisa. Setelah terbuka, Seno menelan ludahnya dengan susah payah menahan hasratnya yang tertahan. Nisa menyerahkan celananya pada Seno, lalu Seno pun merunduk memakaikan celana itu pada Nisa. Setelah selesai, Seno kembali berdiri tegak, dan memandang wajah istrinya dengan takzim, mencium keningnya, kemudian mengecup bibirnya ringan.


“Sekarang aku ganti baju dulu ya?” ucap Seno. Nisa terkesiap. “Oh, iya.”


Nisa melihat Seno membuka bajunya perlahan. Ia sedikit terkesima dengan bentuk tubuh Seno sekarang. Dulu waktu kuliah dia gendut, tapi lihat sekarang, lemak di tubuhnya berubah menjadi otot, dan itu sungguh seksi. Nisa suka. Aktivitas ganti baju Seno terekam dengan jelas di kepalanya. Dan itu membuatnya merasa malu, tapi suka.


“Yuk, kita keluar.”


“Yuk.”

__ADS_1


***


Setelah mendapatkan barang yang dibutuhkan, Nisa dan Seno tidak cepat-cepat pulang ke hotel, mereka minum kopi dulu di warung pinggir jalan.


“Terakhir kita jalan malam-malam kayak gini kapan, ya?” tanya Nisa. Seno mengingat-ngingat sambil mengusap-usap dagunya. “Lupa. Udah lama banget pastinya.”


“Oh iya, Sen, lo cuti berapa hari, sih?”


“Gue gak cuti, tapi bolos hehehe.”


“Ah iya, lo kan bosnya, lo bolos dua tahun buat kuliah juga gak masalah.”


“Lo cuma dikasih cuti seminggu ya?” tanya Seno lalu menyeruput kopinya.


“Iya, nih. Kita gak bakal bisa bulan madu kayanya, tapi Sen, gue pengen banget deh suatu saat bulan madu ke Swiss.”


“Swiss? Kenapa Swiss?”


“Enggak kenapa-napa, pengen aja gitu. Keren. Gue pengen naik cable car, melihat panorama salju dari ketinggian, berseluncur di atas salju, naik kereta Bernina Express melihat pemandangan Swiss yang asri sambil foto-foto, terus nyantai-nyantai di pinggir danau Luzern sambil ngopi sama suami gue. Ah, indahnya dunia.”


Seno menatap Nisa yang bertutur hingga tidak berkedip. “Serius lo mau?”


“Mau. Sen, bawa gue ke sana.”


“Oke, nanti kita ke sana.”


“Serius?”


Seno mengangguk. “Kita cari waktu yang tepat ya.”


Serta-merta Nisa memeluk Seno senang. Orang-orang di sekitarnya melihat mereka dengan tatapan terganggu. Setelah itu, Nisa melepas pelukannya sambil melihat sekeliling dengan malu. Sedangkan Seno menyeringai geli.

__ADS_1


***


__ADS_2