Teman Rasa Suami

Teman Rasa Suami
Part 44


__ADS_3

"Teh, Bang Seno gak bakal gabung, nih?" tanya Angga saat mereka akan makan malam di luar.


"Enggak. Katanya dia ada rapat," jawab Nisa.


"Yah, gak seru kalau gak ada dia." Nisa sependapat dengan Angga. Sebenarnya Nisa sedikit kecewa suaminya itu tidak bisa ikut makan malam, tapi dia berusaha mengerti dengan kerjaan Seno yang tak kenal waktu itu.


"Gak apa-apa, kita makan bertiga aja, bentar lagi Rian dateng." Selang beberapa menit, adik pertama Nisa yang bernama Rian datang. Pemuda berperawakan tinggi itu datang bersama calon istrinya, Dena.


"Apa kabar, Teh?" Rian mencium tangan kakaknya, disusul Dena.


"Baik. Kalian baru pulang kerja juga?" tanya Nisa.


"Iya, Teh," jawab Dena. Rian dan Dena bekerja di tempat yang sama, yaitu di sebuah perusahaan tranding.


"Bang Seno mana, Teh?" Rian bertanya sambil melongok ke belakang.


"Bang Seno gak gabung, dia sibuk." Angga yang menjawab.


"Sayang banget, padahal aku pengen ketemu dia."


"Udahlah, orang sibuk jangan diganggu. Ya udah, yuk. Kita mau makan di mana, nih?" tanya Nisa.


"Ada deh, pokoknya. Tempatnya cozy abis, makanannya juga enak," ucap Angga.


"Cieeee yang udah jadi anak gaooool Jakarta," ucap Rian sambil menyenggol bahu adik bungsunya itu.


"Iya dong. Hehehe."


"Kalo gitu, kamu yang nyetir." Nisa melempar kunci mobilnya pada Angga.


"Cusss berangkat."


***


Sementara itu di satu tempat Seno tengah terikat di sebuah kursi kayu, di sebuah rumah kosong, jauh di pinggiran Jakarta. Di beberapa bagian wajahnya lebam bekas pukulan. Bajunya koyak, beberapa kancing kemejanya terlepas, dada bidangnya terbuka lebar dengan beberapa bekas ciuman. Lipstik merah yang menjadi tanda di sana.


"Sekarang kamu enggak bisa berkutik lagi, Sen. Kamu milik aku sekarang! Kalau saja kamu bersikap baik padaku, aku enggak akan ngelakuin ini."


Seno menatap tajam wanita yang beberapa jam yang lalu makan malam dengannya. Seno muak bercampur jijik padanya. Dia meludahi wanita di depannya yang tengah merokok itu. Marta Duph tidak terima dengan sikap laki-laki yang paling diinginkannya itu. Dia mencengkram dagu Seno dengan kuat lalu mencium bibir laki-laki itu dengan buas, sesekali dia menghisap rokoknya lalu menjejalkan asap rokok itu ke mulut Seno. Asap yang masuk ke paru-paru Seno membuatnya terbatuk-batuk.


Seno ingin melawan, tapi tak punya daya. Tangan, kaki, dan tubuhnya terikat kuat oleh tali tambang ke kursi. Ditambah empat body guard yang telah menculiknya bersiaga di depan pintu. Mereka akan beraksi kalau Seno mulai berontak, dan pukulan akan kembali Seno dapatkan. Dia sudah sangat kesakitan. Namun, rasa sakit itu belum ada apa-apanya dibanding dengan rasa cemasnya. Nisa pasti tengah kebingungan sekarang.


Ponsel Seno dilempar ke jalan oleh salah satu bodyguard ketika penculikan itu terjadi.

__ADS_1


"Hentikan! Huuffffttt ... huufftttt." Seno berusaha menyudahi ciuman ganas Martha Duph. Tapi wanita itu malah semakin beringas, menarik baju Seno yang sudah koyak hingga terlepas seluruhnya dari badan. Dia menggerayangi dada bidang Seno lalu kembali menciuminya dengan bernafsu. Sesekali rokok yang masih menyala itu dia tempelkan ke dada Seno. Seno teriak kesakitan. Sekarang tubuh Seno penuh dengan luka dan bekas ciuman. Dia tidak menyangka sedikit pun klien kelas kakapnya ternyata seorang psikopat. Dan sialnya dia jatuh dalam jebakannya.


Harusnya malam ini dia makan malam bersama sang istri dan adik-adik iparnya. Harusnya dia enggak berbohong. Harusnya dia menolak diajak dinner. Harusnya dia merelakan kehilangan satu klien yang akan merugikannya kayak gini. Memikirkan hal itu air mata Seno luruh ke pipi.


'Nis ... aku merindukanmu.'


***


Dua jam yang lalu ....


Seno keluar restoran dengan gusar, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana hendak menelepon Nisa. Dia berniat menyusul Nisa dan kedua adik iparnya ke cafe yang disebutkan Angga. Namun, tiba-tiba dari belakang ada yang memukul keras tengkuknya dengan benda tumpul. Seno pun limbung dan ambruk saat itu juga.


Empat laki-laki bertubuh tegap membawa Seno ke mobil van yang sudah dipersiapkan. Salah satu dari mereka menerima intruksi lewat telepon. Sang pemberi intruksi tak lain adalah Martha Duph.


Di tengah perjalanan Seno sadar dari pingsan dan sudah mendapati tubuhnya terikat dengan tali tambang. Salah satu bodyguard menjaganya di jok paling belakang. Seno meronta dan berteriak minta tolong. Namun, bodyguard yang menjaganya itu langsung menutup mulut Seno dengan lakban.


Seno pasrah. Sekarang tak ada yang bisa dia lakukan selain berdoa sambil meluruhkan air mata.


***


Tak henti-hentinya Nisa melirik jam dinding. Sudah pukul sebelas malam, tapi belum ada kabar dari suaminya. Kata bawahannya, Seno sudah pulang dari jam sembilan. Nisa semakin senewen karena ponsel Seno tidak bisa dihibungi.


Nisa menelepon siapa saja untuk menanyakan keberadaan suaminya itu, tapi tak ada hasil. Nisa menangis cemas dan takut, tapi untungnya mertuanya datang dan menenangkannya.


"Sabar, Nduk, Seno pasti ketemu," kata ayah mertua Nisa.


"Tenang, Papa udah nyuruh orang buat mencari Seno. Mereka terlatih. Kita belum bisa lapor polisi karena Seno hilang belum 24 jam."


Nisa mengangguk dan berusaha tenang. "Seno itu jago gelut, kalau ada apa-apa pasti bisa ngelawan, penjahatnya KO, deh," hibur Nurul. Nisa tertawa kecil. "Iya, Ma."


"Kamu tenang, ya." Nisa mengangguk.


Tak lama ponsel Nisa berbunyi, ada pesan WA masuk. Siapa nih yang ngirim WA malam-malam? Nisa segera meraih ponselnya di atas kursi lalu langsung membukanya takut dari orang yang memberi info tentang keberadaan Seno. Namun, dia salah. Yang mengiriminya pesan adalah Andi. Laki-laki itu mengirim beberapa gambar Seno tengah bersama seorang wanita di sebuah restoran.


Mata Nisa langsung terbelalak, dan hatinya langsung panas seketika. Pikirannya langsung kacau balau, praduga-praduga negatif langsung menerjang pikirannya. Apa jangan-jangan sekarang Seno sedang bersama wanita ini di sebuah hotel? Di sebuah hotel pria dan wanita dewasa, apa lagi yang mereka lakukan?


Mata Nisa seketika menghangat, kelenjar air mata langsung berkerja dengan kuat di pelupuk matanya. Dan di detik berikutnya air mata itu berhasil menerobos dan jatuh ke pipi. Nisa langsung menghapusnya takut terlihat oleh mertuanya.


"Siapa, Nis?"


"Bukan siapa-siapa, Ma. Aku mau ke toilet sebentar." Nisa masuk ke toilet dalam kamarnya, dan menangis sepuasnya di sana sambil menatap foto-foto yang dikirimi Andi.


"Sen, elo bohongin gue! Katanya lo rapat di kantor, tapi ternyata lo dinner sama cewek lain. Tega lo, Sen! Sekalinya playboy tetap playboy, gue benci sama lo! Dasar playboy cap paus!"

__ADS_1


Mendadak Nisa merindukan Viko. Dia menelungkupkan wajahnya ke atas lutut sambil menangis. Bayangan momen di Swiss dan bayangan kebersamaan Seno dan wanita itu di sebuah kamar hotel bergelut di kepala. Seketika Nisa pun dibuat muak.


"Brengsek!" Nisa meraih ponsel yang dia letakkan di samping wastafel, kembali melihat foto-foto menyebakkan itu. Hatinya sesak dan perih, dia sungguh tidak menyangka Seno menyakitinya seperti ini.


Nisa melihat Andi sedang online, dia pun menelepon pria itu untuk menanyakan lebih jelas lagi. Tak berapa lama Andi mengangkat telepon Nisa.


"Halo, Mas Andi."


"Halo Nis, kamu belum tidur?" tanya Andi.


"Belum, nih. Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


"Nis, suara kamu kenapa? Abis nangis, ya?"


"Kok tau?"


"Jelas banget, hehe."


Iya, Mas, aku habis nangis."


"Ya ampun, apa karena foto-foto yang aku kirim?"


"Bukan itu aja, Mas. Suamiku belum pulang, hapenya juga gak bisa dihubungi."


"Apa?" Suaminya Nisa kan keluar dari restoran sekitar jam delapan. Apakah dia pergi dengan wanita itu? Tapi kan suaminya Nisa pulang sendirian.


"Masa sih belum pulang, Nis?" Aku lihat suami kamu keluar dari restoran sekitar jam delapan, kok."


"Entahlah, mungkin dia kencan dulu sama wanita itu."


"Bisa jadi, sih. Aku lihat mereka keluar bersama," tutur Andi bohong.


"Tuh, kan, huhuhu." Nisa menangis lagi.


"Sabar, Nis. Positif thinking dulu aja."


"Positif thinking gimana, bukti-bukti udah jelas gini. Gila, aku gak nyangka Seno ngehianatin aku, Mas. Makasih, Mas, udah ngirimin bukti-bukti ini. Dengan ini aku enggak terlalu lama dibegoin sama dia."


"Sama-sama, Nis. Oh iya, kapan kita ke Sukabumi bareng, kita temuin Viko di sana. Besok gimana? Besok weekend."


"Besok, ya? Oke." Nisa ingin menghilangkan kekesalannya. Mungkin dengan menemui Viko, rasa sakit hatinya akan lenyap.


"Udah, sekarang jangan sedih lagi, kan ada aku."

__ADS_1


Nisa menghela napas mencoba meredakan emosi dan kesedihan. Jika Viko masih ada, mungkinkah rasa sakit ini tidak akan dia dapatkan?


***


__ADS_2