
"Senopati ... Senopatiiiiiiii." Seorang pria berrambut blonde lari-lari mengejar Seno dan Nisa di salah satu mall. Sore itu, sepulang kerja mereka menyempatkan diri membawa Jasmine membeli Barbie.
Sontak Seno dan Nisa menoleh. "Baron?" seru Seno kaget. Nisa melihat Seno seperti menahan tawa ketika laki-laki yang sedikit tambun itu berlari mendekat.
Tak lama, dia sampai di hadapan mereka, merunduk sambil mengatur napas.
"Hhhh ... hhhh ... hhhh. Yey, eke panggil-panggil dari tadi kagak noleh, budek amat tuh kuping."
Nisa terenyak, ternyata sekarang dirinya sedang berhadapan dengan be*cong.
"Haha sori, Ron, gue kagak denger. Eh, by the way elo ngapain di sini?"
"Ngapain? Eke buka salon di mari. Yey ngilang, sih. Akika susah banget ngontak yey. Somse sekarang you, Bebih."
Pandangan Baron beralih pada Nisa yang tengah menggendong Jasmine.
"Bini, yey, Beb?" bisik Baron.
"Yoi, cantik, kan?"
"Yey emang jago menaklukan cewe-cewe cakep bin bening. Hayati cemburu, nih!"
Nisa tersenyum malu. Walaupun Baron ngomongnya pelan, tapi itu masih terdengar jelas olehnya.
"Halo, neeeeek," sapa Baron pada Nisa.
Nisa terlohok. 'Hah? Nek? Gue keliatan udah kayak nenek-nenek apa?' Tapi tak lama Nisa tersadar, kaum begitu emang suka memanggil "Nek" pada seseorang yang mereka anggap sama. Alias satu gender.
"Halo."
"Kenalin, eke Baron, temen SMA sekaligus mantannya laki yey." Baron mengulurkan tangan. Nisa malah kembali terlohok, sedangkan Seno terkikik-kikik.
Nisa terrenyak, menyambut tangan Baron. "Danisa."
"Danisa? Wow, akika iri, nama yey cantik. Nyebelin ... nyebeliiiiin." Baron memukul-mukul lengan Seno dengan manja.
Tawa Seno semakin kencang, sedangkan Nisa ketakutan.
"Yey pasti hepi kan, bisa kawin sama mantan eke nih?"
"Hah?" Lagi-lagi Nisa terlohok. Seumur-umur dia baru ketemu sama orang model Baron, jadi aneh, agak takut juga.
Nisa mengangguk.
"Tuuuh kan, eke cemburu! Cemburuuuuu." Sekarang Baron terlihat mau nangis. Seno masih ngakak.
"Ron, sori nih, gue gak bisa setia sama lo," seloroh Seno. Nisa meringis mendengar suaminya berkata seperti itu.
"Yey tega Bebih. Tegaaaaa! Kenapose yey setega itu sama istri tua yey?" Baron tergugu sendiri.
Baron mendekatkan wajahnya pada Nisa lalu berkata, "Senopati gahar gak, neeeek? Pasti gahar kan dia? Uh, nyebelin!" Tatapan Nisa tidak sedikit pun teralihkan dari bibir Baron yang agak kriting warna pink. Dia terlihat lucu kalau ngomong sambil manyun.
Baron mengalihkan pandangan pada Seno. "Bebih, mau dong akika digrepe."
Nisa terkesiap. Whaaaaat? Aduh bahaya nih, bahayaaaaaa, jerit Nisa dalam hati.
"Sini, gue *****, nih!" Seno mau menggelitik Baron, tapi enggak jadi karena Nisa melototinya.
"Kok gak jadi, Bebih?" Bibir kriting Baron monyong lima senti. Seno ngakak.
"Om Seno ... ayo eli albie." Jasmine bersuara. Nisa senang akhirnya Jasmin bisa menyelamatkan mereka dari be*cong itu.
"Iya, Sayang, sebentar, ya," ujar Seno.
"Cekalaaaang." Jasmine merajuk. Nisa semakin senang.
"Iya-iya sekarang."
"Duuuuh, nih anak kecil ganggu, ye. Pokoknya yey, akika tunggu di salon, entar eke *****-*****." Baron mengultimatum Seno.
"Kagak janji, gue sibuk."
"Entar, eke kasih diskon khusus buat yey, Bebih."
"Diskonnya buat bini gue aje, ye. Gue kagak pernah meni pedi."
Baron melirik Nisa sinis. "Mmm, yo wis ben," kata Baron sambil memonyongkan bibirnya. Dan Nisa kembali dibuat gemas dan pengen ketawa oleh bibir itu.
***
__ADS_1
"Kamu beneran deket sama si Baron itu?" tanya Nisa sambil pilih-pilih Barbie buat Jasmine. Sekarang bocah tiga tahun itu terlelap di strollernya, kelelahan karena sebelumnya dia main di playground.
"Dulu, Nis, waktu SMA. Gue, Sandy, Dean, sama Baron sahabatan. Tapi gak tau kenapa dari kita berempat tuh, si Baron yang jadi belok."
"Aku tau Sandy sama Dean, waktu kita akad nikah mereka dateng, kan? Tapi kalau Baron aku baru tau sekarang." Nisa memilih beberapa Barbie lalu dimasukan ke keranjang.
"Iya mereka dateng, gue undang khusus pas akad. Yang aku denger dari Dean, sih, Baron jadi kayak gitu karena selepas SMA dia salah gaul aja. Kasian sebenarnya. Tapi aku percaya, aku tau banget dia walaupun begitu sebenarnya dia masih suka perempuan. Waktu SMA kerjaan dia malah pacaran mulu."
"Tapi aku beneran gak suka kamu deket-deket dia." Nisa memonyongkan bibirnya.
"Iya, enggak, ngeri aku juga." Seno meraih kepala Nisa dan membelainya pelan.
Seno tiba-tiba terkekeh. "Kamu tuh, ya, waktu di Swiss cemburu sama si Matthew gara-gara dia ngasih info tentang The Ascher, terus cemburu sama si Aldi gara-gara aku nonton dangdutan sama dia, dan sekarang cemburu sama ba*ci. Hadeuh. Kalau boleh jujur, seharusnya aku yang cemburu."
"Hah?" Nisa mendongak menatap Seno.
"Iya, aku tuh gak suka sama cowok yang kemarin ketemu di bandara."
Nisa mengerutkan kening dan memicingkan mata, mengingat-ingat.
"Maksud kamu, Mas Andi?"
"Tauk deh, siapa namanya." Seno mendengikkan bahu acuh sambil melihat-lihat boneka Barbie di depannya.
"Ya ampun, Sayang, dia temen aku. Mmm, lebih tepatnya temennya Viko. Dulu aku pernah main beberapa kali ke rumahnya. Orangnya baik kok, kamu enggak usah cemburu sama dia. Nanti aku kenalin kamu sama dia secara resmi."
"Ogah," sinis Seno.
"Kenapa?"
"Gak mau aja. Aku gak suka."
"Kenapa gak suka?"
"Alasannya cukup aku yang tau."
"Mas!"
"Hah? Apa tadi kamu bilang, Mas?"
Nisa tersipu.
"Ogah, ah! Sen, aku tuh geli kalo manggil kamu itu. Tapi kata ibu kamu, aku harus biasain."
"Mama bener tuh, hehe. Ayo bilang sekali lagi, Sayang ...."
Nisa mengerjap. Perkara panggilan ini serasa menjadi momok tersendiri untuknya. Bayangin aja, selama sebelas tahun Nisa menyebutnya "elo", tiba-tiba sekarang harus berubah. Itu akan butuh waktu lama buat bisa terbiasa.
"Mas ...." Lirih Nisa berkata.
Sejurus kemudian tiba-tiba Seno mendaratkan bibirnya pada pipi Nisa. "Makasih," ucap Seno pelan tepat di depan bibir Nisa.
Saat itu Seno ingin mencium bibir Nisa, tapi dia sadar, di atas sana kamera pengawas mengintai mereka.
"Sen, ini di mall," bisik Nisa.
Seno segera menarik wajahnya. Lalu mereka mandapati bocah yang tengah tidur di stroller kini sudah membuka matanya.
"Jasmine, kamu udah bangun?" seru Seno.
"Om, sun pipi ate Nisa," cetus Jasmine. Pipi Nisa langsung bersemu merah. Malu juga ke-gep sama bocah.
"Hus! Kamu gak boleh bilang-bilang sama Mama Papa, oke?" Seno mengacungkan jempol ke depan Jasmine, tapi Jasmine malah menghempaskannya.
"Om, mana albieee nya," seru Jasmine.
"Ini albie-nya, Sayang, udah tante beliin banyak. Yuuuuk sekarang bayar, yuuuuk." Nisa mendorong stroller Jasmine ke kasir.
Setelah bayar ke kasir, ketika akan pulang, ada kejadian yang bikin Nisa dan Seno senewen. Jasmine merajuk ingin es cokelat plus berbagai toping di atasnya dalam kemasan cup. Padahal sebelum berangkat ibunya berpesan, kalau Jasmine minta es atau cokelat jangan dikasih. Nah, sekarang dia malah minta keduanya. Gimana tuh?
Sekarang Jasmine nangis meraung-raung di tengah orang-orang.
"Anaknya kenapa, Bu?" tanya seseorang yang kebetulan lewat.
"Mau es cokelat," jawab Nisa. Si penanya ngangguk-ngangguk lalu pergi.
"Sen, emang Jasmine suka tantrum kek gini, ya?"
Seno menggeleng. Dia berusaha tenang di situasi genting seperti ini.
__ADS_1
"Ooom ... Ateeee ... aku mau es otaaat huaaa ... huaaaa." Tangis Jasmine semakin kencang.
"Gimana, nih?" Nisa mencoba memeluk Jasmine tapi anak itu malah berontak.
"Eeeessss otaaaaaat, huaaaa."
Seno jongkok mensejajarkan tingginya dengan Jasmine mencoba bicara dari hati ke hati.
"Jasmine mau es cokelat?" tanya Seno.
"Iya mau es otaaaaat, mau ... huaaaa." Jasmine masih nangis kejer.
Seno memegang kedua lengan Jasmine, menatap ke kejauhan mata bocah kecil itu.
"Sayang, dengerin Om sebentar. Kalau kamu nangis kayak gini, gimana Om mau ngomong?"
Perlahan tangisan Jasmine mereda, tapi belum sepenuhnya hilang.
"Jasmine tau kan Mama enggak ngebolehin Jasmine makan itu? Nanti kalau Jasmine sakit lagi gimana? Om sama Tante Nisa akan sedih, Papa Mama kamu juga pasti sedih banget. Kamu enggak mau kami sedih, kan? Kamu juga enggak mau lihat Mama nangis lagi, kan?"
Jasmine menggeleng sambil terisak-isak.
"Nah, makanya sekarang lupakan es cokelatnya, ya, ya, ya? Sebagai gantinya, gimana kalau kita beli pizza? Pizza enak loh, Sayang. Om sama Tante Nisa suka. Kami suka makan itu dari dulu sampe sekarang?"
"Piaaaa?"
"Iya, pizza. Mau, ya?"
Jasmine terlihat tengah mikir-mikir.
"Kamu mau yang topingnya daging atau ayam? Oh, keju juga ada, loh, dan kejunya enaaaaak banget."
"Enak, Om?"
"Iya. Yuk, kita beli pizza, yuk? Nanti kita beliin juga buat Mama Papa."
Hati Nisa terenyak. Dia kagum dengan sikap Seno menenangkan Jasmine yang tantrum. Sepertinya, Seno sudah siap dan pantas menjadi seorang ayah, tapi Nisa merasa dirinya lah yang tidak pantas dan tidak siap. Melihat Jasmine yang nangis kejer saja, tadi dia sudah panik bukan main, bingung harus gimana. Nanti jangan-jangan kalau anaknya nangis, Nisa malah ikut nangis. Demi Tuhan Nisa belum siap lahir batin.
Namun, Nisa merasa sepertinya Seno sangat mendambanya.
"Yuk, eli izaa, Om."
"Yes. Mau Om gendong?"
Jasmine loncat-loncat minta digendong. Seno pun langsung menggendong gadis mungil itu.
"Asiiik kita beli pizza. Cuuuuss berangkat."
Nisa tersenyum lega, mendorong stroller Jasmine pergi ke kedai pizza.
***
"Jasmine itu alergi cokelat. Pernah dia makan cokelat, malamnya mencret-mencret, panas, dan langsung dilarikan ke IGD, dari sana baru deh ketauan kalau dia alergi makanan itu," terang Seno sambil menyetir mobil menuju apartemen setelah mengantarkan Jasmine pulang.
"Ya Allah kasian Jasmine."
"Iya. Kayaknya itu nurun dari Papanya. Mas Agam juga alergi cokelat."
Nisa membulatkan bibirnya.
"Semoga anak kita nanti sehat-sehat aja, ya."
"Iya, aamiin."
Seno berdeham. "Malam ini mau bikin anak?" Dia melirik Nisa genit.
"Nyetir yang bener, lihat ke depan!" Nisa melipatkan tangan di dada.
"Mau, ya?" Seno mengerlingkan mata.
Nisa tersenyum geli. "Ah, palingan kamu ketiduran entar."
"Enggak dong, Sayang. Mau ya, mau?"
"Mmmm, ya udah mau, deh."
"Yeaaaah. Nis, pegangan, aku mau ngebut. Pengen cepet-cepet nyampe, nih." Seketika Seno menancapkan gas.
Nisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
***