
Selama kurang lebih empat jam perjalanan, mereka pun sampai di Bandara Suvarnabhumi Bangkok. Tadi di pesawat Nisa sempat tidur sebentar, jadi ketika turun, dia merasa lemas ingin segera bertemu kasur lalu tidur nyenyak.
Sekarang pukul 11 malam dan Seno tiba-tiba merasa merinding. Konon katanya Bandara itu adalah bandara terangker se-Asia Tenggara. Seperti yang dikatakan banyak orang, Thailand adalah negara yang sangat kental dengan takhayul atau mistisnya. Walau zaman sudah sangat modern, tapi warga setempat masih memercayai hal-hal yang berbau mistis. Bahkan dalam kepercayaan Budha sendiri pun bersatu dengan sejarah atau legenda tentang roh atau hantu rakyat di sana. Selain itu, Thailand juga menjadi salah satu destinasi wisata horor favorit untuk orang-orang yang menyukai hal-hal mistis. Dan salah satu yang paling horor adalah bandara tersebut.
Jangan heran jika datang ke bandara itu akan mendapati sesajen yang diletakkan di tempat-tempat ritual dan doa pengusiran hantu. Bayangkan, bandara internasional, canggih, tapi masih ada sesajen. Cuma ada di Bandara Suvarnabhumi saja dari seluruh dunia. Apa yang menyebabkan bandara itu menjadi horor? Itu karena lahan bandara yang dibuka pada tahun 2006 tersebut bekas pekuburan kuno dan rawa-rawa kobra. Arwah para penghuni makam itu rupanya masih tak rela dan menghantui para pengunjung Bandara Suvarnabhumi.
Di satu ketika ada sebuah peristiwa kerasukan seorang petugas penanganan bagasi, dirasuki arwah seorang bernama Pong Min yang mengaku sebagai arwah dari mantan penjaga makam. Pong Min mengatakan jiwa arwah-arwah yang dulunya tinggal di makam, ingin agar dibangunkan tempat persembayangan arwah di bandara. Pihak bandara beserta petinggi maskapai-maskapai pun kemudian memanggil 99 biksu untuk melakukan ritual pembersihan. Tidak tanggung-tanggung ritual pembersihan itu berlangsung hingga sembilan minggu. Setelah ritual pembersihan ini, pihak bandara kemudian membangun beberapa tempat persembahan kecil di bandara agar para arwah tak lagi mengganggu orang yang ada di bandara.
Selain itu mereka juga secara rutin menggelar upacara untuk mendoakan arwah. Dan sejak saat itu jumlah penampakan di Bandara Suvarnabhumi dikabarkan mulai berkurang.
Seno terkaget sendiri saat melihat ada satu persembahan di salah satu lorong. Bulu kunduknya kembali berdiri. Di tempat pemujaan tersebut pasti ada makhluk astral yang tengah menikmati sesajen itu, apalagi dupanya masih terlihat mengepul. Gokil gak, sih? Di bandara internasional, canggih, modern, tapi ada hal begituan, pikir Seno geli sekaligus takut.
Tak berapa lama, jemputan mereka pun tiba, dan mengantarkan mereka ke hotel. Sesampainya si hotel, Nisa langsung tertidur lelap, sedangkan Seno tak bisa memejamkan mata hingga pukul satu. Akhirnya dia keluar kamar untuk mencari kopi ke kafe yang melayani tamu 24 jam.
Tanpa diduga, Seno melihat Harir ada di sana tengah menikmati kopi dan beberapa batang rokok. Ngapain si sompret di situ? Gak bisa tidur juga dia?
Seno menghampiri meja Harir. Harir terkaget tiba-tiba Seno berdiri di sampingnya. "Pak Seno," sahutnya.
"Boleh saya duduk di sini?" Seno berucap.
"Silakan," ucap Harir seraya memersilakan dengan satu gerakan tangan ringan.
"Anda enggak bisa tidur, Pak?" tanya Seno.
Bibir Harir sedikit tertarik ke pipi. "Sejak istri saya meninggal, saya memang mengalami insomnia parah. Enggak akan bisa tidur sebelum jam dua pagi."
"Wah, parah juga. Anda harus menemui psikiater."
"Tidak perlu. Kalau saya ke sana, pasti dikasih obat penenang. Dan obat penenang itu berdampak kurang baik karena menyebabkan ketergantungan kayak narkoba."
"Betul juga."
"Saya melakukan yoga dan meditasi untuk penyembuhan insomnia saya, tapi belum ada hasil."
"Sepertinya obatnya adalah Anda harus menikah lagi." Seno terkekeh sendiri setelah mengatakan itu. Harir terlihat tersinggung. "Anda dengan mudahnya berkata seperti itu karena Anda tidak pernah merasakan bagaimana tersiksanya hidup seperti saya. Ditinggal orang yang paling kita sayang di dunia ini berat! Tidak bisa begitu saja menemukan pengganti. Sekalinya ada pun, dia istri orang lain."
Seno langsung melirik Harir kaget. Maksudnya Nisa? Tanyanya dalam hati. Berani-beraninya dia berkata seperti itu di depan gue! Seno membatin.
Harir melihat Seno sinis. "Kalau obatnya saya harus nikah lagi, ada satu wanita yang saya ingini di dunia ini." Harir tersenyum menyebalkan. Rahang Seno seketika mengeras.
"Danisa. Istri Anda, Pak," ucap Harir blak-blakan. Seno langsung berdiri lalu menarik kerah baju Harir sekuat tenaga, tangannya mengepal siap meninju muka si duda keparat itu.
"Berani-beraninya Anda ngomong gitu sama saya! Jangan pernah ganggu istri saya lagi, jangan ngusik kebahagiaan kami, atau saya akan laporkan Anda ke polisi. Saya enggak akan tinggal diam kalau Anda berani mengganggu rumah tangga kami." Seno melepas cengkraman tangannya, melempar Harir ke sandaran kursi.
Melihat Seno emosi seperti itu, Harir tersenyum mengejek. "Mudah saja merebut Danisa mah. Malam ini juga bisa!"
"Apa!" Seno kembali bangkit berdiri, lalu tinjunya langsung mendarat di pipi mulus Harir. Harir ingin membalas, tapi dia tahan. "Saya akan laporkan ini dengan kasus penyerangan!" sahut Harir, sambil mengusap-usap pipinya.
"Saya akan melaporkan balik dengan kasus perbuatan tidak menyenangkan, Anda akan dijerat dengan pasal 335 ayat 1 KUHP. Saya enggak takut! Sampah seperti Anda harusnya lenyap dari dunia ini. Gak punya harga diri."
Seno bergegas ke hotel sambil misuh-misuh. Lihat saja, kalau dia berani mengusik lagi, gue akan laporin dia! Gue gak akan main-main dengan masalah ini.
__ADS_1
***
"Sayang, kamu kenapa kok pagi-pagi udah manyun aja, sih?" tanya Nisa.
"Aku belum tidur, tau, dari semalam."
"Loh, kenapa?"
Seno melirik Nisa. "Tanya bos kamu tuh, kamu jangan heran pagi ini muka bos kamu bonyok. Dia udah aku bogem semalam."
"Hah?" Nisa melongo kaget, menghampiri Seno yang duduk di sofa. "Ada apa, Sen? Kalian berantem semalam?"
"Enggak, bukan berantem, tapi dia aku hajar aja, gara-gara ngomong mau ngerebut kamu dari aku. Tuh orang beneran gila kali, ya."
"Serius dia bilang gitu? Dia bercanda kali. Gak mungkin dia bilang gitu, kamu kan tau sendiri dia mau nikah. Ya, kan?"
Seno melirik Nisa tidak percaya. Tak ada yang bercanda, Harir beneran serius. Feeling Seno mengatakan itu.
"Hhhh, sekarang kamu belain bos kamu itu?"
"Enggak, bukan belain, aku cuma enggak percaya aja dia begitu."
"Hhhh, percuma ngomong sama kamu." Seno bangkit berdiri. "Nanti sore pulang sama aku ke Jakarta atau aku akan marah sama kamu."
"Apa?! Enggak mungkin, Sen, acaranya tiga hari di sini."
"Pulang sama aku atau---"
Nisa menggigit bibir, berpikir. Sekarang Seno tengah emosi, dia gak boleh ikutan emosi kalau enggak mau semuanya berantakkan. Nisa menghela napas, bangkit berdiri, menghadapkan seno ke arahnya.
"Sayang, plis ... kamu percaya sama aku. Sekuat apa pun Pak Harir berusaha merebutku dari kamu, hati aku tetep milik kamu, Sen. Kamu jangan takut. Biarin aja Pak Harir begitu, nanti juga dia capek sendiri. Gila aja kalau aku sampe kepincut sama dia. Amit-amit jabang bayi deh. Ngimpi aja Pak Harir bisa rebut aku dari kamu. Plis, Sen, kamu jangan marah, aku harus ngikutin acara ini sampe selesai. Lagian aku juga pengen jalan-jalan juga di sini. Aku pengen jajan jajanan khas Thailand juga. Pokoknya tar sore setelah aku pulang dari acara, kita muter-muter jalan nyari jajanan, kita cari Tom Yum sama Pad Thai terenak di sini, oke? Anak kamu kepengen makan itu, tauk."
Seno mengerjap. Amarah dan cemburunya sudah melupakan seseorang yang kini bersemayam di perut Nisa. Emosi yang menyala di mata Seno perlahan padam. Seno merunduk mensejajarkan wajahnya dengan perut Nisa.
"Maafin Papa, Sayang. Kamu pengen makan itu, ya? Oke nanti sore kita nyari ya." Seno mencium perut istrinya yang masih rata. Nisa mengelus kepala Seno dengan sayang, berharap dengan elusan tangannya, emosi yang berkobar di dada Seno padam tak bersisa.
"Ya sudah aku mau siap-siap berangkat, mau mandi dulu. Kamu tidur ya, lupain semuanya, kita seneng-seneng di sini."
"Oke. Aku enggak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau ngebiarin kamu pergi sendiri ke sini, sama si Masokhis alien itu."
"Apa? Masokhis alien?" Nisa tegelak-gelak, "ada-ada aja kamu."
"Ya, masokhis alien, alias duda gatel kesepian, udah punya calon bini, masih ngarepin bini orang. Gila gak tuh?"
"Hahaha, gila emang boa gue!" Nisa unyel-unyel pipi Seno dengan gemas. "Udah dong marah-marahnya, sekarang kamu tidur biar mata kamu gak memble begitu. Jelek tau."
"Iya, istriku yang bawel."
Seno beranjak ke tempat tidur, sedangkan Nisa ke kamar mandi. Kemudian siap-siap berangkat ke acara.
***
__ADS_1
Pukul lima sore, Nisa dan Seno sudah bersiap jalan-jalan. Mereka tengah berdiri di lobi hotel menunggu kendaraan yang mereka sewa datang. Di kejauhan Harir melihat keduanya dengan hati mangkel luar biasa. Dia membenci Senopati. Demi apa pun dia sangat membenci pria itu.
Sore itu, Harir akan bertemu rekannya dari kantor cabang Hongkong, tadi siang saat acara mengajaknya makan malam. Harir bersyukur ada orang yang lumayan dekat dengannya, jadi tak begitu kesepian di Thailand.
Seno dan Nisa jalan ke salah satu street food terkenal di Bangkok. Jangan ngaku pecinta kuliner kalau belum pernah ke sana. Baru-baru ini Bangkok ditetapkan sebagai kota yang harus dikunjungi bagi pecinta kuliner oleh Lonely Planet. Memang Bangkok cocok banget menerima penghargaan itu karena di sepanjang jalannya bisa dengan mudah menemukan makanan enak dengan harga yang relatif murah.
Namun, Seno dan Nisa melupakan sesuatu. Sekarang adalah hari Senin, yang mana hari Senin adalah hari tanpa pedagang kaki lima di seluruh Bangkok. Nisa kecewa, jadi sebagai gantinya Seno membawa Nisa pergi ke salah satu restoran yang menyajikan makanan khas Thailand yaitu Tom Yum. Yaitu The Place 168 yang terletak di kawasan Pratunam, Khwaeng Thanon Phaya Thai.
"Ah, sialan!" gerutu Seno ketika masuk ke dalam restoran. Dari seluruh restoran Tom Yum di Bangkok, kenapa dia harus makan di restoran ini, sih! keluh Seno dalam hati.
Terlihat di salah satu meja ada Harir bersama Weiheng tengah menikmati semangkuk besar Tom Yum. Nisa dan Seno akan balik kanan, kalau saja Weiheng tak keburu melihat Nisa dan berseru memanggilnya.
"Danisaaaa," seru Weiheng seraya mengangkat sebelah tangannya. Nisa dan Seno terpaksa menghampiri meja mereka. Harir mendecih sebal. Selera makannya pun tiba-tiba lenyap karena melihat Seno.
"Ayo bergabung di sini, Danisa," ucap Weiheng. Nisa melirik Seno. Seno mengangguk.
"Terima Kasih Wei."
Nisa dan Seno duduk di depan Harir dan Weiheng. Seorang pelayan menyambangi meja mereka mencatat pesanan Nisa dan Seno, lalu pergi.
"Maaf ini siapa?" tanya Weiheng menunjuk Seno.
"Dia suami saya," jawab Nisa.
"Suami dunia akhirat!" Seno menambahkan sambil melirik Harir. Nisa terkikik geli. Sedangkan Harir mencebik.
"Beruntungnya tugas ditemani suami," ucap Weiheng.
"Oh, jelas dong. Nisa itu wanita paling beruntung sedunia karena mempunyai suami seperti saya." Seno kembali berkata sambil melirik Harir dengan sombongnya. Sengaja. Hati Harir beneran panas. Ini bukan lagi masalah hati, tapi kompetisi dan gengsi. Entah kenapa Harir merasa direndahkan sekali oleh Seno.
Ketegangan itu pun berlangsung hingga beberapa menit. Harir tiba-tiba berdiri, sudah tidak tahan berlama-lama di sana.
"Saya pergi duluan, Wei," ucap Harir.
"Kenapa, Har? Kamu belum menghabiskan makananmu."
"Tidak apa-apa, saya sudah tidak berselera untuk makan," ucap Harir lalu pergi. Dia terbayang bogem mentah yang Seno layangkan semalam membuatnya beneran muak.
"Hei, Danisa, apa kamu bertengkar dengan bosmu?" tanya Wei.
"Tidak."
"Lalu?"
"Dia membenciku," sahut Seno. Weiheng melongo tidak mengerti, tapi setelah itu dia menggelengkan kepala lalu lanjut makan.
Tak lama kemudian pun makanan Nisa dan Seno pun datang. Semangkuk Tom Yum yang kuahnya segar asam pedas gurih sungguh membuat Nisa dan Seno tak sabar untuk mencicipi makanan tersebut.
Di Jakarta pun makanan itu sudah banyak, tapi akan sangat berbeda kalau makan langsung di negara asalnya. Ada rasa yang tak sama dengan di negara mana pun. Di Thailand lebih enak dan ada rasa sensasi tersendiri.
Besok rencananya mereka akan menjajal street food yang tertunda karena seluruh pedagang kaki lima tutup.
__ADS_1
***