
Pengajuan cuti Nisa untuk pergi ke Manchester dan Swiss sudah diajukan ke bagian HRD. Tinggal menunggu keputusan. Setelah dia mengajukan cuti itu, orang-orang dikantornya diam-diam bergosip di belakang. Bukan tanpa alasan, Nisa baru saja cuti menikah sekarang sudah mau cuti lagi selama sepuluh hari pula.
Sebenarnya Nisa sudah tahu orang-orang membicarakannya di belakang, tapi dia bersikap masa bodoh.
"Bodo amat!" ucapnya.
Yang terpenting buatnya adalah menemani suaminya wisuda. Bukankah akan terlihat aneh, suaminya akan melakukan hal yang akan dikenang selamanya, tapi dia malah absen? Apa kata keluarganya nanti?
"Karyawan kesayangan Bos mah bebas."
"Udah gak ada urat malunya dia emang."
"Iya."
"Gue denger dari anak marketing, Bos mereka mau ke luar negeri, emang suaminya yang sekarang orang kaya, ya?"
"Gak tau deh, gue cuma tau waktu dia nikah sama novelis favorit gue, heboh banget kan waktu itu. Gue sebagai fansnya Vee Alledro gak ikhlas banget waktu Danisa nikah ama dia. Sebel banget gue!"
Nisa yang kebetulan mendengar obrolan dua karyawati yang sedang bergosip tentangnya di toilet cuma tersenyum geli. Nisa keluar dari salah satu WC, sontak kedua karyawati itu terkejut dan langsung terlihat pias.
Nisa berdeham. Ternyata yang bergosip adalah bawahannya Nadya. Atasan sama bawahan sama aja emang. Ngeselin banget!
Mereka salah tingkah, tersenyum, walau senyuman itu kelihatan dipaksakan banget, lalu cepat-cepat keluar dari toilet.
Nisa geleng-geleng kepala lalu cuci tangan di wastafel. Sebelum keluar dari toilet, dia merapikan sedikit rambutnya.
***
Sebelum ke Swiss, Nisa sengaja membeli lingeri dari online shop, nanti lingeri itu akan dia pakai pas bulan madu.
Saat lingeri itu sampai ke apartemen, dia langsung memotretnya dan dikirim ke Seno.
[Baju kebangsaan malam sudah mendarat.] Tulis Nisa di bawah foto lingeri itu.
[Jadi enggak sabar pengen liat kamu pake itu.] balas Seno berikut emot ngiler.
[Hahaha, mau aku pake malam ini?]
[Jangan, entar buat di Swiss aja.]
[Oke, deh.]
Nisa menatap dua koper yang menganga di bawah kasur. Rencananya dia mau packing, tapi dari tadi malah berselacar di akun media sosialnya.
Seno memboyong kedua orang tuanya berikut orang tua Nisa ke Manchester, tapi nanti saat Nisa dan Seno ke Swiss, mereka pulang duluan ke Indonesia.
Tiket pesawat pulang pergi ditanggung Seno semuanya, entah berapa banyak uang yang harus Seno keluarkan untuk itu. Tapi tidak masalah, yang terpenting di hari spesialnya nanti orang tuanya kumpul dan berfoto bersama.
Karena sebuah kenangan dan kebahagiaan tidak akan bisa diukur oleh materi.
***
Tiga hari setelahnya, pengajuan cuti Nisa baru disetujui. Ketika dia keluar dari kantor HRD, dia berpapasan dengan pimpinan barunya. Nisa menganggukan kepala dengan sopan seraya melempar senyum. Tanpa dia tahu, bahwa senyuman itu sukses membuat pria di hadapannya mati gaya, gugup, dan deg-degan. Nisa beneran sudah membuatnya jatuh cinta lagi.
"Danisa," panggil Pak Harir. Nisa menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
"Iya, Pak."
"Bisa ke kantor saya sebentar."
__ADS_1
"Oh, baik, Pak."
Nisa membuntuti Pak Harir ke ruangannya. Ada perlu apa ya dia? Perasaan enggak ada hal yang perlu dibahas.
Sesampainya di ruangan, Pak Harir duduk di kursinya sambil terus menatap Nisa tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Nisa yang ditatap seperti itu sontak menjadi gugup sekaligus bingung. Bos gue kenapa, nih? batinnya.
"Hm," Pak Harir berdeham. Pimpinan sebelumnya belum pernah bertingkah aneh kayak gini.
"Kamu mau cuti ya besok," tanya Pak Harir.
"Iya, kan udah Bapak tanda tangan," jawab Nisa sambil terkekeh.
"Kalau boleh saya tahu, kamu mau ada kepentingan apa ke Inggris? Kamu ada keluarga di sana?" tanyanya.
Nisa mengerjap. Dia tidak menyangka, bosnya sampai memanggilnya secara khusus ke ruangannya untuk perihal remeh temeh kayak gini. Nisa memang tidak menjabarkan secara gamblang alasan cutinya kali ini, dia hanya menuliskan akan ada kepentingan keluarga.
"Enggak, Pak. Saya ke sana untuk menghadiri wisuda suami saya," jawab Nisa. Sontak Pak Harir melotot kaget. "Oh, kamu udah nikah?"
"Alhamdulillah sudah, Pak," jawab Nisa sambil tersenyum. Namun, senyuman kali ini malah membuatnya patah hati.
Wajah pria empat puluh tahunan itu pun seketika berubah mendung.
"Oh gitu, ya sudah kamu boleh pergi," katanya tanpa menatap Nisa.
Nisa mengangguk. "Baik, Pak."
Sebelum keluar ruangan, Nisa menoleh sebentar, bersamaan dengan itu rupanya bosnya juga tengah manatapnya dan dia langsung menundukkan kepala. Sebelum menutup pintu, Nisa menganggukan kepala dengan sopan.
Aneh banget bos gue!
***
Setelah dari stasiun, Seno mengajak mertuanya makan di sebuah restoran berharap mereka senang dan terkesan. Namun, yang didapat malah kritikan dari ibu mertuanya. "Sen, kamu enggak perlu boros kayak gini, Ibu bisa masak nanti buat makan malam mah."
Tenggorokan Seno tercekat-cekat kikuk. Dia berusaha meredakan kegugupannya itu dengan meneguk air putih sedikit. Nisa tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
"Enggak apa-apa, Bu, sekali-kali ini. Ibu kan capek, masa dateng-dateng langsung masak."
Seno tidak tahu kalau ibu mertuanya itu ingin memasak untuk menantu kesayangannya.
"Iya, Bu, lagian di apartemen enggak ada bahan-bahan masakan, aku belum sempet belanja lagi," tutur Nisa.
Rita memukul lengan anaknya pelan. "Kamu ini gimana atuh! Sekarang kamu udah jadi istri, jangan disamain dengan waktu masih gadis, bahan makanan itu harus selalu tersedia, gimana kalau tiba-tiba suami kamu lapar dan ingin dimasakin? Manjain lidah suami dengan masakan kamu, Nis!"
Seno menahan tawa Nisa kena semprot ibunya. Dan rupanya bukan dia saja yang menahan tawa, ayah mertuanya juga.
"Zaman sekarang mah gampang kalo laper, tinggal gofood aja, Bu. Iya kan, Mas?"
Seno hampir saja tersedak makanannya mendengar Nisa menyebutnya "Mas."
"Eh? I_iya," jawab Seno kikuk.
"Dasar anak zaman sekarang maunya pengen serba praktis aja," omel Rita.
"Sudahlah, Bu, biarkan terserah mereka aja," ucap Dodi.
"Habis ini kita ke supermarket belanja."
__ADS_1
"Nanti aja, Bu. Besokkan, kita ke Manchester. Kalau belanja sekarang nanti sayurannya pada busuk."
"Ya udah. Pokoknya nanti kamu harus sering-sering masak biar suamimu senang!"
Saat itu Seno entah harus senang atau sedih dispesialkan dan dibela oleh ibu mertuanya, sementara istrinya sendiri babak belur diomelin.
Sebenarnya Seno tidak masalah Nisa sering masak atau enggak, tapi memang benar sih, kalau makan masakan istri sendiri rasanya beda saja, walau rasanya ancur sekali pun.
***
Mobil berhenti di selasar bandara Soekarno Hatta, terminal 3 gate D. Koper-koper diturunkan oleh petugas bandara dan di letakan ke troli.
Seno dan Nisa merasa senang orang tua mereka langsung bisa akrab satu sama lain, bahkan tadi di mobil mereka tidak henti-hentinya bercanda. Mama Seno yang bawel dan Ibu Nisa yang juga tidak kalah bawelnya membuat suasana menjadi hidup, rame. Sedangkan bapak-bapaknya cuma menyimak obrolan ibu-ibu itu sambil sesekali tersenyum dan tertawa.
Mungkin perjalanan selama enam belas jam di pesawat juga nanti tidak akan membosankan.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya pesawat pun boarding. Rasanya Seno ingin cepat-cepat sampai ke Manchester dan menemui teman-temannya dan tentunya ingin bertemu dengan Mr. Arman dan Mrs. Arman. Sebelumnya Seno sudah menghubungi mereka, dan mereka sangat senang Seno akan kembali ke sana.
Seno juga ingin berterima kasih pada suami istri itu karena sudah mengundangnya makan malam saat malam natal sehingga dia bisa mendapatkan Risgrynsgröt berisi almond. Seno percaya legenda orang Swedia tentang makanan puding dari beras itu akan memberikan keberuntungan, dan keberuntungan Seno adalah, bisa menikahi wanita yang paling dia inginkan di bumi ini.
Pesawat yang mereka tumpangi transit sebentar di bandara Doha, Qatar, untuk mengisi bahan bakar. Setelah dua jam, perjalanan kembali dilanjutkan.
Nisa menatap satu-satu orang tua dan mertuanya yang sedang tertidur kelelahan di kursi pesawat. Dia merasa beruntung memiliki mereka. Nisa berharap mereka terus sehat agar bisa terus membimbingnya dan Seno kelak.
"Kamu enggak tidur, Sayang?"
"Aku enggak bisa tidur," kata Nisa.
"Coba tidur di sini." Seno menepuk bahunya sendiri.
Nisa tersenyum. "Bolehkah?"
"Boleh, dong. Ayo sini." Seno meraih kepala Nisa dan menyandarkan di bahu kekarnya.
"Hhhh, nyamannya ...."
Jari jemari Seno menyelusup masuk ke sela-sela jemari Nisa lalu menggenggamnya erat. "Nanti kamu mau ngapain aja di Swiss?"
"Aku mau naik cable car, melihat panorama salju dari ketinggian, berseluncur di atas salju, naik kereta Bernina Express sambil melihat pemandangan Swiss yang asri sambil foto-foto, terus nyantai-nyantai di pinggir danau Luzern sambil ngopi sama kamu, Mas."
Wajah Seno semringah mendengar Nisa kembali menyebutnya "Mas."
"Coba bilang sekali lagi," kata Seno.
"Bilang apaan?"
"Tadi kamu menyebut aku apa?"
"Mas?" Nisa mendongak menatap wajah suaminya.
Seno tersenyum senang lalu memeluk istrinya dengan erat.
"Aku seneng kamu nyebut aku itu." Seno mengecup kening Nisa. Dan seketika hati Nisa pun berdesir hangat.
"Love you, Mas."
"Love you too, istriku."
Tanpa mereka tahu, diam-diam ayahnya Seno memerhatikan tingkah anak dan menantunya itu, lantas dia tersenyum geli.
__ADS_1
***